
Suara langkah kaki berlarian Tika terdengar, mengirimkan pesan kepada Genta jika Melly sudah melangkah masuk Mansion. Tangan Tika yang berlari ditarik secara paksa ke dalam sebuah kamar, tatapan mata Tika tajam, namun bernapas lega karena Genta yang menariknya.
"Aku mengetahui seluruh area sini karena sudah tumbuh kembang di sini, jadi cukup berdiri di belakang aku." Tatapan mata Genta dingin.
Senyuman Tika terlihat, memperhatikan kamar Genta yang terlihat sangat unik. Tika baru pertama kali masuk kamar pria yang membuatnya nyaman.
Dari kejauhan Genta sudah mengawasi beberapa turis yang masuk, penjagaan sengaja tidak diperketat. Genta ingin memberikan jalan untuk Melly dan Irish masuk secara tiba-tiba.
Ketukan pintu kamar terdengar, Mam Jes masuk menatap Genta yang sudah mengawasi seluruh ruangan Mansion.
"Gen, Kenapa Papa Calvin enak tidur? Juna dan Hendrik juga ada di lab." Mam Jes panik, tidak ingin terjadi sesuatu, namun suaminya santai sekali.
Senyuman Genta terlihat, mengusap punggung Mam Jes agar tenang. Tidurnya Papa Calvin bukan sepenuhnya tidur. Genta jauh lebih mengetahui sistem keamanan mansion dibandingkan siapapun.
Kedua tangan Genta memeluk Mam Jes untuk tidak khawatir, memastikan segalanya akan segera berakhir dengan baik.
"Mama tidak ingin ada yang terluka lagi Gen,"
"Iya Ma, kali ini aman." Senyuman Genta terlihat menenangkan.
Mam Jes keluar meninggalkan Genta dan Tika yang tersisa berdua, Tika duduk diam di depan komputer tua milik Genta.
"Tidak akan hancur jika kamu sentuh?" Genta tersenyum melihat ke arah luar.
"Tahu saja apa yang aku pikirkan," Tika cengengesan menghidupkan komputer Genta.
Berlama-lama di dalam kamar berdua meksipun tidak mengobrol membuat hati Tika senang, apalagi memperhatikan punggung Genta yang sibuk sendiri.
"Di mana Shin Kak Gen?"
Genta melihat ke arah Tika, berjalan ke arah Tika yang ada di depan komputer, namun masih tidak mengetahui letak orang-orang di dalam rumahnya.
"Ini Shin, ini area lab Juna dan Kak Hendrik. Melly ada di sini, sedangkan Irish masih mendekati Rindi yang bersama Kak Hen." Tangan Genta mengerakkan mouse meminta Tika memperhatikan.
"Kak Hen itu siapa?"
__ADS_1
"Namanya terlalu panjang, jadinya aku singkat menjadi Hen. Hendrik menjadi Hen, Atika menjadi Tika." Tatapan mata Genta melihat wajah Tika.
"Oh, fokus Tika. Jangan berpikir laki-laki terus." Tika memukul wajahnya pelan agar fokus ke arah komputer.
Senyuman Genta terlihat, melihat wajah Tika yang memerah ditepuk-tepuk pelan agar fokus.
"Kamu tidak gila seperti Rindi?"
"Hampir!" Tika menatap tajam ke arah Genta yang langsung tertawa.
Tangan Tika melambai-lambai, meminta Genta mendekatinya melihat seseorang yang memisah dari barisan para turis. Genta tersenyum sinis, meminta tim satu bergerak karena Irish sudah memisahkan diri.
Atika masih memperhatikan Shin yang berada di area dapur menyiapkan makan malam, Tika tidak paham apa yang sebenarnya Shin lakukan padahal Mansion Leondra mempunyai banyak Koki.
"Shin, pergi dari situ sekarang." Genta meminta beberapa orang membawa Shin pergi.
Kepala Tika mengangguk, seluruh tim di dalam rumah sudah diganti dengan penjaga baik penjaga wanita maupun pria. Genta memang berkuasa di daerahnya.
Sekarang Tika memahami alasan jika sesuatu hal genting yang terjadi di mansion bukan Papa Calvin yang kembali namun Genta, dia lebih dikenal oleh para pengawal dan menguasai lapangan.
"Kamu mirip singa jantan yang pulang kandang?" Tika menatap wajah Genta yang meliriknya sekilas.
"Kandang yang kamu maksud, bisa saja menjadi kuburan diri sendiri. Aku tidak memiliki tempat itu Tik." Senyuman Genta terlihat, mengeluarkan senjata jarak jauh.
Tika langsung antusias ingin mencoba senjata jarak jauh yang sudah dikeluarkan untuk diarahkan keluar.
"Tika boleh mencobanya?"
"No, bahaya." Tangan Tika ditarik untuk menjauh.
Ketukan pintu terdengar, kening Genta berkerut karena dirinya tidak memberikan perintah untuk ada yang mendekat. Suara ketukan pintu Mam Jes berbeda membuat Genta menatap Tika yang terdiam.
Atika mengambil alih komputer, menatap kaget seseorang yang ada di depan pintu. Melly ada di depan pintu kamar Genta tanpa rasa takut. Kepala Tika celingak-celinguk mencari keberadaan Genta yang secepat kilat sudah menghilang dari dalam kamar.
"Ke mana anak satu itu?" Tika kebingungan tidak mengetahui jalan keluar kamar Genta.
__ADS_1
Suara pertarungan sudah terdengar, Atika memaksa membuka pintu namun tidak bisa. Hanya bisa menonton pertarungan bawahan Melly bersama Genta yang hanya hitungan menit berjatuhan.
Turis yang masuk tidak ada satupun yang sebenarnya memang turis, Genta sudah mengetahui jika Melly memasukkan beberapa orang dalam, namun tidak ada yang mendapatkan izin dari Genta.
"Kita bertemu Melly, kamu tidak bisa lari. Sama seperti Lian." Senyuman Genta terlihat, menatap wanita seksi dan tua dihadapannya.
"Aku mengakui kecerdasan kamu, kita ambil jalan tengah saja. Kembalikan Rindi padaku, maka kami akan menyerahkan Shin sepenuhnya." Melly meminta jalan damai selama Genta menyerahkan Rindi.
Kepala Genta geleng-geleng, dirinya tidak melakukan perjanjian ataupun kerjasama dengan para penjahat apalagi sekelas Melly.
"Aku tidak mungkin menyerahkan calon istri kakakku kepada kalian, Rindi bagian dari kami." Genta tersenyum sinis bisa melihat keterkejutan Melly.
"Jangan gila kamu, dia mengalami gangguan jiwa. Jika aku membawa Ayahnya, dia bisa membunuh kalian semua!" Melly memperingati Genta untuk tidak becanda.
Kedua bahu Genta berdiri, dirinya tidak pernah bercanda. Apa yang dia katakan sesuai fakta. Rindi tidak ada ditangan Genta, ataupun keluarga Leondra, namun Rindi sendiri yang memilih kepada siapa dia ikut.
Mungkin Genta tidak tahu pasti, dan tidak ingin tahu detailnya bukan urusan dirinya, Namun ada masalah yang harus Melly pertanggungjawaban kepada beberapa orang.
Pintu ruangan kamar Genta terbuka, Atika melangkah keluar berdiri di samping Genta yang tidak menghakimi Tika sendirian karena ada hal yang Tika kejar selama ini.
"Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi aku tahu kamu memiliki hutang kepada wanita cantik ini." Genta melihat tatapan mata Tika yang menunjukkan kemarahan.
"Aku tidak punya masalah dengan gadis pengacau ini!" Melly menatap Tika yang matanya mengingatkan Melly kepada gadis kecil di kobaran api.
"Sekarang kamu ingat Tika, aku mati beberapa belas tahun yang lalu. Kehilangan Mama untuk selamanya, dan juga kehilangan adik selamanya. Kamu ingat aku?" Tika tersenyum sinis menarik kalung di lehernya, melemparkan kepada Melly.
Sejak kepergian Mamanya Tika tidak tahu apa cita-cita, apa mimpi, apa hal indah di dunia ini. Dia hanya memiliki tujuan menghukum siapapun yang sudah membunuh Kebahagiaanya.
"Bukan kematian yang aku inginkan, tapi keadilan untuk mental yang rusak." Tika melangkah ingin mendekat, tangannya ditahan oleh Genta untuk tidak melangkah menjauh.
"Aku tidak peduli, salahkan Citra atas hancurnya keluarga kalian."
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1