ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DITAHAN


__ADS_3

Keinginan Aliya yang bergabung membuat perasaannya khawatir, hatinya tidak tenang meninggalkan anak-anaknya meksipun keamanan sangat ketat.


Al memutuskan membatalkan niatnya, tapi tidak kembali ke rumah. Al hanya ingin mengawasi selama Altha melakukan pengerebekan tanpa Tim.


Altha mempertaruhkan jabatan, jika sampai dirinya gagal melakukan pengerebekan tanpa hasil Altha bisa dilaporkan.


"Alt, kenapa Aliya tiba-tiba gagal ikut?"


"Diamlah Yandi." Dimas sudah mengeluarkan senjatanya.


Altha masuk seorang diri di rumah kosong, langsung mencongkel keramik menuruni tangga menuju ke bangunan bawah tanah.


Alt sengaja tidak mengeledah dari rumah kosong yang ada di depan rumah korban, karena pasti ada sesuatu yang disembunyikan.


Dimas dan Yandi sudah berhasil masuk ke rumah mewah, di sana sedang ada pesta. Yandi dan Dimas berhasil menyamar menjadi pelayan.


Di antara banyak tamu ada Citra dan Wadi juga, keduanya hanya terlihat sekilas lalu melangkah pergi ke sebuah kamar.


"Kenapa Altha harus balik ke rumah kosong? sedangkan para pelaku ada di sini." Dimas melihat sekitar yang mulai ramai.


Yandi juga bingung, keamanan sangat ketat dan mereka tidak punya jalan untuk masuk ke kamar yang dijaga ketat.


Di bangunan bawah tanah Altha memukul setiap dinding, tendangan kuat menghantam dinding.


Altha berhasil menemukan tempat persembunyian barang-barang yang sudah disingkirkan, sudah Altha duga semua barang bukti yang disita bukan yang asli.


Alt masuk dan menghubungi istrinya, Altha menemukan apa yang Aliya inginkan dan akan segera membawakan kepada Al untuk di aktifkan kembali agar menemukan bukti yang kuat.


Aliya meminta Altha menemukan sebuah kalung liontin, Alina meninggalkan jejak jika memberikan hadiah kalung.


Alin pasti meninggalkan sesuatu, dan kalung yang tertinggal bisa menjadi bukti yang kuat.


Tangan Altha menarik suatu, sebuah kalung dan ada mainan yang terbuat dari kayu.


Altha langsung keluar dari rumah kosong dan segera menemui Al yang ada di dalam mobil sambil memainkan laptopnya.


Suara ketukan kaca mobil terdengar, Aliya tersenyum melihat suaminya yang sangat tampan saat menyamar.


"Sayang, aku akan pergi ke rumah Wadi. Yandi dan Dimas juga ada di sana, bukti apapun yang kamu temukan hubungi aku." Alt masih sempat mencium bibir Aliya.

__ADS_1


"Ayang, itu bukan rumah Wadi, tapi ...."


Altha tersenyum, mencium bibir Al bekali-kali. Tanpa Aliya jelaskan Altha sudah tahu, tapi hanya berpura-pura tidak tahu.


Pintu mobil ditutup, tapi tidak berapa lama Altha mengetuk kembali. Alt meminta Aliya membawa anak-anak ke villa untuk liburan, Alt akan menyusul setelah menutup kasus.


Al hanya menganggukkan kepalanya, meminta suaminya berhati-hati. Al hanya bisa menatap mobil Altha melaju pergi meninggalkannya.


"Ayang menutupi buktinya, jika kalian sampai ketahuan bisa saja Wadi memenjarakan Ayang." Al menghela nafas melihat Altha yang nekat tetap masuk ke acara pesta.


Pesta yang diadakan, pesta penyambutan yang sama seperti saat penganiayaan Sita, juga pelecehan yang membuat Sita pendarahan dan mengalami perdarahan otak akibat benturan.


Al melihat kalung yang sangat detail pembuatan, mengambil mainan kalung dan membongkarnya.


Senyuman Aliya terlihat, ada kamera kecil di dalamnya. Al langsung memindahkan ke laptopnya dan memperbarui perangkat.


Al membutuhkan waktu tiga puluh menit, sambil menunggu Al melihat laptop yang Altha bawa langsung memperbaiki dan menghidupkannya.


Ada banyak data yang dihapus, salah satu data kamera pengawas. Al hanya bisa geleng-geleng kepala melihat rekaman yang memperlihatkan sedang diadakan pesta miras.


Banyak sekali wanita dan pria sedang mabuk dan menggunakan obat-obatan sampai lepas kendali.


Pukulan kuat di dasbor mobil, Al mencengkram setir mobilnya dengan tatapan marah dan penuh kebencian.


Altha melihat bukti yang Aliya kirimkan, jika tidak diizinkan masuk maka Al akan menyebarkan rekaman dan membuat kacau kantor jaksa.


Setelah Alt menunjukkan bukti, langsung masuk ke dalam ruangan yang sedang ada pertemuan. Bukan hanya kumpul sesama penjahat, tapi sedang diadakan pesta miras secara terbuka.


"Selamat malam bapak hakim juga jaksa yang terhormat." Alt menatap tajam beberapa orang berpengaruh juga ada di depan mata.


"Apa yang kamu lakukan Altha?"


" Menjalankan tugas untuk menangkap para penjahat." Alt menahan emosinya melihat beberapa orang yang masih duduk santai tidak ada rasa takut sama sekali.


Dimas langsung ingin melayangkan pukulan, Yandi langsung menahannya untuk kontrol emosi.


"Kalian tidak mungkin bisa menangkap kami Alt?" Wadi tersenyum sinis, meminta Altha bergabung bersama mereka.


Tidak ada gunanya Altha melawan, Alt tidak mungkin bisa keluar hidup-hidup. Daripada bersusah paya menangkap orang-orang yang sebenarnya tidak bisa Alt tangkap.Wadi memberikan Altha kesempatan untuk bergabung dan bersenang-senang bersama mereka.

__ADS_1


Senyuman Altha terlihat, dia lebih bahagia mati secara terhormat sebagai penjaga negara dan masyarakat dengan tanggung jawab dan kepercayaan penuh, daripada hidup disanjung dan dipuji, tapi aslinya memiliki sikap yang tidak mencerminkan kepribadian seorang pelindung.


Yandi meminta semuanya duduk diam, karena tidak ada satupun diantara mereka yang bisa bebas, karena semua bukti sudah ada ditangan Altha.


Semua orang kaget, Dimas juga mengatakan soal kasus pembunuh gadis berusia delapan tahun, dan juga pesta miras dan mengkonsumsi obat terlarang.


Seluruh pejabat yang terlibat tidak akan bisa melarikan diri, karena surat penangkapan akan segera tiba.


***


Mata Juna terbuka, melihat seorang pria berbadan besar mengarahkan senjata padanya. Juna tidak menunjukkan wajah takut sama sekali, langsung melangkah keluar mengkhawatirkan adiknya.


Dari lantai atas Juna melihat Anggun sudah tergeletak di lantai, Elen menutup mata Juna dan menggendong Tika yang masih tidur.


"Turun sekarang atau kalian akan aku tembak."


Juna melangkah lebih dulu, menggenggam tangan adiknya yang tidur mengorok. Juna ingin melihat kondisi Anggun, tapi Helen menahan kepala Juna untuk fokus melihat ke depan.


"Jangan sakiti mereka brengsek." Anggun menahan kaki seseorang.


Tendangan kuat menghantam Anggun, darah menetes dari tubuhnya yang tertusuk pisau.


"Aunty, diamlah. Bertahan sampai Mami datang, dan Aunty jangan melawan lagi." Juna tersenyum melihat Anggun, meminta bertahan sampai bantuan datang.


Juna melangkah keluar rumah bersama Tika dan Helen, suara Helen meringis terdengar. Tika langsung direbut dan dibawa pergi bersama Juna.


Helen langsung tergeletak di lantai tidak sadarkan diri, Juna melihat pengasuh adiknya bersimbah darah.


Tika terbangun, Juna berteriak meminta adiknya tetap memejamkan mata. Juna menyayikan lagu yang pernah Aliya ajaran untuk Juna dan Tika sebagai kode jika ada bahaya.


"Kak Juna gedong." Tika merentangkan tangannya masih memejamkan mata.


Juna langsung menggendong adiknya mengikuti lima orang bersenjata yang ingin membawanya pergi.


Juna menenangkan Tika, dan mengatakan Mami dan Papinya pasti datang.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


Like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya ditunggu


__ADS_2