
Pelan-pelan mata Ria terbuka, senyuman lebarnya terlihat. Tatapan Ria melihat Maminya yang menatapnya tajam.
"Berapa nyawa kamu? tidak bisa kamu menurut sekali saja." Al menatap kesal Putrinya yang melibatkan orang lain.
"Sudahlah, paling penting Ria baik-baik saja." Altha mengusap kepala Putri bungsunya.
Tika meminta Ria menjelaskan, kenapa dia bolos sekolah dengan beban? seharusnya bolos membawa teman yang sama-sama kuat, bukan yang lemah dan tidak bertenaga.
"Kamu tidak khawatir sama teman kamu?"
"Ria juga tidak kenal dia, seandainya dia tidak mengikuti Ria tidak mungkin mereka berdua masuk rumah sakit." Tangan Ria mengepal erat merasa kesal.
"Dia bukan teman kamu?"
"Bukan Kak Tika, tidak mungkin Ria berteman dengan anak penyakitan, jelek dan miskin." Nada bicara Ria tinggi mengumpat.
"Astaghfirullah Al azim Ria, orang tua kamu tidak pernah mengajari bicara seperti itu." Aliya menatap Altha yang geleng-geleng kepala menegur Putrinya yang keterlaluan merendahkan orang lain.
Ucapannya bisa saja menyakiti perasaan orang lain, miskin ataupun jelek bukan sesuatu yang pantas dijadikan candaan.
Di kamar yang berlainan, Juna berhasil menyelesaikan operasi. Teman Ria mengalami bocor jantung, dan harus sering-sering melakukan pemeriksaan.
Keluarga pemuda yang bersama Tika mengucapkan banyak terima kasih kepada Shin yang sudah menemaninya anaknya. Bahkan mencium tangan Juna yang sudah mengobati juga menanggung semua biaya pengobatan.
"Kenapa kamu dan Ria bisa ada di rumah pelangi?"
"Oh, namanya Ria. Aku melihatnya berjalan kaki dan memutuskan menemaninya." Pemuda yang bersama Tika menceritakan kronologis kejadian.
Dia tidak mengenal Ria, dan tidak tahu persis kecelakaan, dia memutuskan untuk pulang, tapi tiba-tiba Ria menarik tangannya sampai terjatuh.
"Rumah itu sudah dikutuk, semua orang sekitar tahu buruknya kondisi rumah. Kebanyakan juga yang pindah karena takut." Ibu yang menemani Putranya menceritakan kepada Shin.
Kening Shin berkerut, bukan hanya rumah yang ingin dikosongkan, tapi seluruh area yang berdekatan dengan rumah.
"Kakak cantik, bagaimana kondisi Ria?"
"Dia baik-baik saja, kamu jangan mengkhawatirkan dia." Shin tersenyum mengusap kepala.
"Jangan dekati wanita kasar itu, dia menghina kamu miskin, jelek dan penyakitan."
"Apa yang dia ucapkan benar Kakak, aku miskin, jelek dan penyakitan." Senyuman terlihat menatap Juna dan Shin yang saling pandang.
Melihat Kakak dari pemuda yang kecelakaan bersama Ria membuat Juna mengerti kekesalannya, Juna tahu rasanya menjadi seorang Kakak.
Senyuman Shin terlihat, pamitan untuk keluar. Sepanjang jalan menuju ruangan Tika, Shin hanya diam sambil melamun.
__ADS_1
"Bukannya Kakak pemuda tadi menyebalkan, kecelakaan ini terjadi salah Adiknya yang mengikuti Ria." Shin menatap ke belakang sinis.
"Wajar saja dia kesal, melihat Adiknya sakit saja menyedihkan apalagi ditambah hinaan." Juna meminta Shin memahami kondisi keluarga yang kurang mampu.
"Apa itu salah kita? dia hanya posesif seperti Ay." Shin melangkah cepat ikutan kesal dengan Juna.
Suara heboh di ruangan Tika terdengar, Shin duduk di ruang tunggu bersama Juna. Masuk ke dalam hanya membuat keadaan semakin heboh.
"Juna,"
Senyuman Juna terlihat mempersilahkan Ana duduk, keduanya mengobrol ringan membicarakan kondisi Ria, juga temannya.
Sesekali Juna melihat Shin yang menatap lantai, Hana juga melihat ke arah padangan Juna yang menatap Shin.
"Dia kenapa?"
"Tidak tahu,"
Kerutan di kening Shin berlipat-lipat, memikirkan soal Papi angkatnya yang sesekali muncul dalam mimpi Shin. Bayangan penyiksaan masa kecil menganggu tidur membuatnya tidak tenang.
Pintu ruangan Ria terbuka, Tika meminta Shin mengikutinya. Keduanya langsung melangkah bersama, keluar dari rumah sakit.
"Ke mana mobil melaju?"
"Lacak saja langsung, kita bisa menemukan jawabannya." Shin masih memikirkan hal lain.
Kepala Shin menggeleng binggung, Ria mengatakan suara yang mereka dengar saat malam hari seperti rekaman, dan dia melihat bayangan hitam.
Kedatangan Ria ke rumah pelangi ingin menyelidiki kemungkinan besar ada bisnis ilegal. Lokasi di sana meksipun banyak orang seperti saling mengabaikan.
Ibu pemuda yang bersama Ria mengatakan jika sudah banyak yang pindah, rumah dan tanah dijual dengan harga murah.
"Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan Papi Am,"
"Siapa dia?"
"Papi angkat aku, dia sangat terkenal dengan nama Am, Ambara. Terakhir bertemu dia juga menginginkan rumah." Shin menatap Tika yang menganggukkan kepalanya.
Baru saja Shin dan Tika ingin pergi, Genta sudah menahan pundak keduanya. Senyuman dua wanita terlihat, mereka lupa jika Genta mungkin sudah menyelidiki lokasi.
"Bisa kalian berdua diam saja, Kak Gen yang akan mengurusnya,"
"Libatkan Tika, kali ini saja." Wajah Tika memohon.
"Shin juga,"
__ADS_1
Senyuman Genta terlihat, mengusap kepala kedua wanita yang disayanginya. Genta tidak ingin Shin dan Tika terlibat masalah, sudah tugas Genta menemukan pelakunya.
"Kak, kemungkinan besar pelakunya Papi Am,"
"Mungkin, kita akan tahu jawabannya setelah pelaku ditemukan." Tangan Genta menadah, meminta Tika menyerahkan ponsel yang melacak keberadaan mobil yang mencelakai Ria.
"Ayang, berhati-hatilah. Jika memang dia Papi Am kemungkinan besar beresiko." Tika memeluk Genta tidak ingin kekasihnya terluka.
"Jangan panggil Papi, nama asli dia Embran bukan Ambara." Genta sudah menyelidiki sejak penangkapan Irish.
Dugaan Ria kemungkinan benar adanya jalanan bisnis ilegal, sebelum aktif maka harus segera dihentikan.
Tangan Genta menyambut tangan Shin, melihat ada noda darah di bagian perut bawahnya.
"Ini kenapa?"
"Saat aku tiba hampir kecelakaan juga,"
"Ayang, lokasi jalan di sana sebaiknya ditutup. Terlalu berbahaya untuk pengendara lain." Atika membuka baju Shin melihat luka yang masih mengeluarkan darah.
Helaan napas Tika terdengar, Shin tidak merasakan sakit ditubuhnya hanya mengkhawatirkan Ria tanpa tahu buruknya luka.
"Diobati dulu Shin,"
"Hanya luka kecil, nanti diobati di rumah." Shin berjalan masuk mobil, ingin pulang dan beristirahat.
Dari kejauhan Shin melihat Juna dan Ana melangkah bersama, Juna sudah menggunakan baju biasa berarti dia akan segera pulang.
"Kak Juna, sini." Tika berteriak meminta Kakaknya mendekat.
Melihat Tika yang lompat-lompat Juna dan Ana mendekat, mendapatkan laporan dari Tika jika Shin terluka di bagian perutnya.
Pintu mobil terbuka, Shin sudah memejamkan matanya ingin tidur. Tidak menyadari Juna melihat luka di pinggir perutnya.
"Luka ini masih berdarah? kamu harus mendapatkan jahitan." Juna meminta Shin keluar untuk ke ruangannya.
"Shin ingin pulang Ay,"
"Nanti pulang bersama." Juna menarik tangan Shin keluar mobil.
Wajah Ana meringis melihat baju Shin merah, meminta Juna mengobati Shin dan dia bisa pulang sendiri.
"Kak Ana pulang bersama kita saja, sekalian satu arah." Tika menatap Genta yang menganggukkan kepalanya.
Senyuman Shin terlihat, akhirnya dia punya waktu berduaan dengan Juna. Luka hanya alasan saja, padahal Shin merasa sangat baik.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira