ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEHEBOHAN TERAKHIR


__ADS_3

Berita soal anak semata wayang keluarga Leondra yang menghilang sudah kembali menghebohkan, meskipun Calvin sudah berusaha menghentikan pemberitaan.


"Ma, di mana Papa?" Gemal memeluk Mam Jes yang sibuk menyiapkan sarapan.


"Masih melakukan panggilan sayang, kamu makan lebih dulu saja." Mam Jes mengusap kepala putranya.


Gemal berjalan ke arah Papanya yang masih melakukan panggilan, terdengar suara marah-marah, karena pemberitaan masih terus muncul.


Calvin tidak ingin status putranya terbongkar, apalagi melihat pekerjaan Gemal bukan sesuatu yang mudah.


"Pa, ayo kita sarapan." Senyuman Gemal terlihat merangkul pundak Papanya.


"Tunggu sebentar lagi, kamu pergilah lebih dulu."


Rasa kagum Gemal cukup besar kepada Papanya, karena ketakutan Gemal jika suatu hari Calvin akan memaksa dirinya menjadi orang lain, bukan diri sendiri.


Dugaan Gemal salah, Papanya bahkan melindungi dirinya, menjaga secara tidak langsung.


"Pa, Gemal ingin sarapan bersama." Suara teriakan Gemal terdengar, langsung mengambil ponsel Papanya.


Sekarang Gemal tidak peduli berapa banyak orang yang akan mengetahui siapa dirinya, meskipun pekerjaan Gemal berbahaya, ada Papanya yang akan melindungi.


"Lakukan tugas kamu, biarkan pemberitaan, karena mereka akan berhenti dengan sendirinya." Ponsel dimatikan secara sepihak.


"Apa yang kamu lakukan Gem?"


"Apa lagi? Gemal tidak ingin lari dari kenyataan, apapun yang terjadi nanti, biarkan terjadi. Hidup tidak selamanya berjalan lurus, Gemal akan terus belajar dan berusaha untuk menghadapi apapun masalah." Rangkulan Gemal mendarat di pundak Papanya.


Tugas pertama Gemal sebagai penerus kelima, mengakui statusnya, lalu menjamin bahagia keluarga besarnya, menjaga nama baik keluarga dan mempertahankan keutuhan generasi.


Kepala Calvin mengangguk, merangkul putranya sambil tersenyum. Menatap wanita tercantik di keluarga mereka.


Mam Jes tidak bisa menahan air matanya, langsung mencium putra dan suaminya. Memeluk dua lelaki hebatnya.


"Jangan menangis Ma, ayo kita sarapan." Gemal merangkul kedua orangtuanya.


Sarapan pagi terasa hangat, meskipun hanya bertiga. Mam Jes bahagia bisa makan bersama, dan secara nyata bukan halusinasinya.


"Makan yang banyak Sayang." Mam Jes menambah lauk makan.


"Jangan banyak-banyak, nanti Gemal buncit. Dia sebentar lagi menikah."


Mendengar teguran Calvin, Mam Jes langsung cemberut. Gemal hanya tersenyum sambil geleng-geleng melihat kedua orangtuanya.


"Assalamu'alaikum, Dean datang untuk mengungsi. Mommy sedang mengamuk di rumah." Dean langsung naik kursi melihat sarapan.

__ADS_1


"Dean sudah sarapan?"


"Belum Mama, Dean lapar."


"Kamu masih lapar Dean, tidak ingat perut sudah buncit, pipi sudah mirip bola. Dasar Dean gendut." Ejekan Calvin terdengar, menatap Dean yang mirip Hulk sedang marah.


Gemal hanya tertawa besar, mengusap kepala Dean yang memang semakin gemuk, dan ketampanan Dimas turun kepadanya.


"Tidak boleh mengejek, ingat perut kamu juga mulai buncit." Mam Jes memukul perut suaminya.


Tangan Calvin mengusap perutnya, cemberut melihat Dean dan Gemal tertawa. Kebahagiaan keluarga Leondra semakin terasa penuh canda dan tawa.


"Kak Di sudah bangun belum?"


"Ada di rumah, masih tidur. Soalnya semalaman telponan sama pacarnya." Dean menatap sinis, karena Gemal dan Diana sama bucin dan lebai.


"Mommy marah kenapa sayang?" Mam Jes mengusap kepala Dean.


"Ish ... tidak boleh kepo dengan rumah tangga orang." Nada Calvin tegas, Dean langsung turun kursi mendekati Calvin memasukkan roti ke dalam mulutnya.


Dean memarahi Calvin, karena dalam keluarga tidak ada rahasia. Apapun boleh diceritakan, Calvin tidak boleh marah-marah.


"Mommy marah, karena Daddy sudah dua hari tidak mandi." Dean tertawa, karena dia juga belum mandi.


Suara tawa Gemal dan Calvin terdengar, merasa konyol dengan rumah tangga Dimas. Istrinya tidak mengizinkan makan, karena belum mandi.


"Bukan takut istri tahu, Daddy sayang Mommy." Dean mengerutkan keningnya, memukul Calvin yang menjelekkan Papinya.


Suara berlarian terdengar, Ria langsung naik kursi bersama Juan. Mam Jes penasaran melihat keduanya kabur.


"Ada apa twins A?" Gemal memberikan air minum.


"Kak Tika mengamuk, kita takut dia lempar menggunakan bom. Papi juga takut, hanya kak Juna yang berani mendekat." Ria langsung merinding, karena kakak perempuannya sangat mengerikan.


Suara teriakan Tika terdengar sampai ke rumah, meneriaki nama Ria yang sudah bersembunyi.


Gemal langsung membuka gorden rumahnya, bisa melihat Tika yang mengamuk menghacurkan kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan Ria sampai kak Tika marah?" Kepala Gemal menoleh ke arah Ria yang sudah makan.


Helaan nafas Ria terdengar, dia tidak sengaja memecahkan foto anak kecil yang bernama Amora.


"Siapa Amora Gemal?" Calvin juga melihat ke arah jendela.


"Adik bungsunya Tika dan Juna." Gemal meminta Ria menjelaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


Kepala Ria menggeleng, Ria tidak sengaja menjatuhkan foto. Tetapi belum pecah, ada foto seseorang dibalik foto Amora.


"Lain kali Ria harus hati-hati, itu keluarga kak Tika."


"Kak Tika menangis, karena merindukan Mamanya. Memarahi Ria hanya alasannya untuk menangis." Juan duduk dengan santai, sangat mengenali sikap pemarah kakak perempuannya.


Kepala Tika hanya mengangguk, dia tidak salah apapun. Atika saja yang sedang mencari air mata.


"Sayang, saat saudara sedang bersedih kalian harus saling menghibur." Mam Jes menatap Ria yang turun dari kursinya, duduk di pojokan dinding langsung menangis sangat kuat.


Suara langkah kaki Diana terdengar, langsung menggendong Ria yang menangis histeris. Alt juga datang, langsung mengambil Ria yang pasti menangis jika Tika menangis.


"Ada apa Altha?" Calvin kebingungan melihat Ria menangis histeris.


"Diana membuat gara-gara, dia mengejek Tika ingin pergi bersama Gemal setelah menikah. Jadinya sedih, datang Ria menjatuhkan foto akhirnya menangis, mengamuk." Alt meminta Diana menjelaskan kepada Tika yang masih menangis.


Diana mengusap air mata Ria, dirinya hanya becanda. Dan mengisengi Tika agar tidak setiap hari mengatakan Gemal kekasihnya.


"Kamu cemburu sama anak kecil Di?" Calvin geleng-geleng masih pagi tiga rumah sudah heboh.


Suara tawa mam Jes terdengar, Tika membawa koper ingin ikut Diana bulan madu, padahal menikah saja belum.


"Tika mau ikut."


"Kamu tega meninggalkan Mami?" Al langsung menangis membuat semakin heboh.


Calvin menatap istrinya, keputusan pindah rumah kesalahan besar. Sejak pagi selalu ada saja kehebohan dari salah satu rumah.


Di dalam rumah Diana hanya tertawa, duduk di sofa memeluk Gemal yang masih mengomelinya.


"Sayang, kurangi kejahilan kamu. Sesekali menjadi wanita serius." Gemal mengusap wajah Di.


"Iya maaf, setelah kita menikah, anak-anak tumbuh besar mungkin suasana heboh ini akan hilang." Di memeluk erat.


"Tiga hari lagi, status kita akan berganti." Tangan Gemal mengusap rambut Di.


Dimas menarik telinga Gemal memintanya untuk pulang, dan tidak memeluk putrinya sembarangan.


"Daddy, ini rumah Gemal. Diana yang seharusnya ditarik pulang." Tatapan Gemal melihat Diana yang sudah melarikan diri.


Senyuman Dimas terlihat, melangkah pergi meninggalkan Gemal yang mengusap telinganya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


__ADS_2