
Pintu mobil terbuka, suara high heels menggema memasuki perusahaan AT grup. Banyak karyawan yang lari-larian karena pimpinan utama AT grup akan mengadakan rapat besar.
Lift terbuka, Atika masuk ke dalam, matanya menatap tajam beberapa orang yang ada di dalam lift. Melihat tatapan Tika, beberapa orang yang ada di dalam lift melangkah keluar.
Tombol ditekan, Atika masih fokus ke arah ponselnya. Langkah kaki berlarian terdengar, pintu ditahan agar tidak tertutup.
Kepala Tika terangkat, tersenyum manis melihat sahabatnya sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa kamu menakutkan sekali Tik? apa salahnya jika mereka juga naik bersama?" Shin menekan tombol lift agar segera menuju lantai tempat rapat.
"Aku tidak mengerti apa yang Mami pikirkan? menyebalkan sekali!" Tika memijit pelipisnya.
"Pasti ada alasan Tik, apapun yang Mami lakukan menjadi yang terbaik." Shin menyemangati Tika, memintanya tersenyum di pagi hari.
"Aku tetap tidak bisa terima, Mami melepaskan AT grup dan menyerahkan kepada Citra sebagai pimpinan utama, Citra ada di atas aku. Ini gila." Pintu lift terbuka, Atika langsung berjalan keluar bersama Shin yang menunjukkan senyuman binggung.
Ruangan meeting terbuka, Tika berjalan beriringan dengan Shin. Bisa melihat Aliya dan Citra yang sedang melihat ke arah luar perusahaan.
Tika melempar tabletnya, menatap tajam Citra dan Aliya yang tersedia melihat kedatangannya.
"Bagaimana kondisi cabang Tika? tiga bulan di sana kamu bisa membuat perusahaan maju pesat." Al merentangkan kedua tangannya, memeluk Putrinya yang baru kembali setelah berbulan-bulan perjalanan bisnis.
"Apa yang sedang Mami pikirkan? kenapa perusahaan diserahkan kepadanya? dia bisa berjalan sudah lebih dari cukup, belum setara dengan dosa-dosanya!" amarah Tika memuncak melihat Citra yang mendekatinya, kebencian Tika memuncak karena keadaan dibalik tanpa berembuk dengannya.
Secara resmi AT grup pindah tangan, hanya disetujui oleh Mami, Papi dan Kakaknya. Tika berjuang di negara lain, tapi saat keputusan besar dirinya tidak dilibatkan.
"Kita adakan meeting, kamu akan mengerti semuanya. Mami melakukan ini memiliki alasan." Al menatap tajam, meminta Tika merendahkan amarahnya.
"Tika, Mama minta ...." Citra terdiam saat tangan Tika terangkat memintanya diam.
__ADS_1
"Kita mulai meeting sekarang, siapa yang terlambat silahkan keluar!" suara Tika berteriak membuat panik banyak orang bergegas masuk.
Al mengusap punggung Citra, memintanya mengerti Tika. Emosi Tika lebih sering bekerja daripada otaknya.
Seluruh kursi terisi penuh, kehadiran Tika dengan ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat membuat suasana rapat tegang. Masa kepemimpinan Aliya juga menakutkan, tetapi Tika lebih parah dan tidak punya hati.
Al memulai rapat sesuai yang sudah tertulis, sebelum Al bicara jauh. Dia memperkenalkan Citra yang dulunya memimpin perusahaan AT grup, juga salah satu orang yang paling memahami perusahaan dibandingkan siapapun.
"Selamat datang kembali Bu Citra, tidak disangka kita bertemu kembali." Beberapa karyawan yang mengenal Citra juga langsung menyapa.
"Terima kasih semuanya, kalian yang dulunya masih belajar sekarang sudah luar biasa. Bahkan saya sudah tua." Senyuman Citra terlihat, meminta bantuan dan kerjasama.
Pembicaraan terasa hangat saat Citra yang bicara, saat berurusan dengan perusahaan. Dia masih wanita yang berwibawa, cerdas dan memiliki banyak imajinasi.
Al mengumumkan juga jika dirinya akan melepaskan AT grup di bawah kepemimpinan Citra dan Atika, berharap semua orang bisa bekerjasama dengan baik dengan pemimpin yang baru.
Pengambilan suara dilakukan, hampir seluruh orang mengacungkan tangan menyetujui keputusan Aliya kecuali Tika dan Shin yang masih duduk diam.
Shin menatap ke arah Tika, tanpa persetujuan Shin sebagai pemegang saham pihak perusahaan tidak bisa mengangkat Citra. Keputusan Shin menjadi kesempatan terakhir.
"Bagaimana kondisi Tante Citra? Kenapa tidak istirahat di rumah saja? kenapa harus bekerja? maaf jika Shin lancang, aku punya hak untuk mempertanyakannya." Shin tersenyum manis melihat Citra.
Al ingin menjawab, tapi Shin menahannya. Meminta Citra langsung menjelaskan kepada mereka semua alasan dirinya bekerja padahal baru menjalankan operasi besar.
Senyuman Citra terlihat, kondisinya sudah pulih. Berada di rumah hanya membuatnya kesepian apalagi anak-anak sibuk bekerja. Kembali ke perusahaan hal yang paling Citra rindukan.
Tatapan Tika sinis, langsung ingin berdiri membantah. Tangan Tika tertahan oleh Shin yang menggenggamnya erat.
"Maaf Tante, bosan atau kesepian bukan sebuah alasan. Mungkin sepuluh atau belasan tahun yang lalu Tante sehat, dan mampu bekerja di perusahaan besar. Sekarang semuanya berubah, pemikiran anak-anak zaman sekarang jauh di atas orang-orang jenius terdahulu." Shin menjelaskan detail soal perusahan yang dirinya temukan di luar negeri.
__ADS_1
Kegagalan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Shin. Dirinya memiliki bisnis restoran, lalu membuka pabrik bahan mentah, bahan jadi, buka pabrik secara besar-besaran tidak menjamin dirinya mampu bertahan.
Semakin maju zaman, para anak muda bekali-kali lipat memiliki pemikiran dam imajinasi liar. Shin tidak yakin Citra bisa bergabung di AT grup secara langsung apalagi AT grup bukan perusahaan kecil.
"Aku rasa kamu tidak punya hak bicara seperti itu Shin. Biarkan, Bu Al dan Tika yang memutuskan." Pimpinan lain meminta Shin diam.
"Kalian tahu tujuan datang ke sini? aku datang untuk mengutarakan pendapat. Aku pemegang saham nomor lima terbesar di sini, selain Aliya, Atika, Arjuna, dan Leondra. Aku membawa nama pribadi di sini. Kalian tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan aku." Shin menatap tajam, nada lembutnya langsung hilang.
Shin tahu dunia bisnis sejak dirinya berusia muda, baik buruknya sudah Shin lalui. Dirinya akan mengutarakan sesuai apa yang dirinya pikirkan.
"Aku menyetujui apa yang Shin katakan, dan kita menolak pimpinan baru. Jika Ibu Al ingin mengurangi perkejaan, silahkan serahkan surat pengunduran diri. Tika akan segera memprosesnya." Tika tersenyum melihat Maminya yang mengerutkan kening.
Atika berdiri, keinginan Aliya langsung ditolak secara langsung di depan Citra. Tika menghargai Citra yang pernah memperjuangkan AT grup.
Pembicaraan Tika panjang lebar dan bisa dimengerti banyak orang, perusahaan tidak menerima atau mengajukan sesuatu yang bisa merugikan perusahaan.
"Aku rasa meeting kita selesai, silahkan keluar," ucap Tika santai.
Seluruh karyawan keluar, begitupun dengan Shin yang memilih keluar karena baru saja dirinya mematahkan satu sayapnya yang akan semakin jauh dari Juna. Citra pasti menilai buruk dirinya yang tidak punya perasaan.
Aliya menatap Tika kesal, melangkah keluar akan mengadukan Tika kepada Papinya. Senyuman Tika terlihat meminta Maminya berhenti mengadu.
"Maafkan Mama Tika, tujuan awal Mama hanya ingin dekat dengan kamu dan mengajari banyak hal." Senyuman Citra terlihat, ingin sekali menyentuh tangan Putrinya.
"Sudah terlambat, aku sudah belajar banyak hal sendirian. Diam saja di rumah, pikiran kesehatan, dan jauhi kejahatan. Jangan terjun ke lubang yang sama." Tika langsung pamit pergi tanpa menyentuh tangan Citra.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1