
Suasana hening, hari mulai malam Aliya masih menunggu Citra di taman yang terang oleh lampu jalanan.
Sebuah mobil mewah berhenti, Citra keluar langsung mendorong Aliya yang duduk di depan mobil.
"Kenapa kamu bisa bersama Tika?" Nada bicara Citra tinggi.
"Apa yang sebenernya kamu lakukan?" Al juga menatap tidak kalah tajam.
Citra mencengkram kuat pundak Aliya, membentaknya yang beraninya membawa putrinya. Jika sampai Tika dalam bahaya Aliya harus bertanggung jawab mengganti dengan nyawanya.
"Aku rela berpisah dan keluar dari rumah demi melindungi anak-anakku, tapi beraninya kamu membawanya." Kemarahan Citra tidak bisa terbendung lagi, antara marah dan sedih tidak bisa mengakui anaknya.
"Kenapa kamu tidak mempercayai Altha? kalian bisa saling menjaga, jika memang semuanya beresiko." Al menyingkirkan tangan Citra yang menyentuhnya.
Citra tertawa lucu, tidak ada yang bisa Altha lakukan. Sekuat apapun Altha berjuang untuk menemukan bukti, bahkan sekalipun bukti ditemukan tidak akan pernah mudah baginya untuk menghentikan kejahatan.
Bandar, pengedar, pemakai yang sudah tersebar di beberapa kota, bahan dengan bebasnya keluar masuk dalam dan luar negeri.
"Altha bisa menangkap, tapi tidak bisa menghentikan."
"Bukan berarti kamu juga harus ambil bagian, kebahagiaan anak-anak kamu jauh lebih penting. Memori soal keterlibatan kamu sudah ditentukan." Al meminta Citra menarik keputusannya.
"Tidak ada gunanya memori, anak kecil seperti kamu tidak akan tahu apapun soal pemikiran orang dewasa. Aliya, terkadang kita harus kehilangan sesuatu untuk mendapatkan hal yang lebih besar." Citra langsung membuka pintu mobil melihat Putrinya Atika.
Aliya tersenyum sinis, mungkin dia terlihat lebih muda tapi Citra tidak pernah tahu beban berat yang memaksanya untuk dewasa.
Jika orang lain membutuhkan penjelasan, tapi Aliya tidak dia sudah terlalu banyak melihat kejahatan.
Setiap harinya semua yang ada di depan mata Al sebuah kejahatan, bahkan detik ini Al melihat seorang ibu yang memilih menjadi jahat.
Citra mencium kening putrinya Atika, meminta maaf karena tidak bisa tinggal bersama dan memilki waktu untuk bercanda seperti sebelumnya.
Selesai menyentuh putrinya, Citra langsung melangkah pergi dan mengancam Aliya untuk berhenti ikut campur.
"Aku sudah menikah dengan Altha."
"Jangan bermimpi. Altha tidak bisa menikah dengan mudah, apalagi surat resmi perceraian belum keluar."
__ADS_1
"Kamu pikir seorang Altha juga mudah untuk bercerai? apa yang menyebabkan atasannya menerima surat perceraian tanpa alasan yang mendasar? jika kamu memang pintar, pikirkan apa alasannya?" Aliya tertawa lucu melihat keterkejutan Citra.
Aliya mendekati Citra, membisikkan sesuatu jika tidak ada harapan lagi bagi Citra untuk kembali ke dalam rumah tangga bahagianya.
"Jadi Altha memiliki istri muda, jika aku sampai melaporkan ini dia bisa dipecat, ini menjadi kesempatan untuk menghentikan Altha." Suara tawa Citra juga terdengar mengejek Aliya.
Al menunjukkan sesuatu dari handphone, memori yang ada di Altha bukan yang asli. Aliya sudah menukarnya agar Altha tidak mengetahui tujuan Citra.
Wanita muda yang tidak berpengalaman menurut Citra, sebenarnya wanita yang mengetahui apa yang ada di dalam kepala Citra.
Hariz sengaja menjebak Citra dan memanfaatkannya untuk bisa memasukan barang terlarang ke dalam pabrik perusahaan peninggalan Ayah Altha.
Memori yang aslinya berisikan seluruh barang kesepakatan antara Citra dan Haris, meskipun Citra tidak dinyatakan bersalah, tetap saja dia membantu menyembunyikan gudang penyimpanan barang-barang penting.
Bahkan Hariz memiliki akses keluar masuk pabrik dengan mudahnya, hanya satu yang tidak Aliya mengerti mengapa Citra ingin memiliki Roby yang tidak mengetahui apapun soal bisnis ayahnya.
"Kenapa kamu ingin menikahi Roby?"
"Sialan kamu Aliya, maka akan aku berikan satu bocoran." Citra membisikan sesuatu kepada Aliya, langsung melangkah pergi meminta Al merahasiakan dari siapapun.
Mata Aliya melotot, terdiam beberapa saat seakan tidak percaya dengan apa yang Citra katakan.
***
Pintu apartemen tertutup kuat, Citra melempar tasnya sambil menangis bersandar di balik pintu meratapi nasibnya yang merindukan anak-anaknya.
Citra melihat ponselnya, menatap foto anak-anak bersama Altha. Senyuman dan air mata terlihat bersamaan menetes membasahi pipi Citra.
"Kenapa semudah itu kamu menikah Altha? apa tujuan kamu menikahi anak kecil itu? apa benar kamu sudah lama mengawasi aku?" Ponsel terlempar tidak tahu arah, Citra berjalan sempoyongan ke arah kamarnya.
Masih teringat jelas ancaman orang tua Roby yang akan menghacurkan karirnya, juga menyakiti anak-anak jika sampai rahasia terbongkar.
Panggilan masuk, Citra langsung berdiri mencari keberadaan ponselnya. Melihat nama Altha ada di layar, Citra tidak ingin menjawabnya.
Berkali-kali panggilan masuk, Citra masih tetap mengabaikannya. Sampai pesan dari Altha masuk jika dirinya akan menutup pabrik yang sudah berubah fungsi menjadi gudang penyimpanan barang-barang haram.
Cepat Citra menjawab panggilan, meminta Altha berhenti. Jika sampai kepolisian mengeledah pabrik, sudah dipastikan bisnis almarhum ayah Altha akan hancur.
__ADS_1
[Jangan bodoh Altha, bagaimana nasib masa depan anak-anak jika perusahaan gulung tikar? kamu pikir gaji kamu bisa menutupi kerugian, bahkan kamu memiliki istri muda yang bisa membuat karir kamu hancur.] Citra berteriak kuat, meminta Altha mengurungkan niatnya untuk membocorkan keberadaan gudang.
[Aku tidak perduli soal perusahan, jika memang harus hancur. Katakan kepada aku di mana Hariz melakukan pertemuan, jika dalam satu jam kamu tidak menjawab maka kepolisian akan mengeledah pabrik, mungkin besok pagi berita akan heboh.] Altha mematikan panggilan, tidak punya pilihan. Mereka harus menemukan keberadaan Hariz yang sedang melakukan transaksi.
Citra berteriak kuat, dirinya sangat kebingungan dengan tindakan selanjutnya.
Suara bel membuat Citra semakin panik, gedoran pintu semakin kuat membuat Citra cemas.
"Citra ini aku Roby, kita harus bicara."
"Roby." Citra langsung membuka pintu, menatap lelaki di hadapannya yang terlihat memendam amarah.
Roby melangkah masuk, meminta penjelasan kepada Citra apa yang sebenarnya terjadi antara Citra dan Daddy-nya.
"Daddy melakukan kejahatan? kenapa kamu mendukungnya?" nada bicara Roby pelan, tidak memahami pikiran wanita cerdas seperti Citra.
"Aku tidak memiliki pilihan Roby, Daddy kamu memegang kendali." Air mata Citra menetes, memalingkan wajahnya.
Roby menatap foto bayi lucu, melihat wajahnya yang sangat menggemaskan.
"Daddy bohong, aku ingin mendengar langsung dari kamu?"
Citra masih duduk diam, dirinya tidak punya jawaban dari rasa ingin tahu Roby.
"Apa yang Daddy kamu katakan?"
Citra menutup wajahnya mendengarkan penjelasan Roby jika Hariz Purba sudah terang-terangan mengatakan kebenarannya.
"Daddy seorang pengusaha obat terlarang? kamu juga terlibat?"
"Tidak, aku tidak pernah terlibat. Kami hanya melakukan kesepakatan untuk tempat penyimpanan, karena mantan suami seorang polisi, sehingga menggunakan pabrik keluarga Altha agar tidak dicurigai." Citra mengatakan kebenarannya.
"Berarti Daddy tidak bohong soal anak ini?"
"Iya, Daddy kamu mengancam akan mengungkap Ayah dari anakku."
"Bagaimana bisa? ini mustahil."
__ADS_1
***