
Laju mobil dengan kecepatan tinggi melintasi dan menerobos lampu merah, sebuah mobil mengejar membunyikan klakson bekali-kali.
"Berhenti! apa yang kamu lakukan berbahaya bagi penguna jalan lain?" Suara teriakan dari dalam mobil terdengar.
Suara tawa Diana terdengar, mempercepat laju mobilnya langsung melewati mobil yang mengikutinya sampai tidak bisa mengejarnya lagi.
Di sudah terbiasa kebut-kebutan dan tahu batasan kecepatan dan mengetahui lokasi yang dia lewati, sehingga bukan hal yang menakutkan baginya.
Mobil Di sampai di rumah sakit, langsung melangkah masuk ke dalam karena ada operasi dadakan.
Melihat Di tiba, tim yang sudah menunggunya langsung bersiap-siap. Operasi yang Di lakukan cukup berbahaya sehingga membutuhkan waktu cukup lama.
Kebiasaan yang selalu membuat Diana kesal, saat operasinya berlangsung banyak dokter lain yang menonton.
Di menghela nafasnya, mengangkat kedua tangannya meminta semuanya bersiap, pisau beda langsung ada di ditangan.
Kerja Diana sangat cepat, tim yang bekerja dengan Di juga terlihat tenang karena Diana tidak menyukai kerusuhan apalagi panik.
Jika masih ada kemungkinan, Di akan berjuang namun ada kalanya dia juga angkat tangan jika usahanya tidak membuahkan hasil.
Cara bicara Diana sangat terang-terangan, dia akan mengatakan sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Dia Dokter jenius yang baru pindah beberapa bulan yang lalu, terkenal sebagai dokter psikopat." Dokter lain membicarakan Diana yang masih fokus di ruangan operasi.
"Lihatlah tangannya sangat lihai, dia dokter profesional. Tidak heran banyak rumah sakit yang menginginkannya, tapi sayang dia wanita yang sangat kasar dan tidak memiliki perasaan." Wajah sedih seorang dokter yang pernah berpapasan dengan Di.
Enam jam berlalu, Diana langsung keluar dari ruangan operasinya. Langsung melangkah tanpa menghiraukan panggilan Dokter yang lain yang memberikan selamat.
"Dasar kampungan, seperti tidak pernah melihat orang berhasil operasi saja." Di menatap tajam ke depan.
Langkah Di terhenti saat melihat seorang dokter cantik yang berjalan ke arahnya, meminta Diana mengikutinya.
"Selamat datang Di, sudah tiga bulan kamu di sini aku belum sempat menyapa." Salsa tersenyum melihat Diana yang semakin cantik.
"Kenapa kamu belum menikah dengan Dika? padahal usia kalian sudah tua." Di mengambil minuman sambil tersenyum.
"Jangan membahas soal cinta, aku tidak menyangka calon dokter yang selalu tidur saat praktek sekarang menjadi idaman banyak dokter karena kehebatan kamu." Rasa kagum Salsa sangat besar karena Diana memang sangat jenius.
Senyuman Diana terlihat, dirinya sudah kembali selama tiga bulan dan sudah menyelesaikan tugasnya dengan bekerja siang dan malam untuk menyelamatkan nyawa orang.
"Berapa banyak lagi nyawa yang aku selamatkan agar bisa menembus banyaknya nyawa yang sudah aku buat lenyap." Diana bergumam sendiri, dirinya ingin pulang menemui kedua orangtuanya.
__ADS_1
Salsa meminta Di berhati-hati, dan berpesan tidak meninggalkan pasiennya.
Di depan pintu keluar, Diana melihat keributan. Beberapa orang berbeda besar sedang mencekik seorang dokter meminta anak bos mereka segera di selamatkan.
Awalnya Di tidak ingin ikut campur, tapi melihat dokter yang dia sukai terlempar jauh karena kemarahan membuat darahnya naik.
Pukulan kuat Diana tahan, tatapan matanya tajam langsung memutar tangan seseorang yang berbadan sangat tinggi.
"Ini rumah sakit, bukan ring tinju. Jika kalian ingin anak ini diselamatkan maka hargai dokter yang ingin menyelamatkannya, atau silahkan angkat kaki." Di melayangkan tendangan kuat.
Kemarahan semakin menjadi, Diana mengarahkan pisau kepada ayah dari anak yang perutnya tertusuk benda tajam.
"Dokter Hendrik, anak ini banyak kehilangan darah." Di memeriksa kondisi anak kecil yang terus meringis kesakitan.
Dokter Hendrik langsung menggendong ke ruangan perawatan, Diana mengikuti dan melihat secara langsung betapa lembutnya dokter yang pernah menyelamatkan Juna.
Jika dulu dia hanya dokter biasa, sekarang sudah menjadi dokter utama dan menunggu kesempatan mendapat gelar doktor.
Kekaguman Di semakin besar, tapi sayangnya Hendrik tidak pernah menatapnya meksipun banyak orang yang membicarakan dirinya.
"Terima kasih dokter Di, aku bisa menangani dia sendiri." Senyuman Hendrik terlihat.
Diana tersenyum langsung melangkah keluar, menatap tajam para bodyguard yang berdiri berjejer menunggu di luar.
Di diparkiran Diana kebingungan melihat mobilnya yang ditahan, seorang pria muda dengan tubuh sangat sempurna berdiri dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu lakukan? cari mati!" Di menyingkirkan pria yang berdiri di depan mobilnya.
"Perlihatkan surat menyurat kamu, jika tidak ikuti saya ke kantor polisi."
Diana langsung tertawa, ada orang asing yang ingin menahannya tanpa tahu siapa dirinya.
"Kamu tahu siapa aku? kedua orang tuaku." Di menatap tajam.
"Saya tidak peduli, kamu sudah melanggar hukum."
Diana melihat rekaman dirinya yang sedang kebut-kebutan di jalan, dan mobil yang mengejar Di pria asing dihadapannya.
Mobil Diana di sita, karena dia tidak memiliki surat menyurat. Diana mengumpat kasar ikut ke kantor polisi.
"Kamu tahu siapa Daddy dan Mommy Di? jika kamu tahu pasti akan menyesal." Diana menarik kerah baju.
__ADS_1
"Siapa? apa Daddy kamu seorang polisi, mommy kamu seorang pengacara atau kedua orang tua kamu seorang pengusaha yang berkuasa sehingga memiliki putri sombong seperti kamu?" Nada sinis terdengar, menatap Di tidak suka.
"Anak setan, kamu lihat saja pasti menyesal." Diana menunjuk pria di sampingnya.
Sesampainya di kantor polisi Diana langsung masuk, menatap tajam penjaga kantor polisi meminta Dimas Dirgantara keluar.
Tidak ada yang mengikuti keinginan Diana, seluruh polisi menundukkan kepala melihat pria yang menahannya masuk.
"Kamu juga polisi?" Di melihat kartu nama yang ditujukkan.
"Ya, aku polisi bagian kejahatan tingkat berat seperti menilang wanita ugal-ugalan seperti kamu." Senyuman sinis terlihat meminta Diana menyebutkan identitasnya.
"Hei, pak Tarzan anda akan menyesal." Di memukul meja langsung duduk.
Seluruh polisi berdiri saat atasan mereka datang, termasuk Gemal yang memberikan hormat.
"Gem, katanya kamu mengejar wanita ugal-ugalan, sudah dibereskan."
"Sudah pak, dia wanitanya." Gemal menatap Diana yang menutup wajahnya.
Dimas menatap tajam melihat senyuman putrinya yang nyengir lebar, mencium tangan Daddy-nya.
"Assalamualaikum Daddy, Diana tidak kebut-kebutan,tapi karena ada pasien darurat." Di langsung memeluk Daddy-nya.
"Dia istri bapak, tapi dia melanggar hukum." Tatapan Gemal binggung melihat mata atasannya.
Dimas menggelengkan kepalanya, Anggun setiap hari mengkhawatirkan putrinya yang sulit dihubungi, tapi ternyata sudah lama kembali.
"Sampai kapan kamu begini?"
"Diana pulang karena banyaknya jadwal operasi, hari ini langsung ingin menemui mommy sama Daddy. Maafkan Diana."
"Keluarga harus utama Diana, setidaknya berikan kabar." Dimas menatap tajam.
Dimas meminta Gemal melepaskan Diana, karena Di putrinya. Dimas yang akan memberikan teguran, juga hukuman untuk pelanggaran yang Di lakukan.
"Dia putrinya pak Dimas, tapi kenapa tua sekali?" Gemal langsung melihat ke arah lain.
"Pengen aku cincang rasanya mulut kamu, awas saja urusan kita belum selesai." Di menunjuk wajah Gemal, langsung melangkah pergi mengikuti Daddy-nya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara
Selamat merayakan Imlek, untuk yang merayakan