ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SATU TERTANGKAP


__ADS_3

Pembicaraan Tika, Citra dan Shin terdengar serius. Juna mengetuk pintu juga diabaikan karena Tika tahu Kakaknya pasti protes jika melibatkan Mamanya dalam masalah Tika.


"Juna, kamu pergi ke rumah Mami saja, Mama masih mengobrol bersama Tika dan sahabatnya." Citra membuka pintu, sambil tersenyum lebar.


Tatapan mata Juna melihat Tika yang tersenyum manis, meminta Kakaknya pulang lebih dulu dan Tika akan menyusul.


Arjuna akhirnya pergi lebih dulu, meninggalkan tiga wanita yang masih melanjutkan pembicaraan mereka.


"Lanjut Ma,"


"Kalian berdua ingin minum dulu?"


"Langsung lanjut saja, kita butuh cepat." Tika menepuk tempat duduk, meminta Mamanya melanjutkan apa yang diketahui.


Shin terdiam cukup lama saat Citra mengatakan jika lambang digunakan untuk memperingati bisnis ilegal yang merugikan banyak orang.


"Shin, kenapa tiba-tiba diam?"


"Aku hanya memikirkan sesuatu yang cukup membingungkan,"


"Apa yang membuat kamu binggung?" Citra menatap Shin yang menghela napasnya.


Kepolisian berhasil menangkap dan menghentikan bisnis, tapi beberapa tahun setelah ada peringatan soal kejahatan ilegal yang merugikan banyak calon pengusaha yang baru akan merintis.


"Apa kamu berpikir kemungkinan besar pihak aparat yang mengambil alih? mereka sebenarnya terlibat dari awal, bahkan tidak ada yang tahu jika pimpinan bisnis ini benar-benar meninggal." Tika mengerutkan keningnya.


Senyuman Citra terlihat, menatap Tika dan Shin yang saling mengimbangi. Pembicaraan keduanya sangat nyambung dan saling menerima saran. Setiap usul dan apa yang dipikirkan dibicarakan dengan serius.


"Mama ingin tahu, apa yang sebenarnya kalian cari? bisa bocorkan sedikit mungkin bisa membantu." Citra duduk mendekati dua wanita yang saling memandang.


Tika menghela napasnya, menceritakan jika orang yang membunuh kedua orangtua Genta menggunakan gelang dengan lambang dua puluh tahun yang lalu. Tika juga sedang menyelidiki mungkin saja ada sangkut-pautnya dengan keberadaan Melly yang memiliki banyak tempat persembunyian.


"Siapa sebenarnya yang kalian kejar? selesaikan satu-persatu. Beda lawan beda kemampuan, sebenarnya kalian ingin menangkap pembunuh orang tua Genta atau menangkap Melly?" senyuman Citra terlihat menatap dua wanita yang seumuran saling memandang.


"Semuanya bersangkutan," Shin menceritakan ulang soal dirinya yang diculik saat bayi, ternyata orang yang menculik terikat dengan Melly yang pernah menjadi atasan Citra dalam kejahatan, dan saat ini berikatan dengan masa lalu Genta.


"Kalian tahu siapa Melly?" Citra bicara sangat tenang, menceritakan ulang masa mudanya saat mengenal Melly.


Citra tidak tahu banyak hal soal penculikan Shin, jika ingin mengetahui detail Shin harus menangkap Irish atau Rindi karena kedua orang ini memiliki rahasia Melly karena itu selalu dilindungi.


"Mama tahu di mana persembunyian Melly?" Tika berusaha bicara lembut.


"Sayang, orang jahat tidak memiliki tempat seperti rumah, atau persembunyian. Mereka ada disekitar kita. Bahkan saat Mama operasi, Melly ada di sana, di dalam ruangan." Kepala Citra tertunduk merasa bersalah karena keceplosan.


Tika dan Shin sama-sama berdiri, kaget mendengar ucapan Citra sebelum operasi Melly datang. Tika meminta penjelasan lebih detail karena Genta sempat mengejar orang yang diperintahkan untuk menggagalkan operasi.


"Jika kalian berpikir Li orang jahat, maka salah besar. Melly meminta Li membunuh Mama, tapi yang dilakukan Li meyelamatkan. Dia menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter."


"Itu hanya cara dia mendapatkan ruang di hati Tante, jika Melly tahu dia bisa langsung melakukan tanpa harus perantara dari Li." Shin bicara tegas karena sedikit demi sedikit keluarga mulai di dekati.


"Shin benar, Li target pertama kita untuk menemukan jawaban." Tika meminta Mamanya untuk bersiap pulang ke rumah Maminya.


Keberadaan Citra cukup berbahaya jika sendiri, Tika juga harus mengantisipasi adik-adiknya agar dalam penjaga ketat karena bisa saja ada yang mengambil kesempatan.


Kecemasan Tika membuat Citra senang karena masih ada rasa perduli di hati Putrinya, meksipun tidak ditunjukkan secara langsung.


Melihat Tika yang sekarang mengingatkan Citra kepada Aliya yang masih muda, saat bertengkar dengan Citra, Al seusia Tika. Gadis muda yang hidupnya penuh luka, berhasil menaklukkan hati pria sedingin Altha yang dulunya sangat mencintainya, bukan hanya Altha, tapi mampu meluluhkan hati kedua anaknya yang sudah patah hati karena kegagalan kedua orangtuanya.


"Tika, apa kamu sangat menyayangi Mami Al?" Citra berjalan di samping Tika yang memperhatikan dengan kening berkerut.


"Tentu, dia nyawa Tika. Kasih sayang Mami melebihi apapun, Mami tidak bisa dibandingkan dengan kamu. Ingat jangan coba-coba menguasai Kak Juna, karena kak Juna juga milik Mami. Jika Kak Juna melawan Mami demi Mama, tidak akan Tika maafkan." Peringatan Tika sangat tegas, hanya memberikan kesempatan kepada Citra untuk memperbaiki diri hanya satu kali, jika sampai melakukan kejahatan lagi, bukan hanya penjara Tika sendiri yang akan membunuh Citra.


Senyuman Citra terlihat, menatap kagum dengan ketulusan Tika yang luar biasa. Putrinya beruntung memiliki Al dalam hidupnya.


"Ini mobil Mami?"


"Iya, Al meninggalkan mobilnya untuk Mama." Citra berteriak meminta Tika menyingkir dari mobil.


Shin menahan Citra untuk menjauh, melihat Rindi datang membawa benda tajam ingin menusuk Tika. Tatapan mata Tika tajam, beradu kekuatan menahan pisau.


"Jauhi suamiku!"


"Kamu harus melangkahi mayat ku terlebih dahulu!" Tika menghasilkan memutar posisi sampai Rindi yang terpojok ke mobil.


Shin melihat sekitar, takutnya ada penembak jarak jauh yang akan membahayakan Tika. Melihat Rindu terpojok, Shin meminta Citra masuk kembali ke dalam rumah.


Tubuh Rindi terkulai lemah saat Shin menyuntikkan sesuatu, Tika tersenyum melihat Rindi yang sudah jatuh pingsan.

__ADS_1


Tubuh Rindi ditarik ke dalam apartemen, Citra masih panik melihat tangan Putrinya berdarah. Jika Aliya sampai tahu pasti marah besar.


"Nak, tangan kamu. Mami pasti marah, dan tidak akan memaafkan Mama jika kamu terluka." Air mata Citra menetes, menggenggam tangan Tika.


"Aku terluka karena diri sendiri, lagian Tika mempunyai Dokter pribadi." Senyuman Tika terlihat menatap sahabatnya yang sudah menyiapkan obat.


Tangan Tika langsung dibersihkan, dibalut dengan kain. Shin bekerja sangat cepat menghentikan darah keluar.


"Rindi memang gila, dia bahkan ingin membunuh kamu karena cinta." Shin melayangkan tendangan kuat ke arah Rindi yang masih pingsan.


"Balas dendam lama bestie." Tika melemparkan benda tajam ke arah Shin.


Citra berteriak kaget saat kedua tangan Rindi terluka sama seperti Tika, tawa Tika terdengar karena Citra sempat panik.


"Ini namanya karma dibayar langsung." Tika menahan tawa menunggu Rindi bangun.


"Kalian berdua ini kerja apa? Mami Al tahu tidak Tika?"


"Jika Mami tahu, lenyap nyawa Tika. Jangan beritahu Mami, ini rahasia kita bertiga." Tika tersenyum tidak sabar menunggu Rindi bangun.


Siraman air menguyur wajah Rindi sampai bangun, Shin tersenyum manis mengusap kepala Rindi menyapanya dengan sangat manis.


"Aku akan membunuh kalian!"


"Aku yang akan membunuh kamu!" Tika melayangkan tamparan kuat ke wajah Rindi yang lancang mencium Genta.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


AKU KASIH CUPLIKAN DENDAM ANAK TIRI LANJUT BACA DI F I Z Z O di sana bacanya juga gratis.


Gerald El membuka surat perintah dirinya harus kembali atas perintah pimpinan Mafia terbesar di negaranya, El langsung menyobek kertas dan memasukkan ke dalam kloset menyiramnya dengan air.


Pesawat terbang membawa El kembali setelah lima tahun meninggalkan negaranya, misi panjang yang akhirnya selesai.


Sesampainya di sebuah rumah mewah, El langsung melangkah masuk menemui pria yang selalu dia panggil Dad.


"Ini tugas kamu selanjutnya El, sudah saatnya kamu balas dendam." Senyuman menyeringai terlihat dari wajah pria paruh baya, tetapi masih memiliki tubuh yang kekar dan berotot.


"Berapa besar kita rugi Dad?" El langsung duduk melihat detail masalah yang harus dia singkirkan.


"Tidak ada kerugian, ini hukuman untuk orang yang melepaskan diri dari geng kita."


Kepala El langsung mengangguk, akan segera menyelesaikan hanya dalam beberapa hari.


"El, kamu tidak ada pertanyaan soal wanita ini?"


Tatapan mata tajam El melihat ke arah foto, tanpa ada yang harus dijelaskan dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Dad tertawa menggema, mengizinkan El segera memulai misinya. Dan harus kembali tanpa terluka.


El langsung melangkah pergi, dan segera menemui keluarga yang harus dia hukum untuk balas dendam.


Mobil El melaju dengan kecepatan tinggi, berhenti di sebuah pemakaman. Meletakan sebuah bunga di atas makam wanita.


Tanpa mengatakan sepatah katapun El langsung ingin melangkah pergi.


"Siapa kamu?" Seorang wanita cantik menyapa El yang meletakkan bunga.


Tatapan El sangat tajam juga terkejut, karena wanita yang harus dia hancurkan hidupnya tepat berada dihadapannya.


"Kamu mengenal Bunda?" Tatapan Syila fokus menatap El yang tidak merespon sama sekali.


Tanpa menjawab, El langsung melangkah pergi meninggalkan Syila yang kebingungan karena selama bertahun-tahun ini pertama kalinya ada yang mengunjungi makam Bundanya.


"Hai, Bunda. Hanya hitungan hari, Syila akan menikah dengan pria pilihan Syila. Nanti kita akan berkunjung bersama-sama." Suara lembut Syila terdengar menceritakan calon suaminya.


Dari kejauhan El menatap penuh kebencian, calon suami yang Syila banggakan hanyalah seorang pebisnis ilegal yang berkerja di bawah Pimpinan Dad.


"Kebahagiaan kalian akan segera berubah menjadi air mata." El langsung meninggalkan pemakaman.


***


Suasana di kediaman keluarga Syila sedang ramai, persiapan pernikahan sudah 80% hanya tersisa menunggu hari H.

__ADS_1


Senyuman Syila tidak pernah hilang dari wajahnya, dia sangat bahagia menyambut hari bahagianya.


"Sayang, aku kangen kamu." Senyuman Nata terlihat mencium hidung calon istrinya.


"Kenapa baru pulang sekarang? bisa tinggalkan sebentar saja pekerjaan demi pernikahan kita yang sudah di depan mata." Tangan Syila mencubit perut calon suaminya yang meringis kesakitan.


"Ampun my heart, sekarang aku sudah ada dihadapan tuan putri." Nata berlutut membuat Syila tertawa terbahak-bahak.


Dua keluarga terlihat sangat bahagia mendengar tawa Nata dan Syila yang saling melepaskan rindu, dan menghabiskan waktu bersama sebelum berganti status.


Canda tawa calon pengantin tidak luput dari pantauan El, dia bisa melihat semua kesibukan untuk persiapan pernikahan.


Tendangan kuat menghantam meja, El terlihat sangat emosi karena dirinya membutuhkan waktu lama untuk mengobati rasa sakitnya, tapi keluarga Syila dengan mudahnya melupakan dirinya.


"Tertawa selama masih bisa tertawa, karena sebentar lagi kalian akan menangis darah." El tertawa sangat besar dan memastikan dendam lama akan terbalaskan.


El tidak perduli soal urusan Nata dan Dad, hal yang paling penting saat ini menghacurkan keluarga Syila.


Sebuah panggilan masuk, El mendengarkan suara dari balik handphonenya. Setelah semua persiapan aman, El meminta bawahannya segera bersiap.


Pesta pernikahan tidak akan terjadi, karena penganti pria akan segera meregang nyawa untuk membayar keputusannya meninggalkan dunia hitam.


El langsung mengganti bajunya serba hitam, mengunakan kacamata dan topi sehingga tidak ada yang mengenali wajahnya.


Tatapan El masih fokus melihat layar, dia meyakini jika Nata bukan orang sembarang sehingga Dad ingin dia disingkirkan.


Mata Nata menatap tajam ke arah CCTV yang El awasi, tatapan mata Nata membuat El tertawa.


Nata mengetahui jika ada yang mengawasinya, meminta El keluar dan menemuinya secara jantan.


Mendapatkan tantangan secara langsung membuat El langsung menyetujuinya, melangkah keluar untuk melihat sosok lain dari Nata.


Di depan Syila dia pria yang ceria, baik tanpa Syila ketahui jika Nata memiliki bisnis yang bekerja di pasar gelap, bahkan melakukan transaksi ilegal untuk menimbun kekayaannya.


Suara langkah kaki terdengar, El hanya tertawa melihat Nata yang bisa menemukan keberadaannya.


"Gerald El? kamu kembali pasti dengan tujuan tidak baik. Apa Dad yang mengirim kamu?" Nata berjalan mendekati El yang berdiri santai sambil menghisap rokok.


El tidak merespon apapun yang Nata ucapkan, karena baginya siapa yang membayar lebih tinggi maka El akan ada di sisi orang tersebut.


"Jangan pernah kamu sentuh calon istriku, jika tidak ingin mati mengenaskan." Sekuat tenaga Nata menenangkan dirinya, karena dia sangat mengenal siapa El.


"Jika kamu ingin hidup bahagia, seharusnya sejak dulu tidak pernah menyentuh dunia hitam. Jika kamu masuk, sulit keluar karena taruhannya nyawa." El menjatuhkan rokoknya, lalu menginjak-injak sampai hancur.


El meminta Nata menyelamatkan diri sendiri, karena saat ini tugas El membunuh Nata dan keluarganya.


"Jangan sentuh keluargaku!" sebuah pukulan ingin melayang, tapi El sudah menahan.


Tendangan kuat menghantam perut Nata sampai terpental mengeluarkan darah, El menginjak-injak Nata membabi buta.


"Ais, kamu bukan lawan yang menyenangkan. Lemah." Senyuman sinis El terlihat melangkah mundur.


Nata sudah mengeluarkan senjata, diarahkan kepada El. Gerakan El jauh lebih cepat, suara tembakan terdengar tepat di samping kepala Nata.


"Tembakan pertama meleset." Tangan El mengarahkan lagi senjatanya.


Tangan Nata gemetaran, senjatanya jatuh hanya bisa terdiam melihat El yang mirip iblis yang kejam.


"Membunuh kamu di sini terlalu mudah, dan tidak seru." Tendangan El menghantam wajah Nata sampai jatuh pingsan.


El langsung meminta bawahannya mengembalikan Nata pada keluarganya, karena El mempunyai rencana tersendiri untuk membunuh El.


Apa yang terjadi di masa kecil, akan El ulang kembali. Jika dulu dia menangis memeluk Bundanya yang meregang nyawa di depan matanya, sekarang giliran keluarga Syila yang akan menangis melihat calon menantu mereka meregang nyawa.


Pernikahan tidak akan pernah terlaksana sesuai harapan mereka, karena tawa akan segera berubah banjir air mata.


***


Syila mondar-mandir menunggu Nata yang mengatakan pergi sebentar, tapi sudah hampir lima jam tidak kembali.


Sudah larut malam, lelaki yang dicintainya belum memberikan kabar. Perasaan Syila sangat khawatir menunggu Nata.


"Kenapa belum pulang Nata?"


Seorang pelayan mendekati Syila, menyerahkan sebuah amplop putih lalu meninggalkan Syila yang masih gelisah.


"Apa ini?" Syila membuka amplop langsung berteriak histeris.

__ADS_1


***


***


__ADS_2