ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
REKAN


__ADS_3

Suara tawa terdengar, Aliya membungkam seluruh mulut ibu-ibu yang membesarkan merek-merek terkenal.


Al langsung mengatakan soal barang-barang limited edition, dia juga memperkenalkan sebuah perusahaan fashion terkenal tempat Al menanam saham.


Seluruh perhiasan, tas, sepatu, jam tangan terkenal dan memiliki harga fantastis Aliya juga mengetahuinya.


Meskipun usia Al masih kepala dua, dia sangat mengetahui hal-hal yang berbau mewah.


"Tidak heran kamu bisa menikahi Altha, ternyata kamu sangat mengetahui barang-barang bagus." Tatapan ibu Erna mengejek, tidak menyukai Aliya sama sekali.


Senyuman Al terlihat, Altha berbeda dengan barang-barang terkenal yang bisa di jual beli dan tukar tambah.


"Bu Erna, saya jauh lebih kaya dari Altha. Dia hanya karyawan negara dan pemilik perusahaan AT grup, tanpa para pemegang saham yang besar Altha bisa disingkirkan sejak lama. Dia hanya memiliki satu keistimewaan, setia." Al tersenyum, AT grup bukan hanya milik Altha tapi Aliya.


Citra memukul meja, Aliya juga pasti tahu jika dia yang memperjuangkan AT grup sampai sebesar sekarang, tapi Al merenggutnya dari dirinya.


"Kamu bukan hanya merebut suami orang, Tapi usaha orang." Erna berteriak menatap Aliya yang tersenyum.


"Kamu ingat apa yang sudah kamu lakukan terhadap perusahaan? siapa yang menyelematkan sampai bertahan sekuat sekarang. Aku!" Al mengambil ponselnya, menunjukkan tingginya nilai saham perusahaan yang ada dalam pengawasan Aliya.


Pelakor yang Citra katakan kepada banyak orang, sosok wanita yang menyelamatkan kehormatan seorang Altha, juga penjaga anak-anak Citra yang kehilangan kasih sayang dan juga wanita yang menyelamatkan perusahaan dari kehancuran.


"Aku tidak masuk, jika kamu tidak membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menutupnya kembali." Al tersenyum sinis, mendekati Citra untuk bersikap dewasa tidak memutar balikan fakta.


Aliya tidak takut menjadi bahan pembicaraan orang, hanya saja Al tidak ingin anak-anaknya mendengar percekcokan antara Mama yang mereka ketahui wanita yang melahirkan, dengan Mami yang sangat mereka hormati.


Citra hanya memiliki masalah dengan Aliya, jika tidak menyukai Al setidaknya cukup ditunjukkan kepada dirinya, jangan sampai terdengar anak-anak.


"Kalian mengatakan aku pelakor? apa kalian sudah sempurna? mendengar ucapan Citra hanya dari satu pihak, kalian pikir Citra yang paling menyedihkan. Buka mata kalian." Al menatap tajam.


Jika memang Citra paling tersakiti, kenapa tidak datang ke makam Amora, setidaknya satu kali saya katakan rindu kepada Tika dan Juna.


Mungkin hubungan Citra dan Altha sudah tidak baik-baik saja, tapi ikatan dengan anak tidak akan ada putusnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan sekarang? membicarakan keburukan orang lain, koreksi diri Citra. Kamu jauh lebih tua dari aku, gunakan perasaan kamu bukan hanya otak kamu." Al langsung pamit ingin pergi, dan memperingati semua orang, jika ingin membicarakannya langsung temui dia dan katakan didepannya jangan bergosip tidak jelas.


Langkah Aliya terhenti saat Citra menahan tangannya, meminta Al bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Roby dan Mora.


Al menepis tangan Citra, bukan dirinya yang bertanggung jawab, tapi Citra yang harus tanggung jawab, menutupi bukti saat kecelakaan orang tua Altha. Dan satu hal lagi, orang yang mencelakai Mora, ayah Citra sendiri.


Tamparan kuat menghantam Aliya, pukulan kuat juga mendarat di wajah Citra yang langsung terjatuh.


Ibu-ibu langsung berhamburan menahan Citra dan Aliya untuk tidak bertengkar, salah satu ibu-ibu meminta Citra berhenti menjelekkan orang lain.


Penyebaran gosip soal Aliya sudah cukup heboh, tapi ucapan Al ada benarnya. Jika terus dilanjutkan hanya akan menggangu anak-anak yang tidak mengerti apapun.


"Sudah cukup Citra, kamu harus meminta maaf kepada Aliya."


"Kenapa aku harus minta maaf? dia yang membuat aku hidup sendirian."


"Kamu tidak sendiri, tapi kamu hanya ingin kembali ke tempat yang sudah kamu hancurkan."


Pemilik rumah langsung berteriak meminta semuanya keluar dari rumahnya, jika Citra dan Aliya ingin bertengkar maka lanjutkan di luar rumahnya.


Erna menahan tangan Aliya, dia tidak perduli jika Aliya dan Citra berseteru. Seharusnya Aliya tidak menutup mata dan telinga soal anaknya yang selalu mengirimkan surat.


Al menepuk pundak ibu Erna, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dengan jawaban yang memuaskan, karena Aliya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Putriku."


"Aku tahu, tidak ada seorang ibu yang rela anaknya pergi secara tragis, apalagi tidak mendapatkan keadilan. Berikan aku waktu untuk menyelidikinya." Al tidak bisa berjanji jika semua mudah di temukan, tapi dirinya akan memastikan untuk mendapatkan keadilan.


"Aku akan menunggu kabar baiknya, dia harus dihukum seberat-beratnya." Air mata ibu Erna menetes, dirinya tidak membutuhkan uang, juga tidak bisa meminta anak hidup kembali, hanya dengan keadilan hukum bisa sedikit membuat hatinya lega.


Al langsung memeluk dan mengusap punggung, Citra juga datang dan meneteskan air matanya.


"Kenapa dia ada di sini?"

__ADS_1


"Karena dia penyelamat aku, mungkin semua orang membenci aku, hanya kak Anggun yang selalu membela." Al tersenyum menyakinkan jika Anggun akan meminta persidangan ulang.


"Tolong, saya akan membayar berapapun."


"Kami tidak mencari uang, tapi keadilan. Saya juga yatim-piatu dan tidak rela jika ada anak kecil yang tersakiti, karena kami tahu sakitnya batin." Anggun berjabat tangan dengan ibu Erna.


Aliya menghela nafas, Anggun menatap Al yang terlihat gelisah dan banyak pikiran.


"Ada apa Al?" Anggun berjalan bersama Aliya masuk ke dalam mobil.


"Aku merasa ada yang aneh, Citra mendekati ibu Erna dan membuat berita panas. Ada urusan apa dia?" Al sudah menyelidiki jika ibu Erna tinggal cukup jauh dari kediaman Aliya.


Anggun menjalankan mobil dan berhenti di depan rumah korban, Aliya melihat area CCTV yang anehnya sudah lama mati, namun tidak ada perbaikan sama sekali.


"Ada berapa orang tinggal di rumah ini?"


"Tidak tahu, karena rumah ini tidak memiliki CCTV. Tidak akan ada bukti media." Al menunjuk ke arah depannya yang juga kosong, bahkan tidak ada kamera pengawas.


Rumah kanan dan kiri juga kosong, anehnya hanya ada rumah korban yang memiliki penghuni.


"Apa pria ini pemilik rumah disekitarnya?" Anggun menatap sekitar rumah yang sebenarnya sangat terawat.


"Bisa jadi, masih harus di selidiki." Al yakin tidak ada yang namanya kejahatan tanpa meninggalkan jejak, sehebat dan sepenggalaman apapun pelakunya.


Anggun melihat sesuatu yang aneh di sebuah pohon, langsung mengambil sebuah kamera pembesar untuk memotret jarak dekat.


"Ada empat rumah yang harus kita selidiki, cukup merepotkan." Al menatap Anggun yang sudah menerbangkan drone kecil.


Aliya tersenyum Anggun sekarang sudah cukup pemberani sejak diculik oleh bawahan Hariz, dan ini yang Aliya suka saat memiliki rekan yang bar-bar.


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


vote hadiahnya ya ditunggu


__ADS_2