ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PECANDU


__ADS_3

Tatapan Gemal melihat ke arah beberapa Dokter dan suster yang membicarakan Diana, Gem hanya tersenyum sinis.


Diana wanita yang sangat jenius, dia juga sombong dan angkuh sesuai dengan kemampuannya.


"Apa istimewanya dia?" Gemal langsung melangkah pergi melihat ke arah orang-orang yang sedang berkumpul.


Gemal penasaran apa yang sedang ditonton, saat mendekat Gemal melihat langsung Diana yang melakukan pertolongan pertama.


Senyuman Di terlihat menatap Gemal yang mengerutkan keningnya, melihat Diana senyum Gemal langsung melangkah pergi.


Dia sengaja menghindari Diana agar tidak ada pertengkaran lagi antara mereka.


"Bagaimana soal kasus kemarin?" Di berjalan di depan Gemal yang memalingkan wajahnya.


Diana tertawa kecil, Gemal berusaha menghindarinya.


"Kenapa kamu menghindar? sekarang mengakui jika aku cantik, baik, pintar, hebat." Di dengan sikap sombongnya membanggakan diri sendiri.


"Aku harap kita tidak bertemu lagi." Gemal langsung melangkah pergi.


"Aku juga berharap tidak melihat kamu lagi, dasar menyebalkan." Di menatap sinis.


Salsa mengusap wajah Diana, meminta untuk berhenti memonyongkan bibir. Seorang dokter harus memiliki sikap ramah, bukannya hobi marah.


"Ikut aku Di." Salsa merangkul Diana untuk makan siang.


Hendrik cukup kaget melihat Salsa yang membawa teman, padahal Hendrik hanya ingin berduaan dengan Salsa.


"Hai Hen. Sudah pesan makan belum?" Salsa tersenyum melihat makanan yang dia request sudah berdatangan.


Kehadiran Diana membuat Hendrik hanya diam, dia tidak menyukai Di karena tahu siapa Diana sebenernya.


Salsa menerima panggilan, tersenyum melihat Hendrik dan Diana yang sudah mulai makan.


"Hen, aku tinggal bersama Diana ya. Ada urusan penting." Salsa menepuk pundak Diana, langsung berlari meninggalkan keduanya.


"Salsa." Tatapan Hendrik tajam, Salsa selalu mengabaikannya.


"Ayo lanjut makan." Diana tersenyum manis, rencana Salsa untuk dirinya berduaan akhirnya berhasil.


Hendrik langsung menjatuhkan sendok, tatapannya terhadap Diana sangat tajam. Ada ketidaksukaan yang sangat besar.


"Kamu menjijikan! jauhi aku dan Salsa." Hendrik tersenyum sinis.

__ADS_1


Diana mengerutkan keningnya, ucapan Hendrik sangat menyakiti hati karena mengatakan jika sebaik apapun Diana sekarang, dia tetap seorang penjahat yang berkedok malaikat.


"Aku tahu siapa kamu Di, jadi jangan dekati aku. "


"Santai saja, kenapa harus terlihat marah?" Di menatap tidak suka dengan penolakan Hendrik.


Diana tidak memaksa Hendrik untuk membalas perasaan, jika harus menolak seharusnya dengan nada sopan dan tidak harus menghina.


Di tidak pernah menutupi masa lalunya, tap Hendrik tidak harus membandingkan dirinya dulu dan sekarang.


"Kamu hanya wanita psikopat Di, jangan berpura-pura menjadi malaikat, jika sebenarnya seorang pembunuh." Hendrik meninggalkan beberapa lebar uang.


Diana menahan lengan Hendrik, tatapan Di sangat tajam dan melihat ekspresi wajah Hendrik yang mulai terlihat aslinya.


"Kenapa? apa karena aku lebih hebat? seharusnya aku mengenali kamu, dan menyingkirkan sama seperti korban lainnya. Ingat dulu! Diana membunuh siapapun penjahat, dan sekarang menyelamatkan orang sakit, tapi belum ada yang berubah Hendrik." Di tertawa menepuk pundak Hendrik dan membisikkan jika Di bisa saja membunuh Hendrik.


Senyuman Hendrik juga terlihat, menakup wajah Diana. Hendrik tidak peduli apa yang Di lakukan di rumah sakit, dan berhenti mencoba mendekatinya.


"Hendrik, aku bisa menyukai seseorang satu kali pandang, tapi aku juga bisa membenci seseorang hanya satu kali kedipan mata." Diana membiarkan Hendrik pergi.


Diana menatap punggung Hendrik, dokter yang dulunya menyelamatkan Juna dengan penuh kelembutan ternyata palsu.


Sekarang Diana mengerti, Hendrik hanya mencari perhatian Salsa sehingga bersedia membantu Juna secara cepat.


Senyuman Juna terlihat, melepaskan tas sekolahnya menggelengkan kepalanya menatap Diana.


"Makanya kak Di jika di nasihati dengarkan." Juna tersenyum memesan minuman dingin.


"Kamu bolos sekolah?" Diana melihat Arjuna yang masih menggunakan baju lengkap.


Juna sudah pulang sekolah, karena dia mengikuti lomba cerdas cermat tapi mampir ke restoran untuk membelikan adiknya Juan makanan.


"Jun, Hendrik mengetahui masa lalunya kak Di."


Juna tersenyum, menggenggam tangan Diana. Juna sudah lama tahu jika Hendrik tidak sepenuhnya orang baik.


Saat sadar dari operasi Juna melihat dokter Hendrik marah kepada suster, dia juga memeriksa Juna secara kasar.


"Kenapa baru mengatakan sekarang? dia memiliki banyak pasien." Di cukup terkejut.


"Kak Di, dia memiliki emosi yang sulit dikontrol." Juna tidak ingin menjelekkan Hendrik, tapi dari mata Juna bisa melihat jika Hendrik seorang pemakai.


Diana menutup mulutnya, tidak percaya dokter terbaik, tampan dan menjadi andalan banyak orang sebenarnya seorang pemakai yang sudah candu.

__ADS_1


"Dokter Hen juga memiliki obsesi yang sangat berlebihan, saat apa yang dia rencanakan tidak tercapai, orang sekitar bisa menjadi imbasnya." Senyuman Juna terlihat menerima minumannya.


"Apa yang dia katakan barusan kemungkinan tidak disadari?" Diana langsung terkejut.


Diana memarahi Juna karena tidak mengatakan dari awal, pasien bisa saja menjadi korbannya.


"Kak Di awasi kak Salsa, dia terobsesi kepada kak Salsa, karena itu marah kepada kak Di." Juna juga menceritakan jika putusnya hubungan Dika dan Salsa ada campur tangan Hendrik


Juna tidak punya hak membahasnya dengan Dika, karena di mata Juna Dika lemah mundur dan melepaskan miliknya, mempercayai orang lain daripada wanitanya.


"Kamu sangat dewasa Juna, kak Di pastikan semuanya akan baik-baik saja." Di tersenyum mengusap remaja tampan yang sudah menginjak bangku sekolah tingkat atas.


"Juna memiliki banyak pengalaman, Mami tidak mempercayai siapapun kecuali Papi, tapi saat Juna mengatakan Papi makan di restoran bersama wanita langsung mengamuk padahal Juna belum menyebut siapa wanitanya." Arjuna tertawa, rasa cinta bisa mengubah kepercayaan dengan mudah begitupun kesalahan pahaman Dika.


"Kak Di yakin perempuannya pasti Tika dan Ria." Diana juga langsung tertawa merasakan rindu dengan dua bocah nakal.


Diana kaget melihat makanan yang Juna beli, rencananya hanya membelikan Juan, tapi bungkusan banyak sekali.


"Banyak sekali?"


"Satu Juan, Tika, Ria, Dean dan sisanya untuk dibagikan." Juna langsung pamit kepada Diana yang terkagum-kagum melihat kebaikan Juna.


Juna melangkah pergi, membalik badannya menatap Diana yang juga menatapnya tajam.


"Kak Di, jangan hiraukan apa yang orang katakan, di mata keluarga kak Di orang baik. Juna yakin suatu hari nanti, ada lelaki baik untuk kak Di, dan ada lelaki yang beruntung memiliki kak Diana." Senyuman Juna terlihat langsung melangkah pergi.


Diana yang mendengar mengusap matanya, merasa terharu mendengar ucapan Juna yang membuat perasaan melow.


Di melihat seorang ibu yang membawa beberapa kue, tersenyum melihat orang-orang yang lewat.


"Bu, Diana beli kuenya." Senyuman Diana terlihat, langsung membayar semua kue.


"Untuk apa membeli banyak sekali nak?"


"Di ingin membagikan kepada anak-anak di rumah sakit." Diana memberikan dua jempol karena rasanya sangat enak.


"Ibu berikan diskon untuk anak baik." Seluruh makanan dibungkus.


"Emh ibu baik sekali, Mommy ingin mengadakan acara syukuran, Di boleh memesan kue?"


Ibu penjual kue tersenyum lebar, bukan menolak rezeki tapi tidak bisa membuat kue dalam pesanan besar.


***

__ADS_1


follow Ig VHIAAZAIRA


__ADS_2