
Suara berisik terdengar dari dalam rumah, Aliya tersenyum lebar melihat dua sahabat yang menjadi ipar terlihat akur. Jika tidak ada keributan dari keduanya, rasanya sangat sepi.
Bisa mendengar kembali suara berisik membuat Al bisa merasakan adanya kehidupan.
"Lagi masak apa Shin?"
"Mami, lihat tingkah laku menantu Mami. Bisa-bisanya dia hanya masak makanan kesukaan Kak Juna, tapi tidak masak untuk Ayang Genta." Tika memukul punggung Shin yang terus melawan.
"Kamu masak sendiri, urus suami masing-masing,"
"Suami aku juga Kakak kamu, kenapa tega sekali Kakak orang dibuat kenyang, sedangkan Kakak kandung kelaparan?!"
"Mami pamit pulang dulu, kalian berdua lanjutkan bertengkar." Aliya langsung cepat-cepat pulang tidak ingin ikut campur.
Kepala Isel celingak-celinguk melihat keduanya berdebat, langsung duduk di kursi menatap makanan yang sangat lezat, menikmati makanan membiarkan keduanya ribut.
"Emh ... enak sekali." Senyuman Isel terlihat menikmati makanan.
"Kucing garong!" Shin dan Tika menarik telinga Isel untuk keluar dari rumah mereka.
Tangisan Isel terdengar, memegang kedua telinganya yang sakit karena ditarik kuat. Diana yang melihat membiarkan saja, kepala Di sudah hampir pecah bertengkar dengan Putrinya.
Mobil Genta pulang, Isel langsung menghadang. Naik ke atas mobil meminta Uncle Genta menghukum Shin dan Tika yang sudah membuat telinganya merah.
Pintu mobil terbuka, Genta membukakan pintu untuk Ria yang pulang dalam keadaan acak-acakan.
Shin, Tika dan Isel yang melihat langsung kaget. Sejak kapan Ria suka berkelahi, bahkan bajunya juga sobek.
Teriakan Ria sangat kuat, mengumpat kasar tidak peduli ada orang tua. Kedua tangannya mengepal kuat, mencaci dengan sangat kasar.
Isel yang melihat langsung mengintip, takut menjadi sasaran dari kucing garong yang bisa membuat tewas karena jika mengamuk tidak ada lawan.
"Kenapa kamu?"
"Aku di keroyok lima belas orang, dan menjadi bahan tertawaan." Ria tidak akan tidur tenang sampai bisa membalasnya.
Senyuman Tika terlihat meminta Ria masuk mobil kembali, Shin juga ikut masuk mobil begitupun dengan Isel. Genta membuka pintu yang sudah terkunci.
"Ayang pinjam mobil, tolong jaga masakan di dapur soalnya belum selesai." Tika memberikan ciuman di bibir langsung melaju pergi.
"Tika, selesaikan dulu masakannya!" Genta langsung mengucap istighfar.
Dari jauh Gemal hanya tertawa melihat Adiknya, tidak berniat membantu sama sekali karena sudah resiko mencintai wanita gila bertarung.
__ADS_1
Sampai di lokasi, Tika dan Shin langsung keluar. Melihat banyak anak muda yang sedang tertawa mengejek Ria yang tersungkur berkali-kali.
"Dasar tomboi miskin, liat teman kamu Ria sudah melarikan diri. Dia lupa jika ada temannya yang selalu membuntuti." Suara tawa terdengar memperbaiki anak remaja yang bajunya robek, rambutnya yang pendek ingin dicukur habis.
Teriakan Ria terdengar, dia baru tahu jika ada seseorang yang dibawa juga untuk menjadi mainan.
Ria menarik tangan pemuda yang dulunya kecelakaan bersama Ria, tidak menyangka mereka akan bertemu kembali.
"Kamu,"
"Ria, kenapa kamu balik lagi? cepat pergi." Tubuh Ria didorong agar menjauh.
"Ria, dia bukan pemuda. Hanya seorang gadis, rambutnya tidak bisa panjang karena selalu kita gunting." Suara tawa terdengar, mengejek dia wanita yang terpojok.
Bunyi berjatuhan terdengar, banyak pemuda yang terlempar. Tika menatap Shin yang melayangkan tendangan hingga banyak yang berjatuhan.
Di belakang dua wanita yang bertarung ada Isel yang berjalan layaknya sang ratu yang mengerakkan dua bodyguard untuk mengalahkan musuh.
Belasan pemuda yang berkumpul terlempar semua, Ria tersenyum Kakak dan kakak iparnya yang memang ahli beladiri.
"Jika sekali lagi mengusik dua anak ini, tangan, kaki, dan leher kalian bersiap-siaplah untuk patah." Ancaman Tika terdengar, meminta mengadu kepada orang tua, dengan senang hati Tika akan menyambut semuanya di kantor polisi.
"Maafkan kami Kak, kita berjanji tidak akan melakukannya lagi." Suara memelas terdengar, memohon agar dilepaskan.
Semua pemuda berlarian, Isel melambaikan tangannya meminta berhati-hati. Senyuman Isel sangat lebar memberikan tepuk tangan bangga.
Ria melihat ke arah pemuda yang menutupi kepalanya karena sudah setengah di cukur. Ria meminta Isel mengambil topi yang pastinya ada di mobil Genta.
"Kamu baik-baik saja?" Shin mendekati anak muda seumur Tika yang tersenyum kepadanya.
"Aku baik-baik saja Kak, terima kasih sudah menolong kita." Senyuman manis terlihat membuat Shin juga tersenyum.
"Kamu perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan Kak,"
Anggrek memperkenalkan dirinya, menatap Ria yang mengusap punggungnya meminta maaf karena tidak menyadari keberadaan Anggrek di belakangnya.
"Nama Kakak cantik, tapi wajahnya tidak cantik." Isel menggelengkan kepalanya, terlalu jujur dengan penglihatannya.
Sebelum pulang, Tika menyempatkan mengantar Anggrek pulang. Ria sangat kaget melihat rumah Anggrek yang mirip rumah ayam, banyak bolong dan lembab tidak heran Anggrek selalu sakit.
"Rumah Kakak ini mirip rumah anjing, jelek sekali." Isel menolak untuk turun karena takut ada kuman.
__ADS_1
Ria menutup mulut Isel, meminta maaf atas ucapan Adiknya. Ucapan Isel tidak sopan berharap tidak tersinggung.
"Kenapa kalian tinggal di sini? rumah ini tidak layak,"
"Ibu ingin tetap di sini, meksipun Kakak sudah membeli rumah baru. Kenangan di rumah ini yang tidak ingin ditinggalkan." Anggrek masih tersenyum.
"Kenangan apa? wow ini cacing, ini ulat. Apa pertemuan seperti itu yang menjadi kenangan?" Kepala Isel geleng-geleng meragukan kenormalan keluarga Anggrek.
Mobil melaju pergi, Tika hanya tersenyum melihat adiknya Tika yang menjaga ucapan setelah melihat langsung kesulitan Anggrek. Berbeda dengan Isel yang masih belum mengerti kerasnya hidup.
Seiring berjalannya waktu, Ria akan mengerti memahami orang lain. Tidak semua orang seberuntung dirinya, apalagi bernasib baik seperti Isel.
Sampai di rumah Aliya dan Diana sudah menunggu, Isel berlari ke dalam pelukan Mamanya. Isel meminta mamanya menolong keluarga Anggrek yang kesulitan.
"Kalian berempat dari mana?" Aliya menatap Ria yang menangis dalam pelukan.
Tidak ada yang menjawab, Aliya mengecek kondisi Putrinya yang ada beberapa lebam dan menangis meminta maaf.
"Mi, Ria boleh meminta sesuatu?"
"Tentu sayang, apa Mami pernah menolak kamu?"
Pelukan Ria erat, tidak ingin melepaskan Maminya. Merasa kasihan dengan Anggrek yang tinggal di rumah kecil.
"Sayang, rumah kecil bukan berarti tidak bahagia. Biasanya rumah itu memiliki kenangan indah." Al mengusap air mata Putrinya yang harus lebih peka terhadap perasaan orang.
"Iya, kenangan dengan cacing." Isel sampai merinding.
"Bukan cacing, tapi cinta. Di dalam rumah itu penuh cinta, dan sulit untuk ditinggalkan." Al tersenyum melihat Isel yang menganggukkan kepalanya.
"Seandainya kalian diminta pindah dari perumahan ini, diganti dengan rumah tiga kali lipat. Apa yang kalian pilih?" Diana menatap Putrinya yang sedang berpikir.
"Tika pindah,"
"Shin juga." Senyuman Shin terlihat berlari pulang ke rumahnya diikuti oleh Tika.
"Isel juga pindah Mama, rumah yang lebih besar." Kedua tangan Isel terentang lebar.
"Ria juga pindah, kenangan ada di hati,"
Aliya dan Diana hanya tersenyum berjalan ke rumah Tika dan Shin karena ada yang harus dibahas.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira