
Sebelum turun dari mobil, Diana memperingati Gemal untuk membawa kado ulang tahun, karena anak-anak tidak membutuhkan keberadaan pemberi, tapi yang terpenting kado.
Kepala Gemal mengangguk, langsung melangkah ke rumahnya. Melihat penjaga yang sudah tahu wajah Gemal.
Keadaan rumah sepi, Gemal yakin pasti orang tuanya sudah pergi lebih dulu ke tempat pesta ulang tahun.
"Di mana kamar aku?" Gemal kebingungan melihat banyak kamar.
Pintu kamar dibuka semua, sampai akhirnya kamarnya ditemukan. Mainan masih penuh di kamarnya.
Selesai siap-siap, Gemal mengambil tiga mainan langsung melangkah ke rumah Altha yang terlihat mulai ramai.
"Assalamualaikum."
"Kak Gemal, pacarnya Ria datang." Lompatan Ria melangkahi kepala Dean.
Juan dan Dean juga langsung berlari, memeluk Gemal yang datang terlambat karena teman-temannya sudah ramai.
Ketiganya sudah siap-siap melihat kado, Gemal membagikan satu-persatu kepada tiga anak yang mengerutkan keningnya.
"Ini punya kita, kenapa kak Gemal mengambil mainan kita?" Tatapan Dean langsung tajam.
Gemal langsung tertawa, meminta maaf dan akan membelikan kado yang baru. Gemal tidak tahu jika mainan di rumahnya sudah milik Dean, Juan, dan Ria.
Mata Gemal mencari keberadaan Diana, langsung menyapa Altha dan melakukan laporan0aajika dia kembali dalam keadaan sehat dan tidak terluka.
Dimas langsung menonjok lengan Gemal, karena hanya melapor kepada Altha tanpa ada pemberitahuan.
"Sakit pak." Gemal mengusap tangannya.
"Kamu kurang ajar memutuskan pergi, jika tahu saya ingin menitip oleh-oleh."
Senyuman Gemal terlihat, langsung memeluk Dimas jika dia sengaja ingin membuat Dimas galau jika kehilangan pengacau seperti dirinya.
"Gemal, lepaskan saya. Malu dilihat orang, laki-laki berpelukan, najis." Dimas mendorong kuat.
Calvin tersenyum melihat putranya tertawa lepas, terlihat sangat akrab dengan banyak orang.
"Gemal, kapan pulang?" Yandi mengacak-acak rambutnya, memeluk erat.
"Baru hari ini Pak, saya hanya merindukan calon mertua saya." Tangan Gemal terentang ingin memeluk, Dimas sudah menunjukkan genggaman tangan.
Suara tawa ciri khas Gemal terdengar, Altha mengusap punggung Gemal. Jika dia sudah kembali pasti sangat ramai.
"Pa, di mana Mama?"
"Coba kamu cek di bawah ketek, mungkin Mama kamu sembunyi di sana." Calvin menatap sinis.
__ADS_1
Dengan sengaja, Gemal langsung mencium ketek Calvin membuatnya langsung menarik rambut putranya yang sudah tertawa.
Senyuman Calvin terlihat, putranya memang jahil. Tawa Gemal sangat lepas dan terlihat bahagia.
Gemal langsung melangkah mencari keberadaan Mamanya yang ternyata sendang tertawa bersama Anggun, Aliya dan banyak para ibu lainnya.
Senyuman Gemal terlihat, ada rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Papa dan Mama yang sejak kecil terlahir dari keluarga berada, tapi demi dirinya meninggal istana mereka, hidup bermasyarakat.
Segalanya ditinggalkan demi kebahagiaan dirinya, Gemal ingin sekali berterima kasih kepada kedua orangtuanya yang tidak memaksanya naik, tapi memilih turun bersamanya.
"Mama, Gemal kembali."
Jessi tersenyum melihat putranya, langsung memeluk Gemal. Anggun juga tersenyum melihat Gemal kembali.
"Selamat malam Tante Anggun, kak Al, kak Elen, dokter Salsa dan semuanya."
Mam Jes langsung menarik baju Gemal, menceritakan apa yang Salsa katakan. Diana pergi bersama seorang lelaki, dan saling memanggil sayang.
"Aku tidak bohong Gem, ada suara pria memanggil sayang."
"Kamu harus bisa mendapatkan Diana kembali." Jessi tidak ingin wanita lain menjadi calon menantunya.
"Di rumah sakit ada pria bernama Albar yang mendekati Di, Tante takut mereka menjalin hubungan." Anggun memperingati Gemal untuk berhati-hati.
"Kira-kira suaranya bagus tidak?"
"Bagus, laki banget. Terdengar dari suaranya menggoda." Tawa Salsa terlihat, tapi sangat yakin jika Di sedang berkencan.
"Sayang, lihat aku. Apa terdengar seperti itu?" Gemal langsung melangkah pergi.
Salsa langsung terdiam, menatap Anggun dan Mam Jes yang menunggu jawabannya Salsa.
"Suaranya mirip Gemal." Salsa langsung kaget.
"Sayang, jijik." Al tersenyum melihat Anggun dan Jessi sudah berpelukan.
Di dalam kamarnya Diana masih binggung memilih baju, tidak ada baju yang cocok untuk dirinya.
Semua baju di dalam lemari di bongkar, Diana ingin terlihat paling cantik di hadapan Gemal.
"Jika aku tahu ada Gemal, mungkin sudah membeli sepuluh baju." Di menghamburkan seluruh bajunya.
Diana bolak-balik kamarnya hanya untuk mengubah penampilan, suara ketukan pintu terdengar.
"Ada apa Arjuna?"
__ADS_1
"Kak Di yang memanggil ke sini." Juna langsung mengerutkan keningnya.
"Gemal mengunakan baju warna apa? kak Di cantik tidak?" Di menarik tangan Juna untuk masuk dan melihat penampilannya.
Kepala Gemal mengangguk, Diana menggunakan apapun tetap cantik tidak harus bergonta-ganti baju.
"Kak Di bisa lebih cepat, acara sudah di mulai." Juna menarik tangan Diana, memasangkan sepatu aneh menurut mata Juna.
"Tunggu, sepertinya jangan yang ini Jun. Rambut kak Di bagus tidak? kenapa kelihatannya jelek?" Diana menatap kesal.
"Kak Diana cantik di mata lelaki yang mencintai kakak, berhenti mengganti penampilan. Nanti akhirnya menjadi seperti badut. Gunakan baju yang membuat nyaman."
Diana tersenyum, langsung melangkah keluar bersama Juna. Tangan Diana memeluk lengan Juna berjalan berdua menuju ke tempat pesta ulang tahun dirayakan.
Tatapan Diana melihat Juna, mengukur tinggi badan anak kecil yang dulunya sangat pendek. Diana tidak menyangka jika sekarang Juna sudah tumbuh besar.
Bukan hanya tinggi badannya, tapi pikirannya jauh lebih dewasa. Dia menjadi lelaki paling tampan di dalam keluarga.
"Juna sekarang kamu sudah besar."
"Aku tahu, sebentar lagi aku akan meninggalkan negara ini. Menjadi pria dewasa pastinya menakutkan." Senyuman Juna terlihat meminta Diana segera menikah sebelum dirinya pergi.
Suara anak-anak sudah terdengar ramai, Diana melihat Gemal tersenyum menatapnya. Gemal berjalan ke arah Diana, tapi dihalangi oleh seorang pria yang membuat Diana kesal.
"Minggir." Di memukul kepala.
Gemal langsung menatap tajam, melihat pria yang ingin menyambut tangan Diana. Gemal langsung merangkul Di sambil menatap tidak suka.
Juna sudah memperingatkan Diana agar tidak mengumbar kecantikannya, nanti hanya menimbulkan percekcokan.
"Kenapa kamu berdandan? aku tidak suka kamu menjadi pusat perhatian." Wajah Gemal terlihat kesal, dan meminta Diana menutup tubuhnya yang terlihat seksi.
Anggun melihat Diana dan Gemal yang berdebat, Gemal melepaskan jas langsung memasangkan kepada Di.
Dimas dan Calvin juga melihat keduanya yang masih saling tatap, Diana akhirnya menurut dan tidak ingin membatah lagi.
Di dan Gemal melangkah mendekat, bergabung bersama keluarga untuk berfoto bersama.
"Kalian berdua bisa diam tidak?" Dimas melihat Gemal dan Diana.
"Kakak cantik silahkan ke depan." MC meminta Diana foto.
"Bagus kamu tebar pesona, pulang ke rumah ganti baju." Tangan Diana ditarik untuk pulang dan ganti baju.
Semua orang melihat Gemal dan Diana yang melangkah pergi, Tika hanya geleng-geleng kepala karena lelaki tidak mengerti betapa sulitnya mempercantik diri, demi satu laki-laki agar memujinya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira