
Melihat Tika dan Genta jatuh Shin teriak-teriak ingin lompat juga jika Gemal tidak cepat menangkap tangannya.
Shin mengamuk dalam pelukan Gemal saat tahu area tempat Tika dan Juna jatuh ternyata jurang, belum ada satu orangpun yang berani turun ke bawah.
Terpaksa Gemal membuat Shin pingsan, tenaganya terlalu kuat jika mengamuk. Demi keamanan Dina diborgol untuk dibawa ke kantor polisi, sedangkan Am meninggal jantungan.
"Kak Yandi sekarang melihat sendiri siapa Dina? dia wanita yang Ana lindungi. Tika dan Genta jatuh ke bawah, apa yang harus aku katakan kepada Pak Altha juga Papa?" Gemal mengusap wajahnya berteriak kuat, membawa Adiknya keluar dari bangunan.
Sesampainya di rumah Gemal langsung memberikan laporan jika Tika dan Genta jatuh, beberapa tim sudah dikerahkan untuk menyelusuri jurang.
Aliya yang mendengarnya langsung terduduk lemas, menggeleng kepalanya jika Putrinya tidak boleh terluka, Altha hanya bisa mencengkram kuat tangannya ingin bergabung untuk turun ke bawah jurang.
"Al ikut,"
"Kamu tetap di rumah, aku akan mengabari kamu kondisi Tika." Altha memeluk istrinya yang sudah menangis histeris, memukul dada Altha menginginkan Tika kembali dalam keadaan sehat.
"Bagaimana kondisi Shin Gem?"
"Maaf Ma, aku terpaksa membuat Shin pingsan. Dia ingin melompat juga, tidak bisa dikendalikan karena mengamuk. Kakak dan sahabatnya jatuh tepat di depan matanya." Gemal meminta Shin dijaga dan membiarkan beristirahat.
Hana datang bersama Helen, mendekati Aliya yang terlihat sangat terpukul Putrinya juga menghilang.
Air mata Hana menetes, dirinya wajib di salahkan karena mencoba melindungi Dina padahal dia orang yang berniat mencelakainya hingga terkena kepada Isel.
"Tika pasti baik-baik saja Al." Helen memeluk Al yang tidak bisa tenang.
Suara pintu ditutup kuat terdengar, Shin sudah sadar menuruni tangga dengan tatapan mata mematikan.
__ADS_1
"Shin, kamu tidak boleh pergi." Mam Jes memeluk erat Shin yang tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Kamu tetap di rumah, Kak Gemal yang akan mencari mereka." Kedua tangan Gemal menakup wajah Shin yang tersenyum.
Mata Shin melihat ke arah Hana, pegangan tangan Gemal lepas, Mam Jes juga hampir jatuh. Shin mencekik Hana membuat semua orang teriak histeris.
Helen memegang tangan Shin, memohon untuk melepaskan adiknya. Helen mengakui Hana salah.Yandi memegang pergelangan tangan Shin kuat memintanya melepaskan Hana.
"Shin, aku akan bertanggung jawab atas hilangnya Genta dan Tika." Yandi memohon agar Shin bersedia menunggu.
"Semua gara-gara kamu, air mata kamu yang membuat kami melepaskan Dina. Jika sejak awal semua percaya kepada Shin siapa dia? hal ini tidak mungkin terjadi. Kak Genta tidak mungkin terus mengusut soal Dina, bahkan tetap bekerja meskipun dia libur." Air mata Shin menetes, cengkeram semakin kuat.
Kakaknya dan Tika akan segera menikah, tapi karena Hana mereka berdua menghilang. Shin tidak akan memaafkan jika terjadi sesuatu kepada sahabat dan Kakaknya.
Tubuh Hana didorong kuat sampai terlempar, suara tangisan Hana terdengar menahan sakit lehernya.
"Aku tidak peduli hubungan baik keluarga ini, sejak awal aku memang tidak memiliki keluarga. Siapapun yang menyakiti Tika, aku akan membunuhnya termasuk kamu meskipun tidak secara langsung." Senyuman sinis Shin terlihat karena Tika keluarga pertama baginya.
Juna juga tiba, baru mendengar kabar Adiknya. Hana sudah menangis dalam pelukan Hana. Pernikahan sudah di depan mata, tapi dua pengantin menghilang tidak terlacak di dalam jurang.
Shin berlutut di hadapan Aliya melipat kedua tangannya meminta maaf karena dirinya tidak bisa menempati janji untuk melindungi Tika.
Saat kecil Al tidak menyukai Shin, tapi Tika terus bersamanya meskipun tidak mendapatkan izin dari Maminya.
Al pernah mengatakan jika Tika sampai terluka karena Shin, Al sendiri yang melenyapkannya dari muka bumi, sehingga Al mengizinkan Shin bersama Tika dengan syarat harus melindungi Putrinya sekalipun nyawa taruhannya.
"Maafkan Shin Mami, sebelum Shin lenyap dari dunia ini aku akan menemukan Tika dan Kakak, menyingkirkan semua yang terlibat. Shin tidak akan pernah kembali tanpa mereka." Bibir Shin bergetar tidak menahan sakit hatinya.
__ADS_1
Al duduk dihadapan Shin, memeluknya erat. Tidak peduli apapun yang terjadi, Shin tidak boleh terluka karena Tika akan menderita jika sahabatnya juga terluka. Aliya meminta maaf jika dirinya pernah egois.
"Berpikir dengan logika, jangan ikutin emosi. Temukan Tika dalam keadaan hidup, Mami tahu kamu bisa merasakan keadaan dia di sana, ada Genta yang akan menjaga sampai kita datang menjemputnya. Tika selalu mengatakan jika kalian berdua sehati, sejiwa dan tidak akan berpisah. Dia selalu tahu jika kamu membutuhkannya, sekarang giliran kamu juga merasakannya. Mami sudah menganggap Shin seperti Putri kandung Mami." Al menangis bersama Shin sama-sama merasa kehilangan.
Suara langkah kaki berlarian, Ria berjalan sempoyongan. Banyak tim yang dipersiapkan di depan rumahnya pertanda ada hal genting.
"Apa yang terjadi?" Ria menatap Maminya yang menangis sesenggukan.
Melihat Ria tiba, Shin langsung berdiri melewati Ria untuk pergi mencari Tika dan Kakaknya. Pergelangan tangan Shin ditahan oleh Ria yang masih penasaran.
"Apa yang terjadi Kak Shin? Ria merasa ada bahaya, di mana Kak Tika? kenapa Kak Shin sendirian? tidak biasanya kalian berpisah. Katanya sahabat harus selalu bersama?" Mata Ria berkaca-kaca tidak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.
"Aku akan membawanya kembali, jika tidak maka ini hari terakhir kamu melihat aku." Tangan Ria dilepaskan perlahan.
Diana memperingati Shin jika jurang sangat dalam juga berbahaya, mungkin Shin jauh lebih tahu betapa buruknya di sana karena banyak tumbuhan berbahaya. Di bawah jurang mungkin ada hewan mematikan.
"Bawa senjata ini, kembalilah meskipun harus terluka. Ada yang namanya takdir tidak bisa kamu lawan, jika satu jatuh kamu tidak boleh melompat jika harus mati keduanya." Di menundukkan kepalanya, menyerahkan senjata yang pernah dirinya gunakan sebagai Alina.
Tangan Shin menyentuh senjata, memegang erat. Tangisan Mam Jes terdengar, memalingkan wajahnya dari Shin, tidak sanggup kehilangan putra dan putrinya secara bersamaan.
"Kak Gemal akan mendampingi kamu, kita bagian beberapa Tim,"
"Tidak kak, tidak boleh banyak orang turun ke bawah. Aku bisa sendiri." Shin berjalan pergi menepis air matanya.
Gemal melangkah ingin pergi, tapi pundaknya ditahan oleh Calvin. Ucapan Shin benar, tempat itu terlalu bahaya untuk masuk dengan Tim, Shin punya cara untuk menghubungi Tika. Mengikuti Shin hanya akan semakin menyakitinya.
"Gem, mereka berdua bersama bertahun-tahun, pasti memiliki cara untuk memanggil satu sama lain. Jika Tika masih hidup, dia pasti akan merespon Shin karena Tika memiliki kemapuan menciptakan teknologi mengalahkan Gemal."
__ADS_1
Di depan rumah Shin berjongkok menangis memeluk lututnya, Juna menarik tangannya untuk berdiri. Shin langsung memeluk Juna erat memanggil kakaknya dan Tika.
"Aku akan pergi bersama kamu, kita temukan mereka berdua. Jangan menangis lagi, nanti dunia bisa banjir." Juna mengusap air mata yang mengalir di pipi Shin.