ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEKACAUAN


__ADS_3

Panggilan masuk di ponsel Tika, suara Aliya berteriak besar sambil menangis membuat jantung Tika berdegup kencang merasakan panik.


Arjuna yang mendengar Maminya memaksa Tika pulang, cepat Juna merampas ponsel meminta Maminya menunggu dirinya juga pulang.


"Tika, kamu ke mobil sekarang. Kak Juna segera menyusul." Juna berlari kencang ke ruangannya.


Wajah Tika langsung panik, berjalan juga lemas jika mendengar Maminya menangis. Genta yang melihatnya langsung menggendong ke arah mobil. Shin masih menunggu Juna yang berganti baju untuk segera pulang.


"Apa yang kamu tunggu di sini?" Juna melangkah meminta Shin juga ikut pulang.


Langkah Juna dan Shin beriringan, Tika satu mobil dengan Genta sedangkan Juna bersama Shin yang segera menyusul mobil Genta.


Selama perjalanan Juna hanya diam, begitupun dengan Shin yang secara tiba-tiba langsung diam seribu bahasa. Wajah Shin mendadak pucat, ada rasa takut di dalam hatinya.


Gerbang perumahan terbuka, dua mobil masuk beriringan. Terlihat dari kejauhan, Anggun dan Diana berlari ke rumah Aliya diikuti oleh Isel yang berlari kesenangan, tertawa bahagia membawa payung.


Mam Jes juga berlari tanpa menggunakan alas kaki, seluruh orang berlarian ke rumah Al dan Altha yang sudah heboh.


Tangan Shin langsung bergetar, Arjuna langsung menggenggam erat sambil menatap Shin yang mandi keringat. Mata Shin juga merah, bibirnya berdarah karena digigit.


"Tenanglah, ini bukan salah kamu. Kendalikan diri, jangan selalu menyalahkan musibah orang lain dengan keberadaan kamu. Shin!" Juna berteriak kuat menepuk wajah Shin.


"Ini salah aku, seharusnya aku tidak lahir. Banyak orang terkena sial karena keberadaan Shin." Air mata Shin menetes, melipat kedua tangannya memohon maaf.


Juna meminta Shin menarik napas, menghembuskan perlahan. Memikirkan hal baik, kenangan baik agar hati juga bahagia. Mata Shin terpejam, mengikuti instruksi Juna sampai dirinya benar-benar tenang.


"Sudah baikan, aku harus segera masuk." Arjuna membuka pintu langsung berlari kencang masuk ke dalam rumahnya.


Kondisi di dalam rumah sudah heboh, Tika masuk rumah sambil berteriak mencari Maminya. Tangisan Tika langsung pecah, tidak sanggup jika terjadi sesuatu kepada Maminya.


"Mami, Mam. Atika pulang Mami." Suara Tika menangis membuat semua orang melihat ke arahnya.


Tika berlari kencang, masuk ke dalam pelukan Maminya yang sudah tertawa sambil mengusap punggung. Al sudah tahu Putrinya pasti akan menangis jika dirinya juga menangis.

__ADS_1


"Mami, apa yang terjadi? ini masih pagi." Juna mengecek kedua tangan Al, sampai kakinya. Khawatir jika ada luka.


"Mami baik-baik saja, tapi lihat adik kalian." Al menunjuk ke arah Ria.


"Astaghfirullah Al azim Dek." Juna melangkah ke arah Ria yang masih menangis dalam pelukan Altha.


Juna langsung menggendong, mendiamkan adiknya yang menangis sesenggukan. Suara Ria mengadu sampai tidak jelas. Tika menangis melihat kondisi adik bungsunya yang terluka parah karena kenakalannya.


"Adikku sayang," ucap Tika yang juga meneteskan air matanya.


"Kakak, Ria sakit." Tangisan Ria menyayat hati Juna yang menatap wajah adiknya bekas cakaran.


"Mi, ini kenapa?" Tika mengusap kepala adiknya.


"Gigitan anjing, Ria berkelahi dengan anjing." Shin mendekati Ria yang menganggukkan kepalanya, meminta Shin menggendongnya.


Saat Shin kecil juga pernah berkelahi dengan binatang, beruntungnya Ria mengalami satu cakaran. Sisanya memar karena terjatuh.


"Kak Shin menang tidak?"


"Sudah, Ria istirahat bersama Kak Juna. Kita cek lagi kondisi Ria." Juna mengambil adiknya yang terlihat manja kepada semua orang.


Suara teriakan Tika dan Shin secara bersamaan, Juna dan lainnya terkejut semua melihat dua wanita meringis kesakitan menanggung kesalahan.


Aliya sengaja membuat Tika pulang karena kesal melihat Putrinya yang sulit dihubungi. Bekali-kali Al menghubungi tetapi tidak mendapatkan tanggapan.


"Keterlaluan kalian berdua, tidak ada kasihan melihat orang tua yang khawatir menunggu anak-anaknya pulang." Al berteriak marah.


"Maafkan Tika Mami? ada masalah mendesak." Tika memegang perutnya yang di cubit kuat.


"Kamu juga Shin, baru keluar dari rumah sakit karena cendera. Bukan segera pulang beristirahat, masih saja kelayapan." Al mencubit kuat telinga Shin.


Keduanya hanya bisa meminta maaf, meringis kesakitan satu perutnya dicubit dan satunya telinganya dicubit. Al sudah kehabisan kesabaran karena cemas memikirkan Putrinya yang sudah dewasa ditambah lagi oleh Putri bungsunya yang membuat masalah sebelum matahari terbit.

__ADS_1


Pagi-pagi bukan bersiap-siap untuk sekolah, tapi keluar rumah mencari lawan. Al rasanya ingin mengamuk melihat kekacauan.


"Maafkan Tika Mami, I love you." Bibir Tika monyong, mencium pipi Aliya yang langsung melepaskan cubitannya.


Al menghela napasnya, memaafkan Putrinya yang sangat nakal dan selalu membuat masalah.


"Astaghfirullah Al azim, ini kenapa sayang?" Mam Jes melihat luka di lengan Shin.


Kepala Shin menggeleng, dirinya hanya tidak sengaja terjatuh sampai melukai lengannya. Gara-gara kelalaian Shin, Tika juga sampai terluka kakinya.


Atika terkejut, Shin selalu menanggung setiap kesalahan agar Tika tidak dimarah. Semakin mereka dewasa, Tika merasa kesal juga kecewa karena menjadi orang yang selalu dilindungi.


"Ini bukan salah kamu bodoh, sejak pertama kita kenal kamu tidak pernah salah, aku yang salah. Bahkan pertengkaran pertama kita Tika yang memulai. Jika dulu aku senang saat kamu menanggung masalah, sekarang semuanya berbeda aku kecewa juga merasa bersalah." Tika mengakui kesalahannya dan meminta Shin dewasa dan tidak menyalahkan diri sendiri.


Saat pertama melihat Shin pindah sekolah, Tika kesal. Dia memiliki wajah yang cantik, sikap yang tenang apalagi ada banyak orang berkuasa yang ada di belakangnya. Tika sangat penasaran dengan kemampuan Shin yang kabarnya ahli bela diri.


Tika mengirim surat terbuka untuk menantang Shin, tapi tidak pernah digubris. Sampai lima kali masih saja di abaikan sampai akhirnya keduanya bertemu lalu bertengkar.


"Aku tahu Tika, aku masih menyimpan surat kamu. Tulisannya seperti coretan sangat berantakan." Shin tertawa, Tika sudah menangkap kakinya ingin menendang.


"Syukurnya aku sayang, jika tidak sudah rusak wajah cantik kamu." Tika memeluk Altha, meminta maaf jika dirinya beberapa hari tidak pulang.


"Shin juga ingin meminta maaf, sebenarnya aku bukan orang baik, tetapi saat melihat keluarga ini aku bahagia. Shin bahkan binggung mengendalikan diri sendiri." Shin menatap Diana yang menutup mulutnya.


Tanpa Shin mengatakan apapun, seluruh orang sudah tahu. Mereka menerima Shin dengan penuh kebahagiaan, dan bukan hanya menambah keluarga. Kehadiran Shin sangat positif, sehingga selalu membuat tersenyum.


Diana meminta Shin tetap menjadi dirinya yang selama ini mereka kenal, gadis cantik, murah senyum, tenang dan berwibawa.


"Sekarang pulang ke rumah beristirahat, sehari saja kamu dan Tika tidak bertemu. Syukurnya sama-sama cewek sehingga bisa dimaklumi." Di menarik tangan Shin untuk pulang.


"Tika sudah memiliki target suami tahu, dan dia sangat menyukainya." Shin berlari kencang sebelum Tika mengamuk.


Tatapan Aliya dan Altha melihat Tika yang terkejut.

__ADS_1


***


__ADS_2