ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KESEPIAN


__ADS_3

Hujan turun dengan lebatnya, Gemal hanya bisa menatap hujan dari tempat duduk pengunjung rumah sakit.


Banyak orang datang dan pergi menggunakan mobil mewah, orang-orang berpangkat berjalan dengan sombongnya.


Sudah satu minggu sejak pemakaman ibunya, Gemal masih berdiam diri di rumah sakit untuk pemulihan.


Hendrik juga sudah pulih dan menjalankan hukumannya, Gemal tidak ingin mengetahui soal Hendrik, tapi dia juga tidak marah dan membenci.


Saat ini Gemal hanya sedang binggung, pulang ke rumah tetapi tidak ada yang dia temui. Hanya sendiri.


"Apa yang kamu pikirkan? jika kesepian menikah saja." Senyuman Dimas terlihat, merangkul Gemal yang duduk menatap orang lewat.


"Jangan gila pak, saya tidak ingin seperti pak Yandi yang selalu dipukul istrinya. Wajah istrinya cantik, tapi galak sekali." Gemal mengusap tangannya sambil merinding.


Dimas langsung tertawa sangat besar, Gemal tidak tahu saja jika Yandi dan Helen selalu bertengkar sejak muda.


Meksipun keduanya selalu bertengkar, tapi saling mencintai dan menyayangi dengan cara mereka.


"Gem, Helen itu cukup berperan dalam perjalanan cinta Altha Aliya. Karena Elen sahabat Al, Yandi bawahan Altha." Dimas menceritakan kisah cinta Yandi yang selalu bertemu Helen, tapi saling mengejek.


Helen bahkan pernah tertusuk demi menjaga anak-anak Altha, dan dia juga sahabat yang setia.


"Oh ... Gemal tidak ingin tahu." Senyuman Gemal terlihat, karena apa yang dia lihat hanya pertengkaran.


"Bahagia orang beda-beda Gem, Yandi menikahi Helen karena hatinya yang baik." Dimas menepuk pundak Gemal yang tidak setuju.


"Salah pak, saya menikahi dia karena stok terakhir." Yandi tertawa langsung duduk di samping Gemal.


Gemal juga langsung tertawa, membenarkan ucapan Yandi. Suami yang suka menistakan istrinya sendiri.


"Tidak heran jika Elen selalu memukul kamu." Pukulan Dimas kuat menghantam paha Yandi.


"Istri saya mengemaskan pak jika marah, pertengkaran kita selalu berakhir di atas ranjang." Senyuman Yandi terlihat menatap Gemal yang melotot.


Dimas langsung tertawa, Yandi ada benarnya soal pertengkaran yang berakhir di ranjang.


Tatapan tiga pria melihat seorang dokter cantik lewat dengan langkahnya yang sombong dan angkuh.


"Gem, kamu tidak ingin menikahi dia?" Tatapan Yandi menggoda Gemal yang mengerutkan keningnya.


Tatapan Dimas langsung tajam, wanita yang sedang mereka bicarakan putri semata wayangnya.


"Tidak mungkin, bisa mati muda aku. Mendengarkan suaranya saja menakutkan, belum lagi gaya hidupnya bisa narik kaleng sepanjang jalan saya pak." Kepala Gemal geleng-geleng mengkhawatirkan nasibnya.

__ADS_1


Dimas menggenggam tangan ingin sekali menonjol Gemal, tapi masih menahan diri karena dia berstatus pasien.


Yandi sudah duduk di lantai tertawa melihat ulah Gemal yang takut dengan Diana, meksipun sebenarnya Di wanita yang baik.


"Saya juga tidak akan membiarkan putri kesayangan kami


menikah dengan lelaki seperti kamu, sudah labil tidak dewasa." Mata Dimas melotot ke arah Gemal yang melipat tangannya.


"Diana bisa menjadi gadis tua pak jika terus dihalangi, sebentar lagi umurnya empat puluh." Gemal menutup mulutnya, menunjukkan jarinya angka tiga.


Dimas sudah menunjukkan genggaman tangan, ingin merontokkan gigi Gemal.


"Sudah berapa lama kamu di sini Gem?"


"Dua jam, aku melihat hujan, orang kaya yang berkunjung dengan mobil mewah sambil tersenyum, juga orang dari kalangan bawah yang hujan-hujanan berkunjung sambil menangis." Gemal langsung berdiri, meminta Diana segera menyetujui untuk kepulangan dirinya.


Diana melipat tangannya di dada, menatap tajam Gemal yang langsung duduk sambil tertunduk.


"Daddy, aku mendengar kabar jika Hendrik masuk ruang perawatan?" Di memberikan obat untuk Hendrik agar memikirkan kesehatannya.


Dimas menghela nafasnya, menatap Diana yang bisa mengetahui padahal kondisi Hendrik masih disembunyikan.


"Siapa yang memberitahu?"


Senyuman Diana terlihat, mudah baginya untuk mengetahui sesuatu tanpa harus Daddy-nya yang mengatakan.


"Baik-baik saja." Di meminta Gemal melakukan pemeriksaan terakhir agar dia bisa segera pulang.


Saran Diana Gemal ikuti, mengecek tulangnya yang mengalami cendera cukup serius, juga jahitan di kepalanya yang pulih cepat.


"Aku izinkan kamu pulang besok, tapi kamu harus cek satu minggu sekali." Di memberikan obat di tangan Gemal untuk meminum obatnya.


Kepala Gemal mengangguk, akhirnya dia bisa kembali bekerja dan meninggalkan rumah sakit yang sangat menyebalkan.


"Akhirnya kita tidak bertemu lagi, goodbye Di." Gemal memejamkan matanya menarik selimut, karena menjadi malam terakhirnya.


Diana tersenyum, merapikan baju Gemal untuk bersiap pulang. Di tahu dibalik tawa dan senyuman Gemal menyimpan kesedihan.


"Gem, kamu tidak ingin menemui keluarga kandung kamu?" Di melihat ekspresi wajah Gemal yang terkejut.


Kening Gemal berkerut, meminta Diana tidak ikut campur soal kehidupannya. Bagi Gemal dia hanya anak yatim-piatu.


Tidak ada keluarga kandung baginya, dan meminta Di menarik ucapnya.

__ADS_1


"Jangan pernah kamu sebut nama keluarga, aku tidak ingin mendengar." Tatapan Gemal tajam meminta Diana keluar.


"Baiklah, jika kamu sudah siap temui aku. Setidaknya aku mempunyai rahasia ibu soal identitas kamu Gem." Suara Diana menutup pintu terdengar.


Gemal menggelengkan kepalanya, tidak akan pernah dia pertanyakan. Gem tidak membutuhkan keluarga.


***


Matahari bersinar cerah, Gemal melangkah keluar rumah sakit. Diana hanya melihat dari kejauhan Gemal pergi tanpa ada yang menjemputnya.


Kesepian Gemal sama seperti Diana dahulu, tidak memiliki siapapun dalam hidupnya.


Mobil taksi membawa Gemal kembali ke rumahnya yang lama, rasanya langka Gemal sangat lemas dan tidak bersemangat.


"Pak, kita pergi ke pemakaman."


Di pemakaman Gemal membaca doa untuk ibunya, mengusap nama ibunya yang hanya satu-satunya wanita yang Gemal cintai.


"Bu, Gemal tidak semangat untuk pulang. Rasanya ini berat sekali Bu." Gemal meletakan bunga, meminta izin untuk menjual rumah dan meninggalkan kenangan di sana.


Keputusan Gemal sudah bulat, tujuan terakhirnya menjual rumah tapi panggilan masuk.


Diana menghubungi Gemal memperingatinya jika rumah dilarang untuk dijual, jika Gemal menjualnya dia harus menyumbang uang nya ke panti asuhan.


"Aish sialan. Kenapa dengan perempuan satu ini? kenapa dia yang mengatur." Gemal melangkah meninggalkan pemakaman untuk pulang dan beristirahat.


Sesampainya di rumah, Senyuman Gemal terlihat karena rumah kecilnya dalam keadaan rapi dan terawat.


Pesan dari Diana tertinggal di atas meja, jika ibunya Gemal menjual rumah kepada Di karena menghilangkan cek yang bernilai fantastis.


Gemal langsung mengumpat, meremas kertas langsung membuang sembarangan tempat.


"Tolong hilangkan Diana dari hidupku, ini menyebalkan." Gemal masuk ke kamarnya langsung memejamkan matanya.


Belum terpejam mata, suara ketukan pintu terdengar. Gemal membuka pintu melihat banyak perawan yang mengantarkan makanan.


Secara terpaksa Gemal tersenyum dan mengambil makanan, tanpa mempersilahkan masuk.


"Ketakutan aku terjadi, gawat juga tengah malam ada yang mengetuk pintu." Gemal meletakan makanan di meja langsung meninggalkan begitu saja.


Tatapan Gemal tajam, memikirkan motornya.


"Sial, Diana menyembunyikan motor aku di mana?"

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2