
Mobil taksi yang mengantar Susan tiba di kediaman Aliya, tatapan Susan ketakutan melihat banyak orang tergeletak.
"Pak, tolong panggil keamanan di komplek pak." Susan meminta supir taksi mencari bantuan.
Susan juga menghubungi ambulance, langsung berlari ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat melihat darah mengalir dan tubuh sahabatnya yang tergeletak.
Satu mobil lagi sampai, Dika langsung berlari masuk bersama Kenan dan melihat Susan terduduk lemas.
Dika langsung meminta Kenan segera membawa Helen ke rumah sakit, kondisinya cukup buruk karena tertembak di bagian pundaknya.
"Ken, cepat!"
Kenan masih shock, melihat banyak darah dan satu orang tertembak. Susan berteriak histeris sambil menangis memeluk Elen yang tidak sadarkan diri
Tubuh Helen langsung digendong, Kenan memasukan ke dalam mobil meminta taksi segera ke rumah sakit bersama Susan.
Dika langsung berlari ke rumah melihat Anggun yang tergeletak penuh darah, Anggun juga tidak sadarkan diri.
"Kak Anggun bangun." Dika langsung menggendong Anggun untuk dilarikan ke rumah sakit.
Kenan kebingungan, langsung mengecek seluruh isi rumah Altha yang sudah kosong. Aliya dan anak-anak tidak ada di rumah.
Para penjaga juga dilarikan ke rumah sakit, begitupun Helen dan Anggun yang banyak kehilangan darah.
Sampai di rumah sakit, Anggun dan Helen langsung masuk ke dalam ruangan operasi.
Dika mencoba menghubungi Dimas untuk mengabari kondisi Anggun, namun belum ada jawaban.
Saat matahari terbit, Altha sudah ada di kantor polisi. Terjadi perdebatan antara Altha dan atasan.
Alt bekerja tidak sesuai perintah, dan mencari bukti tanpa tim membuat kantor kehilangan kehormatan, karena sikap Alt yang keras kepala.
Altha tidak perduli, jika seluruh barang buktinya ditolak, Alt akan memastikan barang bukti tampil di media, tidak perduli sekalipun dirinya dipecat.
"Sialan." Altha langsung keluar menemui Dimas dan Yandi yang masih menunggu keputusan atasan.
"Mereka menolak Alt?" Yandi menghela nafasnya.
Dimas tersenyum, melihat isi ponselnya yang mendapatkan laporan jika kejaksaan mulai menyita seluruh laporan keuangan perusahaan Wadi.
__ADS_1
Hakim, jaksa, juga kepala kepolisian juga diselidiki dan akan ditahan dengan hukuman puluhan tahun penjara atas kejahatannya.
Yandi menepuk pundak Altha yang selalu menjadi panutannya, akhirnya kasus penganiyaan dan pelecehan Sita bisa terungkap dan sidang ulang.
"Alhamdulillah kita tidak jadi dipecat." Senyuman Yandi terlihat bernafas lega.
Tim Altha juga mendapatkan kabar baik karena akan naik pangkat, Yandi berteriak kuat memeluk teman-temannya yang lain.
Ponsel Dimas terjatuh, tangannya mengepal erat dengan tatapan marah dan bersumpah akan membunuh Citra.
Altha mengambil ponsel Dimas, melihat pesan dari Dika jika rumah Altha sudah digeledah. Anggun ditemukan tergeletak dengan tusukan diperutnya, sedangkan Helen tertembak.
Aliya dan kedua anaknya menghilang, Alt dan Dimas saling pandang dengan tatapan penuh amarah.
"Aku akan membunuh Citra Alt." Dimas langsung berlari kencang ke arah mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Altha langsung meminta Yandi memimpin tim untuk menyelidiki keberadaan Citra, karena dia juga membawa Aliya dan kedua anaknya.
Pihak kepolisian juga sudah menjadikan Citra sebagai tersangka, mulai melakukan pengejaran. Alt tidak ingin ada yang gegabah, karena nyawa anak dan istrinya ada di sana dan kemungkinan akan dijadikan tahanan.
"Alt, mereka akan baik-baik saja?" Yandi sudah menggunakan baju anti peluru untuk mengejar keberadaan Citra yang menjadi buronan.
Sebenarnya Altha mengkhawatirkan Aliya, tapi satu-satunya orang yang paling Altha percaya hanya istrinya yang bisa menjaga kedua anaknya.
"Kalian tunggu Papi datang, tidak akan aku biarkan Citra bergerak lebih jauh." Alt menjalankan mobilnya.
Di rumah sakit Dimas sudah mondar-mandir ketakutan, dia takut Anggun memiliki trauma karena selalu terlibat dalam kekerasan.
Dokter keluar, mengatakan jika operasi Helen lancar. Dirinya hanya kekurangan darah, dan berhasil diatasi. Luka tembak tidak masuk ke dalam, dan peluru berhasil dikeluarkan.
Keluarga Helen hanya bisa menangis, Susan berusaha menenangkan dan menyakinkan kedua orang tua Helen, jika semuanya pasti baik-baik saja.
Mendengar ucapan dokter membuat keluarganya bernafas lega, dan kedatangan Altha juga menenangkan keluarganya.
Dimas masih duduk di depan pintu ruangan Anggun, sesekali air matanya menetes membenci hari di mana dia melihat Anggun terluka.
"Belum ada kabar soal Anggun?" Alt menatap Dika yang menggelengkan kepalanya.
Altha merangkul Dimas yang tidak bisa menahan air matanya, Alt juga merasakan kesedihan Dimas yang sama seperti saat pengkhianatan istrinya Dimas yang membuatnya kehilangan arah.
__ADS_1
"Anggun pasti baik-baik saja Kak Dimas." Alt meyakinkan.
"Aku seharusnya mengikuti keputusan Anggun untuk menikah, tapi pekerjaan menjadikan alasan aku terus mengundur. Alt, apa aku masih memiliki kesempatan yang bekali-kali aku sia-siakan." Dimas menepis air matanya melihat ke arah pintu yang belum juga terbuka.
"Pasti ada kak, Anggun pasti bangun. Kalian akan menikah sesuai harapan Anggun, Altha percaya kalian akan bahagia." Alt menarik nafas panjang sambil mengusap punggung Dimas.
Suara high heels menggema terdengar, tatapan Kenan dan Dika kaget melihat seorang wanita seksi yang mengunakan warna rambut mirip pelangi.
"Siapa orang yang berani mencelakai calon ibu tiri Diana?" senyuman manis terlihat, menatap Dimas yang melotot melihatnya.
"Alin, kenapa kamu kembali sebelum waktunya? baju apa yang kamu gunakan?" Dimas menatap tajam gadis muda dihadapannya.
Altha menatap Alin yang terlihat beda, dirinya hampir tidak mengenali saudara kembar istrinya yang mirip anak usia lima belas tahun, rambutnya pendek di atas bahu, warna-warni dengan baju seksinya.
"Daddy, Diana kembali karena ada yang membutuhkan bantuan Diana." Senyuman terlihat, memeluk Dimas yang masih cemas terhadap Anggun.
Dokter keluar, mengatakan jika Anggun melewati masa kritisnya. Meksipun sempat ada masalah, pada akhirnya Anggun berhasil di selamatkan.
"Siapa pelaku penusukan?"
"Mana saya tahu?" dokter menatap Alin dengan wajah binggung.
"Saya tidak bertanya sama dokter, tapi sama Mommy yang ada di dalam sana." Diana tertawa, tapi tidak ada yang menanggapinya.
Dimas bisa bernafas lega melihat Anggun yang berhasil bertahan, tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan tanpa Anggun disisinya.
Diana menepuk pundak Dimas dan Altha, menarik tangan keduanya untuk menyerahkan Anggun kepada dokter, dan mulai bergerak untuk menemukan Aliya.
"Alin, kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Memang aku harus di mana om?" Diana tersenyum melihat Altha yang tercengang.
Alina menatap Altha tajam, memperingatinya jika Alina sudah mati. Wanita yang ada dihadapannya bernama Diana.
Sebenarnya dirinya kembali, karena merindukan Atika. Saat tiba di rumah sudah kacau dan penuh darah
"Siapa yang menculik temannya Diana? apa masih Citra si manusia iblis? Aliya terlalu baik sehingga sampai ini terjadi." Kepala Diana menggeleng tidak percaya jika Citra bisa menculik anak-anak berserta ibunya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara