
Beberapa mobil berdatangan, Shin yang berada di dalam mobil memperhatikan. Wajah Shin sangat terkejut saat melihat Maminya datang kembali.
Pintu mobil Shin terbuka, langsung berlari ke arah beberapa orang yang keluar dari dalam mobil.
"Mami ... Mi, ini Shin." Senyuman Shin terlihat, langsung memeluk Maminya.
"Kamu apakan rumah ini sampai hancur?" tubuh Shin didorong untuk menjauh.
Langkah kaki beberapa orang masuk ke dalam rumah, Mami Irish juga masuk ke dalam rumah diikuti oleh Shin yang mengkhawatirkan Tika dan Genta.
"Rumah ini secara tiba-tiba hancur Mi, bukannya Mami yang datang mengambil surat menyurat." Shin memegang pergelangan tangan Maminya.
"Kenapa? kamu tidak suka."
Shin menghela napasnya, Shin menceritakan enam tahun yang lalu Papinya juga datang. Memberikan hak untuk Shin atas rumah, dan seluruh isinya.
Seharusnya Maminya saat pulang menghubungi dirinya, bukan membuat keributan. Shin pasti akan menyerahkan surat menyurat secara baik-baik.
"Saya tidak peduli soal kamu, hidup ataupun mati. Bukan urusan saya, kedatangan aku hanya menginginkan keuntungan dari rumah ini." Irish membentak Shin yang langsung melangkah mundur.
Senyuman Shin terlihat, menundukkan kepalanya menahan rasa sakit dihatinya. Dirinya dari kecil selalu disakiti, hingga besar juga masih tetap disakiti.
"Mi, apa salah Shin? kenapa Mami dan Papi membenci Shin?"
"Kenapa aku harus menyukai kamu? siapa kamu? anak aku juga bukan, kamu hanya anak ...." Ucapan Irish langsung terhenti, menatap wajah Shin yang meneteskan air matanya sambil tersenyum.
Irish meminta Shin tetap hidup sama seperti sebelumnya, cukup diam dan selesaikan masalahnya sendiri.
Tidak ada gunanya Shin mempertanyakan soal dirinya, keluarganya, penyebab atau apapun masalah yang terjadi.
Irish hanya berharap Shin tetap diam seumur hidupnya, acuh terhadap apapun yang terjadi. Pertanyaan Shin hanya akan menyakiti dirinya.
"Shin sudah besar Mi, aku hanya penasaran, mengapa Mami begitu kejam? Mami sosok Ibu yang gagal." Bibir bawah Shin digigit kuat, menahan tangisannya.
Kepala Irish mengangguk, dirinya memang sejak awal tidak pernah menjadi seorang Ibu. Sejak Shin hadir, tidak ada sangkut pautnya dengan Irish.
"Apa Shin bukan anak Mami?"
__ADS_1
"Kamu hanya akan terluka. Sebaiknya diam." Teriakan Irish terdengar, mulai muak mendengar suara Shin.
Senyuman Shin masih terlihat, menatap Maminya yang memberikan perintah untuk menemukan buku, bangunan yang menghalangi disingkirkan.
"Sejak kecil Shin sudah tersakiti, mengetahuinya setelah dewasa mungkin lebih baik." Langkah kaki Shin mendekati pintu bangunan bawah tanah, bersandar di dekatnya.
Tatapan Irish semakin tajam, dirinya tidak ingin menghacurkan hidup Shin, tetapi mendengar ocehan Shin membuatnya kesal.
Irish memang bukan Ibu kandung Shin, sejak awal Irish tidak tahu siapa Shin, keluarganya bahkan asal usulnya, Irish tidak tahu apapun dan tidak ingin tahu juga.
Alasan Irish dan mantan suaminya, mengakui Shin sebagai anak karena demi harta. Kehidupan susah membuat mereka menerima tawaran dari seseorang untuk membawa Shin.
"Apa yang terjadi kepada kamu 20 puluh tahun yang lalu, aku tidak tahu. Juga tidak ingin tahu." Irish menendang sisa bangunan.
"Lalu kenapa Shin bisa ada di rumah ini?"
"Kamu bodoh Shin, rumah ini sebenarnya penjara yang dibangun menjadi tempat penampungan. Tidak ada yang berani mendekati rumah ini, karena yang pemiliknya seorang psikopat." Tubuh Irish merinding jika mengingat soal rumah yang dulunya sangat menakutkan.
Pengawal Irish tidak menemukan apapun, barang-barang yang ada di rumah tidak penting. Apa yang dicari mereka tidak ada ditempat.
Tubuh Shin langsung terduduk lemas, mencoba menenangkan pikirannya juga menata kembali hatinya yang hancur.
Sekarang Shin mengerti, alasan pengasuhnya meminta Shin tutup mata dan telinga, atas apa yang terjadi di rumah.
Setiap hari ada keributan, juga pemukulan menjadi sesuatu yang sudah biasa. Shin kecil selalu melihat beberapa orang dipukuli, keluar dari rumah dalam keadaan babak belur, bahkan penuh darah.
Sering sekali Shin melihat beberapa orang diseret seperti binatang, dalam keadaan tidak bergerak lagi.
"Rumah ini tempat pembantaian, penyiksaan, pembunuhan. Dulu aku berpikir, mereka sedang bermain-main, bertengkar, lalu main lagi. Ternyata mereka dibunuh." Shin tertawa merasa konyol dengan pikirannya saat kecil.
Bibir Shin bergetar, mengigit bibir atas dan bawahnya merasa sakit untuk tahu lebih lanjut soal dirinya.
"Shin, di mana ruangan bawah tanah?" Irish menarik lengan Shin.
Suara teriak Shin terdengar sangat besar, menarik-narik rambutnya, menatap tajam Irish bahkan menendangnya.
Pukulan kuat menghantam kepala Shin, sesaat Shin terdiam menatap tajam pria besar yang memukulnya.
__ADS_1
Suara Shin tertawa terdengar, langsung berdiri menyerang balik pria yang menyakitinya. Pertarungan terjadi, Shin yang lepas kendali mengamuk, memberontak.
Tubuhnya dipukul habis-habisan, tetapi Shin tidak merasakan sakitnya. Mencakar, bahkan mengigit lawannya.
"Biarkan saja anak gila ini, kita pergi dari sini karena matahari sudah terbit." Irish melangkahi Shin yang sudah tergeletak penuh darah.
Air mata yang keluar dari mata sudah berwarna merah, tangan Shin menulis di lantai menggunakan darahnya, jika kematian lebih menyenangkan daripada hidup penuh rasa sakit.
Dari balik pintu, Atika sudah menangis dalam pelukan Genta, tubuhnya mengeras merasakan hancur mendengar rasa sakit sahabatnya.
Dirinya ingin keluar, tapi Genta menahannya. Apa yang dicari oleh Irish ada ditangan Genta, Shin sudah berusaha menjaga pintu agar tidak ditemukan.
Tangan Genta mengepal kuat, berusaha menahan Tika untuk tetap tenang dan tidak mengeluarkan suara apapun.
"Aku akan membunuh mereka." Tika mengigit baju Genta sampai bibirnya juga mengeluarkan darah, karena gigitan.
Pelan-pelan Genta membuka pintu, merangkul Tika untuk keluar. Melihat Shin yang sudah tergeletak dilantai. Ada darah yang mengalir, bahkan tangan Shin memainkan darahnya.
"Jangan berbalik Tika, kamu percaya aku." Genta berjalan mendekati Shin, mengangkat kepala adiknya yang penuh darah.
"Kak, Shin takut. Jika kematian akhir dari hidup, Shin tidak ingin hidup lagi. Aku lelah, sangat lelah. Biarkan semuanya berakhir" Mata Shin terpejam.
"Shin punya kak Genta, kita berdua bisa menemukan kebahagiaan. Kak Genta berjanji akan memberikan kebahagiaan, tapi Shin harus bertahan, lebih kuat lagi." Air mata Genta menetes, langsung memeluk Shin yang masih tersenyum.
Hati Genta sangat hancur, dirinya tidak pernah merasakan kesedihan sedalam ini meksipun dirinya sudah yatim piatu.
Melihat Shin terluka, menjadi hal yang paling menghancurkan hidupnya. Genta bersumpah, mempertaruhkan nyawanya untuk mengejar Irish yang sudah menyakiti adiknya.
Tubuh Shin langsung digendong, mata Shin sudah tertutup tidak sadarkan diri. Genta melihat ke arah Tika yang sudah terdiam melihat kondisi sahabatnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Tika langsung berjalan di depan dengan cepat, emosinya sangat tinggi.
Tidak ada yang boleh menyakiti Shin selain dirinya, Tika tidak rela sahabatnya babak belur, Tika pastikan menemukan orang-orang yang menyakiti partnernya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1