ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SEMAKIN RAMAI


__ADS_3

Di dalam ruangan persalinan sedang repot karena Rindi ingin lahiran, belum lagi Hendrik yang panik sendiri karena melihat istrinya sudah pucat.


Sedangkan di luar ruangan repot karena Shin yang memarahi Reza, memintanya untuk pergi. Shin mual melihat wajahnya.


"Shin, Diam." Suara bentakan Tika terdengar.


Mata Shin mulai berkaca-kaca, Juna menarik pergelangan tangannya untuk ke ruangannya. Suara Shin bisa menganggu pasien lain.


"Ay, Shin mau lihat dedek bayi." Wajah memelas terlihat.


"Boleh, tapi jangan berisik apalagi menangis." Juna membuat perjanjian agar Shin duduk diam di sampingnya.


Teriakan Rindi dari dalam terdengar, diikuti oleh suara tangisan bayi. Tika dan Reza langsung tersenyum, begitupun Juna dan Shin yang tersenyum lebar.


Mam Jes baru saja datang, mengucapkan syukur mendengar suara bayi yang terdengar sangat kuat.


Suara Shin menangis terdengar, dia merasa terharu mendengar tangisan bayi yang baru saja lahir ke dunia.


Air mata Rindi menetes merasakan terharu mendengar suara tangisan putranya, melahirkan secara normal mengangkat segala beban dan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.


Hendrik merasakan kebahagian yang sama, kelahiran putra pertamanya, menjadi buah cinta yang tidak pernah dirinya bayangkan akan menjadi seorang ayah.


"Terima kasih sayang, putra kita telah lahir dengan sempurna,"


Kepala Rindi mengangguk, tersenyum melihat suaminya yang sangat bahagia. Dirinya juga merasakan hal yang sama.


Tidak pernah terbayangkan akan menjadi seorang ibu, dan memiliki buah hati yang lahir dari rahimnya sendiri.


Rindi dipindahkan ke ruangan rawat, seluruh keluarga juga berkumpul menyambut si kecil yang sangat tampan.


Mata sipitnya juga berkedip-kedip membuat heboh satu ruangan. sudah tujuh tahun tidak mendengar suara bayi, baru pertama kalinya terdengar kembali.


"Lucunya, siapa namanya Hen?" Mama Jes menggendong cucu laki-lakinya yang berada dalam bedongnya.


"Belum tahu Ma, belum ketemu yang pas. Kita meminta rekomendasi Papa dan Mama saja. Mama juga salah satu doa agar kelak dia menjadi seorang yang bermanfaat." Senyuman bahagia Hendrik terlihat. Dia sangat mengagumi Putranya yang bertahan bersama Bundanya setelah berjuang dengan kondisi Rindi yang terkadang tidak stabil.


Papa Calvin terdiam sesaat memikirkan nama cucunya, dia akan menjadi penerus Hendrik yang akan menjaga rumah sakit mereka.


"Namanya Haidir Rayansya Leondra. Itu saja sudah bagus, Shin suka." Sambil mengunyah makanan, Shin dengan santainya mengoceh.

__ADS_1


"Kita tidak meminta pendapat kamu Shin, suara kamu tidak diambil." Diana menatap Shin yang terlihat aneh.


Senyuman Salsa terlihat, menatap Tika yang tidur sambil duduk, dia terlihat lebih berwibawa dan sangat dingin, tapi wajahnya terlihat senyuman kejahilan.


Sejak kecil Tika tidak bisa tidur sembarangan,dia membutuhkan tempat yang nyaman.


Pandangan Salsa juga teralihkan kepada Shin yang mengunyah makanan dengan lahap. Tidak ada yang menyadari keanehan, semua orang fokus kepada baby boy.


Mendengar usulan Shin, Papa Calvin menyukai nama yang diberikan. Haidir Rayansya Leondra. Hendrik juga menyukainya.


Pintu terbuka Aliya datang bersama Anggun, langsung memeluk Salsa yang baru kembali, suami dan anaknya juga sudah mendarat dan langsung menunjuk rumah sakit.


"Apa kabar kamu Sa? bagaimana kondisi Dika dan anak kalian?" Anggun memeluk penuh rasa haru, merindukan keluarga adik iparnya.


Satu-persatu menggendong si kecil yang tidur tenang, tidak terganggu sama sekali dengan suara banyak orang yang berdatangan.


Salsa duduk menatap Shin, menyentuh perutnya yang membuncit. Kening Shin berkerut menawarkan buah kepada Salsa yang hanya tersenyum kecil.


"Kapan terakhir kamu datang bulan?"


Tangan Shin mulai menghitung, merasa binggung juga karena dia tidak memperdulikan jadwal bulannya.


Senyuman Salsa terlihat mengusap kepala Shin yang sangat cantik Tidak menyangka dia bisa menjadi istrinya Juna.


Kepala Tika langsung tergeletak di paha Shin, usapan Shin lembut mengelus pipi Tika agar tidurnya tidak terganggu.


Suara berisik terdengar, Ria langsung berlari memeluk Salsa, menanyakan Putranya Salsa. Melihat Isel muncul membuat Salsa bahagia, tidak terasa si kecil sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik.


"Assalamualaikum," Dika tersenyum menatap seluruh keluarga kumpul.


Senyuman Dika terlihat, memeluk Diana yang tidak kuasa menahan air matanya bisa bertemu dengan musuh bebuyutannya. Aliya juga memeluk Dika yang dulunya menjadi Kakak yang baik untuknya.


"Di mana Sandra dan Devan?" Diana tersenyum melihat Devan yang mengandeng Adiknya.


"Halo semuanya,"


"Halo Sandra." Suara berisik terdengar, menyambut si centil yang sangat mengemaskan dengan ekspresi malu-malu.


Tubuh Sandra langsung didorong oleh Isel, tatapan matanya tajam melihat si kecil yang usianya jauh dibawahnya.

__ADS_1


Devan langsung mendorong Isel, tapi Ian berhasil menangkapnya. Gion langsung mendorong kuat Devan membuat teriakan terdengar.


"Ya Allah, astaghfirullah Al azim. Kenapa jadinya berantem, kalian bersaudara. Bukannya seharusnya Isel bahagia memiliki teman baru, Gion dan Ian juga harus menyambut Kakak Devan." Suara lembut Anggun membujuk dua kubu yang bertentangan.


Tangan Ian terulur mengucapkan selamat datang, mendekati Sandra sambil merapikan pakaian yang berantakan.


Suara Sandra mengadu terdengar, bahasa yang digunakan juga berbeda, Ian langsung menggendongnya memberikan ketenangan.


"Jangan sentuh Kakaknya Isel, kamu punya Kakak sendiri." Isel teriak sangat kuat membuat baby boy langsung menangis karena terkejut.


Telinga Isel langsung ditarik oleh Diana, suara Isel hampir membuat satu bangunan roboh. Dia tidak terima Kakaknya lebih menyayangi Sandra.


"Mama, tadi dia bilang Isel jelek,"


"Makanya Sel, kalau waktunya sekolah pergi sekolah jangan naik pohon seperti monyet, berenang di siang bolong seperti Putri duyung. Dia mengatakan bukan Isel jelek, tapi meminta maaf jika ada salah." Diana pipi Putrinya yang tidak mengerti bahasa Sandra.


"Oh, berarti Isel salah dengar,"


"Kamu bukan salah dengar, tapi tidak mengerti." Diana ingin sekali memukul otak Putrinya.


Semua orang tertawa melihat tingkah laku Isel yang bicara dengan Sandra, tetapi tidak nyambung. Ian harus menjadi penerjemah untuknya, jika terjadi salah paham dalam pengucapan akan ada perang dunia.


Berisik apapun orang tidak ada yang bisa membangunkan Tika yang kelelahan, begitupun dengan Shin yang terlalap tidur, padahal buah apel masih tersumpal mulutnya .


"Seperti keluarga ini akan lebih heboh lagi, ada penerus selanjutnya yang sedang tumbuh." Salsa mengusap perut Shin yang membuncit.


Semua orang diam memperhatikan Shin, tidak ada yang menyadarinya karena Shin maupun Juna sama-sama sibuk bekerja.


"Seriusan Aliya akan jadi Nenda?" Al menutup mulutnya menahan dirinya agar tidak terlalu heboh.


"Satunya juga, tapi belum tahu berapa bulan. Biarkan saja sampai mereka tahu sendiri, suaminya juga tidak ada yang peka dengan perubahan istrinya." Salsa tersenyum menatap dua wanita yang hamil juga ingin bersamaan.


Air mata Aliya menetes, mengusap kepala Tika dan Shin, doa tulus Tika di dengarkan. Ucapan baiknya terkabulkan, memiliki sahabat, menikah bersama hingga hamil dan memiliki anak.


"Ucapan baik, insyaallah hasilnya baik." Kecupan Al lembut kepada keduanya, menyentuh perut Shin yang lebih terlihat, sedangkan Tika tidak terlalu menonjol.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2