ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMUTUSKAN PERGI


__ADS_3

Langkah kaki perlahan-lahan melangkah mengintip di kamar Alin, Tika tersenyum melihat Aunty yang sibuk sendiri.


"Tika!" Alin berteriak kuat melihat Atika yang sibuk memainkan alat-alat yang Alin buat.


Aliya langsung berlari membuka kamar Alin melihat Tika sudah memegang senjata, Altha juga masuk ke dalam mengambil senjata buatan Alin.


"Tika, tidak boleh main ini. Keluar sekarang." Alt menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang sangat suka menganggu Alina.


Alin duduk di pinggir ranjangnya, terlihat santai saja mendengar Altha yang mulai menegurnya. Suara pelan Altha terdengar meminta Alin berhenti membuat senjata.


Aliya juga duduk di samping kakaknya, melihat senjata baru yang Alin berhasil buat meskipun dia belum tahu untuk apa membuatnya.


"Alin, berhenti membuat senjata, kamu bisa membuat sesuatu yang bermanfaat."


"Apa? aku bisa melakukan apa? hidup aku harus bersembunyi selamanya." Alin meminta Altha dan Aliya keluar, dia ingin beristirahat.


Aliya menyentuh tangan kakaknya, Altha sudah keluar dan mengambil sebuah map menyerahkan kepada Alina.


Seluruh kejahatan Alina sudah tercatat, Altha dan Dimas satu-satunya orang yang baru mengetahuinya.


Mencari keberadaan Aliya, sekaligus menemukan seluruh kejahatan Alin. Banyaknya orang yang kehilangan nyawa hanya karena keegoisan Alina.


Alin membela dirinya, kematian mereka sudah menjadi pilihan. Jika dirinya ada diposisi mereka akan melakukan hal yang sama.


"Altha, menjadi orang sukses dan hidup mewah bukan berarti bahagia. Ada banyak hal yang tidak terpikir oleh orang biasa, tapi pada kenyataannya mereka datang kepadaku untuk meminta kekuasaan. Salah jika aku meminta nyawa mereka." Alin menaikkan nada bicaranya, langsung berdiri mendekati Altha.


"Kamu pernah memikirkan anak-anak mereka, keluarga mereka?"


Alin menganggukkan kepalanya, dirinya memang wanita jahat dan tidak segan-segan membunuh siapapun. Satu hal yang harus Altha ketahui Alin tidak membunuh orang yang tidak bersalah.


"Kematian mereka, atas keinginan mereka. Aku hanya membunuh keluargaku, dan selebihnya mereka mati atas keinginan mereka. Kamu tidak akan tahu Altha, jika tidak pernah hidup seperti aku." Alin langsung ingin pergi dari rumah.


Aliya menahan kakaknya, mereka bisa bicara baik-baik dan mencari solusi bersama.


"Kamu tidak menyesal Alin, apa yang kamu dapatkan dari semuanya? kamu bahagia?" Alt langsung duduk melihat Alina dan Aliya yang berdebat.

__ADS_1


Sikap keras kepala Alina terlihat, dia tidak bisa meninggalkan dunia gelap karena orang sepertinya hanya bisa hidup menjadi orang jahat.


"Kalian tanya aku menyesal tidak? ya, aku tidak menyesal karena aku menyingkirkan orang jahat, dan tidak menyakiti orang baik. Kalian menyalahkan aku soal kematian Mora dan Roby, masukkan aku ke dalam penjara jika kamu mampu. Dan kamu Altha, kejar aku jika kamu bisa." Alin menatap tajam Altha dan Aliya.


Altha tersenyum, Alin masih menantangnya. Sebenarnya Alin tahu jika Altha sudah menghancurkan sebagian besar dunia Alina.


"Kamu bisa selamat Alina, aku juga, Aliya juga. Kita bertiga bisa menyelamatkan diri dari banyaknya orang yang menyimpan dendam, tapi pernah tidak kamu membayangkan jika Tika yang disakiti, sama seperti Amora yang menjadi korban rasa dendam." Alt tidak menyalakan Alin, dia hanya menjadi orang disalahkan.


Alina mengerutkan keningnya, dia tidak ada sangkut pautnya dengan Tika. Tidak ada yang mengenal dirinya.


"Kak, rasa benci dan emosi bisa menemukan sekecil apapun lubang. Kak Alin tahu besarnya kasih sayang Tika, dia bangga memiliki kak Alin. Tolong tinggalkan kejahatan kak, ini demi kebaikan keluarga kita." Aliya memohon sambil meneteskan air matanya.


Kening Alin berkerut, mendorong kening Aliya. Bisa dia berbicara keluarga kita, sedangkan Altha ingin memenjarakannya.


Alt langsung melihat ke arah lain, melihat Elen yang berlari berteriak memanggil nama Atika.


Al dan Alin langsung berlari melihat Tika sudah tengkurap jatuh, tidak bergerak sama sekali.


"Kenapa dia mirip cicak?" Alin melihat Altha dan Aliya yang sudah berhamburan ke lantai satu melihat Tika yang terjatuh.


"Aunty bohong, katanya jika berhasil lompat tidak sakit buktinya Tika hampir geger otak."


"Kamu lompat dari mana?" Aliya melihat ke arah tangan Tika menunjuk.


Dari lantai atas Alina sudah tertawa lepas, merasa lucu dengan kebodohan Tika. Dirinya yang bisa lompat, jika Tika tidak mungkin bisa.


Altha menegur putrinya untuk tidak mengikuti Alina, dia mirip monyet yang bisa lompat dan berpidah-pindah tempat tanpa rasa sakit.


"Papi, jika Aunty mirip monyet berarti Tika keponakan monyet." Suara Tika tertawa terdengar, diikuti oleh Aliya dan Alina.


Altha hanya bisa menghela nafasnya, memiliki satu Aliya saja tidak bisa diurus, ditambah lagi Alina yang tidak kalah gila.


***


Makan malam keluarga Altha ada canda dan tawa, kehadiran Aliya membuat Tika, Juna tersenyum. Alt juga bahagia bisa melihat istrinya kembali dan makan malam bersama.

__ADS_1


Alina juga tertawa bersama Tika, keduanya mirip teman dekat yang bisa bertengkar dan berbaikan.


"Al sudah saatnya aku pergi, dan aku minta tolong kepada kamu Altha lakukan tugas kamu, jangan karena aku kakaknya Aliya kamu melanggar hukum." Alin menatap Altha dan Aliya yang hanya menundukkan kepalanya.


"Aunty mau ke mana?" Tika memberikan potongan dagingnya untuk Alin.


"Pergi untuk bersenang-senang, suatu hari Aunty akan datang dan menemui kamu. Tika harus menjadi anak baik, dan jaga Mami." Alin memeluk Tika, mencium keningnya.


Bisa tinggal sesaat bersama anak-anak membuat Alin merasa menjadi manusia kembali, meksipun dia tahu tidak memiliki banyak waktu.


Al tidak bisa menahan Alina, dia memang harus pergi untuk mengakhiri apa yang sudah dia mulai.


Alt meminta Tika dan Juna pergi ke kamar masing-masing, ada yang ingin Altha bicarakan kepada Alina sebelum dirinya pergi.


Tika langsung melangkah pergi bersama Elen, menatap sekilas Alina sambil tersenyum manis. Arjuna juga langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Aunty, Juna tidak tahu kejahatan apa yang sudah Aunty lakukan, tapi jika bisa jangan lakukan lagi. Juna harap saat Aunty kembali kita bisa menjadi teman, berjalan bersama tanpa ada yang ditakuti." Juna langsung melangkah pergi menuju kamarnya, sekilas melihat Alina yang menganggukkan kepalanya.


Altha meminta Alina berlari sejauh mungkin, kejahatan Alin akan Altha buka kembali dan mungkin dia akan menjadi buronan.


"Alin, kamu sudah dianggap mati saat pembantaian, tapi kamu memiliki banyak catatan kejahatan. Aku tidak ingin Aliya menjadi korban untuk mengantikan kamu, jadi nama Alina Natasha akan aku hidupkan kembali. Izinkan aku membersihkan nama Aliya Natusha." Alt meminta maaf kepada Alina jika dia terlihat kejam.


Senyuman Alina terlihat, menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan Altha. Kesempatan untuk melarikan diri akan Alin manfaatkan.


"Al, kak Alin akan kembali suatu hari nanti. Kamu tidak sendiri, masih ada tersisa satu saudara kamu."


Al hanya menganggukkan kepalanya, dipercaya Alina bisa menjadi orang baik.


"Aku akan pergi sekarang."


"Tidak sekarang, pergilah setelah pesta pernikahan aku dan Al." Altha langsung melangkah pergi, membiarkan keduanya berbicara.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


like coment Dan tambah favorit


__ADS_2