ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BALASAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Juna mengobati tangan Shin yang memerah karena kulitnya yang putih bersih.


"Kenapa Kak Juna tidak mengobati Kak Ana?"


"Tidak mungkin aku menyentuh lehernya?"


"Ay, kenapa sekarang Ay lebih perhatian kepada Shin?"


"Jangan berpikir jelek Shin, aku sudah mengatakan menganggap kamu layaknya adik kandung,"


"Shin tidak mau, ada Kak Hendrik, Gemal juga Genta. Kenapa harus menambah Kakak lagi?"


"Setiap orang berbeda sikap dan sifat,"


"Sama saja, dua kakaknya Shin cuek dan dingin seperti Ay, hanya Kak Gemal saja yang bisa berteman." Melihat dua Kakaknya yang dingin sudah lebih dari cukup, tidak ingin menambah lagi.


Kepala Juna geleng-geleng, jika bukan karena amanah Mamanya Juna juga tidak ingin terlibat. Shin terlalu merepotkan, dan berisik. Dunia tenang Juna perlahan hancur ulahnya, namun Juna tidak merasa terbebani.


"Ay,"


"Shin,"


Juna dan Tika saling pandang, Juna langsung memutuskan tatapannya meminta Shin bicara lebih dulu.


"Ay Jun duluan,"


"Kamu saja,"


Shin langsung cemberut, menolak untuk bicara. Memaksa Juna untuk mengatakan lebih dulu dan akhirnya Juna menyerah.


"Kamu pernah jatuh cinta?"


"Tentu, Kenapa?"


"Bagaimana rasanya?"


Kening Shik berkerut, terdiam memikirkan rasanya jatuh cinta. Rasa cinta Shin hanya sebatas bahagia, bukan asin manis, pahit dan hambar.


"Rasanya hanya bahagia, sisanya tidak tahu,"


Suara pintu diketuk terdengar, Hanna dan Dina datang. Kondisi Ana baik, dan lukanya tidak terlalu parah.


"Juna, aku pamit duluan. Nanti kamu antar Shin, hati-hati di jalan." Tangan Dina melambai melangkah pergi lebih dulu.


"Kenapa Kak Ana berteman dengan Dina? dia tidak terlihat baik,"


"Manusia memang tidak ada yang baik, bagaimana kondisi kamu?"

__ADS_1


Helaan napas Shin terdengar, menunjukkan tangannya yang jauh dari kata mati, jangankan mati putus juga belum tentu.


Kepala Juna dan Hana pusing mendengar ocehan Shin yang tidak punya rem nya, mengutarakan isi hatinya yang tidak menyukai keberadaan Dina.


Tidak mendapatkan respon dari dua orang yang sama-sama pendiam, Shin langsung beranjak ingin pulang. Hati Shin kesal melihat Hana yang tidak menyadari busuknya hati Dina.


Di parkiran Shin menghubungi seseorang, lemparan batu berhasil Shin hindari, melihat satu mobil mewah meninggalkan parkiran. Shin melihat plat mobil, menyimpannya DJ dalam memori.


Shin pastikan Dina akan mendapatkan balasan, Shin tidak main-main dengan ancamannya.


Satu mobil mewah berhenti, Tika mengumpat Shin yang memaksanya datang sedangkan Tika sedang fitting baju.


"Hei perempuan gila, sahabat kamu persiapkan ingin lamaran resmi kamu sibuk membuat masalah." Tika melipat tangannya di dada, masih menggunakan baju kebaya.


"Kenapa kamu mirip kuntilanak menggunakan baju itu, ayo kita pergi." Shin masuk mobil.


"Ada apa lagi? ingat satu minggu lagi acara lamaran, kamu jangan membuat masalah." Atika menatap Shin yang tidak merespon sama sekali.


"Cek, CCTV restoran aku di kursi biasanya kita duduk. Kejadian sekitar beberapa jam yang lalu." Shin menyerahkan ponselnya meminta Tika bertindak.


Rekaman terlihat sangat jelas jika Dina sengaja menyenggol kaki pelayan sehingga menyiram tangan Shin, dan menarik taplak meja hingga makanan panas mengenai Hanna.


"Dina memiliki rencana jahat kepada Kak Ana?"


"Ya, tapi mengungkapnya sekarang tidak ada gunanya, isi kepala Kak Ana hanya orang-orang baik. Dia terlalu mempercayai, akhirnya bakal disakiti." Tangan Shin memukul pelan setir mobil.


"Kita juga tidak punya bukti siapa Kak Dina?"


"Bisa jadi, jika kita mengungkapkan kepada Kak Ana, kamu tahu apa yang terjadi?"


Shin melihat kearah Tika, mereka tidak bisa mengatakan kepada Ana sebelum mengetahui tujuan Dina memanfaatkan kebaikan Hana.


Memisahkan hubungan pertemanan memang mudah, namun Tika dan Shin menghindari agar Ana tidak tersakiti.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Napas Tika sesak karena bajunya yang sangat ketat.


"Membalas dendam." Shin menunjukkan tangannya yang merah.


Tika kaget melihat Shin terluka, tangannya sampai ternodai. Dina tidak bisa pergi begitu saja setelah menyakiti Shin.


Apapun yang ingin Shin lakukan, Atika ikut saja. Jika terjadi perubahan pertengkaran, Tika tidak bisa membantu karena bajunya yang serba ketat.


"Kamu tahu di mana dia sekarang?"


"Di mana lagi? jika bukan memastikan CCTV." Shin tersenyum bergegas kembali ke restorannya.


Mobil berhenti di parkiran, Tika dan Shin duduk diam setelah menemukan mobil Dina. Tika sampai mengantuk menunggu Dina keluar.

__ADS_1


"Menghapus rekaman video saja lama, haruskan aku membantunya?"


"Itu dia, kita harus menonton pertunjukkan." Shin tersenyum memegang remote kontrol.


Mata Tika dibuka lebar, marahnya Shin sangat membahayakan, namun itu hukuman setimpal untuk orang-orang yang merugikan orang lain.


Pintu mobil Dina terbuka, suara ledakan mobil terdengar. Dina langsung teriak histeris sampai lompat-lompat ketakutan.


Beberapa orang menolong Dina yang tangannya terbakar. Tidak ada kasihan sama sekali, Shin puas melihat tangan Dina juga terbakar.


"Ayo kita keluar." Shin membuka pintu, berjalan ke arah keramaian.


Beberapa orang berkumpul mematikan api, ada juga yang menolong Dina untuk segera membawanya ke ruang sakit.


Senyuman Shin terlihat, menunjukkan kepada Dina pergelangan tangannya yang terluka, apa yang terjadi kepada tangan Dina kesalahan dirinya sendiri.


"Ini semua perbuatan kamu?"


"Kenapa aku? apa kamu punya buktinya? jika iya buktikan." Shin tersenyum manis melihat kondisi tangan Dina yang lebih parah darinya.


Tangan Shin melambai melihat Dina yang dibawa ke rumah sakit, mobil mewah terbakar berserta tas Dina.


"Itulah akibatnya jika menyakitiku, kamu siram dengan air panas, aku gunakan api." Shin menatap Tika yang kesulitan jalan karena bajunya yang sempit.


"Shin, bantu aku. Kaki aku tidak bisa melangkah. Ini baju kenapa?"


"Lagian baju anak kecil kamu pakai." Shin menyobek rok berwarna coklat yang Tika pakai sampai pahanya.


"Nona bos, itu bajunya memang seperti itu, namanya juga kebaya. Jika disobek bajunya rusak,"


Mata Tika dan Shin sama-sama membesar, Tika teriak menatap baju lamarannya rusak ulah Shin yang menyobeknya.


Shin langsung berlari ke arah restorannya, Tika juga berlari mengejar karena meminta Shin memperbaikinya.


Beberapa mobil tiba di restoran, Al menuju lantai atas untuk menemukan keberadaan Tika yang pergi tanpa pamitan.


Suara perdebatan kembali terdengar, Aliya dan Diana sudah tahu pasti ada di restoran. Tika meninggalkan bajunya saat Shin melakukan panggilan.


Al sudah khawatir, tapi saat ditemukan hanya ada keseriusan kedua wanita pengacau yang sudah menjadi makanan sehari-hari selalu bertengkar.


Pintu kamar Shin terbuka, Aliya melihat rok Tika sudah sobek. Diana hanya bisa tertawa melihatnya.


"Shin, Tika, kenapa kalian berdua diam?" Di menarik kaki Shin.


Suara dengkuran terdengar, keduanya sudah tertidur dengan pulas dalam sekejap.


"Dasar dua kembar beda Ibu," Al menepuk jidat.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2