
Setelah satu bulan Diana akhirnya bisa menerima kepergian Gemal, dan menyempatkan diri untuk membeli kado tiga bocil yang berusia enam tahun.
"Kak Di." Tika tersenyum manis, memeluk Diana untuk membeli kado ulang tahun.
Diana dan Tika masuk bersamaan ke dalam area permainan yang cukup terkenal, banyak sekali mainan yang membuat Tika bersemangat membelinya.
"Tika, bukan untuk kamu."
"Mau satu." Bibir Tika memelas.
Diana menghela nafasnya, memberikan izin Tika membeli satu mainan. Dan fokus mencari mainan untuk Adriana Ria, manusia bawel dan mulutnya tidak berhenti mengoceh dan mengunyah.
Mainan baru untuk Dean Martin, bocah tengil yang pecicilan lebih menyukai robot dibandingkan mobil, karena cita-cita menjadi robot bukan pembalap.
Arjuanda Juan bocah pemilik dua kepribadian, terkadang menyeramkan, tegas, dingin, tapi lebih banyaknya jahil, mengemaskan.
Juan tidak terlalu menyukai mainan, karena tidak mungkin lama ditangan Juan langsung hancur tidak tersisa.
Dia lebih menyukai bela diri, dan aktif dalam olahraga, dan pemalas soal belajar.
Tatapan Diana dan Tika melihat boneka besar beserta anak-anaknya, tersenyum bersamaan langsung memilihnya untuk Ria.
"Robot besar ini juga bagus kak." Tika memeluk sebuah Barbie dan robot.
"Dasar anaknya Aliya." Di menyipitkan matanya.
"Bungkus." Diana mengusap kepala Tika yang kesenangan.
Senyuman Diana terlihat, mengambil boneka polisi, langsung membawanya.
Semua kado sudah selesai di dapatkan, Diana menyerahkan kartunya, meminta kasir membungkus sekaligus dan mengirim ke alamat rumahnya.
"Gunakan kartu ini saja." Albar tersenyum melihat Diana.
"Tidak boleh, kamu pikir kita miskin." Tika menatap tidak suka, meminta Diana secepatnya membayar.
Albar mengikuti Diana dan Tika, tatapan Tika sinis melipat tangannya di dada menantang Albar.
"Hai cantik, kamu membeli mainan banyak sekali. Kamu ulang tahunnya ya?"
"Paman bodoh sekali, jika aku ulang tahun kenapa membeli kado sendiri. Jika bicara tidak menggunakan logika." Tika menggandeng tangan Diana untuk segera keluar.
Suara tawa Albar terdengar, langsung mengejar Diana dan memintanya berhenti. Sudah tiga hari Albar tidak melihat Diana di rumah sakit, mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban.
"Di, malam ini ada waktu? aku ingin merayakan sesuatu, dan jika berkenan kamu bisa bergabung."
__ADS_1
"Oh tuhan, oh my God, hello." Tika menarik nafas buang nafas, meminta Alber mengerti jika membeli kado, yang artinya ada acara ulang tahun. Meminta Diana ikut pesta lain, sungguh tidak punya otak.
Diana meminta Albar pergi, dia tidak suka ada orang yang mendekatinya apalagi bersikap seakan-akan mereka dekat.
Usaha Albar belum selesai, dia dan Diana sama-sama pencinta mobil, dan balapan. Albar meminta saran Diana mobil terbaru.
"Balapan, kamu ingin membawa putri tunggal Dirgantara mati muda. Bertanya soal mobil, kak Di bukan sales-nya mobil." Kaki Tika menghentak sangat kuat, dia tidak menyukai lelaki seperti Albar.
Diana memalingkan wajahnya menahan tawa, tidak ada yang bisa melawan mulutnya Tika jika sudah mengomel.
Kemarahan Tika belum selesai, melihat bungkusan yang dipegang oleh Alber. Ada beberapa makanan dan mainan.
"Paman mempunyai keponakan?"
"Tidak ada, aku anak tunggal. Dan baru satu bulan pindah."
Tika langsung tertawa, meminta Alber tidak mendekati kakaknya karena calon suami kakaknya bukan orang sembarang.
"Diana sudah memiliki calon suami?"
"Tentu, calon suaminya putra tunggal dari generasi kelima keluarga Leondra, siapa yang tidak mengenal mereka yang memiliki kerajaan bisnis juga salah satu keluarga terpandang dari generasi ke generasi. Tidak heran saja, mereka juga mengambil putri terbaik keluarga kami. Seorang duda beranak, sorry bukan level kami." Pandangan Tika sinis meminta Alber pergi sebelum ucapannya semakin pedas lagi.
Diana menutup mulut Tika yang sudah kelewatan, Alber langsung pergi tanpa pamitan. Di memperhatikan wajah Tika yang emosi.
"Kenapa marah Tika? berbohong tidak baik."
Mobil Diana melaju pulang, Tika menceritakan jika dia pernah melihat Alber ke sekolahnya dan ada seorang siswa baru yang sombong dan angkuh.
"Dia selalu mengatakan, Daddy aku seorang dokter dan mommy seorang model terkenal." Mulut Tika menirukan gaya bicara siswa baru di kelasnya.
"Sabar Tika, jangan emosian." Diana tertawa lepas melihat tingkah Tika yang pemarah.
Mobil Diana melewati sebuah rumah mewah yang baru di renovasi, Tika meminta Di memperlambat laju mobil.
"Rumah ini sudah ada penghuninya?" Diana menatap rumah yang terlihat sudah bagus.
"Apa ini rumah yang Dean katakan, dia selalu bermain ke rumah tetangga baru bersama Ria dan Juan." Tika sangat penasaran dengan pemilik rumahnya.
Diana menghentikan mobil, langsung meminta Tika turun karena Diana masih ingin pergi ke suatu tempat.
"Hai kak, sudah selesai belum membeli kado kita. Ingat malam ini ada pesta, kita makan besar." Ria mengayuh sepedanya untuk ke rumah baru, karena Maminya mengudang untuk bergabung.
"Apa di rumah itu ada anak kecil?" Di menatap Ria yang sudah menghilang.
"Tidak ada, tapi di sana banyak mainan dan makanan." Dean berlari mengejar Ria.
__ADS_1
Tika melambaikan tangannya, meminta Diana berhati-hati di jalan. Tika juga ingin berkunjung dan menyapa tetangga baru yang sering dikunjungi adik-adiknya.
Mobil Di melaju pergi kembali, sesekali Diana melihat arah matahari yang sudah mulai redup.
"Hai Gem, hari ini matahari cerah. Aku ingin melihat ke tempat yang pernah kita kunjungi, tetapi tidak bisa kita nikmati keindahannya." Diana berbicara dengan boneka polisi yang dia beli, dan ada boneka dokter juga yang menemaninya.
Senyuman Diana terlihat, mempercepat laju mobilnya agar masih sempat melihat matahari terbenam seperti yang Gemal pernah katakan jika di sana sangat indah.
Wajah Diana langsung cemberut, ada macet di jalanan karena kerusuhan di depan mereka. Suara klakson mobil bersahut-sahutan.
"Ayo cepat, bisa hilang mataharinya." Diana memukul setir mobil.
Laju mobil semakin cepat, Diana tersenyum melihat dari kejauhan ucapan Gemal benar jika matahari terbenam sangat indah.
"Wow, bagus sekali. Ternyata kamu tidak bohong." Senyuman Diana terlihat sangat bahagia, ingin segera naik ke bukit dan menikmati matahari terbenam meskipun hanya sendirian.
Diana keluar dari mobil, langsung berlari ke atas tanjakan agar bisa sampai ke tempat yang pernah Gemal tunjuk.
"Tidak heran Gemal suka naik motor, mobil sulit naik ke atas." Langka Diana terhenti, melihat sebuah mobil mewah ada di atas.
Bibir Diana monyong, Gemal pernah mengatakan jika ini tempat persembunyiannya, tapi kenyataannya ada orang lain yang tahu.
"Dasar Gemal pembohong." Diana berlari dan melihat seseorang melipat tangannya di dada, kepalanya menoleh ke atas dengan mata terpejam.
Diana mengucek matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Gemal." Di berteriak kuat membuat pria yang berdiri menoleh ke arahnya.
"Diana." Tatapan binggung juga terlihat.
Senyuman Diana terlihat, langsung berlari kencang memeluk erat tidak ingin melepaskan.
***
Dipisahkan ngamuk, baru banyak komentar.
Susah banget mancing reader biar komentar. Wkwkwkw.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya
__ADS_1
***