
Di meja makan semuanya berkumpul, Dina melewati meja makan keluarga. Tatapan matanya melihat ke arah Juna dan Shin yang duduk berdekatan, sedangkan Hana berjarak jauh.
Handphone Shin langsung diambil oleh Juna, makanan sampai dingin tidak tersentuh karena Shin sibuk dengan ponselnya.
"Juna kembalikan handphone Shin, dia harus mengurus perkejaan." Al menatap Putranya yang meletakkan kembali ponsel.
"Ambil saja Jun, meja makan bukan untuk kerja," Alt menatap istrinya yang melepaskan ponsel.
Semua wanita menyembunyikan handphone masing-masing, fokus dengan makanan. Tika yang duduk di samping Shin hanya tersenyum, siapa yang bisa menyentuh ponsel Shin, Tika juga kesulitan.
Benda yang dijaga oleh Shin maupun Tika pastinya handphone, keduanya mengendalikan banyak hal hanya dengan benda pipih berukuran kecil, tapi manfaatnya besar.
"Shin, apa yang kamu lakukan? ambil handphone itu dari Kak Jun." Suara Tika berbisik terdengar pelan.
"Tidak berani,"
"Kamu takut sama Kak Juna? biasanya tidak ada lelaki yang kamu takuti,"
Suara Juna berdehem terdengar, menatap Tika yang sudah nyengir melihat kakaknya. Tika langsung memeluk lengan Genta meminta perlindungan. Shin menahan tawa melihat dua bersaudara ya g saling tatap.
Senyuman sinis Dina juga terlihat dibalik cadarnya, merasa tidak suka dengan kedekatan Shin dan Juna apalagi kejadian mobilnya diledakkan belum bisa Dina maafkan.
Dia akan memastikan Shin terluka dan merasa sakit melebihi dirinya, Dina menatap ke arah Ana tersenyum melihat gelas yang Ana pegang.
Minuman ditangan Ana diambil oleh Isel, dengan senyuman manisnya meminta minuman yang warnanya berbeda dengan yang lain.
"Isel, habiskan dulu punya kamu,"
"Maunya punya Tante Ana,"
"Iya boleh sayang, ini belum Tante minum. Jangan marah ya, anak cantik." Hana menyerahkan minumannya, tersenyum menatap Isel yang meneguk habis.
Sampai acara selesai, Isel menatap Mamanya meminta dipeluk, mata Isel mengantuk dan ingin beristirahat.
Kepala Dina menggeleng saat tahu bukan Ana yang meminum racun, tapi Putri Diana dan Gemal.
"Sialan, rencana aku gagal." Dina memukul meja, melangkah menjauh.
Suara panggilan ponsel Juna terdengar, langsung beranjak dari tempat duduknya menghindari keramaian karena ada panggilan penting.
"Kak Juna ingin ke mana?" Dina menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Juna tidak menjawab memilih tetap melangkah untuk menjawab panggilan yang terus berdering.
Senyuman Dina terlihat, sikap dingin Juna sesuai apa yang orang katakan. Dina semakin penasaran seistimewa apa seorang Juna yang digemari banyak orang.
Suara langkah kaki berlari terdengar, Dina tersenyum melihat Genta lewat. Keberadaan Dina tidak dianggap sama sekali.
"Keluarga ini memang memiliki lelaki unik, sebaik apapun wanita tidak akan menarik perhatian mereka." Dina melipat tangannya di dada, mengangumi ketampanan Genta yang sedang berbicara dengan bawahannya.
Beberapa puluh tahun yang lalu, Dina melihat kehancuran keluarganya karena Mamanya mencintai seorang Altha, hatinya terluka dengan pernikahan Alt dengan istri mudanya.
Mama Dina rela kehilangan suaminya demi memisahkan Alt dan istrinya, tapi dengan mudahnya Aliya masuk. Saat itu Dina berusia baru sepuluh tahun dan kehilangan keluarga bahagia.
Papa Dina juga tewas di tangan komplotan penjahat, dan saat mengetahuinya komplotan tersenyum dibawah perintah Alina yang berganti nama Diana.
Keluarga Aliya maupun Diana terlihat sangat bahagia dan harmonis, berbeda dengan Dina yang hidup di panti asuhan sejak kecil.
Pertemuan dengan Hana membuat Dina menyadari jika pembalasan dendamnya akan dimulai, menghancurkan rumah tangga Gemal sudah tidak mungkin.
Meskipun Gemal memiliki sikap yang ceria, tapi tidak ada wanita yang bisa mendekatinya. Bahkan banyak wanita yang Dina kirim mendekatinya namun tidak diakui.
Tujuan Dina hanya menghacurkan pernikahan Tika dan Genta, atau membuat Hana kehilangan Juna.
Hentakkan kaki terdengar, Rindi mengusap air matanya karena keinginan tidak dituruti. Penjaga yang mengawal Rindi ketakutan sehingga membiarkan Rindi sendirian.
Langkah Rindi terhenti melihat ke arah Dina yang menundukkan kepalanya, tatapan Rindi langsung tajam.
"Dibalik selembar kain, tersembunyi senyuman jahat. Perasaan ini tidak enak, kamu mencari masalah." Rindi menatap punggung Dina yang berjalan mendekati Genta.
Tangan Rindi bergerak, menghitung dan memperkirakan jika Dina akan berpura-pura jatuh di dekat Genta. Suara jatuh terdengar, Genta melangkah mundur melihat Dina terjatuh.
"Bantu dia, kenapa bisa jatuh?" Genta meminta bawahnya membantu Dina.
Kedua tangan Rindi bertepuk tangan, dia sudah bisa memprediksi orang-orang yang mencari perhatian.
Rindi melangkah pergi, berjalan ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Diana yang sibuk dibuat Isel marah-marah.
Shin dan Diana binggung melihat Isel mengamuk, Rindi juga melangkah masuk tersenyum melihat Isel yang menangis histeris.
"Kenapa kamu Isel?"
"Tidak tahu apa maunya dia, menangis saja terus!" Diana melangkah pergi melihat Isel yang menangis berguling-guling.
__ADS_1
Shin memeluk Isel membawanya pindah ke kamarnya, diikuti oleh Rindi yang berputar-putar di belakang Shin menghibur Isel yang matanya merah.
"Rin, panggil Ay Jun. Aku rasa ada yang tidak beres sama kondisi Isel." Tatapan Shin aneh, menatap wajah Isel yang memerah.
"Ay Jun itu siapa? Ayang Hendrik saja." Rindi melangkah keluar mencari suaminya.
Shin menghubungi Juna yang nomornya sedang dialihkan, meminta Tika juga datang karena Diana sedang mencari suaminya yang tidak bisa dihubungi.
"Sel, kamu kenapa?" Shin menatap Isel yang tengkurap, tangisannya sudah berhenti membuat Shin semakin khawatir.
Tubuh Isel dibalik, Shin tersentak kaget melihat Isel mengeluarkan busa dari mulutnya, matanya merah. Kedua tangan Isel mencengkram kuat seprai tidur.
"Racun, Isel keracunan." Shin langsung berlari ke kamar Diana mengambil suntikan, jantung Shin berdegup kencang melihat kondisi Isel.
"Ada apa Shin?"
"Tika, Kondisi Isel memburuk. Dia kerancuan, dan ini racun langkah." Shin mengambil beberapa obat-obatan dari tasnya.
Atika sudah berlari kencang, teriak histeris melihat Isel muntah darah. Tika langsung menarik tangan Isel memintanya memuntahkan isi perutnya.
"Mama, Papa." Suara Isel tercekik mencari kedua orangtuanya.
"Shin, cepat! kamu kenapa Sel?" Tangisan Tika terdengar melihat napas Isel tertahan.
Tika mengambil ponselnya, meminta Diana lebih baik ke kamar karena kondisi Isel memburuk sampai muntah darah dan berbusa.
Shin tiba, memecahkan beberapa obat. Menggabungkan menjadi satu, mengubah menjadi cairan. Shin meminta Tika menjauh, menyuntikkan suntikan ke lengan Isel. Suntikan bukan hanya satu, tapi lebih dari tiga.
Rindi melangkah masuk, menatap Isel yang terus berbusa. Rindi berjalan mendekat, memegang busa dia mencium baunya.
"Ini racun, dan ini tidak mematikan, namun melumpuhkan." Rindi memegang pergelangan tangan Isel.
"Rin, kamu bisa bantu aku. Racun ini jarang ditemukan, dan cukup bergerak cepat merusak organ. Pergi ke mobil aku sekarang, cari sebuah buku, serahkan kepada Kak Hendrik untuk membuat obatnya, Isel bisa tewas." Shin meminta Rindi cepat.
Shin memeluk Isel yang tubuhnya terkulai lemas, Rindi melepaskan tangan Isel yang membiru.
"Tahan Isel, kamu tidak boleh celaka." Rindi mengusap pelan, melangkah pergi ke luar kamarnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1