ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PERJODOHAN


__ADS_3

Rumah sudah ramai, seluruh orang berkumpul. Aliya menyambut kedatangan keluarga besar Helen yang di hadiri oleh Hana juga. Aliya memeluk Hanna yang terlihat sangat cantik dengan baju tertutupnya.


"Silahkan masuk Elen,"


"Perumahan si sini akan menjadi milik keluarga kalian semua Alt, satu-persatu rumah kosong di rehab." Yandi tersenyum menggendong Putranya yang baru berusia tiga tahun.


"Lama tidak melihat Yendri, sekarang sudah punya Adik lagi." Anggun menyapa si kecil yang berada dalam pelukan Papanya.


"Isel tidak punya Adik?" tatapan Isel melihat Yandra yang tidak ingin dilepas."


"Tangan Kakak itu kenapa?"


Yandi tertawa, Putranya takut melihat Isel yang tangannya dibungkus, tapi masih sempat membawa pedang.


"Kenapa anak kamu Di?"


"Biasalah, naik pohon." Diana mempersilahkan Yendri bermain bersama Ria, Juan dan Dean.


Kedatangan keluarga Helen disambut Juna, Tika yang mempersilahkan masuk. Dari lantai atas Shin melihat Ana yang menyapa Juna. Di hadapan Ana Juna terlihat hangat dan menunjukkan senyuman.


Acara doa bersama akan di mulai, Shin menuruni tangga untuk mengecek di dapur. Membiarkan seluruh orang mengobrol soal hubungan Juna dan Ana.


"Ana, sini sebentar." Aliya merangkul Ana untuk bertemu dengan Citra.


Senyuman Citra terlihat, menatap calon Juna yang memang terlihat baik, sopan dan tertutup. Dari cara bicaranya sudah menunjukkan jika dia wanita yang dewasa.


"An, ini Mama Citra. Dia Mama kandung Juna."


"Assalamualaikum Bu, perkenalkan saya Hana." Dengan lembut Hana mencium tangan Citra.


"Waalaikum salam Hana, kamu cantik." Tangan Citra mengusap kepala Hana.


Selama menyambut tamu Shin tidak terlihat, dia sibuk di dapur untuk mempersiapkan makanan anak panti, juga beberapa kue yang dua buat untuk dibawa pulang.


Anak-anak panti sangat bahagia karena bertemu langsung dengan Hana, Genta sengaja mengundang panti asuhan tempat Atika melakukan donasi.


"Mereka calon besan kamu Han?"


"Jangan bicara seperti itu,"


Hana dan temannya berbicara, tanpa sengaja di dengar oleh Shin yang lewat. Beberapa lembar uang yang dimasukkan ke dalam kotak kue khusus untuk anak panti.


"Shin, kenapa kamu di sini?"


"Memangnya Shin harus di mana Ay Jun?"


"Biarkan orang lain yang membereskannya, temui tamu." Juna melihat Shin memasukkan uang.


"Nanti saja, Shin masih sibuk." Tangan Shin menyembunyikan uang yang ada di amplop untuk dimasukkan ke dalam kue.

__ADS_1


"Bisa menikmati kue kamu saja anak-anak bahagia, apalagi ada tambahan amplop cantiknya." Juna melangkah pergi membiarkan Shin melanjutkan pekerjaannya.


Senyuman Shin terlihat, menatap punggung Juna yang berdiri di depan pintu menunggu Shin sampai selesai agar tidak ada yang melihatnya sedang bersedekah.


Setelah selesai Shin menepuk pundak Juna untuk pergi ke tempat keluarga berkumpul, hanya Mama Citra yang tersenyum melihat Shin dan Juna berdiri bersebelahan.


Mata Shin melihat ke arah Citra, menjaga jaraknya dari Juna agar tidak menjadi pembicaraan orang.


Tangan Shin ditarik oleh Tika, memintanya untuk membantu Hana dan Dina mengatur tempat duduk anak-anak. Senyuman Shin terlihat menatap Dina dan Hana yang terlihat sangat lembut.


"Tik, jika aku bicara selembut mereka lucu tidak?"


"Lucu,"


"Adik-adik sini kakak bantu." Shin bicara lemah lembut membuat Atika tertawa lepas, menutup mulutnya tidak tahu tempat jika sedang ramai.


Tangan Shin memukul punggung Tika membuat anak-anak terkejut, Hana dan Dina juga sama kagetnya melihat sikap dua perempuan yang saling pukul.


"Atika, Shin, sebaiknya kalian duduk. Tidak baik di lihat anak-anak bertengkar." Ana menegur anak-anak jika Shin dan Tika hanya bercanda.


"Sialan kamu Tika,"


"Jijik Shin, kamu tidak cocok sama sekali bicara lembut. Sumpah tidak meresapi." Tika memeluk Shin yang ingin memukulnya.


Suara acara di mulai terdengar, Ria duduk di samping Shin yang terpesona mendengar suara anak-anak mengaji. Bahkan suara mengaji Ana menenangkan Isel yang masih ingin berperang.


Isel duduk dipangkuan Shin, Tika juga hanya terdiam menatap Ana yang tidak heran menjadi incaran banyak pria Sholeh. Bukan hanya memiliki wajah yang cantik, tapi taat agamanya.


"Dia terlalu baik untuk laki-laki playboy seperti Gion,"


"Masalahnya dia tidak tertarik sama kamu Gion." Ria menutup mulut Gion yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?"


"Kakak Gion ompong, siapa yang mau?" Isel teriak kesal, Shin langsung menutup mulutnya.


Dina menatap ke arah Shin sambil geleng-geleng, Shin mengerutkan keningnya tidak menyukai tatapan Dina. Isel juga menatap tajam, tidak menyukainya.


"Kenapa menatap sinis? aku colok menggunakan pedang," Isel bicara pelan.


Tangan Shin menepuk pelan, meminta Isel diam dan fokus kepada acara. Berhenti memikirkan menyerang orang, tangan saja belum sembuh.


Sampai acara selesai, pembagian makanan juga beberapa amplop untuk warga sekitar, juga anak panti.


"Alhamdulillah acaranya berjalan lancar." Altha merangkul pundak Juna dan Genta yang juga tersenyum.


"Sudah selesai belum? mana kue untuk Isel?" tangan Isel menadah meminta bagiannya.


"Gion juga mau?"

__ADS_1


"Sudah habis," Shin menatap dua bersaudara yang saling tatap.


Isel menendang kotak makanan sampai terbang ke atas, bertolak pinggang memarahi Shin.


"Di mana bungkus tangan kamu Isel?" Gemal menatap tangan Putrinya.


"Ada, ini pasang lagi." Isel meminta bantuan Gion untuk mengikat tangannya.


Shin langsung tertawa mengeluarkan dua bingkisan untuk si kembar beda jenis kelamin yang pasti akan meminta bagian.


"Akhirnya kita dapat juga?" Isel melepas lagi ikatan tangannya, mengambil bingkisan berlalu pergi.


"Terima kasih aunty Shin, semoga semakin cantik, Sholeha ...." Mulut Gion langsung Shin tutup meminta segera pergi.


"Sakit apa tidak tangan anak kamu Gem?" Yandi geleng-geleng.


"Mana aku tahu, dia Hulk seperti Mamanya tahan banting." Gemal tertawa melihat anak-anak tertawa bahagia.


Selesai acara barulah keluarga inti kumpul untuk mengobrol, Aliya sibuk membicarakan hubungan Ana dan Juna yang sudah waktunya menikah.


Dikarenakan Hana tidak memiliki orang tua lagi, segala keputusan ada pada Kakaknya untuk memberikan restu.


"Sebenarnya siapa yang ingin menikah lebih dulu, Juna atau Atika?" Helen menatap Aliya dan Altha.


"Arjuna, kemarilah." Aliya memanggil Juna untuk bergabung.


Al mengutarakan rencananya untuk melamar Ana, keluarga Helen juga menyambut baik. Aliya ingin tahu kesiapan Juna.


"Kapan kamu siap?"


"Kapan Kak Ana siap? Juna tidak mempermasalahkan soal perjodohan, hanya saja ini bukan keputusan yang bisa diputuskan oleh keluarga Juna atau keluarga Hana, tapi ini keputusan antara kesiapan Juna dan Ana." Tatapan Juna melihat ke arah Papinya.


"Juna benar, biarkan Juna dan Hana memperbanyak membahasnya, intinya kita dua keluarga menyetujuinya." Alt tersenyum menatap Yandi yang sepemikiran dengan Juna.


"Maaf jika Genta menyela, berarti Juna tidak mempermasalahkan jika aku dan Tika mendahului untuk ke pelaminan." Genta menatap Arjuna yang masih terdiam.


Kepala Juna mengangguk, membiarkan Genta dan Adiknya lebih dulu. Juna terlalu sulit menetapkan hatinya.


Aliya memperhatikan Juna, merasa jika Juna tidak terlalu menginginkan hubungannya, tapi yang membuat Al binggung apa alasan Juna memilih menunda. Jika soal kondisi Citra dapat dipahami, tapi Al merasa ada hal lain yang membuat Juna ragu.


"Aku rasa perjodohan ini tidak membuat Juna bahagia," batin Aliya di dalam hatinya.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


banyak yang request visual, sampai sejauh ini aku belum ketemu karakter yang pas untuk mereka. Yang minat request silahkan, nanti aku cek cocok tidak

__ADS_1


***


__ADS_2