
Hari yang ditunggu dan dinantikan akhirnya tiba, Aliya bisa melihat Dimas dan Anggun bersanding di pelaminan.
Perjalanan cinta Anggun cukup rumit, jika Aliya mengejar Altha untuk rasa benci, namun Anggun mengejar Dimas atas nama cinta.
Perjuangan yang menemukan ujung, baik berujung bahagia, ataupun sebaliknya.
"Kenapa kamu tersenyum?" Alt merangkul Aliya yang duduk manis menatap ke pelaminan.
"Al bahagia untuk kak Dimas dan Anggun, mereka juga berhak bahagia." Al langsung memeluk lengan Altha, tersenyum lebar.
Alt juga tersenyum, dia juga bahagia untuk Dimas, Alt melihat kehancuran Dimas karena cinta, tapi saat ini juga melihat kebahagiaan Dimas.
Dibalik kebahagiaan Altha dan Aliya, juga Dimas dan Anggun, Diana yang paling bahagia dan bisa menepati janjinya melihat Dimas bahagia.
Dugaan Dimas benar, Alina mengenal baik Diana yang dinyatakan tewas, padahal dia dijual ibunya di perdagangan anak.
Alin menjadikan Diana budak, seiring bertumbuhnya Diana selalu ada di sisi Alina. Keduanya sudah seperti dua bersaudara, karena Alina yang membesarkan Diana kecil.
Sebuah tragedi yang tidak bisa Alina hindari sampai merenggut nyawa Diana, pesan terakhir adiknya ingin menemukan Daddy-nya dan meminta maaf karena ingkar janji.
Kepulangan Alina ingin menemukan Dimas, tapi sebelum bertemu Dimas adiknya sudah menghembuskan nafas terakhir.
Hari kepergian Mora juga hari kepergian Diana, hati duka Altha juga duka Dimas, tapi cukup Alina yang tahu.
"Aku sudah menepati janji untuk melihat Daddy bahagia, izinkan aku hidup di nama kamu Di. Kak Alin janji akan menjaga mereka dan terima kasih sudah memberikan aku keluarga." Air mata Diana menetes, merasakan sesak dadanya.
Atika langsung berjongkok melihat Diana yang menangis sesenggukan, menekan kuat dadanya.
"Sabar kak Di, nanti juga ada waktunya kak Di menikah. Jangan menangis." Tika mengusap dada Diana memintanya untuk diam.
"Kamu tahu kenapa aku menyayangi kamu Tika, karena aku memiliki seorang adik yang selalu menemani dan aku besarnya, tapi dia tidak bisa diselamatkan." Air mata Diana menetes mengenai wajah Tika yang menunduk meminta Diana berhenti menangis.
Tatapan Tika langsung sedih, menghapus air mata Diana, tapi semakin banjir. Memeluknya erat agar kesedihan Diana ditinggal menikah reda.
"Aunty ingin menikah juga ya, kasihan." Tika mengusap kepala Diana yang menahan tawa.
"Siapa yang ingin menikah? aku lagi sedih tahu." Tatapan Diana tajam melihat Tika yang sok tahu perasaannya.
__ADS_1
Tika berlari mengambilkan air minum, juga tisu karena melihat make up Diana pasti luntur tekena air mata.
Tamu undangan sudah sepi, hanya tersisa yang sedang berfoto bersama pengantin. Dimas dan Anggun hanya mengundang tamu penting dan orang-orang terdekat.
"Uncle, kak Di menangis ingin menikah juga." Tika menatap rombongan Dika yang asik mengobrol langsung berlari mengikuti langkah Tika.
Tika memberikan minum agar Diana tenang, memberikan kue yang langsung dibuang oleh Diana karena dia sedang sedih bukan lapar.
"Ada apa Ayang?" Aliya melihat ke arah Diana yang dikerumuni Dika bersama teman-temannya.
"Uncle Aunty, Kak Di menangis sedih sekali, dadanya sesak dan air mata terus mengalir." Tika menarik tangan Dimas dan Anggun yang langsung turun dari pelaminan.
Dika sudah duduk di samping Diana, memberikan tisu agar Di berhenti menangis membuat heboh saja.
"Ada apa? bisa di pending acara menangis sampai acara selesai." Dika mengusap air mata Diana yang juga membuatnya sedih.
"Aku tidak menganggu siapapun? suka-suka aku menangis karena apa?" tatapan Diana tajam, meminta Dika dan rombongannya segera pergi.
"Menyimpan masalah sendiri memang sakit, makanya kita selalu membuat masalah bersama-sama." Kenan langsung tertawa diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Tangan Dika mengusap punggung Diana yang masih menundukkan kepalanya diam, melihat sebuah gelang kecil yang Diana genggam kuat.
"Ada apa Di?" Dimas berjongkok, membuka tangan Diana yang berdarah karena genggaman di gelang sangat kuat.
Dimas mengambil gelang, langsung membawanya pergi membuat Anggun kebingungan karena suaminya membuang gelang jauh membuat semuanya kaget.
Altha menepuk pundak Dimas, gelang kecil yang Dimas buang milik Diana sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke lima.
"Kenapa di buang?"
"Seseorang yang sudah tiada sudah bahagia bersama sang pencipta, dikenang boleh tetapi tidak untuk menyakiti seseorang yang masih hidup." Dimas menghela nafasnya, mendekati Diana menghapus air mata Di yang masih menetes.
Kedua tangan Diana memeluk Dimas erat, meminta maaf atas apapun kesalahannya. Kehilangan Diana memang menghacurkan Dimas, tapi semua bukan kesalahan Alin.
"Kenapa kalian semua menangis? Tika binggung. Apa semuanya ingin menikah?" Kedua tangan Tika terlipat di dada meminta jawaban.
Altha mengusap kepala putrinya, tidak ada yang ingin menikah. Air mata yang menetes di hari bahagia tentunya tangisan bahagia.
__ADS_1
"Kita semua bahagia, dan akan terus bahagia." Dimas meminta Diana menjalani hidupnya secara baik, dan memiliki tujuan juga impian.
"Tika sudah hidup enam tahun, baru tahu menangis itu bahagia."
Diana langsung tertawa, ucapan Tika tidak salah. Menangis untuk bahagia, sungguh lucu.
Pelukan Di erat ke arah Tika, meminta si kecil terus menjadi anak yang lucu. Tidak mengizinkan Tika cepat besar agar selalu ada canda dan tawa.
"Mommy Daddy ingin bulan madu ke mana?"
"Tidak ada honeymoon, Daddy harus bekerja begitupun Mommy." Anggun tersenyum, dia dan Dimas sudah sepakat tidak pergi honeymoon.
"Baiklah, Diana saja yang honeymoon bersama teman-teman. Boleh ya?" senyuman Diana terlihat menatap Anggun yang langsung menatap suaminya.
Atika juga ingin ikut Diana honeymoon, dia suka madu dan melihat bulan di malam hari.
"Tidak boleh." Dimas menatap tajam, Diana dilarang pergi ke pulau yang dia inginkan.
Altha berdehem untuk meminta perhatian, dirinya berencana ingin liburan ke villa sambil bersantai beberapa hari.
Jika Dimas dan Anggun bersedia bisa bergabung bersama, dan beristirahat beberapa hari.
Atika langsung lompat-lompat kesenangan, akhirnya dirinya bisa liburan meksipun tidak lama. Koper yang disiapkan tidak sia-sia akhirnya bisa refreshing sesaat.
Diana setuju, dia ingin villa di pinggir pantai ada jetski juga tempat berselancar. Pasti sangat menyenangkan bisa berjemur.
Dimas menganggukkan kepala menyetujui saran Altha untuk liburan keluarga, bahkan Dika berencana membawa teman-teman juga kekasihnya untuk liburan keluarga.
"Kenapa kamu membawa pasukan? ini liburan keluarga." Diana tidak setuju banyak orang.
"Jika bisa bersenang-senang bersama teman juga keluarga, kenapa tidak?" Dika meminta persetujuan Dimas.
Aliya tersenyum langsung melihat tamu undangan yang binggung melihat keluarga mereka. Pengantin tidak ada di pelaminan, tapi sibuk membicarakan soal honeymoon berjamaah.
Senyuman Juna juga terlihat, meminta Maminya duduk saja agar tidak kelelahan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara