
Diana dan Gemal menemani Arjuna pergi ke sekolah untuk pertama kalinya, Di mengirimkan foto kepada Aliya agar tidak terlalu memikirkan putranya.
Bukan hanya Gemal Diana yang menemani Juna, Calvin dan Jessi juga secara langsung mengantarkannya ke sekolah barunya.
Mam Jes berlari kencang, mengetuk pintu mobil putranya dengan nafas ngos-ngosan. Diana langsung mengambil minum untuk Mama mertuanya.
"Ada apa Ma?" Gemal meminta Mamanya masuk dan duduk.
"Juna, tidak diterima sebagai siswa, karena tingkat pembelajaran yang sudah terlalu tinggi." Mam Jes menghabiskan minuman.
Diana tersenyum, Mam Jes tidak harus terkejut. Arjuna pintar mengikuti darah Citra yang memang memiliki IQ tinggi, hanya saja Citra salah jalan sehingga dirinya memiliki kehidupan yang berbeda.
Kecerdasan Juna sudah lama Aliya dan Diana sadari, sejak pertama bertemu. Juna dewasa sebelum waktunya, sama seperti Diana dan Aliya.
Kerja otak mereka sudah melampaui kecerdasan anak seusianya, sehingga jika salah didikan maka bisa menyalahgunakan kepintarannya.
"Lalu bagaimana Ma?" Gemal melihat Juna keluar dari sekolah bersama Calvin.
"Mau bagaimana lagi? Juna langsung kuliah, dan berada di di tingkat siswa berprestasi." Mam Jes langsung menghubungi pelayan untuk menyambut kepulangan Juna.
"Ma, kita masih harus ke pemakaman."
"Kalian saja yang pergi Gemal, Mama harus menyiapkan masakan spesial untuk Arjuna." Mam Jes langsung keluar mobil, memeluk Juna yang sangat pintar.
Kening Gemal berkerut, menatap Diana yang hanya nyengir. Mam Jes langsung betah di rumah sejak kehadiran Juna.
Akhirnya Gemal hanya pergi bersama Papanya, dan Diana untuk berkunjung ke makam keluarga, sekaligus memberitahukan susunan keluarga.
"Pa, sebaiknya kemampuan Juna dirahasiakan."
"Ini bukan pertama kalinya Gemal, kamu tidak perlu khawatir. Altha sudah menduga jika putranya memang sangat jenius." Calvin tersenyum, tidak terkejut sama sekali.
"Bukan pertama, berarti ada yang lainnya." Di menganggukkan kepalanya.
Calvin tersenyum melihat menantunya yang langsung bisa menebak, Calvin membenarkan jika ada beberapa siswa lain yang melewati jalur beasiswa dari keluarga Leondra.
Setiap tahun Leondra membiayai sekitar sepuluh siswa berprestasi, Calvin sudah biasa menemukan siswa jenius.
__ADS_1
"Apa Genta salah satu siswa jenius Pa?" Di menatap mertuanya yang menganggukkan kepalanya.
"Bukan hanya Genta Di, tapi pria di samping kamu juga mengambil jalur beasiswa, dan berhasil mendapatkan kesempatan menjadi salah satu siswa terbaik pada masanya." Calvin melihat ke arah Gemal yang tersenyum bangga kepada dirinya sendiri.
Diana cukup kaget, Gemal ternyata siswa yang pintar, Calvin berpikir Gemal akan menjadi dokter yang hebat, tapi siapa yang menyangka dia memilih pekerjaan berbahaya.
"Kenapa Ayang tidak menjadi dokter?"
"Kak Hendrik sudah menjadi dokter, dan mengecewakan ibu. Aku tidak ingin memiliki pilihan menyelematkan, tapi mengkhianati banyak orang." Gemal ingin menjadi pembela kebenaran, karena zaman sudah berubah. Anak muda banyak yang keluar jalur.
Senyuman Calvin terlihat, setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih yang terbaik. Pekerjaan Gemal berbahaya, tapi dia bisa mengendalikan kecerdasan di dalam pekerjaan.
"Gem, di atas langit masih ada langit, sehebat apapun kita, jika berada di jalan kejahatan pasti akan hancur. Berjuang dengan proses jauh lebih luar biasa. Orang cerdas memiliki tuntutan tinggi." Calvin menceritakan banyak siswa berprestasi yang mengakhiri hidupnya.
Orang-orang pintar, tidak selamanya bahagia. Mereka sedang melawan diri sendiri, dan menghukum dirinya sendiri.
"Orang jenius, tidak menerima kegagalan." Di menatap Gemal yang kaget.
"Diana benar, hidup tidak ada gunanya jika ada kata gagal. Kematian bukan sesuatu yang menakutkan, karena ketakutan sesungguhnya sebuah kegagalan." Calvin kagum dengan cara didik Aliya yang sangat ketat kepada Juna.
Demi menjaga mental, Aliya tetap memperlakukan Juna layaknya anak normal, menanamkan kegagalan daripada keberhasilan.
"Bagaimana nasib anak Gemal jika dia jenius? kasihan sekali kamu Nak." Kepala Gemal geleng-geleng.
"Gem, Papa lebih khawatir jika anak kamu nakal seperti kamu. Otaknya mengikuti Diana, nakalnya mirip kamu, bayangkan saja." Suara Calvin tertawa terdengar.
"Jangan membuat takut Pa, bisa mati muda Gemal jika dia meledakkan rumah, mending rumah sendiri, nanti rumah tetangga, sekolah, rumah sakit, kantor polisi." Gemal langsung menepuk wajahnya berhenti membayangkan.
Diana membisikkan suaminya agar berhenti nakal dan jahil, terkadang karma berlaku jika anak bukan hanya rezeki, tapi ujian.
"Anak cerminan diri Gem, biasanya pintar ikut ibunya, karakter ikut Ayahnya."
"Bohong, buktinya Gemal tidak mirip siapapun?" Wajah Gemal terlihat kesal.
Suara tawa Calvin terdengar, kenakalan Gemal dapat dari Jessi. Saat muda Jessi Putri semata wayang yang sulit diatur.
Dia selalu berhasil melarikan diri dari rumah, bahkan tidak segan-segan menghilang berhari-hari. Kedua orang tuanya, membayar puluhan pengawal, tapi masih belum mampu menjaga Jessi.
__ADS_1
"Saat kami menikah, Jessi masih sering kabur-kaburan sampai Papa menghacurkan beberapa bar, sampai Mama kamu berhenti."
"Seharusnya Papa tidak menikahi Mama, merusak keturunan saja."
"Namanya juga cinta, kamu juga kenapa menikahi Diana?" Calvin menatap sinis.
"Ya cinta, meksipun Diana manusia siluman, akan tetap Gemal nikahi." Suara tawa Gemal terdengar.
Diana langsung memukuli suaminya, karena Di bukan siluman seperti yang Gemal bicarakan. Dirinya tidak merusak keturunan sama sekali.
Mobil tiba di pemakaman keluarga Leondra, Diana langsung terdiam karena banyak sekali orang-orang kepercayaan yang dimakamkan di tempat keluarga.
Orang-orang yang setia, dari generasi ke generasi. Genta juga salah satu cucu pengawal yang dibesarkan oleh Calvin, karena Genta kehilangan kedua orangtuanya saat kecil.
"Apa mereka semua keluarga Leondra?"
"Siapapun yang setia, bagian dari keluarga. Dan penjaga tempat ini juga orang dalam." Calvin tersenyum melihat beberapa orang menundukkan kepalanya.
"Genta, sapa kedua orang tua kamu."
"Baik tuan." Genta langsung melangkah ke tempat pengawal setia.
Diana mengikuti Gemal ke pemakaman kakek neneknya Gemal, dan mengirimkan doa. Sesekali Calvin bercerita soal keluarganya yang sangat disegani.
"Pa, apa benar soal sejarah keturunan hanya satu?" Di menatap mertuanya yang terdiam sesaat.
Calvin menganggukkan kepalanya, meksipun dirinya tidak mempercayai sepenuhnya. Namum dirinya membuktikan sendiri, jika Gemal satu-satunya keturunan Leondra.
"Bagaimana jika itu tidak benar?" Di menundukkan kepalanya.
"Sesuatu bisa kamu katakan benar dan tidak, jika membuktikan sendiri. Buktikan, jika generasi ke enam lebih dari satu." Calvin menatap Gemal yang tersenyum lebar.
Dirinya akan membuktikan jika keluarga Leondra memiliki kesetiaan yang besar, tapi tidak benar jika hanya memiliki satu generasi.
"Bagaimana jika anak Gemal ada dua?"
"Pertanyaan Papa kamu bisa menjaga keduanya? jangan karena Diana kembar, kamu bisa berpikir memiliki anak kembar juga." Tangan Calvin memukul putranya yang kebanyakan berkhayal.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira