ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
JODOH


__ADS_3

Beberapa helikopter di terbangkan, suara tangisan dari dalam keranjang balon terdengar bersahutan.


"Jangan menangis Isel, banyak berdoa saja." Ria teriak-teriak memanggil Papinya, takut dengan ketinggian.


"Isel banyak dosa, nanti tidak diterima." Tangisan Isel semakin kuat, melihat balon satu-persatu pecah.


Genta terjun dari helikopter, melempar pengaman ke arah Ria, meminta tenang. Genta meminta Ria, menjaga Isel agar tidak semakin takut.


"Isel tidak takut, Kakak Ria yang takut." Isel teriak, meminta Genta menggendong.


"Pakai pengamanannya, Isel jaga Kakak Ria." Senyuman Genta terlihat menatap Isel yang lebih pemberani.


"Kakak pakai pengaman ini, nanti kita jatuh, mati." Isel membantu Ria yang sudah gemetaran.


"Semua gara-gara kamu, awas jika Ria sampai jatuh." Air mata menetes membasahi pipi.


Tangan Genta mencapai keranjang balon, meminta Ria mendekat. Tangan Ria sudah dingin memeluk erat Genta sambil menangis histeris.


"Pejamkan saja mata kamu, Kak Genta pastikan kita turun ke bawah dengan selamat." Tepukan lembut terasa.


Senyuman Genta terlihat, menatap Isel yang mengusap air matanya. Menunjukkan keberanian meskipun dirinya masih kecil.


"Ayo Isel, lompat." Genta menyambut tubuh Isel. Balon terbang tinggi, Genta memberikan instruksi untuk menurunkan mereka.


Di bawah hotel sudah ramai, Diana dan Aliya sama-sama tegang begitupun dengan Altha. Hanya Gemal yang tidak bisa berhenti tertawa, merasa konyol melihat tingkah laku Putrinya yang terlalu nakal.


Kaki Genta menginjak tanah, melepaskan dua wanita yang sama-sama masih menangis. Altha mendekat memeluk Ria erat, membuka pengaman.


Tangisan Ria pecah, dia takut ketinggian. Altha memeluk erat menenangkan Putrinya yang ketakutan sampai gemetaran.


Shin memberikan air minum untuk Ria yang masih menangis, sedangkan Isel berada dalam gendongan Genta.


"Gemal, anak kamu dalam bahaya ditertawakan." Papa Calvin memukul punggung Putranya.


"Papa, Isel takut." Kedua tangan Isel memukul Gemal yang masih cekikikan mentertawakan dirinya yang terbang.


"Kenapa juga kamu punya pikiran naik balon? itu bukan balon udara Nak." Gemal mengusap kepala Isel yang mengamuk.


"Salah Kak Juan yang membuatnya." Isel menunjuk ke arah Juan yang menundukkan kepala merasa bersalah.

__ADS_1


"Apa ini Juan, kamu tahu bahaya permainan ini?" Alt bicara lembut, menatap Putranya yang menganggukkan kepalanya.


Juan tidak bermaksud mencelakai kedua Adiknya, Isel bertanya apa balon bisa terbang? maka Juan membernarkan karena ada udara. Isel juga mempertanyakan apakah manusia bisa naik balon, dan Juan menjawab Iya namun ada balon khusus.


Rasa penasaran Isel ingin melihat contoh balon udara, Juan menggunakan peralatan seadanya dan juga balon yang tersedia.


"Juan tidak tahu jika mereka menaiki balon, apa yang dibuat hanya sebagai contoh. Juan minta maaf, ini memang kesalahan Juan yang sudah membahayakan." Kepala Juan semakin tertunduk, air matanya sudah menetes mengenai tangannya.


Melihat Juan menangis, Altha langsung memeluknya memaklumi kesalahan Putranya yang lupa memperingati jika balon yang dia buat berbahaya.


"Jangan menangis sayang, kita manusia biasa yang pastinya akan membuat kesalahan." Alt mengangkat wajah Juan, mengusap air matanya.


"Ini salahnya Isel saja, Kakak Juan jangan menangis. Isel yang salah, soalnya nakal." Isel memukul tangannya sendiri agar Juan berhenti menangis dan tidak menyalahkan diri sendiri.


Senyuman Isel terlihat, memeluk lengan Juan agar tersenyum. Isel tidak bermaksud menyalahkan siapapun karena kenakalannya.


"Kamu terluka?"


"Belum, tapi kalau sampai jatuh mati Isel." Senyuman lebar terlihat, memohon agar Juan tersenyum.


Senyuman Juan terlihat, barulah Isel bernapas lega memeluk Kakak sepupunya yang sebenarnya sangat menyayangi dirinya juga menuruti apapun yang Isel inginkan.


Tatapan mata Juan melihat Ria yang masih menangis dalam pelukan Aliya, mendekatinya mengusap kepala Adiknya dan meminta maaf.


"Maafkan Kak Juan, jika bisa ditukar biar aku yang terluka." Juan memeluk adiknya yang menangis sesenggukan.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, Dean menarik pundak Ria yang menangis begitupun dengan Juan yang masih merasa salah.


"Kenapa kalian?" Dean melihat si kembar menangis.


"Ria terbang, gara-gara balon,"


"Balon ... oh balon yang aku ikat di keranjang. Kamu ada di dalamnya Ria?"


Tatapan mata Ria dan Juan sama tajamnya melihat ke arah Dean yang ternyata mengikat balon di keranjang tanpa tahu jika ada orangnya.


"Kak Dean hampir membunuh Ria!"


"Mana aku tahu, Dean pikir memang akan diterbangkan makanya Juan membuatnya." Kedua pundak Dean terangkat.

__ADS_1


"Isel juga ikutan terbang,"


"Kamu juga Sel, seharusnya tadi aku ada di sini. Bisa di video, lumayan untuk menyimpan moments lucu." Dean langsung tertawa, dan diam saat si kembar memukulnya.


Senyuman Shin terlihat menatap keluarga yang kumpul, hanya Juna yang tidak terlihat. Keluarga yang ada di depan mata Shin sangat harmonis. Kebahagiaan Shin juga terlihat saat menatap sahabatnya yang sedang tersenyum manis menatap cincin di jari manisnya.


"Aunty, bagaimana kondisi Isel?" Ian dan Gion baru muncul mencari keberadaan adiknya.


Tangan Shin menunjuk ke arah Isel yang sudah lari-larian tanpa beban pikiran. Isel sudah aktif kembali, bermain lompat-lompat tanpa memikirkan bahaya yang baru terjadi.


"Isel jauh lebih kuat dari dugaan kita." Shin tersenyum mengusap kepala si kembar beda wajah.


Alt meminta semuanya masuk hotel untuk makan bersama, bersyukur karena dua anak bisa turun dengan selamat.


"Berhentilah menatap cincin Tika, nanti mata birunya hilang." Di menggelengkan kepalanya menatap Tika yang mirip orang gila tersenyum sendiri.


"Syirik saja, kenapa tidak punya ya? Tika sudah punya Yayang." Tawa Tika terdengar, merangkul Shin untuk masuk ke dalam.


Meksipun nanti Tika dan Genta menikah, Shin harus ikut dengannya. Tinggal bersama, bukan hanya sebagai sahabat namun saudara.


"Tik, bagaimana rasanya?"


"Happy, very happy. Aku bahagia akan segera menikah,"


"Apa kamu sudah siap menjadi Ibu?"


Langkah Tika terhenti, menganggukkan kepalanya namun jika bisa Tika ingin menunggu Shin menikah. Mereka tumbuh bersama, dari dalam kandungan Tika dan Shin sudah bersahabat, lahir dan dipertemukan.


Meskipun Atika menikah lebih dulu, dia ingin memiliki anak secara bersamaan, hamil bersama, melahirkan lalu menjadi Ibu.


"Anak kita nanti juga best friend,"


"Kenapa keinginan kamu mengerikan Tik? menikah itu kesiapan diri, jika kamu menunggu aku sampai kapan. Shin belum terpikirkan." Kepala Shin geleng-geleng menatap Tika yang cemberut.


Tangan Tika menahan pergelangan Shin, menatap matanya meminta Shin menceritakan soal lelaki yang dicintainya. Sebelum Tika menikah, dia ingin menemukan pria itu untuk tahu statusnya.


"Jodoh itu tidak akan datang jika kamu tidak berjuang,"


"Aku percaya jodoh sudah ditentukan, dan shin tidak peduli kapan datangnya." Lidah Shin terjulur, tidak sengaja menabrak seseorang yang matanya tajam melihat ke arah Shin.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2