
Mata Shin masih terbuka, menatap lampu yang bersinar terang. Juna meredupkan lampu meminta Shin beristirahat karena tubuhnya masih lemas.
"Kak Jun, Shin baik-baik saja."
"Aku tidak mengenal baik kamu, tapi melihat persahabatan kamu dan Tika aku mengerti karakter buruk kamu." Juna menatap infus yang masih menetes.
Shin langsung duduk, Juna hanya bisa melihat keburukannya tanpa tahu kebaikannya. Tatapan mata Shin sinis, memalingkan pandangannya.
"Kamu selalu mengatakan baik-baik saja, tapi lihat hasil pemeriksaan ini. Jika susah diatur aku hubungi Mam Jes sekarang." Juna mengancam membuat Shin langsung berbaring memejamkan matanya.
"Kenapa kita ada di penginapan? kenapa tidak ke rumah sakit?"
"Jauh,"
Suara Shin mengomel terdengar meksipun matanya terpejam, Juna hanya bisa geleng-geleng mendengar Shin yang sangat cerewet tidak bisa berhenti bicara. Banyak sekali ceritanya.
"Buka mata kamu"
"Kenapa?" Shin langsung duduk tertawa melihat ekspresi wajah Juna.
"Apa ini lucu?"
"Maaf Kak Jun, Shin sungguh baik-baik saja. Tika, Rindi tolong Shin." Teriakkan Shin terdengar tidak ingin dipasang infus.
Juna melepaskan infus, mengecek kondisi tubuh Shin. Belum selesai Juna bicara, Shin sudah turun dari tempat tidur mendekati jendela.
Teriakkan Shin terdengar mengangumi indahnya matahari terbenam yang bisa dilihat dari penginapan.
"Wow ... indahnya. Kota ini memang menjadi tempat terbenamnya matahari paling indah." Shin lompat-lompat kesenangan.
"Kamu menyukai matahari terbenam?"
"Iya, karena rasanya sangat tenang, pikirkan juga tenang, dan hawanya menebus kepala karena keindahannya." Shin menatap Juna yang melihat ke arah matahari.
"Shin boleh ke pantai, please. Tidak diizinkan juga Shin tetap pergi." Langkah kaki Shin berlari terdengar meninggalkan kamarnya.
"Shinta," Juna hanya bisa terdiam.
Terpaksa Juna mengikuti Shin yang sudah berlari kencang, lupa dengan kondisinya yang masih lemah.
Di pinggir pantai Shin sudah duduk tenang, mengagumi keindahan di depan matanya. Tangan Shin terulur ingin menyentuh keindahan langit dan air pantai.
"Kamu menyukai pantai?"
__ADS_1
"Tidak, Shin hanya menyukai anak remaja itu." Tawa Shin terdengar meminta Juna duduk, tapi ditolak karena Juna tidak ingin kotor.
Juna hanya berdiri di belakang Shin mendengarkan ceritanya soal pantai. Shin selalu mencari matahari terbenam, bermain jet ski, terkadang mengemudi Speedboat.
"Shin pernah berselancar, dan membawa kapal besar."
"Bersama siapa?"
"Sendirian, selama tiga tahun Shin bersenang-senang sendiri." Senyuman Shin terlihat menatap wajah Juna yang memerah.
Senyuman Shin terlihat mengangumi ketampanan Juna, pertama kalinya bagi Shin melihat matahari paling indah di dalam hidupnya.
"Ini akan menjadi moments tidak terlupakan,"
Cukup lama Juna berdiam diri, sesekali memejamkan matanya menikmati matahari terbenam untuk pertama kalinya. Juna tidak pernah menghabiskan waktunya untuk sekedar melihat matahari.
"Kak Jun ada hubungan apa dengan Kak Ana?" Shin menatap Juna yang masih memejamkan matanya.
Tidak ada jawaban sama sekali, Shin langsung berdiri berjalan ke pinggir air melihat Juna yang sangat dingin. Sikap Juna tidak mirip dengan siapapun, Mama Citra maupun Papi Altha tidak sedingin Juna apalagi Mami Aliya.
Shin tidak mengerti dengan dirinya yang mencintai pria berhati dingin, cuek dan jarang bicara. Perasaan cinta Shin cukup dirinya yang tahu, tidak ada yang boleh tahu perasaan gila yang melanda hatinya selama bertahun-tahun.
"Ay Jun mencintai wanita lain, keputusan kamu sudah tepat Shin mencintainya di dalam diam. Apalagi Tika dan Kak Genta saling mencintai, keinginan bisa bersama sangatlah tidak mungkin." Shin berjalan pergi meninggalkan Juna yang masih berdiri tegak.
"Membuat masalah lagi." Juna berjalan ke pinggir pantai, mencari keberadaan Shin dan menghubungi Genta.
Mendengar kabar Shin menghilang, Genta langsung melangkah pergi bersama Tika yang nampak panik. Tika berlari kencang ke pantai, begitupun dengan Genta.
Hendrik juga mendapatkan kabar, terpaksa keluar membawa Rindi yang sudah mengamuk dan tetap memaksa mencari Shin.
"Di mana terakhir kamu melihatnya Jun?" Genta menarik tangan Juna yang terluka.
"Kak Juna kenapa duduk santai di sini?" Tika memukul pundak Kakaknya.
"Tangan kamu kenapa terluka Juna?" Hendrik melihat tangan Juna yang berdarah.
"Wow, indah sekali." Rindi tersenyum manis melihat di depan matanya.
Semuanya melihat ke arah pandangan Rindi, melihat Shin bermain selancar di bawah sinar matahari terbenam. Tika bertepuk tangan menatap betapa cantiknya sahabatnya.
"Aku wanita saja jatuh cinta, apalagi pria. Shin my Queen." Tika berlari ke arah pantai menatap Shin yang sudah basah.
"Kamu sungguh luar biasa cantiknya, boleh saya simpan foto untuk model." Seorang fotografer menunjukkan foto-foto Shin saat berselancar.
__ADS_1
"Tidak!" Genta langsung merampas kamera, tidak mengizinkan ada yang menyimpan foto Adiknya apalagi untuk model.
Genta tidak mengizinkan ada pria yang menatap Adiknya, semua foto dihapus sekalipun Shin sudah merengek-rengek memohon menyisakan satu saja foto.
Kepala Tika gelang-gelang melihat tingkah kekasihnya yang overprotektif bahkan kepada Shin yang hanya sekedar berfoto.
"Kak Gen," Shin langsung cemberut melihat fotografer pergi.
Genta membuka jaketnya, memasangkan kepada Shin karena bajunya basah. Memasang topi agar wajah cantik Shin tertutupi.
Hendrik menegur Genta agar tidak terlalu posesif, jika ada pria yang mengangumi Shin hal yang wajar karena dia memang sangat cantik.
"Iya Kak Genta keterlaluan, Shin tidak menggunakan bikini, tidak juga menggoda. Ini namanya fashion keren di pantai." Tika membuang jaket Genta, merapikan baju Shin dan juga rambutnya.
"Ayo kita main lagi, foto ulang." Rindi sudah membawa selancar, belum juga naik sudah tersungkur.
"Mati tidak kamu Rindi?" Tika langsung tertawa melihat kepala Rindi jatuh lebih dulu, bajunya langsung basah terkena ombak.
Tatapan Rindi tajam melihat Tika yang sudah cekikikan memegang perutnya tidak bisa berhenti tertawa. Papan selancar di lempar ke arah Tika, tapi langsung ditendang menghantam kepala Rindi.
Shin langsung tertawa, Tika sudah berlari kencang. Rindi juga berlari mengejar Tika. Shin memegang perutnya tertawa melihat kejahilan Tika, memancing amarah Rindi.
"Kak Genta tolong." Tika berlari memeluk Genta erat.
"Rindi cukup, ini sakit." Genta menahan tangan Rindi yang menjambak rambut Tika, juga rambut Genta.
Tangan Rindi ditahan oleh Juna, satu tangan Juna menarik tangan Tika meminta melepaskan Genta.
"Apa-apaan kamu Tika? memeluk pria di tempat umum." Juna menatap wajah Adiknya yang menghela napasnya.
"Ayo Om, kita ke kamar saja lanjut berpelukan di kamar." Tika menjulurkan lidahnya kepada Juna yang sangat posesif.
"Cie Tika sama Ayang Genta pacaran." Rindi langsung bertepuk tangan.
"Ayang Genta, maaf ya. Tadi Tika sengaja memeluk kuat, rasanya nikmat." Tika tertawa meninggalkan pantai bersama Shin dan Rindi.
"Maafkan sikap Tika Kak Genta." Juna mewakili Tika meminta pengertian Genta.
Senyuman Genta terlihat, seadanya Juna tahu Genta tidak bisa membayangkan respon Juna, jika dirinya dan Tika bahkan pernah berciuman.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1