
Suara teriakan histeris terus terdengar dari kamar Citra, Altha harus ada di sana mendampingi Arjuna yang terlihat terpukul melihat kondisi Mamanya.
Mendengar kabar kepergian Mora membuat Citra lebih histeris lagi, dia tidak terima kehilangan putrinya. Sungguh Citra akan balas dendam kepada Aliya yang membuatnya lumpuh, dan membunuh anaknya.
Altha meminta Juna keluar, dokter juga keluar. Altha ingin bicara berdua dengan Citra, dan berharap Citra mengerti apa yang terjadi.
Air mata Citra menetes, melihat Altha yang duduk berjarak cukup jauh darinya, tidak terlihat lagi kasih sayang di mata lelaki yang dulunya sangat mencintainya.
"Altha, anak kita dibunuh oleh Aliya. Hukum berat dia Alt." Citra berteriak menatap Altha yang hanya diam saja.
Cukup lama Altha diam, menunggu Citra lebih tenang dan meluapkan segala emosinya. Setelah puas mengumpat dan mengutuk Al, barulah Altha meminta izin untuk berbicara.
Alt menceritakan soal kecelakaan yang menimpa Citra, mengakibatkan meninggalnya Roby juga Mora.
"Citra, kamu tidak merasa ini teguran?"
"Apa maksudnya kamu? aku tidak salah, ini semua salah Aliya." Citra berteriak kuat.
Tangan Citra menggenggam tangan Alt, dia sudah kehilangan suami dan anaknya, hanya Altha yang Citra miliki apalagi kondisi Citra yang lumpuh.
"Alt, aku mohon jangan tinggalkan aku. Sekarang aku tidak ada gunanya lagi, aku lumpuh Altha. Hanya kamu yang bisa mengerti aku." Tatapan Citra memohon agar Altha kembali kepadanya.
Perlahan Altha melepaskan tangannya, menyakinkan Citra jika dia bisa sembuh dan kembali berjalan, meskipun membutuhkan waktu.
"Kita bisa kembali lagi seperti dulu Altha."
"Aku tidak bisa, jujur seadanya kita hanya memiliki masalah di masa lalu, aku akan memaafkan, kamu meninggalkan aku dan memiliki laki-laki lain juga aku maafkan, tapi sekarang sudah berbeda. Dulu aku selalu memaafkan, karena aku masih cinta. Sekarang aku mencintai wanita lain." Alt tersenyum kecil.
Alt benar-benar memaafkan keluarga Citra untuk masa lalu, demi anak-anak agar bahagia tidak berpisah dengan ibunya.
Soal Amora juga Altha maafkan, selama ini Altha hanya diam karena masih memikirkan Mora, Alt tidak ingin kehilangan putrinya hanya karena egois
Sudah waktunya Altha mengungkap jika dia tahu semuanya, dan dengan setulus hati memaafkan Citra.
"Altha."
"Citra, kamu boleh anggap aku pria bodoh yang bisa dibohongi. Terima kasih untuk rasa sakitnya."
"Kamu tahu kebenarannya jika aku terpaksa." Air mata Citra kembali menetes.
__ADS_1
Kepala Altha mengangguk, dia tahu semuanya dan tahu kebenarannya jika Citra dan Roby tidak bisa sepenuhnya disalahkan.
Kesalahan Citra hanya satu, dia memilih meninggalkan Altha daripada dia jujur dan mengakui semuanya.
"Aku selalu mengutamakan orang yang jujur, tapi kamu tidak memiliki kejujuran itu."
"Maafkan aku, kali ini aku janji akan memperbaiki semuanya."
Altha hanya bisa menyemangati Citra agar pulih cepat, juga fokus untuk sembuh. Tidak memikirkan soal biaya, karena Altha akan menanggung semuanya.
"Alt kamu tidak bisa kembali?"
"Emh, aku mencintai Aliya dan akan selalu menunggu dia."
"Lebih baik aku mati, daripada kehilangan kamu juga hidup lumpuh." Tatapan Citra tajam.
Senyuman Altha terlihat, langsung berdiri dan melangkah pergi. Citra berteriak jika dia tidak main-main untuk memilih mati.
Altha mempersilahkan Citra mengambil pilihan, jika boleh mengikuti hati yang terluka Altha juga memilih mati, tapi dia memikirkan anak-anaknya.
Memaafkan keluarga Citra, juga kesalahan Citra yang meninggal semuanya Altha lakukan demi anak-anaknya. Alt tidak memikirkan hancurnya hatinya, selama anak-anaknya bahagia.
"Kamu ingin mati, silahkan Citra. Aku akan menjaga anak-anakku dengan nyawaku, jika keegoisan kamu yang hanya memikirkan diri sendiri lakukanlah." Altha tertawa, Citra tidak memikirkan sedikitpun anaknya yang masih sedih kehilangan adik mereka.
Di dalam kamarnya Citra terus berteriak memanggil Altha, dia bersumpah akan menyingkirkan Aliya.
Citra tidak akan membiarkan Aliya merebut apa seharusnya menjadi miliknya.
***
Suara pelan terdengar sedang membacakan dongeng, Atika masih membaca bukunya yang Al belikan, mengusap kepalanya sendiri agar segera tidur.
Al menoleh ke arah Tika, mulutnya masih mengomel, tetapi matanya sudah sayup-sayup dan mulai terpejam.
Tangan Al mendekati paha Tika, menepuknya pelan agar segera tidur. Buku terjatuh di wajahnya Al langsung mengambil dan meletakan di samping Tika.
Senyuman Al terlihat menatap putrinya masih tetap ada disisinya, sungguh sangat tenang hati Al melihat Atika bisa tidur sambil memeluknya.
Suara pintu terbuka, Juna juga melangkah masuk. Duduk di kursi langsung memeluk lengan Aliya sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Mami bangun, Juna harus bersandar dengan siapa? hanya Mami yang mengerti Juna Mi." Air mata Juna menetes, tangannya bekali-kali menghapus.
Al masih saja diam sambil memejamkan matanya, mendengarkan keluhan Juna soal mamanya. Juna kasihan melihat Papanya yang paling tersakiti, sedangkan Mamanya masih egois.
"Apa yang membuat kamu khawatir?" Al menatap Juna yang langsung berdiri dari duduknya.
Tatapan Juna langsung tertunduk ke bawah, dia khawatir tidak bisa memilih antara Mamanya dan Maminya. Juna tidak bisa meninggalkan Mamanya, juga tidak bisa menghacurkan kebahagiaan Maminya.
Al tersenyum, menepuk tangan Juna yang menatapnya tajam. Al hanya meminta Juna tetap fokus kepada Mamanya, dan Al akan mengurus dirinya sendiri.
"Beristirahat Juna, kamu terlalu lelah untuk ikut campur urusan orang dewasa. Setelah Mami pulih, kamu bisa kembali menjadi anak kecil." Al berjanji akan membereskan semuanya.
Juna menganggukkan kepalanya, langsung tidur di sofa untuk beristirahat. Aliya mencoba mencari keberadaan Altha, memeluk Tika yang sedang tidur.
Suara pintu terbuka terdengar, Altha hanya duduk sambil mengusap kepala Juna, mencium keningnya.
Melangkah mendekati Atika, mencium tangan kecil putrinya berkali-kali, mendaratkan ciuman dikening.
"Maafkan Papi ya sayang, kalian harus tidur di rumah sakit." Altha berusaha untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
Al membuka matanya, bertemu dengan mata Altha yang juga melihat ke arahnya.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Baik, perut aku masih sakit. Kali ini aku kembali berhasil melewati kematian, tidak menyangka masih bisa melihat dunia, meskipun suasana yang berbeda." Al ingin tertawa, tapi perutnya masih sakit dan tubuhnya sangat lemas.
Altha tersenyum sinis, menatap Al tajam berbicara sangat pelan.
Nada bicara Altha sungguh membuat Al terkejut, dia ingin membunuh tapi tidak mungkin dia lakukan demi wanita yang dicintainya.
"Jujur aku tidak bisa memaafkan Alin, dia sudah menyakiti putri kecilku. Aku juga tidak bisa membunuh karena mencintai Aliya. Bukannya dunia ini kejam untukku?" Alt tersenyum melihat istrinya.
"Katakan Altha, aku ingin tahu sejauh mana kemampuan kamu?"
"Alina, temukan Aliya. Kamu harus membayar kesalahan yang sudah kamu lakukan kepadanya. Temukan istriku Alina." Alt menatap penuh amarah.
Kening Al langsung berkerut, besarnya cinta Altha sampai bisa dengan mudah menyadari jika yang ada dihadapan Alina bukan Aliya.
***
__ADS_1
R: Thor udah dong konfliknya ðŸ¤ðŸ¤
A: Iya, sabar ya. Belum puas lihat konfliknya.😂