
Perasaan Al masih tidak nyaman soal kediaman rumahnya, tapi mengingat pesan dari suaminya membuat Al tidak bisa pergi sendirian.
Cukup lama Aliya melamun, memikirkan cara agar dirinya bisa bertemu dengan orang yang ada di rumah lamanya.
"Siapa kamu?" Al langsung melangkah keluar rumah.
Mobil Al melaju ke arah rumah orang tua angkatnya, langsung masuk melewati gerbang belakang.
Tidak banyak yang berubah dari rumah keluarga angkatnya, seisi rumah berantakan dan tidak terawat.
Di depan rumah ada garis polisi, tapi tidak ada satupun barang yang hilang.
Al langsung masuk ke kamar orangtuanya, mengecek kemungkinan ada sesuatu yang bisa membuat perasaannya membaik.
Seluruh barang sudah dibongkar, tapi tidak ada satupun yang menunjukkan jika mereka saling mengenal.
"Mama." Al melihat foto ibunya bersama Mama angkatnya.
Kini Aliya baru tahu jika Mama angkatnya orang yang membantu mamanya dalam pekerjaan.
"Harus ke mana Aliya bertanya, tidak ada lagi yang tersisa." Al menundukkan kepalanya, membawa foto mamanya.
Sekarang Al hanya bisa berjalan, meskipun dirinya tahu tidak tempat untuk singgah, sudah tahu jika jalan yang dilalui buntut.
Al seakan-akan berjalan di sebuah lingkaran yang tidak ada ujungnya, tidak tahu akhir dan sampai kapan dia harus berjalan.
Suara panggilan masuk, Al langsung menjawab tanpa melihat siapa yang memanggilnya. Al mendengarkan suara Citra, memintanya untuk bertemu dan membicarakan hal penting.
Aliya langsung mengiyakan dan melangkah ke tempat yang Citra inginkan, tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan.
Mobil Al sudah terparkir di sebuah restoran, langsung melangkah masuk dan menuju ke tempat yang sudah Citra siapkan.
"Silahkan duduk Aliya, aku tidak ingin bertengkar dengan kamu. Silahkan pesan makan." Suara pelan Citra terdengar.
"Al pesan minun saja, siang ini makan bersama Tika dan Juna." Al menatap Citra tajam.
Senyuman Citra terlihat mengaduk minumannya tanpa menyentuh, terlihat sekali kesedihan di wajah Citra.
"Aku dan Roby akan segera menikah, dan titip Altha." Air mata Citra langsung menetes.
__ADS_1
Aliya mengetahui banyak hal soal Citra, salah satunya soal hubungan terlarang Citra dan Roby, sengaja atau tidaknya Citra tetap merasa bersalah.
Ikatan darah Roby dan Mora tidak bisa Citra pungkiri, dia tidak berani mengatakan kepada Altha soal Mora, Citra tidak sanggup.
"Aku tidak tahu sampai kapan menyembunyikan semuanya?"
"Sadar tidak kamu jika semuanya sudah terlambat, jangan pernah kamu jelaskan kepada Altha, teruslah hidup dalam diam. Jangan diungkit kembali soal status Mora." Al mengerutkan keningnya, tanpa Citra jujur, cepat atau lambat semuanya pasti terbongkar.
"Hati aku merasakan sakit, karena rasa bersalah."
"Bodoh." Al tersenyum sinis, raga Citra sudah pergi jauh, tapi hatinya meminta untuk kembali.
Al meminta Citra menatapnya, harapan Citra untuk kembali ke dalam kehidupan Altha di masa depan akan menjadi hal yang mustahil.
Seandainya Citra berpikir dari awal untuk bertahan, mengatakan kebenarannya pasti dia akan tetap menjadi Nyonya Altha.
Selama mengenal Altha dari jarak dekat Aliya bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang, Altha seorang pria yang memiliki kelembutan terhadap wanitanya.
Dia memiliki perasaan yang kuat, bisa marah dan kecewa. Kemarahannya hanya sebatas hari itu, dan besoknya dia sudah mulai bersikap dewasa.
Pria yang luar biasa bisa menutupi perasaannya, meskipun dia marah dan kecewa kasih sayangnya tetap terlihat.
Rasa cintanya jauh lebih besar dari rasa marahnya, sebesar itulah cinta dan kasih sayang Altha.
"Aku bahagia melihat kamu menderita, berpisah dari Altha. Sumpah yang pernah aku katakan akhirnya lunas, Altha milik aku." Senyuman Aliya terlihat, meminta Citra memulai bahagia bersama Roby.
"Jangan merasa terlalu unggul Aliya, cinta Altha masih milikku. Selama Altha belum meniduri kamu jangan terlalu merasa jika kamu penting." Tatapan Citra tajam, baru mengetahui jika Aliya gadis muda yang selalu mengikuti Altha.
Pembicaraan keduanya mulai panas, Aliya yang tidak ingin mengalah memastikan jika Altha akan menjadi miliknya.
Citra hanya tertawa, sementara waktu Aliya boleh meminjam lelakinya. Setelah Citra memiliki kesempatan untuk kembali, maka saat itu juga Aliya harus angkat kaki.
Persaingan keduanya secara sehat, tidak melibatkan anak-anak. Sama seperti saat Aliya masih kecil, Citra menang untuk memiliki Alt.
Tatapan Aliya tajam mengumpat Citra kasar, niatnya ingin membiarkan Citra dan Roby menikah secara baik-baik berubah buruk karena Citra masih menginginkan Altha.
"Awas saja kamu nenek lampir." Al mencengkram kuat minumannya.
"Aliya, kamu masih ingat saat aku mengatakan jika kamu membunuh orangtua Altha." Senyuman sinis terlihat.
__ADS_1
"Kedua orang tuanya meninggal kecelakaan, tidak ada sangkut pautnya dengan aku." Al langsung ingin melangkah pergi.
Citra meminta Aliya duduk, memintanya mengigat kembali apa yang terjadi kepada orang tua Altha.
"Kamu ingat saat pertama kita bertemu, hari itu juga kematian orang tua Altha." Citra mengerutkan keningnya langsung melangkah pergi.
"Kamu memiliki banyak rahasia soal Altha, bagaimana jika dia tahu kamu menyembunyikannya?"
"Altha sudah lama tahu, saat kamu kecil alasan Altha tidak bisa menemui kamu, karena terlalu berat bagi dia. Melihat wajah kamu sama saja melihat kematian orang tuanya." Senyuman Citra terlihat langsung melangkah pergi begitu saja.
Aliya mengerutkan keningnya, melihat undangan pernikahan Citra dan Roby yang ditinggalkan. Al meremasnya begitu saja, langsung melangkah pergi.
Langkah Aliya terhenti saat melihat Susan ada di restoran, langsung ingin mendekatinya. Langkah Al terhenti melihat seseorang muncul.
"Siapa dia? Susan ada urusan apa?" Al mengerutkan keningnya.
Tamparan kuat menghantam Susan di depan umum, seorang wanita menghina Susan merebut suaminya.
Perdebatan dan pertengkaran terjadi, Aliya menahan tawa melihat keberanian Susan soal membela dirinya.
Meskipun dia dari keluarga kalangan bawah, setidaknya dirinya memiliki harga diri. Hidup bergelimang harta bukan impiannya, tapi bisa meringankan kehidupan keluarganya sudah lebih dari cukup.
"Jangan menangis, dunia luar memang keras. Cantik dibilang pelakor, jelek dihina. Hidup terkadang tidak adil, jangan berubah menjadi orang jahat San hanya karena rasa kecewa." Al merangkul Susan untuk melangkah pergi.
"Kak Al kenapa ada di sini?"
"Aku membutuhkan bantuan kamu, cari tahu apa yang terjadi kepada pimpinan perusahaan AT grup sebelumnya. Dia mengalami kecelakaan atau ada yang mencelakainya." Al tersenyum menatap Susan yang binggung.
Al ingin tahu karakter Ayah Altha, apa yang terjadi kepadanya.
"Susan, tidak bisa janji, tapi akan Susan usahakan."
"Terima kasih Susan, aku pergi dulu."
"Kak Al ingin pergi ke mana?" Susan memintanya untuk kembali bersama.
"Aku ingin bertemu seseorang yang tersembunyi di rumah pembantaian lima belas tahun yang lalu." Al melambaikan tangannya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara