ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HAL TIDAK MUNGKIN


__ADS_3

Mata Isel terbuka menatap Mama dan Papanya, senyuman Gemal terlihat mencium tangan Putrinya yang hanya diam menatap sekitarnya.


"Sayang, jangan bicara dulu ya Nak. Nanti baru bicara?" Gemal mengusap kepala Putri kecilnya.


Kedua mata Isel berkedip-kedip, Juna mengecek kondisi Isel yang memilih diam. Diana juga mengecek Isel, masih mengkhawatirkan anaknya yang diam saja.


"Isel masih hidup, aman Sel. Ini dunia manusia." Tawa Ria terdengar, Isel menutup mulutnya ingin tertawa, tapi sulit mengeluarkan suara.


Demi kebaikan dan kesembuhan, Gemal sangat tegas agar Isel tidak berbicara karena suaranya bermasalah.


Terlihat kesedihan di setiap orang dikarenakan kondisi Isel yang biasanya aktif, cerewet tidak bisa diam harus berdiam diri dalam kurun waktu yang belum bisa ditentukan.


"Bagaimana kondisi Isel Rin?"


"Sudah bangun, tapi bisu." Rindi duduk di samping Shin dan Tika yang masih duduk diam.


"Masih memikirkan soal Dini atau Dina itu?"


Kepala Tika dan Shin mengangguk bersamaan, masih penasaran dengan kisah keduanya. Masalahnya Dina tidak bisa diminta keterangan karena mengalami trauma berat, dia masih dirawat intensif dan tidak ingin bertemu dengan siapapun.


Tidak ada pilihan bagi Tika dan Shin kecuali menunggu, dalam beberapa waktu kemungkinan pelaku tidak akan muncul apalagi sasaran mereka meleset.


Berniat mendekati keluarga, tapi berakhir mencelakai sehingga penjagaan diperketat dan lebih berhati-hati.


"Boleh Rindi memberikan saran?"


"Apa?"


"Lupa,"


Tatapan mata Tika dan Shin langsung tajam, ingin memukul kepala Rindi yang bisa- bisanya bercanda di waktu yang tidak tepat.


"Shin ingin pulang saja, capek juga pusing." Langkah Shin terhenti saat melihat Juna.


Arjuna melewati begitu saja tidak merespon panggilan Shin, Juna bahkan berpura-pura melakukan panggilan agar bisa mengabaikan Shin.


"Ay Jun, tunggu." Shin mengejar Juna yang jalan cepat.


"Bu bos." Suara memanggil terdengar, mengangkat tangannya melambai-lambai tinggi menyapa Shin.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengikuti saya? seharusnya di restoran bekerja." Shin melihat wajah karyawan yang terlihat pucat.


"Iya Bu, saya baru selesai donor darah." Senyuman tulus terlihat menunjukkan bekas ditangannya.


"Siapa nama kamu?"


"Re ...." tangan Shin ditarik meninggalkan Reza yang belum sempat menyelesaikan ucapannya.


Mata Juna menatap tajam, menarik pergelangan tangan Shin untuk berjalan bersamanya mengabaikan pria yang menunjukkan senyuman.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Juna melihat tangan Shin yang masih membiru, memberikan obat agar mengurangi rasa sakitnya. Bekas luka Shin yang ditutup plester juga dilepaskan diganti dengan yang baru.


"Maafkan Shin, Ay." Wajah Shin mendekati Juna yang coba menghindarinya.


"Sebaiknya kamu pulang, istirahat di rumah." Juna memberikan obat untuk dikonsumsi.


"Ay marah, Shin sudah meminta maaf. Jangan marah,"


"Kamu tahu jika keluarga kita sedang terkena musibah, kenapa kamu dekat laki-laki yang baru dikenal? bagaimana jika itu berbahaya?" Juna menatap tajam meminta Shin berpikir.


Peringatan sudah disampaikan, semuanya harus berhati-hati dan tidak sembarangan dalam bertindak. Shin dengan mudahnya melibatkan orang baru sebelum masalah sebelumnya tuntas.


"Ay, pria tadi karyawan Shin. Dia ...."


Terpaksa Shin mengangguk dikarenakan dirinya juga tidak mengerti di mana letak salah dirinya. Shin paham jika mereka harus berhati-hati, tapi bukan berarti mengantisipasi semau orang tanpa terkecuali.


Menatap mata Juna yang tajam, Shin tidak punya pilihan selain menurut. Juna mengkhawatirkan dirinya sesuatu yang menyenangkan hati Shin.


Ketukan pintu terdengar, Juna tersenyum melihat Ana yang ingin berbicara soal kondisi Dina. Shin juga baru tahu jika Juna dokter yang menangani Dina.


"Ay, kenapa harus menjaga dia?"


"Aku seorang dokter, dan tidak bisa memilih siapa pasiennya." Juna meminta Ana duduk mendengarkan penjelasan soal Dina yang terus mengigau.


Ekspresi Shin terlihat tidak suka mendengar Ana yang membela Dina, bahkan meminta bantuan untuk mencari dokter psikolog.


"Aku mengerti kekhwatiran keluarga kamu, tapi Dina juga punya hak untuk mendapatkan perawatan ... Jun, aku tidak ...."


"Juna paham, kamu tidak menyalahkan keluarga kami. Dina membutuhkan seseorang untuk menjaganya, dia juga tidak memiliki keluarga, sudah sepantasnya sebagai sahabat Ana membantu dan menjaganya." Juna akan membantu sebisanya dan bertanggung jawab atas kesembuhan Dina.

__ADS_1


Kepala Shin geleng-geleng, tidak mengerti dengan Hana. Dia terlalu baik sehingga tidak bisa melihat baik dan buruknya seseorang. Tidak ada pilihan bagi Shin kecuali mengawasi Dina maupun Ana.


"Terima kasih Juna, Shin aku permisi dulu." Senyuman Ana terlihat melangkah keluar dari ruangan.


"Bagaimana jika Dina jahat? apa Hana berani bertanggung jawab atas resikonya.?"


"Jangan menyudutkan Hana, dia hanya berbuat baik."


Senyuman sinis Shin terlihat, jika hanya sekedar baik seharusnya tidak perlu izin dengan Juna jika ingin berbuat baik kepada sahabatnya. Status mereka belum menikah, dan di sini Isel terluka parah.


"Hana hanya menjaga perasaan keluarga kita." Juna meyakinkan Shin untuk tidak berprasangka buruk.


"Bela saja terus! Shin tahu dia calon istri kak Juna, jadi bela saja. Awas saja jika Dina memang jahat, Kak Juna ikut bertanggung jawab." Suara Shin membentak terdengar, menatap marah.


Ucapan Juna langsung dibantah oleh Shin, melangkah keluar langsung membanting pintu. Shin melangkah keluar ruangan Juna dalam keadaan marah, memilih untuk pulang.


Dari kejauhan Shin melihat Tika yang sedang bicara dengan Ana, pembahasan yang sama dengan Juna. Hana meminta izin untuk menjaga Dina, bukan dikarenakan menyalahkan keluarga. Ana tidak bisa meninggalkan seseorang yang membutuhkan bantuan.


Tika sangat mengerti, dan memaklumi kondisi Dina. Kesalahan Dina juga belum bisa terbukti, tapi Tika juga meminta izin untuk mengawasi.


"Terimakasih tidak, Kakak pergi dulu." Hana melangkah ke ruangan rawat Hana.


"Tik, apa Hana meminta izin kepada seluruh orang? atau khusus beberapa orang." Shin mendekati Tika yang mengangkat kedua bahunya.


"Ayo kita pulang, berhenti membahas soal Dina." Tangan Shin ditarik ke parkiran.


"Kamu tahu, dia juga menemui Kak Juna. Cara izinnya seperti sepasang suami-istri." Shin menghentakkan kakinya.


Langkah Tika terhenti, menunjuk hidung Shin menggunakan jari telunjuknya. Senyum melihat tingkah sahabatnya.


"Kamu cemburu Shin?"


"Apa ... cemburu? kamu ngarang Tik. Tidak mungkin aku cemburu, Kak Juna saudara kamu, dan aku menganggapnya sama seperti Kak Genta." Shin berjalan lebih dulu, meninggalkan Tika yang menghela napas.


Pembicaraan Tika dan Shin di dengar jelas oleh Juna, berniat mengejar Shin dan mendapatkan jawaban yang sangat jelas soal perasaan Shin kepadanya.


"Kenapa juga aku berharap? kami hanya sebatas bersaudara." Senyuman Juna terlihat, menarik napas dalam menyakinkan dirinya jika perasaan tidak benar.


Ucapan Shin benar, hal tidak mungkin.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2