ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENJELASAN


__ADS_3

Mobil melaju diiringi oleh hujan deras, Diana mengulurkan tangannya menikmati air hujan yang jatuh membasahi tangannya.


Gemal hanya diam fokus menyetir mobil, mengikuti arah jalan yang Diana inginkan.


"Pagi tadi cerah, sekarang hujan." Di tersenyum melihat Gemal yang wajahnya menyeramkan.


Diana menyentuh kening gemal, merasakan suhu tubuhnya. Tatapan Gemal tajam, mengusap keningnya.


"Kamu cepat pulihnya, seharusnya belum boleh pulang dari rumah sakit."


"Jangan kebanyakan bicara, sekarang kita sebenarnya ingin ke mana?!" Gemal menekan klakson mobil Di melihat banyaknya kendaraan yang mengalami macet karena hujan.


Perjalanan cukup jauh, hujan belum juga reda. Gemal mengerutkan keningnya karena tujuan mereka ke dalam hutan dan lahan kosong.


Diana mengambil payung, melangkah keluar mobil diikuti oleh Gemal yang mengikuti Di melihat lahan tanah yang terbengkalai.


"Ini rumah pembantaian puluhan tahun yang lalu, dan di sinilah pertama kali Alina membunuh dan membantai puluhan orang." Di membuka sebuah jalan, melangkah masuk diikuti oleh Gemal yang masih kebingungan.


Di dalam bawah tanah sangat pengap, Gemal bahkan kesulitan bernafas.


"Kamu ingin mengubur aku di sini?"


"Tidak, bangunan ini dihancurkan beberapa tahun yang lalu dan lahan diserahkan kepada negara, tapi tidak ada yang ingin membangun apapun di sini." Diana tersenyum karena semua orang takut, dan tidak ingin hidup di tempat pembantaian.


Aliya bahkan pernah memerintah orang untuk membangun ulang, namun tidak ada yang berani menyanggupinya karena kasus mengerikan tersebar.


"Sebaiknya kita keluar dari sini, aku tidak bisa bernafas." Gemal langsung keluar, menghirup udara langsung masuk ke dalam mobil.


Diana masih berdiam diri di dalam tempat masa kecilnya, memejamkan matanya sesaat merasakan sakitnya.


"Tidak ada orang yang mampu hidup di tempat pengap, tapi aku bisa." Di mengusap tanah bangunan.


Gemal merasakan cemas karena Diana cukup lama di dalam lubang, dia bisa mati tidak bernafas.


"Diana, keluar! jika kamu ingin mati jangan libatkan aku."


"Aku tidak akan mati semudah itu." Diana tertawa kecil berdiri di belakang Gemal.


Gemal melangkah ke mobil, diikuti oleh Diana yang menutup pintu lubang. Diana Melihat dari kejauhan ada seseorang yang mengintai mereka.


"Apa maksudnya kamu membawakan aku ke sini?"


"Karena kamu mengenal Alina." Di tersenyum menatap wajah Gemal yang mulai kesal.

__ADS_1


Diana meminta Gemal melihat ke arah Diana, tapi fokus ke pohon. Gemal melihat seseorang yang berdiri dengan tatapan marah.


Gemal mengerutkan keningnya, tidak bisa mengenal wajah karena jarak terlalu jauh, tapi Gemal yakin kehadiran mereka tidak disambut baik.


"Siapa dia?"


"Dia tidak memiliki nama, dan kemungkinan dia orang yang hidup menjadi Alina."


Diana meminta Gemal menjalankan mobilnya, mereka cukup tahu saja jika lahan kosong ditunggu oleh seorang psikopat.


"Siapa kamu? kenapa melibatkan kak Hendrik sampai hampir membunuh ibu?"


"Aku tidak mengenal Hendrik, jika kamu bertanya hubungan Alina dan Hendrik maka jawaban tidak saling mengenal." Di menatap tajam.


Gemal tertawa sinis, menunjukkan ponselnya. Gemal sudah mengejar Alina lima tahu lamanya karena Di yang membawa Hendrik dengan obsesi besarnya.


Di mengambil ponsel Gemal, memperhatikan foto dirinya yang membunuh orang secara membabi buta, foto saat ada di dalam lab membuat senjata, juga obat-obatan berbahaya.


"Siapa dia?" Diana menatap Gemal yang menghentikan laju mobilnya.


"Kamu!"


Diana langsung tertawa, merasa lucu dengan Gemal jika marah tidak terlihat seramnya, tapi lebih lucu.


Alina hidup di luar negeri sebagai putri bangsawan yang memiliki segalanya, Alin tidak pernah muncul di tempat umum karena dia salah satu siswa jenius.


Pekerjaan Alina melakukan penyerangan, mengontrol transaksi penjualan obat, senjata bahkan barang antik secara ilegal.


Alina selalu ada di dalam lab, namun tidak ada satupun orang yang menemaninya begitupun saat pembuatan senjata, sehingga tidak ada yang tahu wajah asli Alina.


Hanya anggota terdekat yang mengenali wajah Alina, tapi mereka semua sudah tewas karena sebuah alasan yang tidak bisa Alin jelaskan.


"Alina tidak memiliki orang tua, saudara, teman, sahabat, dia hanya memiliki dirinya sendiri. Lalu ini siapa Gem?" Di menunjukkan ponsel Gemal yang ada foto Alina.


"Lalu siapa orang yang menggunakan nama Alina? melibatkan kak Hendrik."


"Kamu menganggap aku Diana atau Alina? aku akan bersikap seperti orang yang kamu inginkan." Di memberikan penawaran sebelum bercerita lebih lanjut.


Gemal menghela nafasnya, Gemal meminta maaf atas ucapan yang mungkin menyakitkan bagi Diana, dia juga tidak habis pikir bisa emosian.


"Aku anggap kamu Diana."


"Bagus, sekarang aku akan bersikap seperti anak baik, cantik, mengemaskan."

__ADS_1


"Apa kamu sekarang masih ... tidak mungkin." Gemal melirik Diana langsung menjalankan mobil.


Diana tersenyum, dirinya sudah meyelamatkan banyak nyawa, tidak mungkin dirinya mengecewakan kedua orangtuanya sampai harus melakukan kesalahan yang sama.


"Wanita yang bersama Hendrik kemungkinan besar, wanita yang aku ambil namanya. Dia memiliki kelainan, tapi aku belum bertemu langsung dengannya."


Gemal menganggukkan kepalanya, kelainan yang Diana ucapkan mungkin ada benarnya. Dia memiliki kemampuan yang sama dengan Alina, bahkan sangat hebat dalam pembuatan obat berbahaya.


"Aku pernah melihatnya, tapi wajahnya ditutupi."


"Itu namanya belum melihat bodoh." Diana tertawa melihat Gemal yang kesal karena pembicaranya dipotong.


"Kamu ingin mendengar tidak? aku bertemu dia sekitar lima tahun yang lalu saat ibu keluar dari rumah sakit."


Gemal meminta dia menyembuhkan ibunya, tapi Hendrik meminta Gemal menyerahkan sesuatu yang disita oleh kepolisian. Gemal tidak menuruti keinginan Hendrik, dan mereka menghilang.


"Hendrik dan aku tidak saling mengenal, tapi dia tahu masa laluku. Wanita ini mengendalikan Hendrik untuk mendapatkan sesuatu." Di memikirkan apa yang sedang mereka cari.


Tangan Diana menyentuh jari jemari Gemal, memejamkan matanya membayangkan sesuatu saat operasi Juna soal tusukan.


"Di, apa yang kamu lakukan?"


"Aku memiliki IQ tinggi, satu kali pertemuan tidak mungkin bisa aku lupakan." Diana langsung menghubungi Salsa.


Diana meminta bantuan Salsa untuk mengunjungi Citra di dalam penjara, pasti ada sesuatu yang Salsa miliki tapi tidak dia sadari sehingga Hendrik bertahun-tahun mendekati Salsa.


"Siapa Citra?"


"Nenek lampir, kita ke kantor polisi sekarang." Di melihat tangannya yang masih menggenggam jari jemari Gemal.


Keduanya langsung melepaskan secara spontan, melihat ke arah lain sambil tersenyum konyol.


"Maafkan aku menyebut kamu psikopat."


"Emh ... ucapan kamu benar, tapi itu dulu. Sekarang aku berbeda." Di tersenyum menyakinkan jika dia sudah berubah.


"Di, bantu aku menemukan obatnya ibu?"


Diana menganggukkan kepalanya, pulang dari menemui Citra. Di ingin bertemu ibunya Gemal.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2