ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MIMPI INDAH


__ADS_3

Langka kaki Mam Jes sudah berlari kencang, langsung membuka pintu mempersilahkan Aliya, dan Anggun masuk.


"Diana sayang? kenapa penampilan kamu berbeda?" Mam Jes memeluk Aliya.


"Dia saudara kembarnya Di Mam." Diana mencium tangan Mam Jes.


"Oh, maaf. Pantas saja terlihat beda, tapi mirip. Bagaimana menjelaskannya?" Senyuman Mam Jes terlihat mempersilahkan Aliya dan Anggun masuk.


"Katakan saja, Mami Aliya tubuhnya berisi, dadanya besar, body seksi, rambutnya hitam, warna kulitnya putih, matanya coklat. Sedangkan kak Di, rambutnya pirang, matanya selalu menggunakan softlens, tubuhnya ramping, dan selalu menggunakan pakaian yang bermerek." Ria membandingkan ibunya dan Diana.


"Cantik siapa?" Diana sudah berpose.


"Kak Di cantik, tapi Mami lebih cantik, jika Ria bilang jelek, nanti Ria di kembalikan ke dalam perut." Ria langsung melangkah mengikuti kakaknya Atika yang sudah melihat seisi rumah.


Aliya meminta maaf jika putrinya sangat cerewet, dan senang bisa bertemu dengan Mamanya Gemal.


Mam Jes sangat menyukai anak-anak, mempersilahkan Aliya dan Anggun duduk langsung memanggil Maminya yang masih bersiap-siap.


"Halo semuanya, ini kembaran Diana. Tidak heran Diana cantik, saudaranya juga cantik, Dia kakaknya Diana juga?" Nenek mendekati Anggun.


"Diana Putri saya Nek."


Senyuman Nenek terlihat, menggenggam tangan Anggun yang luar biasa dalam mendidik Diana.


"Rumah ini ramai sekali, neneknya menyukainya." Senyuman terlihat menatap Juan yang berjalan sempoyongan.


Aliya meminta Juan, Dean mencium tangan Nenek. Harus bersikap sopan kepada orang tua.


"Assalamualaikum nenek, aku Arjuanda putranya Altha dan Aliya. Dia Dean Martin Dirgantara."


"Kamu sudah memilki anak?" Nenek menatap Aliya.


"Iya nek, saya menikah muda. Anak Al sekarang ada empat." Aliya menyebut nama keempat anaknya.


"Pasti rumah kalian ramai sekali Al, seandainya nanti Gemal menikah anaknya ada empat juga, bosan melihat keturunan hanya satu." Tatapan nenek gemes melihat Juan yang tampan, dan Dean yang badannya berisi.


"Gampang nenek, kak Diana hamil dua kali, melahirkan dua kali dapat empat anak. Seperti Juan dan Ria, Mami hamil satu kali, tapi langsung dapat dua." Tangan Juan menghitung saudaranya.


Tatapan Juan binggung, memikirkan kedua kakaknya yang terlahir kapan. Langsung menggelengkan kepalanya, tidak ingin banyak berpikir.


Jessi tersenyum, mencium wajah Juan yang mengemaskan. Diana tersenyum melihat kebahagiaan Mam Jes dan nenek Chika melihat keberadaan anak-anak.

__ADS_1


"Di mana kak Gemal?" Ria menatap Mam Jes.


"Kalian naik lantai dua, di depan kamar ada nama dan kak Gemal masih tidur. Bangunkan dia agar kita bisa makan bersama." Jessi meminta anak-anak berjalan pelan dan berhati-hati.


Senyuman Mam Jes tidak pernah hilang, bahagia melihat rumahnya ada tamu yang membuat heboh.


"Terima kasih sudah bersedia datang, padahal kalian pasti sibuk."


"Kami senang di undang ke sini, apalagi anak-anak sedang libur dan pastinya ingin pergi bermain." Anggun mengobrol santai bersama Jessi.


Diana hanya duduk diam, melihat nenek dan Mam Jes pembicaraan nyambung bersama Aliya dan Mommynya.


Pintu kamar Gemal terbuka, wajah Dean sangat kaget melihat banyak mainan. Ria langsung berlari mengambil kapal terbang, diikuti oleh tidak yang mengambil beberapa buku yang Anda di meja.


"Kamar kak Gem luas sekali, banyak mainannya. Juan suka berada di sini."


Suara bermain terdengar sangat berisik, robot yang berharga mahal sudah turun dari lemari kaca, sibuk berperang.


Suara pesawat, mobil dan pertarungan terdengar sangat besar, Gemal membuka sebelah matanya. Tangan Gemal menutup telinganya.


Rajang tidur Gemal bergerak, kedua matanya langsung terbuka melihat Dean dan Juan sudah bermain kejar-kejaran.


Ria menerbangkan pesawat, Tika yang mengontrol banyak pesawat yang sudah terbang.


Cukup lama anak-anak bermain, langsung melangkah keluar dengan wajah lelah. Gemal tidak bangun sama sekali dan tidurnya semakin nyenyak.


"Mommy, ayo pulang."


"Kenapa Dean ingin pulang?" Jessi langsung menggendong Dean membawanya ke area makan.


"Lapar, Dean harus memberi makan cacing. Eh ... tidak jadi pulang di sini banyak makanan." Dean langsung duduk di kursi dengan tenang.


Anggun dan Aliya membantu Jessi menyiapkan makanan, karena Altha, Dimas dan Calvin juga kakek Ken akan segera kembali untuk makan bersama.


"Maafkan kak Jes ya Al, Anggun. Kalian berdua jadinya repot, aku ingin melayani Gemal dan Calvin seorang diri, tanpa bantuan maid akhirnya repot sendiri."


"Santai saja kak Jes, meksipun Anggun masih sering ke kantor untuk sidang, urusan keluarga utama. Sebagai istri harus kuat." Anggun tersenyum manis.


"Kak Anggun enak hanya mengurus Dean, bayangan jadi Aliya. Satunya remaja, harus diawasi belum lagi Tika yang pergaulannya mulai luas, ditambah lagi dua makhluk yang sedang aktif." Tangan Aliya menepuk jidat.


Jessi tertawa melihat Aliya yang memang hebat, di tengah kesibukan menjadi istri dan ibu, dia masih punya waktu untuk mengecek kondisi perusahaan.

__ADS_1


"Aliya memang sejak usia belasan sudah memiliki sisi keibuan, beda dengan Diana yang memprioritaskan pekerjaan." Anggun menatap Diana yang masih bekerja meskipun tidak ke rumah sakit.


"Suatu hari akan berubah setelah menjadi seorang ibu." Jessi tersenyum melihat Dena, Juan, Tika dan Ria yang terdiam menunggu makanan.


Jessi mengambil kue milik Gemal, begitupun dengan es krim untuk anak-anak agar bisa sabar menunggu.


"Diana, boleh Mama meminta tolong membangunkan Gemal."


"Siap Mam, tunggu sebentar." Di menutup laptopnya langsung berlari ke lantai atas.


"Kak Gemal tidurnya seperti orang mati, tidak bisa bangun." Tika memasukan es krim ke mulutnya.


Jessi membenarkan ucapan Tika, apalagi jika kelelahan Gemal bisa tidur di manapun sama seperti Papanya.


"Gemal, astaghfirullah Al azim." Diana kaget melihat kamar Gemal berantakan.


Diana melihat Gemal masih tidur, membangunkan perlahan sambil menyingkirkan mainan dari atas ranjang.


"Gem, bangun. Ini sudah siang, ayo bangun." Di memikul Gemal yang tidak bergerak sama sekali.


Diana menarik selimut sekuat tenaga, menendang Gemal yang masih tidur. Suara Diana membangunkan di dekat telinga juga tidak bisa.


"Gila, susah sekali membangunkannya." Diana naik ke atas ranjang, menginjak-injak tubuh Gemal.


"Sakit woy." Gemal membalik badannya yang tengkurap langsung menangkap Diana yang jatuh ke dalam pelukan.


"AW ... sakit." Di memonyongkan bibirnya.


"Mimpi indah, kenapa kamu selalu mengatakan aw aw? pikiran aku menjadi kotor." Gemal mengeratkan pelukannya, membawa Diana tidur di sampingnya.


"Gem, lepaskan. Bangun Gem, astaga kuat sekali pelukannya." Diana kehabisan tenaga untuk melepaskan pelukan di pinggangnya.


"Sebentar saja Di, posisi ini membuat aku nyaman." Senyuman Gemal terlihat, mencium bau rambut yang wangi.


Jantung Diana berdegup kencang, tubuhnya panas dingin berada dalam pelukan, apalagi bisa melihat wajah Gemal sangat jelas.


Suara pintu terbuka terdengar, Diana memaksa Gemal bangun sebelum ada yang melihat mereka berpelukan.


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2