ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BANGKIT KEMBALI


__ADS_3

Setiap hari Gemal dan Diana berdebat soal pemeriksaan ke dokter, sudah satu minggu Di melewatkan jadwal periksa.


Siapapun yang membujuknya tidak mendapatkan tanggapan baik, Di tetap menolak untuk memeriksa kandungannya.


Diana tidak ingin stress hanya karena hasil pemeriksaan, Di ingin menikmati proses kehamilannya tanpa beban pikiran.


Terlalu banyak pikiran membuat Di memiliki banyak ketakutan, sementara waktu Diana menunda segala proses pengobatan dan kembali ke aktivitasnya.


"Mulai hari ini Diana akan kembali ke rumah sakit." Di meyakinkan dua keluarga yang hanya bisa membiarkan Diana melakukan apapun yang membuatnya bahagia.


Selama empat bulan, Diana hanya fokus soal kehamilannya dan melupakan tugasnya sebagai seorang dokter.


"Di, aku tidak setuju sayang, kehamilan kamu beresiko. Aku lelah berpura-pura seakan-akan kita baik-baik saja." Suara Gemal meninggi, tetap menentang Diana.


"Kak Gemal stres memikirkan Diana, lalu bisa membayangkan posisi Di. Kak Diana juga lelah, dan ingin seperti wanita lain yang hamil tetapi tetap melakukan kesehariannya." Di mengatakan semua keluh kesahnya yang dirinya tahan.


Kepala Gemal tertunduk, langsung melangkah pergi tidak bisa ambil suara lagi. Diana yang merasakan, dirinya hanya ingin mencoba menjaga, tapi yang tahu terbaik hanyalah Di.


Anggun meminta Diana tenang, dan bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari. Jika Diana ingin bekerja, Anggun akan mendukung, dan membantu Di menjaga kandungannya.


Senyuman Mam Jes juga terlihat, mengusap perut Diana. Meminta Di menikmati setiap harinya, namun tidak melupakan soal kandungannya.


"Di, kamu yakin Nak?"


"Iya Daddy, Diana hanya tidak ingin terlalu berfokus kehamilan. Satu Dokter meminta digugurkan, dua dokter juga begitu, tiga, empat, lima. Diana terpukul Daddy, Di merasa anak Diana sama seperti nasib Di tidak diinginkan lahir." Tangisan Diana langsung tumpah, Anggun juga langsung menangis memeluk Putrinya.


Mata Dimas langsung merah, mengusap kepala Putrinya yang sudah menangis sesenggukan. Dimas sangat menyayangi Diana, begitupun dengan calon cucunya.


Semua orang sedih, sangat terpukul dengan kondisi Di, tetapi jika harus membuat Diana stres, keluarga mendukung apapun keputusan Di.


"Sudah jangan menangis, kita meminta maaf karena terlalu egois tanpa memikirkan perasaan kamu. Kami juga ingin yang terbaik, tapi Diana tahu yang lebih baik untuk Di dana calon baby. Lakukan apapun yang membuat bahagia, tidak ingin periksa tidak masalah." Calvin menenangkan Diana.


Seluruh keluarga menyetujui keputusan Diana untuk tidak mengecek kondisi kehamilannya, dengan perjanjian Di akan langsung periksa jika kondisi tubuhnya memburuk.


Dada Anggun terasa sesak, membiarkan Diana bebas seperti saat dirinya belum hamil.


Di dalam kamar Diana tersenyum, membuka bajunya melihat perutnya. Pelukan Di sangat lembut, berbicara dengan kedua anak kembarnya.


"Mimi meminta maaf sayang, bukan Mimi tidak ingin tahu kondisi kalian, tetapi terlalu berat bagi Mimi untuk menerima berita buruk." Tangan Diana mengusap perutnya.

__ADS_1


Pelukan dari belakang membuat Diana kaget, Gemal mengusap perut mencium pipi Diana bekali-kali.


Tangan Diana, mengusap kepala suaminya. Di merasa kasihan melihat Gemal yang pastinya sama stres memikirkan kondisi twins dan Dirinya.


"Ayang, jangan terlalu banyak beban pikiran, nanti kamu ubanan."


"Sayang, aku bukan hanya ubahan, tetapi hampir botak." Gemal membalik tubuh Diana, langsung memeluk perut Di, meletakkan telinganya.


Cukup lama Gemal berbicara dengan anaknya, tangan Diana hanya mengusap rambut sambil tertawa mendengar lelucon suaminya.


Mendengar Gemal tertawa, Diana merasa bahagia. Biasanya mereka berdua menangis memikirkan kondisi baby twins.


"Pipi Gem, kenapa semakin tampan?"


"Tidak mau dipanggil Pipi, panggil Ayah."


"Mimi dan Ayah, jelek sekali." Di mengerutkan keningnya.


"Pipi ini, Mimi itu ini." Gemal mencium wajah Diana, dan mencium dadanya.


Pukulan Diana mendarat, Gemal masih mempunyai pikiran kotoran. Sudah tua masih ingin menyusu, tidak malu sebentar lagi menjadi Papa.


"Gemal, jangan menganggu." Di langsung menatap sinis.


"Kangen, pengen dipeluk, dicium, dipuaskan." Tawa Gemal terdengar, langsung memeluk Diana, menarik ke atas tempat tidur.


Mata Diana terpejam, mendengar suaminya berbicara serius. Suara lembut Gemal membuat hati Diana tenang dan sangat mengerti kekhawatiran Gemal.


"Di, dalam pernikahan pasti sangat mengharapkan kehadiran buah hati, tapi tidak ada gunanya jika banyak pikiran. Aku hanya ingin bersama kamu, dan ada tidaknya anak cukup doa kecil yang selalu kita selipan di dalam hati. Kesehatan, keselamatan kamu segalanya untuk aku." Keputusan Diana tidak periksa membuat Gemal berpikir, Diana ingin meninggalkan dirinya.


Tidak banyak yang Gemal inginkan, meminta Diana tetap konsultasi kepada Salsa, menceritakan kondisi tubuhnya setiap ada perubahan.


Kepala Diana langsung mengangguk, berjanji kepada Gemal jika dirinya akan tetap menemui Salsa, meminta pendapat untuk kebaikan dirinya.


"Terima kasih sayang, aku tahu perjuangan panjang ini melelahkan. Izinkan aku selalu ada di sisi kamu." Bibir Gemal mengecup sekilas bibir istrinya.


"Iya Ayang, Diana berjanji tidak akan merahasiakan apapun. Di akan menjaga diri sendiri dan buah hati kita. Jika nanti Diana gagal menjaganya, kita berdua tidak boleh kecewa." Tubuh Diana masuk ke dalam pelukan suaminya.


Hati Gemal langsung tenang, sangat mempercayai Diana akan menepati janjinya.

__ADS_1


***


Pagi-pagi Diana sudah sibuk mengurus pakaian Gemal, juga mempersiapkan bajunya untuk berangkat bekerja.


"Sayang, hati-hati jalan di kamar mandi." Gemal langsung memakai bajunya.


"Iya Ayang, Diana sudah mandi subuh tadi gara-gara kamu yang tidak bisa menahan diri." Di langsung membantu menyiapkan sepatu.


Senyuman Gemal terlihat, membiarkan istrinya mengomeli dirinya. Sudah menjadi sarapan pagi, mendengar ocehan Diana.


Diana langsung keluar kamar, menyapa Papa mertuanya yang sudah rapi, mencium pipi Mam Jes yang juga sudah cantik.


"Pa, Ma, ayo kita sarapan." Gemal langsung berjalan ke meja makan.


Diana menyiapkan sarapan Gemal, langsung duduk di samping suaminya. Makan satu piring berdua, Diana menyuapi Gemal yang sibuk melihat ponselnya.


Mam Jes cemberut, suaminya yang dingin masih makan sambil matanya melihat tablet. Diana dan Gemal sibuk dengan dunia berdua.


"Bisa tidak makan lepaskan ponsel dan tablet, jika tidak meja ini pindahkan ke depan TV." Mam Jes langsung berhenti sarapan.


"Sudah tua jangan mudah ngambek, nanti keriput bertambah." Senyuman Calvin terlihat menatap istrinya.


Diana dan Gemal juga tertawa, sikap Mama dan Papanya masih sama-sama hangat. Meksipun sudah puluhan tahun menikahi, masih terlihat seperti pengantin baru.


"Sayang, aku pergi kerja dulu. Pa, Gemal titip Diana."


"Kamu pikir perkejaan aku menjaga istrimu." Kening Calvin berkerut, mengabaikan Gemal yang masih mengomel.


Diana juga langsung pamit kerja, Calvin memanggil supir Diana. Meminta membawa mobil sangat pelan, dan berhati-hati.


Senyuman Diana terlihat, mertuanya masih saja mengkhawatirkan cucunya sampai menyiapkan supir pribadi.


Tiba di rumah sakit hati Diana sangat bahagia, langsung memulai pekerjaannya dengan bertemu pasiennya.


"Ayo sayang, kerja bersama Ama."


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2