
Dari depan pintu Shin mendengar suara Tika menangis, bersahabat sekian lama baru pertama kali Tika menangis sesenggukan tidak ingin kehilangan lagi. Di mata Shin sahabatnya wanita yang kuat, dan tidak mudah berlinang air mata.
Melihat Tika yang terpukul, Shin sadar besarnya rasa cinta kepada Kakaknya. Dan berharap keduanya bisa mendapatkan restu, juga memulai hidup bahagia.
"Tika, kenapa menangis?" Genta terbangun, mengusap air mata wanita yang ada di sisinya.
"Kenapa tidak pernah mengatakan apapun jika sedang sakit? Om tua jahat sekali kepada Tika."
Genta langsung duduk, memeluk Tika yang sangat khawatir. Genta juga tidak tahu dirinya sakit apa? tubuhnya sehat dan tidak pernah sakit. Saat ingin kembali memang flu, kepala juga pusing tapi masih bisa diobati.
Kemungkinan tubuhnya belum pulih total, Genta meminta maaf jika membuat Tika panik. Mimisan memang sesekali terjadi, tapi hanya saat dirinya terlalu lelah.
"Sudah jangan menangis, aku binggung cara mendiamkannya." Pelan-pelan Genta melepaskan infusnya, mengusap punggung menenangkan perasaan khawatir Tika.
"Janji dulu, apapun keluhan Tika menjadi orang pertama yang harus tahu." Jari kelingking Tika menyentuh kelingking Genta.
Kepala Tika mengangguk, berjanji akan mengatakan apapun yang dirasakan tubuhnya. Hal yang membuat Tika khawatir tidak akan terulang lagi.
Ketukan pintu terdengar, Tika mengusap air matanya melepaskan pelukannya melihat Shin datang membawakan obat.
Senyuman Genta terlihat, menutupi tangannya yang berdarah karena melepaskan infus. Senyuman Shin juga terlihat, mengobati tangan Kakaknya. Tubuh Shin bergetar, menahan air matanya.
Genta memeluk Shin yang langsung menangis kuat, memeluk erat Kakaknya merasakan khawatir dan terasa separuh nyawanya hilang.
"Maafkan Kak Gen sudah membuat kamu khawatir, janji ini tidak akan terjadi lagi." Genta mengusap air matanya yang mendadak keluar.
Melihat dua bersaudara menangis, Tika langsung memeluk keduanya sangat erat mengusap punggung Shin agar tenang.
Pintu terbuka Diana masuk melihat tiga orang berpelukan, Aliya juga tersenyum menatapnya. Sudah lama mengenal Genta, pertama kalinya terlihat menangis. Bahkan kepergian Kakek Ken masih menahan kesedihannya.
"Sudah, jangan sedih lagi. Genta baik-baik saja, dia hanya demam." Aliya mengusap kepala Shin dan Tika yang menangis sesenggukan.
"Maafkan Genta membuat khawatir,"
"Kenapa infusnya di lepas? kita semua keluarga. Bagaimana tidak panik kamu terluka?" Di mengusap kepala Genta, memintanya banyak istirahat.
__ADS_1
Suara tangisan dari depan pintu terdengar, Genta mengusap air matanya. Turun dari atas tempat tidur mendekati Isel yang menangis menyembunyikan wajahnya.
"Kenapa menangis?" Genta menggendong Isel yang matanya berlinang air mata.
"Isel tidak mau kehilangan Uncle sama seperti kehilangan Kakek." Pelukan tangan Isel erat, mencium wajah Genta takut tidak bisa melakukannya lagi.
"Uncle baik-baik saja, tubuh kita sama seperti mesin ada masa rusaknya, Uncle hanya sakit biasa." Genta mengusap air mata Isel agar berhenti menangis.
"Om ganteng sakit apa? Ria juga sedih lihat Om sakit. Tidak ada yang menemani Ria beli jajan lagi, jalan-jalan, dan tidak ada yang menjaga Ria." Tangan Ria mengusap air matanya, menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya.
Sekuat tenaga menahan air matanya agar make up di wajahnya tidak luntur, tapi perasaanya tidak bisa bohong menyayangi Genta yang selalu ada untuknya meksipun sikap Genta dingin.
"Sudah jangan menangis, nanti make up luntur." Genta mengusap kepala Ria yang menganggukkan kepalanya.
Pukulan di wajah Ria terdengar, mengipas wajahnya agar air mata tidak merusak make up-nya.
Aliya hanya geleng-geleng melihat Putrinya yang sangat menjaga penampilan, tidak mengizinkan sedikit saja penampilan rusak.
Tangan Genta memanggil Ian, Gion, Dean, dan Juan yang mengintip. Keempat anak berjalan bersama memeluk Genta yang dikabarkan sakit.
"Iya Uncle, Gion sedih tidak punya teman lagi untuk mencari tempat memotret yang bagus. Tapi Uncle pasti cepat sehat karena dijaga dua wanita cantik. Uncle tahu tidak artinya cinta segitiga?" Gion tersenyum menatap Genta yang mengerutkan keningnya melihat Tika dan Shin yang sama kagetnya.
Semuanya melangkah masuk ke dalam kamar, Genta bersandar di ranjang. Menjelaskan kepada Gion untuk mempelajari apa yang pantas dan belum sesuai umurnya.
Diana, Tika, Aliya dan Shin keluar. Membiarkan Genta bersama anak-anak yang sedang mengobrol bersama. Melihat Genta sudah bisa bicara, pasti anak-anak senang tidak merasa khawatir lagi.
"Gimana keadaan Genta?" senyuman Gemal melihat istrinya.
"Mengobrol bersama anak-anak ...." Diana tercengang kaget mendengar teriakkan Ria dan Isel yang pastinya bertengkar.
"Astaghfirullah Al azim, bisa jantungan Aliya. Baru dua wanita, bagaimana jika banyak?" Al melangkah pergi bergabung dengan yang lainnya.
Diana dan Gemal mengusap dada, mulut Putrinya sangat besar dan tidak ada takutnya dengan yang lebih tua.
"Anak kamu itu Gemal!"
__ADS_1
"Anak kita sayang, apa mau menambah tiga lagi?" tawa Gemal terdengar, menjahili istrinya.
Senyuman Tika dan Shin terlihat, menatap pasangan suami istri yang selalu bertengkar, cepat juga akurnya dan saling menjahili.
"Shin, ada yang ingin aku katakan, tapi kamu jangan marah apalagi kecewa. Tika tidak pernah berniat hubungan kita renggang." Wajah Tika terlihat serius, menggandeng tangan Shin menuju kamarnya.
Melihat keseriusan Tika, Shin hanya menganggukkan kepalanya mengikuti dari belakang. Shin sudah mengetahui apa yang ingin Tika katakan, tapi memilih diam agar sahabatnya jujur.
"Duduk Shin, minum juga,"
"Langsung saja Tika, ada masalah apa?"
"Sebenarnya ini bukan masalah, Tika tidak mengerti perasaan bisa seperti ini. Tika ingin jujur sama kamu." Tarikan napas terdengar dalam, Tika duduk di samping Shin menggenggam tangannya.
"Apa kamu pernah bohong? apa kamu juga menyembunyikan sesuatu?" Shin terlihat khawatir, meminta Tika cepat mengatakannya.
Jantung Tika berdegup kencang, mengusap dadanya berkali-kali mengatur napasnya agar terlihat lebih tenang. Entah kenapa perasaanya sangat gelisah.
Pelan-pelan Tika menceritakan jika dirinya mencintai seorang pria, mereka berdua sudah berpacaran namun masih disembunyikan tidak ingin ada yang tahu.
"Dia pria tampan, mandiri, kuat, pesonanya membuat Tika meleleh. Aku sangat mencintai dia Shin."
"Apa kamu berpacaran dengan Andre? hanya dia pria yang saat ini sering muncul. Aku tahu kamu tidak mudah dekat dengan pria, apalagi jatuh cinta." Shin mengerutkan keningnya mencoba berpikir.
"Oh tidak! tidak mungkin. Pacar Tika lebih tampan dari itu, dia sangat tampan."
Kepala Shin mengangguk, bisa membayangkan betapa luar biasanya pria yang berhasil meluluhkan hati Atika.
"Pria itu Kak Genta, aku mencintai Kakak kamu." Tika memejamkan matanya tidak ingin menatap Shin yang kemungkinan marah kepadanya.
Suasana langsung hening, Shin mengambil minuman langsung menghabiskannya. Tika sudah duduk menjauh, tidak ingin mendapatkan pukulan.
"Aku mencintai Kak Gen, tapi aku juga sayang kamu. Kita bertiga bisa hidup bersama." Tika langsung lompat ke atas tempat tidur melihat Shin memukul meja.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira