ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TIDAK ADIL


__ADS_3

Beberapa mobil tiba di kantor polisi, Altha melarang banyak yang masuk karena menganggu keadaan di dalam jeruji besi.


Kondisi Reza dalam keadaan tidak baik, dia mengurung dirinya dan menolak untuk keluar atau hanya sekedar menjawab.


Hanya Tika dan Rindi yang masuk, sedangkan yang lainnya menunggu di luar. Jika di dalam tidak terkendali maka tidak menyulitkan aparat untuk mengambil tindakan.


"Di mana adikku?"


"Rindi, Papi ingatan untuk tidak menyamakan Reza yang dulu dan sekarang. Ingat kondisi kamu sedang hamil, jangan mengambil resiko demi keselamatan anak kamu." Altha meminta Tika untuk berhati-hati dan tidak lega sedikitpun.


Kepala Tika mengangguk, dia pastikan Rindi tidak akan terluka. Berusaha membawanya kembali dalam keadaan baik.


Kunci terbuka, Rindi menatap seorang pemuda yang tidur meringkuk memeluk lututnya di tempat yang dingin hanya beralaskan tikar tipis.


Tangan Rindi menyentuh lantai, merasakan dinginnya lalu menyentuh kaki Reza dan berjalan ke tangannya.


Air mata yang berusaha dirinya tahan menetes, teringat Adiknya yang dari dulu takut dengan kekerasan, lebih memilih bersembunyi saat ada latihan bela diri. Selalu menangis meminta bantuan Rindi agar dirinya dibebaskan.


"Eza, kenapa kamu seperti ini? Eza, ini Kakak Indi." Tangisan Rindi tidak terbendung melihat luka bakar di lengan adiknya, bahkan di bagian leher juga ada bekas luka bakar.


Tubuh yang meringkuk bergetar menahan tangisannya yang ketakutan di dalam penjara, apalagi jika sudah mempertanyakan soal Shin.


"Za, bangun Dek. Kakak sudah datang, bangunlah." Rindi mengusap kepala Adiknya yang penuh luka karena dipukuli oleh kepolisian untuk mendapatkan informasi.


Suara tangisan terdengar, menyembunyikan wajahnya dari Rindi yang ingin melihatnya. Tika yang berada di dalam tidak sanggup menyaksikan dua saudara yang menangis menahan luka masing-masing.


Pintu terbuka, Genta dan Hendrik masuk. Melihat Rindi menangis memeluk Adiknya, menatap wajah Reza yang penuh luka.


"Kenapa kalian begitu kejam? kenapa sampai separah ini? maafkan Kakak yang tidak mengenali kamu dan terlambat menolong kamu. Maafkan Kak Indi, Za, kamu sampai dipukuli tanpa bisa aku selamatkan. Peluk Kakak Dek, Kak Indi tahu kamu tidak salah. Kita buktikan jika Eza tidak salah." Rindi mengusap kepala Adiknya, dirinya akan ada di depan Reza untuk menyelamatkan dari tuduhan yang tidak seharusnya dirinya mempertanggungjawabkan.


Pelukan Reza sangat erat, menangis histeris. Hendrik bahkan ikut berjongkok mengusap punggung Reza agar lebih tenang sehingga tidak menyakiti Rindi.


"Kak, tolong Eza Kak." Mata Reza bahkan sulit terbuka karena mendapatkan pukulan.

__ADS_1


"Tenanglah Za, kita ada di sini membela kamu." Hendrik juga tidak tega melihat kondisi Reza yang menjadi kambing hitam Dina. Segala kejahatan Dina jatuh kepadanya, padahal Reza tidak tahu apapun.


"Kenapa kamu diam?"


Kepala Reza menggeleng, orang susah seperti dirinya tidak punya kemampuan membela diri. Belum sempat Reza menjawab, tamparan menghantam wajahnya, pukulan hingga tendangan.


Kata tidak tahu, bukan aku bukan jawaban. Kepolisian hanya menginginkan pengakuan, bukan kebenaran.


"Tidak ada yang percaya, apapun yang aku katakan tidak ada yang percaya?"


"Kasus apa saja yang menyeret Reza, selain kasus bersama Shin?" Genta mengambil hasil laporan.


Berkali-kali Reza diminta mengakui soal penyeludupan obat, senjata, bahkan beberapa kasus pelecehan, juga pencurian. Reza juga mendapatkan tuntutan penipuan.


"Kenapa aku tidak mendapatkan laporan soal ini? kami hanya meminta penjelasan soal kejadian di hotel." Gemal juga sama terkejutnya melihat kondisi Reza, terakhir kali dirinya berkunjung tidak seburuk sekarang.


Pukulan Gemal menghantam beberapa anggota yang bertindak tanpa perintah, menerima laporan kejahatan yang menyatakan Reza pelakunya namun tidak memberitahu atasan.


Pukulan Genta juga mendarat, polisi tidak punya hak menghakimi tanpa mencari bukti. Bagaimana Reza bisa mengakuinya jika dia memang tidak melakukannya.


Gemal secara pribadi meminta maaf, dan akan menghukum anggota yang terlibat. Setiap kasus yang masuk menyudutkan Reza dan menuduhnya akan diselidiki.


"Kami meminta maaf Reza, sungguh ini kesalahan kami." Genta menundukkan kepalanya diikuti oleh Gemal.


Senyuman Rindi terlihat, memeluk lembut Adiknya untuk dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu.


Beberapa polisi mengikuti Rindi yang membawa adiknya bersama Hendrik. Tangan Eza diborgol, Rindi memberikan satu tangannya untuk menjamin Adiknya.


"Lepaskan borgolnya, aku akan bertanggung jawab atas pelaku yang keluar secara pribadi." Altha menatap Rindi yang terlihat marah.


"Kalian sudah memukulinya, menghakimi, menuduh tanpa bukti. Aku tidak terima atas apa yang terjadi." Rindi mengusap air matanya yang masih menetes.


Tangan Rindi ingin menampar, tapi Reza menahan tangannya memeluk Rindi erat untuk tidak menyakiti tangannya.

__ADS_1


Tika juga mengusap air matanya, melangkah keluar lebih dulu tidak sanggup melihat terpukulnya Reza dan Rindi atas perbuatannya.


Semua kasus yang menyerat Reza atas perbuatan Tika, dia terlalu kecewa terhadap keadaan sehingga memilih mencelakai Reza dengan caranya.


Di depan mobil Reza melihat mobil Tika melaju lebih dulu, tatapan Reza juga melihat ke arah Genta yang melihat mobil Istrinya pergi.


"Istri kamu wanita yang kejam, tapi aku tahu dia hanya terluka atas apa yang terjadi. Cobalah mengerti dirinya." Tubuh Reza langsung ambruk tidak sadarkan diri.


Genta langsung menangkap dan melarikan Reza ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan terlebih dahulu.


Di jalan Tika tidak berhenti menangis, ada rasa bersalah atas perbuatanya yang melihat Reza begitu menyedihkan. Seandainya dia lebih sabar lagi, menunggu sampai Rindi tiba tidak mungkin Reza semakin diam.


"Coba saja saat aku datang kamu bicara, ini tidak mungkin terjadi. Bahkan aku hampir memerintah orang untuk membunuh kamu." Tika memukul setir mobilnya, berlari ke dalam rumah langsung masuk kamarnya melihat beberapa berkas yang sempat Rindi buka.


Seluruh barang di atas meja jatuh, Tika meremas kertas dan menangis membenturkan kepalanya di meja.


Satu tangan menahan kepalanya, tatapan mata keduanya bertemu. Shin membaca laporan yang ada di tangan Reza.


"Kenapa kamu melakukannya? dia hanya orang yang mengirim pesanan dari Dina, tapi tidak tahu apapun kejahatan Dina. Kenapa Tika melakukan kejahatan dengan menuduh orang lain?" Shin berjongkok mengusap air mata sahabatnya yang menderita karena dirinya.


"Maafkan aku yang meninggalkan kamu, maafkan aku yang gagal melindungi kamu." Tangan Tika menutup wajahnya, hatinya sangat sakit melihat kondisi Reza.


"Shin yang meminta maaf, kamu ingin bahagia dalam pernikahan, tapi Shin menyebabkan retaknya kebahagiaan itu. Kamu tidak bahagia karena Shin." Air mata Shin juga menetes, meminta maaf karena sudah lalai melindungi diri sendiri.


Shin tahu Reza bukan seorang penjahat karena pernah menyelidiki, tapi karena mereka Reza juga ikut bertanggung jawab atas masalah mereka bersama Dina.


"Reza adik kandung Rindi,"


"What?" Shin kaget mendengarnya, Tika mencelakai Adiknya Rindi, dan Shin berada dalam perasaan trauma bersama Reza di hotel.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2