
Saat tiba di restoran Shin dan Tika langsung cepat masuk ke dalam untuk segera mengawasi kembali pergerakan Irish dan pria yang bersamanya.
Shin meletakkan laptop Tika di kamarnya, meminta Tika yang mengawasi karena mereka membutuhkan makanan.
"Tik, aku masak dulu. Kamu awasi mereka." Shin langsung berjalan ke dapur yang sudah lama dirinya tinggalkan.
"Tidak ada yang harus kita perhatikan, dua manusia menjijikan sedang beristirahat dari pertempuran hubungan terlarang." Tika mengikuti Shin yang mengecek bahan makanan.
Suara Shin mengumpat terdengar, dirinya kesal melihat kulkas kosong tidak ada bahan makanan sama sekali.
"Maaf Shin, aku lupa. Semua bahan makanan sudah dibersihkan karena apartemen ini lama kosong." Senyuman Tika terlihat, meminta maaf atas kelalaiannya.
Shin sudah berpesan agar Tika mengisi ulang kulkasnya, tetapi Tika melupakannya bahkan lupa jika sahabatnya koki terbaik membutuhkan banyak bahan makanan.
"Kita belanja dulu ke supermarket terdekat." Shin menatap Tika yang masih melamun.
Tepukan tangan Shin terdengar, meminta Tika segera sadar dari lamunannya yang akan memakan waktu lebih lama.
"Minta karyawan restoran mengantarkan bahan, aku malas keluar."
"Baiklah, kamu tunggu di sini, aku pergi sendiri." Tangan Shin melambai, melangkah meninggalkan Tika yang memonyongkan bibirnya.
Sejak awal restoran dibangun, Shin tidak pernah mengizinkan siapapun mendekati restoran kecuali orang-orang terdekatnya.
Pelukan Tika mendarat dari belakang, mengikuti sahabatnya untuk berbelanja bahan makanan sebelum mereka lembur kerja menyelidiki hubungan Irish dan Melly.
Sesampainya di supermarket, Shin sibuk memasukkan segala bahan yang diperlukannya untuk masak, sedangkan Tika hanya mengikuti dari belakang tanpa membantu sama sekali.
"Tik, kamu hari ini ingin masakan apa?" kepala Shin melihat ke arah Tika yang berdiri santai sambil mendengarkan sesuatu di telinganya.
"Kamu atur saja Shin, aku menyukai apapun yang kamu masak." Kedua jempol tika terangkat, menyemangati shin yang menghela napasnya.
Tatapan Tika melihat ke arah lain, langsung bergegas mengikuti seseorang dan meninggalkan Shin begitu saja.
"Apa yang dilakukan Om tua di sini? dia seharusnya ada di kantor. Kenapa bisa ada di supermarket?" Kening Tika berkerut, mengikuti setiap langka Genta.
Tangan Genta terangkat melihat seseorang wanita yang berlari kecil ke arah Genta. Tatapan Tika langsung tajam, kesal melihat Dokter yang Kakaknya ributkan bisa pergi bersama Genta.
"Kak Gen akan kembali? kirim salam untuk Mimi dan Pipi, Li belum bisa kembali karena kondisi Mama Citra masih memprihatikan." Li berjalan mengikuti Genta yang hanya memberikan senyuman kecil.
__ADS_1
"Bagaimana jadwal operasinya?"
Li menghentikan langkahnya, dirinya tidak bisa memberikan harapan besar, apalagi Juna sudah mengetahui kondisi Mamanya yang terus memburuk.
Jika operasi sukses memang sebuah keajaiban yang luar biasa karena harapan keberhasilan hanya tujuh banding tiga dan kondisi buruknya lebih besar.
Kepala Genta mengangguk, dirinya tidak tahu banyak hal soal medis, dan yakin Li bisa mengatasinya karena dia Dokter yang cukup berpengalaman juga mendapatkan kepercayaan besar dari keluarga Juna.
"Kamu ingin membeli apa? aku hanya memiliki 30 menit." Genta menunjukkan jam tangannya.
Li langsung tertawa, Genta belum berubah sama sekali, sejak muda dia pria yang dingin meskipun Li tidak pernah bosan mengusiknya.
"Kak Genta sudah makan? haruskah kita makan bersama?"
"Aku sibuk, kamu meminta aku datang untuk menemani mencari sesuatu yang penting bukan acara makan." Tatapan mata Genta tajam.
"Kak Genta, kita sudah dua puluh tahun saling mengenal, kenapa sulit sekali untuk kita sekedar makan?" bibir Li monyong memohon kepada Genta.
"Kamu yang mendekati aku, dan aku tidak tertarik untuk berteman." Genta berjalan ke arah restoran, Li tertawa mengikuti Genta.
Ucapan Genta memang selalu menyakitkan, tetapi Li tahu ia pria yang tidak tega jika mengabaikan wanita.
"Kali ini apalagi masalah kamu? aku sibuk." Genta meminta Li segera bicara masalahnya agar Genta segera berlalu pergi.
"Kenapa Kak Gen saat di rumah sakit bersikap seakan tidak mengenal Li?"
"Kenapa juga kau bersikap seakan mengenal kamu?"
"Kak, jujur Li merasa takut dan khawatir dengan opersi ini." Kepala Li tertunduk.
Genta menepuk pundak Li, Genta mengerti ketakutannya. Apapun hasil akhir, paling utama tindakan awal.
"Kamu mempunyai keberanian saja sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika kamu Dokter yang bertanggung jawab."
"Aku takut mengecewakan dia kak?"
Senyuman Genta terlihat, membuka topinya memperhatikan LI yang memang sedang eemlikiba banyak keraguan.
"Pisahkan urusan pekerjaan dengan hubungan pribadi. Kamu Dokter bukan kekasihnya Juna."
__ADS_1
Li menatap kaget Genta, sebelum dirinya bicara, Genta sudah tahu soal perasaanya kepada Juna. Li takut jika operasinya gagal dan Citra tidak bisa di selamatkan, hubungannya dan Juna semakin jauh.
Juna bukan pria yang mudah di dekati , Li bahkan harus berjuang menjadi Dokter agar bisa bicara dengan Juna, dan tidakak ingin hubungannya berantakan.
"Jika kmu mencintai seseorang lakukan dengan tulus, jangan memaksa perasaan yang bukan untuk kamu." Genta memakai kembali topinya.
"Aku wanita satu-satunya yang bisa dekat dengannya."
Tatapan mata Tika tajam, tangannya mengepal erat langsung berjalan mendekati Li yang secara terang-terangan mengungkapkan jika tujuannya mengobati Citra hanya untuk mendekati Juna.
"Perempuan tidak tahu malu, langkahi mayat ku jika ingin mendekati kak Jun, jangan harap bisa masuk dalam keluarga kami." Tika menatap sinis, mencaci maki Li di depan Genta.
"Tika aku tidak bermaksud seperti itu. Tujuan aku memang ingn mengobati Mama Citra."
"Mama, kamu panggil Mama. Tidak tahu diri. Jangan karena kamu Dokter pribadi Citra dan keluarga kamu Dokter kepercayaan keluarga Leondra bisa dengan mudah mendapatkan putra utama keluarga kami. aku tidak sudi." Tangan Tika mencengkram rahang Li.
Melihat wajah Li, Tika langsung emosi apalagi melihatnya bersama Genta yang rela menyempatkan waktu hanya untuk bermain di supermarket.
"Tika jaga sikap kamu, dia bekerja dengan Juna bukan kamu." Genta melepaskan tangan Tika yang menyakiti Li.
"Siapa kamu, orang luar jangan ikut campur. Sekali lagi aku dengar kamu mengatakan mencintai Juna, aku lenyapkan dari muka bumi ini!" Tika menunjukkan jari tengah kepada Li yang sudah bersembunyi di belakang Genta.
Suara Genta meminta Tika pergi terdengar, Shin berteriak dari kejauhan tidak suka Genta membentak sahabatnya demi membela wanita lain.
"Shin, Tika yang bicara kasar lebih dulu."
"Aku tidak perduli, kak Genta menyakiti Tika sama saja menyakiti Shin, menghina dia sama saja menghina aku. Pikirkan baik-baik sebelum bicara, jika tidak ingin menyesal." Shin menatap tajam Genta dan Li.
Tangan Shin mengepal erat mendengar secara langsung Li mengungkap perasaannya
Genta meminta maaf kepada Shin, meminta Li pergi lebih dulu untuk menghindari pertengkaran.
"Minta maaf kepada tika KK?"
"Shin, aku tidak salah."
"Ayo kita pergi Tika, kita batasi hubungan kita Genta." Shin menarik tangan Tika pergi menjauh.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira