
Bantuan langsung mendekati Yandi yang langsung berpindah ke kapal bersama Altha dan Dimas yang sudah mengerakkan pasukan untuk menahan kapal.
"Di mana Gemal?" Dimas menatap Yandi yang masih terduduk diam.
"Dia sudah gila, menyelam dalam air demi bisa masuk kapal lebih dulu." Yandi menggelengkan kepalanya, kondisi Gemal tidak kuat, tapi sikap nekatnya terlalu besar.
Altha mempercepat pindah ke kapal yang sudah lebih dulu Gemal datangin, karena Alt yakin Gemal tidak mungkin bisa bertarung.
Dimas langsung lompat, bergelantungan di kapal diikuti oleh Altha yang juga masuk melihat sudah terjadi keributan.
Suara senjata terdengar menggema di langit malam, puluhan polisi mengarahkan senjata kepada para penyelundup.
Alt membuka sebuah ruangan, melihat Gemal yang berdiri diam, Hendrik dan Gracia mengarahkan senjata kepadanya.
"Kalian jangan ada yang maju jika tidak dia akan kami tembak!" Hendrik berteriak kuat.
Gracia meminta disiapkan kapal untuk mereka melarikan diri, karena jika sedikit saja Altha melakukan kesalahan, maka kepala Gemal akan meledak.
"Tahan dulu pak, ada yang ingin tanyakan kepada kak Hendrik?"
Tatapan Hendrik tajam, suara Gemal terdengar pelan. Dia hanya ingin bicara jika ibu mereka selalu menanti kepulangan putra pertamanya.
Rasa sayang ibu sangat rata, meskipun Hendrik melakukan kesalahan, tidak sekalipun ibunya mengungkit buruknya putra-putranya.
"Ibu hanya tahu, satu putranya seorang dokter yang hebat, dan satu lagi seorang polisi yang baik." Senyuman Gemal terlihat, impian ibunya hanya ingin melihat Hendrik dan Gemal sebelum kematiannya.
Gemal menyentuh dadanya, karena dia tidak sanggup pulang ke rumah saat melihat ibunya bermalam-malam membuat adonan kue tanpa tidur.
Tidak pernah mengeluh lelah, sakit, tapi terus tersenyum karena ingin mengumpulkan uang untuk pernikahan kedua putranya.
"Kak Hendrik tidak kasihan sama ibu, karena uji coba yang gagal membuat ibu tidak tahu rasanya tidur nyaman." Kepala Gemal tertunduk, menahan air matanya dan mengendalikan emosinya.
"Ibu hanya menyayangi kamu, padahal kita tidak ada ikatan darah." Hendrik tidak akan luluh hanya karena curahan hati Gemal.
Tatapan mata Gemal tertuju kepada kakaknya yang terlihat gelisah, menurunkan senjata, mengalihkan pandangan matanya.
Gracia menatap Hendrik yang membayangkan ibunya, dan melihat Gemal yang menunjukkan ketulusan.
__ADS_1
"Percuma saja kamu berjuang Gemal, karena pada kenyataannya Hendrik yang membunuh ibunya. Saat ini ibu kamu tidak memiliki banyak waktu." Cia menatap Hendrik untuk fokus ke tujuan awal mereka.
Hendrik tidak punya pilihan untuk mundur, karena dia akan membusuk di penjara seumur hidup.
"Kak setidaknya temui ibu satu kali saja, katakan maaf agar ibu bisa tersenyum tanpa beban rindu." Kedua tangan Gemal memohon.
Sebaik apapun dirinya tidak bisa mengantikan posisi anak kandung, dan seburuk apapun sikap anak tidak akan membuat seorang ibu lupa, pernah melahirkan dan membesarkan.
Dimas langsung melangkah mundur bersama Altha, meminta semuanya bersiap dan berhati-hati karena Gracia seorang psikopat.
Alt tidak kuat melihat Gemal yang ceria, pecicilan tenyata memiliki kehidupan yang sulit bahkan dia tidak pernah mengungkap siapa dirinya.
"Kebenaran memang menyakitkan, aku pikir dia anak manja yang tahunya bersenang-senang. Tetapi dia hanya tertawa menutupi kelemahannya." Dimas tahu rasanya tidak memiliki keluarga, apalagi tidak tahu asal usul.
Dari kejauhan, Altha memperhatikan Gemal yang memegang senjatanya. Dimas juga cukup kaget langsung berlari mendekat ruangan.
"Yandi bersiaplah." Suara tembakan bersamaan terdengar.
Gemal melepaskan tembakan ke arah tangan Gracia yang mengarahkan senjatanya kepada Hendrik yang langsung terjatuh.
"Kenapa kamu ingin membunuh aku Cia?"
Gracia mengeluarkan senjata yang berisi jarum beracun, diarahkan kepada Gemal dan langsung menancap Hendrik yang menghadangnya.
Suara tembakan terdengar, Gracia langsung lompat dari kapal terjun ke dalam air. Gemal langsung ingin lompat, tapi Yandi langsung menahannya.
Beberapa tentara langsung mencari keberadaan Gracia yang melempar tabung beracun ke dalam kapal.
"Keluar semuanya dari sini." Altha meminta semuanya pindah ke kapal, bahkan ada yang terjun ke dalam air demi menyelamatkan diri.
"Aku harus menemukan obat untuk ibu sebelum barang bukti tenggelam." Gemal masih bertahan sampai Yandi menarik kuat untuk keluar.
Gemal langsung terduduk, melihat seluruh barang bukti terbakar di dalam kapal. Cia sudah mempersiapkan jika mereka gagal seluruh barang bukti hilang.
"Sialan, Gracia memang psikopat licik." Dimas melihat api langsung melahap seluruh barang bukti.
"Bagaimana soal obat penawar untuk ibu?" Gemal langsung terduduk lemas.
__ADS_1
"Gem, ini untuk ibu. Minta Di menyempurnakannya." Hendrik memberikan sesuatu ke telapak tangan Gemal.
Altha menahan Hendrik yang sudah muntah darah, perlahan tatapannya sayu langsung tidak sadarkan diri.
"Seharusnya kamu tidak menyelamatkan aku, karena aku bisa menghindar." Gemal melihat obat penawar ditangannya, tapi harus mengambil pilihan untuk menyelamatkan ibunya atau kakaknya.
Gemal membuka cairan, langsung menyuntikkan ke Hendrik agar bisa bertahan sampai ke rumah sakit.
Air mata Gemal akhirnya menetes meminta maaf kepada ibunya, karena saat ini nyawa Hendrik sedang terancam.
Darah mengalir dari kepala Gemal, Yandi langsung menutupnya dengan kain karena jahitan di kepala terbuka.
Pandangan Gemal mulai gelap, menatap Dimas sambil meminta maaf jika dia gagal membawa barang bukti.
Seluruh tahanan juga gagal diselamatkan kecuali Hendrik, kapal terbakar bersamaan dengan barang bukti.
"Maafkan saya pak, selalu melanggar peraturan, bertindak gegabah, dan keras kepala. Kali ini aku mengaku gagal, dan siap dikeluarkan." Gemal menutup matanya tidak sanggup bertahan lagi sampai kesadarannya juga hilang.
Dimas mengusap kepala Gemal, meminta Yandi segera mempersiapkan ambulans saat mereka menepi.
"Jika kamu ada masalah seharusnya cerita bodoh, bukan tertawa, bercanda apalagi main-main." Dimas meneteskan air matanya tidak tega melihat kondisi Gemal yang mengalami pendarahan dari kepalanya.
Altha meminta bantuan tim medis, dan menceritakan kondisi Gemal yang banyak mengeluarkan darah dari kepalanya.
"Kita gagal jika kamu mati Gem." Yandi juga sama khawatirnya karena wajah Gemal sejak awal sudah pucat, sekarang tangannya dingin.
Seluruh anggota yang lain juga berkumpul, merasakan kehilangan sosok ceria, Gemal biasanya selalu mengacau lokasi sambil bermain, tidak ada yang berpikir jika dia bisa serius.
Melihatnya terbaring dalam keadaan basah, bahkan penuh darah membuat semuanya sedih.
"Sudahlah, jangan menangis. Dia pasti baik-baik saja, bukannya kalian senang tidak ada pengacau lagi di lapangan, sementara waktu kita bisa bekerja tanpa Gemal." Altha meminta tim-nya tetap kuat, dan tidak terlalu terpukul.
Alt mengecek kondisi Hendrik, detak jantung normal dan bisa bernafas stabil. Kesedihan Altha saat melihat Gemal berjuang mendapatkan obat untuk ibunya, tapi merelakan untuk Hendrik tanpa berpikir dua kali.
"Meksipun kamu tidak jelas asal usulnya, kamu sudah menjadi manusia yang baik Gem."
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira