ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENENTUKAN PILIHAN


__ADS_3

Sampai di rumah Shin masih tidak bisa konsentrasi, membaca ulang soal Reza yang akan memimpin koki lain di restoran barunya.


"Tidak ada yang mencurigakan, ini mungkin hanya perasaan aku saja." Shin menatap foto keluarga besar yang terpasang di dinding saat acara lamaran Genta.


"Apa yang kamu pikirkan?" Papa Calvin mengusap kepala Putrinya lembut.


"Pa, ada seorang koki di restoran Shin. Dia sangat hebat saat memasak, tapi terlalu mencari perhatian, suka bercanda. Dia terlihat biasa saja, tapi Shin mendorong kuat, dan hanya mundur beberapa langkah." Shin menatap tangannya, menunjukkan kepada Papanya yang tertawa pelan.


Suara tawa membuat Shin semakin binggung, apa dirinya salah dalam menilai seseorang sehingga harus menyelidiki siapa koki barunya.


"Sayang, kamu terlalu menutupi diri untuk orang-orang yang mengangumi kamu. Memangnya kenapa jika dia memiliki tenaga kuat? apa dia langsung dicap sebagai penjahat? laki-laki seperti apa yang membuat kamu tersenyum manis? bukan mencurigai orang." Kepala Shin diusap lembut, meminta Shin lebih terbuka kepada siapapun dan tidak menunjukkan sisi dirinya yang kejam.


"Pa, Shin paham itu. Ini rasanya berbeda, ada sesuatu yang mengganjal di hati." Shin merasa perasaan gelisah.


"Ada seseorang yang kamu jaga perasaanya? apa ada lelaki yang kamu cintai?"


"Papa ... Shin tidak menyukai siapapun." Shin langsung berlari ke kamarnya dengan wajah cemberut.


Senyuman Papa Calvin terlihat, menghubungi seseorang untuk mengecek setiap karyawan Shin termasuk para koki. Calvin ingin mengetahui apa yang dicemaskan oleh putrinya.


Mendekati pernikahan Genta, perasaan Calvin juga tidak nyaman. Semakin dekat hari, jantung berdegup lebih kencang. Perasaan yang Calvin rasakan sama seperti Gemal akan lahir, dan kecemasannya terbukti putranya sampai hilang.


Suara anak-anak Gemal pulang sekolah terdengar, Isel langsung memanjat tubuh Kakeknya meminta digendong.


"Bagaimana sekolah kamu Isel?"


"Berantakan Kakek, Papa dipanggil ke sekolah karena Isel memukul kepala anak orang menggunakan kursi." Tawa Isel terdengar, turun dari gendongan langsung berlari memanjat tangga.


Ian memegang baju adiknya agar tidak jatuh, tangga ada memilih memanjat. Gion yang sudah mengomel karena Isel mirip monyet.


"Apa yang Isel lakukan Gem?"


"Biasalah Pa, dia diserang dari belakang dan pastinya langsung dibalas. Orang memukul satu kali, dia sepuluh kali." Gemal duduk di ruang tamu diikuti oleh Papanya.


"Genta kapan cuti?"


Gemal tidak ingin disalahkan, dia sudah memberikan izin libur sejak satu minggu lalu, Genta saja yang keras masih ingin menyelesaikan satu misi lagi.

__ADS_1


Melihat wajah Papanya, Gemal merasa ada yang dikhawatirkan. Penjagaan juga sangat ketat, bahkan Papanya tidak pergi ke rumah sakit.


"Ada apa Pa? jika ada masalah bicara dengan Gemal." Kepala Gemal menoleh ke arah suara Genta yang baru pulang.


Senyuman Papa Calvin terlihat, meminta Genta duduk bersama. Tangan Calvin memegang dadanya, dirinya sudah tidak muda lagi, dan perasaan semakin sering khawatir.


Ketiga putranya sudah dewasa juga memiliki keluarga kecil, Calvin meminta Gemal dan Genta lebih menjaga Shin meksipun sibuk dengan pekerjaan dan keluarga.


"Ada apa dengan Shin Pa?"


"Tidak ada, Papa hanya mengkhawatirkan dia. Kamu juga berhati-hatilah Genta, kurangi pekerjaan dan fokus ke pernikahan." Papa Calvin menambah penjagaan Shin, tapi Shin bisa menghindari pengawalnya.


Genta tidak terlalu banyak pikir, dikarenakan pernikahannya tertutup khusus keluarga terdekat, rekan kerja, dan beberapa orang penting yang memiliki hubungan baik dengan keluarga.


Apa yang Genta ucapan dibenarkan oleh Gemal, tamu yang akan hadir juga didata dengan hati-hati bukan hanya demi keamanan keluarga, tapi para pejabat lainnya.


"Gen, apa ada seseorang yang mendekati kamu?"


"Entahlah, sejauh ini aku tidak merasakannya ...." Genta dan Gemal berteriak bersamaan kemungkinan besar ada laki-laki yang mendekati Shin.


Diana yang baru pulang mengelus dada, dia terkejut melihat Gemal dan Genta tidak biasanya kompak.


Langkah kaki Shin menuruni tangga, berlari kencang ingin keluar rumah bertemu dengan Tika yang sudah menunggunya.


"Shin! baju kamu ganti. Kenapa keluar rumah bajunya begitu?" Gemal menatap tajam.


"Lihat putrimu Gemal, bajunya satu jari." Di tertawa melihat Isel yang berlari keluar menggunakan baju seksi.


"Hei, kalian berdua ganti baju." Gemal menaikan nadanya.


"Ke rumah Tika Kak?"


"Ganti Shin, matahari bisa redup melihat punggung kamu. Isel juga kenapa perut kamu sudah terlihat semua?" Genta menepuk jidat melihatnya.


Suara Shin mengomel terdengar, kembali ke kamarnya untuk mengganti baju. Isel sudah memakai jaket menutupi perutnya karena bajunya sudah kekecilan.


Pelukan ditubuh Diana terasa, menatap Shin yang berlari ke rumah Tika terburu-buru seperti dikejar hantu.

__ADS_1


Pintu rumah Tika terbuka, tanpa permisi Shin langsung masuk melewati Juan yang sedang menuruni tangga.


"Kak Tika tidak ada di kamar, dia di dapur." Juan menunjuk ke arah dapur.


"Terima kasih Juan, kenapa kamu semakin tampan." Shin menyentuh pipi pria tampan penerus Juna.


Di dapur Aliya duduk termenung, melihat banyaknya hantaran seserahan untuk Ana. Al tidak bersemangat pergi, sampai mendekati hari H saja belum memberitahu Juna.


"Mami, di mana Tika? banyak sekali buahnya." Shin membuka bungkus parsel, langsung melahap memakan buah yang sudah di rapikan.


Senyuman Aliya terlihat, menatap wajah cantik Shin yang duduk di atas meja sambil menghabiskan buahnya.


"Mam,"


"Emh ... kenapa?"


"Boleh minta lagi?" Shin mengambil buah-buahan, tidak menunggu Aliya setuju.


"Shin, bagaimana jika Juna dan Ana menikah? kamu satu-satunya yang masih sendiri? tidak adakah pria pilihan kamu?"


"Ada Mi, menunggu Juan dewasa. Kira-kira Mami setuju tidak memiliki menantu seperti Shin." Tawa receh terdengar, keseriusan Aliya hanya ditanggapi dengan candaan.


Tika muncul, melihat kaki Shin yang bergelantungan. Kursi tidak ada harga dirinya sama sekali. Buah-buahan untuk seserahan juga habis dilahap.


"Kamu lapar atau memang rakus? ini punya Kak Ana,"


"Maaf, Shin tidak tahu. Jadi benar jika Kak Juna dan Hana akan lamaran di hari pernikahan kamu Tik?"


Aliya dan Tika mengangguk, saat pertemuan nanti akan menjadi penentuan lanjut tidaknya hubungan Juna. Al terlihat kecewa karena gerakan Juna sangat lambat.


"Mi, waktu itu Shin mencium Kak Juna, tapi menyebut nama pria lain. Kak Juna marah sampai membanting barang." Tika melirik ke arah Shin ingin memancing untuk jujur.


"Shin mengigau Mami, lagian aku tidak tahu siapa pria yang aku sebut,"


"Suami khayalan kamu, kak Juna menjadi pelampiasan." Tika merasa kasihan kepada kakaknya.


Al hanya tersenyum kecil, memperingati Shin untuk menetapkan keyakinan hatinya. Apa yang dia inginkan, tapi tidak ada usahanya maka akhirnya hanya akan kehilangan.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2