ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BALAS DENDAM SUDAH DIMULAI


__ADS_3

Pintu kamar Altha terkunci, dia menolak sarapan bersama. Alt masih memikirkan penyebab Aliya membencinya dan menganggap dirinya penyebab penderita Al.


Kecelakaan yang menimpa Aliya juga tidak diselidiki, Alt menganggap itu kasus tabrak lari. Masalah siapa pasangan suami istri yang membawa Aliya, sedangkan seluruh orang di rumah mewah tempat pembantaian meninggal semua.


"Siapa mereka? apa aku harus menyelidikinya?" Alt mengacak rambutnya.


Alt mengingat saat dia pulang sekolah ada gadis kecil tersenyum memanggil kakak, tapi gadis tersebut senyum.


"Astaghfirullah Al azim, dia menemui aku bekali-kali dengan tetesan air mata." Altha mengingat Aliya kecil yang selalu menemuinya dan meminta tolong.


Album foto langsung dibongkar, Altha mengecek fotonya saat masih muda. Aliya kecil muncul di setiap Altha mengadakan acara apapun sampai saat kelahiran Juna Aliya juga datang.


"Maaf, aku tidak pernah menyadari kehadiran kamu." Alt menghela nafasnya menyesal.


Pintu kamar digedor sampai didobrak, Altha sudah tahu siapa pelakunya langsung membuka pintu dan Aliya langsung jatuh.


"Dasar kekanakan." Alt lanjut lagi menyelidiki soal Aliya.


"Kenapa masih marah? pintu dikunci dan mogok makan. Siapa yang sebenarnya kekanakan?" Aliya menatap tajam, membuka pintu dan mengambil makanan.


Aliya duduk di samping Alt, melihat beberapa fotonya masih kecil. Altha benar-benar serius menyelidikinya.


"Ayang, makan dulu." Al menyendok nasi ke mulutnya.


"Kenapa kamu yang makan?"


"Al membawa makan untuk diri sendiri, bukan untuk kamu." Aliya tertawa, dia hanya bercanda.


"Silahkan keluar." Altha menatap foto Al yang selalu menangis.


"Kapan terakhir kamu menangis?"


Aliya terdiam, mencoba menghitung. Dia berhenti menangis saat usia sepuluh tahun. Kebiasaan berhenti menangis sampai dirinya besar.


Sesedih dan sesakit apapun Aliya tidak menangis, air matanya terasa kering dan tidak ingin keluar.


"Kenapa kamu selalu datang menemui aku?" Alt menunjukkan banyak foto yang baru disadari.


Senyuman Aliya terlihat, dia hanya meminta bantuan. Hanya Altha yang mengenalinya, tapi Alt selalu mengabaikannya dan tidak menganggap ada.


"Kakak, tolong aku. Hanya itu yang selalu kamu katakan, penampilan kamu juga seperti putri orang kaya, bagaimana bisa aku perduli?"


Aliya mengaruk kepalanya, tertawa melihat kekesalan Altha. Jika Aliya tahu baju penyebab Altha mengabaikannya mungkin dia memilih baju compang-camping.

__ADS_1


Tatapan mata Altha masih sinis, dia masih mencurigai Aliya ada hubungan dengan Roby, tapi tidak ingin bertanya langsung.


Kekesalan Altha belum bisa dihilangkan sebelum dia melihat bukti, jika Al tidak mempermainkannya.


"Kamu tidak ingin bercerita kenapa meminta tolong?" Alt melihat kening Aliya berkerut.


Kepala Aliya menggeleng, semuanya sudah berlalu dan Altha gagal menyelamatkannya.


Selama hampir sepuluh tahun Aliya mengejar Altha untuk meminta bantuan, tapi tidak pernah dihiraukan. Apalagi setelah Altha menikah, Al hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan mengirimkan pesan meminta pertolongan.


Tidak ada tempat Aliya meminta bantuan, takut jika dirinya terus dikhianati bahkan dengan Dimas juga Al masih ragu.


Aliya langsung melangkah pergi, meninggalkan Altha yang masih memiliki banyak pertanyaan. Melihat foto-foto Aliya mengintip di belakangnya.


***


Mobil Citra terparkir, langsung melangkah keluar untuk menuju apartemennya. Suara Roby memanggil terdengar.


"Citra, aku ingin bicara hal penting." Roby menunjukkan sebuah flashdisk.


Citra tersenyum memintanya untuk masuk ke dalam apartemen, Citra tahu jika di dalam flashdisk ada video hubungan intim dirinya dan Roby.


"Silahkan minum."


Kepala Citra mengangguk, Citra juga tahu jika Roby mendapatkannya dari Aliya dan Citra sangat tahu isinya.


"Kamu sudah melihatnya?" kepala Citra tertunduk.


Sejujurnya Citra ingin menyingkirkan semuanya agar tidak berada dalam ancaman Hariz, tapi apa daya dirinya memiliki batas kemampuan dan tidak bisa mengalahkan Hariz.


Tidak tahu pasti, Citra mendapatkan kabar jika seseorang menyebarkan virus dan menghapus bersih data yang Hariz miliki.


Seorang hacker merusak sistem keamanan Hariz, lalu melenyapkan seluruh rekaman sehingga Citra bisa bernafas.


Namun semuanya belum berakhir, rekaman masih tersimpan di dalam memori dan Citra kehilangan memori itu.


"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan jika kamu tidak salah?" Roby sudah memastikan jika rekaman semuanya sudah terhapus.


"Aku salah, aku melakukan kesalahan sangat besar. Roby jujur rasa cinta ini sangat besar kepada Altha, tapi apa daya aku yang tidak tahu cara untuk jujur." Air mata Citra menetes, setiap hari dia ketakutan jika Altha menerima rekaman.


Ketakutan terbesar Citra, jika putra putrinya juga terkena imbasnya dari kesalahan yang harus Citra tanggung.


"Aku takut Roby, sangat takut. Aku tidak ingin karir Altha hancur, tapi sekarang semuanya sudah berubah dia menikah lagi dan terlihat bahagia. Begitu mudahnya dia melupakan aku." Suara tangisan Citra semakin kuat, memeluk Roby yang juga meneteskan air matanya.

__ADS_1


Roby bisa merasakan sakitnya hati Citra menerima kenyataan jika lelaki yang dicintainya, sudah memiliki wanita lain dan hidup bahagia.


"Maafkan aku yang tidak tanggung jawab atas penderitaan kamu." Tangan Roby menghapus air mata Citra.


"Kamu tidak salah."


"Maaf jika aku lancang, izinkan aku menjaga kamu meskipun aku tidak tahu akhir dari hubungan ini. Aku akan menjamin untuk melindungi kamu." Roby berniat menikahi Citra, dan mencoba membayar penderitaan yang seharusnya mereka tanggung bersama.


Tatapan Altha tajam melihat Citra dan Roby yang ingin menikah, dadanya terasa sesak tapi tetap tersenyum dan kembali keluar apartemen.


"Kalian bahkan tidak mendengar aku membuka pintu." Altha membunyikan bel, menunggu Citra membuka pintu.


Altha harus sadar diri, jika dirinya tidak bisa lagi masuk apartemen yang dulunya menjadi tempat mereka melepaskan masa lajang. Apartment yang dulunya penuh kebahagiaan.


Pintu terbuka, Citra terkejut melihat Altha datang ke apartemen sambil tersenyum. Roby menundukkan kepalanya melihat Altha sambil tersenyum.


"Apa aku menganggu kalian?"


"Tidak, kalian berdua bisa bicara. Aku pamit duluan." Roby tersenyum melihat Citra pamit pulang.


Altha menahan Roby, tidak enak jika dirinya hanya berdua dengan Citra. Alt mengizinkan Roby bergabung bersama mereka.


"Cit, aku hanya memiliki beberapa pertanyaan soal foto-foto ini. Apa kamu masih mengingat gadis kecil ini?" Alt menunjukkan beberapa foto yang ada anak kecil sedang mengintip.


Citra mengerutkan keningnya tidak menyadari jika foto mereka ada anak kecilnya.


"Ada apa memangnya?"


"Kamu mengenal dia? atau pernah berbicara dengan dia?" Altha menatap penuh rasa penasaran.


Citra menganggukkan kepalanya, dia yang selalu menerima surat dari gadis kecil. Dia selalu menulis kakak tolong aku.


Kejadian terus berlangsung bertahun-tahun, Citra mulai kesal dan meminta untuk menjauhi Altha, dan jangan menggangu.


"Apa yang pernah dia katakan?"


"Aku akan balas dendam, aku pastikan kamu tidak akan bisa lagi dekat dengan kakak. Kalian yang menyebabkan aku menderita, tapi kalian tidak bisa menolong aku. Aku akan membunuh kalian dan memisahkan. Intinya dia mengatakan hal itu." Citra mengerutkan keningnya.


Altha menghela nafasnya, balas dendam Aliya sudah dia jalankan melalui pekerjaan orang lain. Alasan menyelematkan Hariz hanya ucapan terima kasih sudah memisahkan Altha dan Citra.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2