
Kesibukan Tika di kantor membuatnya tidak ada waktu untuk menemani Shin, apalagi Genta yang secara dadakan mendapatkan perintah ke luar kota.
Tika masih merahasiakan kondisi Shin, dan merasa bersalah belum memiliki waktu untuk mencari Irish dan komplotannya untuk membalaskan dendam.
"Kak Juna, bisa temui Shin pagi ini di apartemen. Tika ada meeting penting." Tika langsung mengambil roti Juan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Kak Juna juga ada pekerjaan penting."
"Ada apa dengan Shin? beberapa hari ini Tika tidak pulang ke rumah? Mami saja yang menemui Shin." Al menatap Tika yang terkejut.
Kedua tangan Tika memeluk Maminya, mengingatkan kepada Al soal meeting penting. Tika masih membutuhkan Maminya jika bersangkutan dengan perusahaan.
"Shin baik-baik saja, Tika pergi sekarang." Langkah Atika berlari terdengar, memeluk Papinya yang baru turun bersama Ria yang tidur dalam gendongan.
Arjuna juga pamit pergi, dirinya juga ada urusan penting. Juna berdiam sesaat di dalam mobilnya langsung mengirimkan pesan kepada Tika mempertanyakan apartemen Shin.
Mobil Juna langsung melaju ke arah restoran mewah yang cukup terkenal, dirinya baru tahu jika restoran yang biasanya digunakan oleh banyak pengusaha untuk mengadakan pertemuan meeting milik Shin.
Apartemen Shin berada di lantai tiga, Juna langsung masuk restoran, melihat ada lift langsung naik ke lantai paling atas.
"Ruangan apa di lantai dua? aku terlalu lama di luar negeri sampai tidak tahu banyak perubahan di kota ini." Juna melihat bangunan dari lantai tiga, perkembangan zaman sangat cepat mengubah segalanya.
Di dalam apartemen, Shin berjalan sambil meraba sekitarnya. Shin dengan cepat belajar, setiap sisi ruangannya agar bisa berjalan tanpa menabrak apapun.
"Aku merindukan masak, mungkin udah saatnya mencoba." Shin mengambil alat masak, memotong sayuran.
Senyuman Shin terlihat, merasa lucu dengan kehidupannya yang beraktivitas tanpa bisa melihat apa hasilnya.
Cukup lama Shin bergelut dengan masakan, suara bel terdengar. Kening Shin berkerut, tidak biasanya Tika datang tidak masuk langsung.
"Siapa yang datang? Kak Genta sudah pulang tugas." Shin langsung berjalan ke arah pintu, membukanya sambil tersenyum.
Juna berdiri di depan Shin sambil memperhatikan mata Shin, senyuman manis dari wanita cantik dihadapannya terlihat.
"Ay Jun, tahu dari mana apartemen Shin? pasti dari Tika, silahkan masuk." Tangan Shin mempersilahkan.
"Dari mana kamu tahu jika ini aku?" Juna langsung melangkah masuk.
Senyuman Shin terlihat, dari bau tubuh Juna Shin langsung mengenalinya. Melihat Juna datang, Shin sangat bahagia.
__ADS_1
"Tidak heran Genta belum curiga soal kondisi kamu." Juna mencium bau aneh, langsung menatap Shin yang masih senyum-senyum sendiri.
Arjuna langsung berlari mencari dapur, melihat api yang sudah memakan masakan Shin. Cepat Juna mematikan kompor, Shin juga berjalan mendekati dapur, karena ada bau hangus.
Suara teriakan Juna terdengar membentak Shin, apa yang dilakukan Shin bisa membunuh dirinya sendiri. Meninggalkan masakan saat kompor masih hidup hanya dilakukan oleh orang bodoh.
Restoran ada di bawah, bukan hal yang sulit untuk meminta pelayan mengantarkan makanan.
"Kamu harus tahu kondisi kamu! jangan membuat nyawa candaan." Juna bicara dengan nada yang sangat tinggi.
"Shin hanya merindukan masakan sendiri." Kepala Shin tertunduk, takut dengan kemarahan Juna.
Suara barang jatuh terdengar, Juna membuang alat masak di tempat cucian piring. Air mata Shin menetes, Juna bicara kasar tanpa memikirkan perasaannya.
Shin menyadari jika jika dirinya hanyalah beban, tidak ada yang bisa dirinya lakukan dengan keadaannya yang sekarang.
"Kak Juna tidak tahu rasanya hidup dalam kegelapan? Shin tidak ingin menyusahkan orang lain."
"Bagus jika kamu tidak ingin, tapi jika terjadi kebakaran bukan kamu saja yang mati, ada banyak orang di lantai satu yang mungkin terkena imbasnya." Juna tidak peduli dengan prinsip hidup Shin yang tidak ingin menyusahkan orang lain.
Setidaknya Shin harus tahu diri, bisa membedakan yang seharusnya dirinya lakukan. Jika tidak bisa menjaga orang lain setidaknya jaga diri sendiri.
Kepala Shin mengangguk, meminta maaf atas kelalaian dirinya. Shin tidak terpikirkan jika bisa membahayakan orang lain.
Dirinya hanya ingin menyenangkan diri sendiri, tidak ada tujuan Shin membahayakan siapapun, apalagi merugikan orang lain.
Tidak ada jawaban lagi dari Juna, Shin masih menangis sesenggukan meraba sekitarnya mencari keberadaan Juna.
"Maafkan Shin." Air mata menetes mengalir di pipinya.
Hampir satu jam Shin duduk seorang diri di ruang tamu, tangannya meraba-raba sebuah buku medis. Shin tidak bisa membaca tulisan, sehingga tidak tahu cara mengobati matanya sendiri.
"Kamu ingin makan di mana?" Juna menatap Shin yang masih menangis.
"Kak Juna masih di sini? kenapa tidak bicara?" Shin langsung melangkah mencari keberadaan Juna.
"Awas ada meja di depan kamu." Juna langsung mendorong meja agar Shin tidak terjatuh.
Tangan Shin memegang pundak Juna, bisa merasakan bau wangi dari tubuhnya. Senyuman Shin terlihat langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Maafkan Shin, janji tidak akan mengulanginya lagi."
Juna tidak menjawab, dirinya selalu diam disaat kesal dengan siapapun. Ucapan Juna yang tidak bisa menjaga perasaan orang lain sehingga diam menjadi pilihannya.
"Duduk, makan dulu." Juna menyiapkan makanan untuk Shin.
Selama satu jam Juna sibuk di dapur menyiapkan sarapan, mempersilahkan Shin untuk makan sebelum makanannya dingin.
Mata Juna melihat sebuah buku, langsung mengambilnya dan membaca sekilas buku yang pertama kalinya dirinya baca.
Suara sendok Shin jatuh terdengar, tangan meraba mencari keberadaan sendok makan. Juna langsung menahan kepala Shin agar tidak terkena meja.
"Bagaimana cara kamu makan selama ini?"
"Seperti ini, biasanya Tika yang menyuapi. Hari ini mungkin tidak datang, karena ada meeting. Shin sangat mengerti." Senyuman Shin terlihat, meraba air minum.
Juna terdiam sesaat, langsung mengambil sendok baru mengambil piring Shin berniat menyuapinya makan.
"Buka mulut kamu, jangan katakan kepada siapapun jika aku menyuapi kamu, ini memalukan." Juna mengerutkan keningnya, karena tidak pernah menyuapi wanita selain adik-adik dan Maminya.
Jantung Shin berdegup kencang, mengunyah makanan yang Juna berikan. Meksipun ucapan Juna terkadang menyakitkan, Shin tahu ada kelembutan dibalik sikapnya.
Tatapan Juna melihat senyuman Shin yang makan dengan lahap, tidak ada protes sama sekali dengan rasa masakan.
"Bagaimana rasanya?" Juna pertama kalinya memasak untuk wanita asing.
Shin langsung terdiam, dirinya tidak tahu rasanya karena terlalu bahagia bisa makan disuap oleh lelaki yang dicintainya.
"Rasanya bahagia." Shin meminta minum.
"Perempuan gila, tidak nyambung." Juna menggelengkan kepalanya.
Pintu apartemen terbuka secara tiba-tiba, Tika datang memberikan kabar jika Genta tahu kondisi Shin dan sedang menuju apartemen dalam keadaan marah besar. Selama ini Genta mencari pengawal yang menyakiti Shin.
"Shin ini gawat, suara Om tua mirip petir yang menembus langit ke tujuh, dia marah besar bahkan sampai mengumpat." Tika panik, karena Genta marah kepadanya yang tidak mengatakan kebenarannya.
"Dasar pengganggu!" Shin langsung kesal.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira