
Di dalam kamar Shin sudah make up sangat cantik, Aliya dan Diana tersenyum lebar seperti melihat Barbie menikah karena kecantikan Shin berkali-kali lipat.
"Mam, acara sudah hampir di mulai." Tika melangkah masuk melihat Shin yang sangat cantik di balut baju putih.
"Assalamualaikum," Helen datang bersama keluarganya termasuk Hana.
Aliya menatap Helen yang tersenyum ke arah Shin, Hana juga langsung menyapa dan memberikan selamat.
"Selamat ya Al,"
"Terima kasih Len sudah datang, aku harap kamu baik-baik saja." Aliya mencoba tersenyum, meskipun ada rasa tidak enak hati.
Senyuman Helen terlihat, memeluk Aliya dengan sangat lembut. Mengucap selamat dengan setulus hatinya. Helen sekeluarga sudah ikhlas dan menerima keputusan keluarga Juna.
"Halo Kak Ana,"
"Assalamualaikum Shin,"
Kening Shin langsung berkerut, Atika langsung tertawa menatap Shin yang salah menyapa Hanna.
Semua orang keluar meninggalkan Shin dan Tika yang menunggu waktunya dipanggil, semua orang akan menyaksikan Juna melakukan ijab Kabul.
"Shin, aku juga belum melakukan malam pertama karena beberapa masalah, dan sekarang dapat tamu bulanan. Kamu cepat sekali menyusulnya?"
"Bukannya kamu yang ingin kita menikah bersama, lalu hamil bersama. Wanita otak kotor seperti kamu bisa menunda juga?" tawa Shin terdengar mengejek Tika yang juga mentertawakan dirinya.
Perdebatan keduanya terdengar, tidak memperdulikan apa yang terjadi di ruangan bawah sedang ramai berkumpul untuk acara ijab kabul.
Juna berjalan bersama Ria, terlihat kesedihan dari si bungsu yang takut kakaknya tidak bahagia. Apa yang terjadi kepada Shin juga melibatkan Ria sehingga merasa bersalah kepada Kakaknya.
"Kenapa sedih? Kak Juna ingin kita semua menyambut bahagia pernikahan ini." Tangan Juna mengusap kepala Adiknya.
"Kak Juna yakin akan bahagia?"
"Ria, Kak Juna akan berusaha agar rumah tangga ini bahagia." Senyuman Juna terlihat, yakin kepada dirinya sendiri akan membahagiakan Shin meksipun tidak mengerti seberat apa ujian hidup mereka.
Ramainya orang yang berkumpul mengejutkan Juna, dia tidak terpikirkan jika tamu lumayan ramai menyaksikan dirinya melakukan ijab Kabul.
Altha tersenyum menepuk pundak Putranya, meminta Juna konsentrasi dan tidak gugup sebelum kejadian Genta terulang kembali.
"Papi jangan membuat takut Juna,"
"Siapa yang membuat takut? hanya Papi yang lancar mengucapkan ijab kabul,"
"Bohong." Dimas menatap sinis Altha yang juga melakukan kesalahan saat menikahi Aliya.
__ADS_1
Wali nikah Shin langsung Kakaknya Genta sebagai pengganti orangtunya, melihat wajah Genta membuat Juna lebih gugup lagi.
"Santai saja Kakak ipar atau adik ipar, siapa aku harus memanggil kamu?" Genta bicara pelan, tapi bisa didengar oleh Juna.
"Terserah. Juna juga sama binggung ingin memanggil siapa? Genta, Kak Genta atau Adik Genta?" Juna mengerutkan keningnya merasa risih dengan panggilannya.
Tawa Gemal terdengar karena menyimak ucapan Kakak dan Adik ipar, Gemal juga sama binggung melihat pangkat keduanya.
"Daripada kalian berdua pusing, lebih baik memanggil sesuai biasanya." Gemal meminta keduanya berjabatan tanda berdamai agar berhenti kebingungan soal status.
Suara keributan dari lantai atas terdengar, jantung Juna langsung berdegup kencang. Berlari karena mengkhawatirkan Shin jika saja dia mengingat kejadian, dan mengamuk histeris.
Suara teriakan tangisan terdengar, mendengar suara keras membuat semuanya berlari ke kamar Shin.
Pintu langsung Juna dobrak, menatap Shin yang menutup telinga. Memeluknya erat meminta Shin tenang, Tika masih terduduk di lantai menutup telinganya.
Genta menarik Tika memeluknya lembut, di atas ranjang Ria berdiri sambil menutup wajahnya karena terkejut.
"Ada apa Shin? kepala kamu sakit, kita periksa dulu ya?"
"Bukan Shin Ay, tapi Isel." Tangan Shin menunjuk ke arah Isel yang sudah terlentang, alat make up MUA hancur semua menghantam wajahnya.
Gemal langsung mengangkat Putrinya yang sudah menangis karena kepalanya terbentur, alat make-up jatuh menghantam wajahnya sehingga wajah Isel juga penuh noda warna.
"Apa lagi yang kamu lakukan Isel?" Gemal rasanya ingin menangis melihat tingkah laku anaknya.
"Papa, kepala Isel sakit sekali tahu. Ini semua gara-gara mereka bertiga!" tangah Isel menunjuk ke arah Ria, Tika dan Shin yang hanya menggelengkan kepala.
"Itu salah kamu sendiri, siapa ...."
"Cukup Ria, kamu keluar. Siapa yang meminta kamu masuk ke sini?" Altha meminta Ria berjalan keluar.
Atika dan Shin menjulurkan lidah ke arah Ria dan Isel, tatapan mata Ria tajam mengancam kedua Kakaknya.
"Ria, mata kamu ingin Mami congkel?"
"Bukan salah Ria, mereka berdua yang bertengkar duluan." Hentakan kaki Ria terdengar, mengangkat rok kebaya yang sobek.
"Kita tidak bertengkar, Shin dan Tika bestie." Shin dan Tika berpelukan menyakinkan jika mereka akur.
Ria berjalan keluar, diikuti oleh yang lainnya. Juna memegang dadanya mencemaskan kondisi Shin yang mungkin saja mengingat masalah di hotel.
Juna berharap ingatan Shin tidak kembali sampai acara pernikahan selesai. Jika tidak masalah akan semakin kacau.
"Juna, kita lanjutkan." Dimas merangkul Juna untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Shin juga dibawa keluar agar tidak ada keributan lagi, di tengah acara sakral ada saja kejadian yang mengacau membuat hampir jantungan.
Semuanya duduk tenang, mendengarkan penghulu membaca doa. Shin duduk di belakang Juna sambil tersenyum manis, dia tidak sabar lagi untuk segera resmi menjadi istri Juna. Penantian lamanya akhirnya terjawab.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat perjalanan cinta kamu? kenapa tiba-tiba kita menikah?" Shin menundukkan kepalanya mencoba berpikir.
Mata Shin terpejam, saat pernikahan Tika Juna dan Hanna lamaran. Shin membuka matanya, menatap ke arah Hana yang terlihat baik-baik saja sambil tersenyum.
Shin semakin binggung, kenapa Juna dan Hana lamaran? tapi tiba-tiba menikah dengan Shin.
"Apa yang terjadi?" Shin menatap ke arah Tika yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Jika ada pertanyaan tunggu nanti saja, fokus dulu." Tika berbisik pelan saat doa hampir selesai.
Kepala Shin menunduk, mencoba diam dan merasakan moments apa yang terlupakan sehingga dirinya dan Juna harus menikah.
Tangan Genta terulur, Juna langsung menyambutnya. Keduanya tersenyum saling tatap, berharap cukup satu kali.
"Saya nikahkan ...." suara Genta terdengar jelas, lebih jelas dari dirinya yang melakukan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arshinta Gentari Leondra ...." Juna juga melakukan dengan suara jelas tanpa ada keraguan.
Penghulu bertanya kepada para saksi yang langsung mengatakan sah. Dan seluruh keluarga mengucapkan syukur karena Juna tidak berulang-ulang.
Cincin kawin dipasang di jari manis masing-masing, Juna juga memegang kepala Shin membacakan doa.
Di dalam diam Shin mengingat semua moments masa kecilnya, dan siapa dirinya di dalam keluarga Leonardo.
"Shin, ada apa?"
"Tidak Kak,"
Senyuman keduanya terlihat, secara tiba-tiba air mata Shin menetes, tangannya gemetaran memegang baju Juna.
***
follow Ig Vhiaazaira
Ada yang bertanya kapan TAMAT kemungkinan akhir bulan, jika tidak bisa pertengahan bulan Agustus.
Agustus awal kisah Adriana Ria ( nama panggung Aira atau Ai juga up di judul baru.)
***
aku pasti Novel ini TAMAT, mohon sabar menunggu ending.
__ADS_1