
Aliya tiba di sebuah rumah kecil, langsung mengetuk pintu. Seorang pria membukakan dan menatap Aliya penuh rasa takut.
"Aku Aliya, putri yang tersisa dari kasus pembantaian belasan tahun yang lalu." Al bicara pelan, dia datang bukan untuk membuat keributan, tapi meminta penjelasan.
Aliya melihat keadaan rumah yang berantakan, duduk diam mendengar penjelasan lelaki paruh baya yang menyaksikan kejadian.
Belasan tahun yang lalu memang benar sudah terjadi pembantaian, disaksikan secara langsung oleh ayah Citra. Dia orang yang diperintahkan istrinya untuk mengantar pengantin baru bersama keluarga kecilnya.
Saat pintu terbuka, gadis kecil berusia lima tahun berdiri menyentuh tangan ayahnya, tapi diabaikan.
Senyuman gadis kecil yang menakutkan, Ayah Citra tidak berani masuk saat mendengar keributan.
Pertengkaran sepasang suami istri di saksikan oleh seluruh orang yang tinggal di rumah, mereka semua menjadi saksi hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga.
Gadis kecil yang membuka pintu mengeluarkan senjata dan diarahkan kepada ibunya, suara tembakan terdengar dan dalam hitungan detik gadis kecil menghabisi puluhan orang.
Secara tiba-tiba, muncul wanita aneh yang juga menembak dua orang yang tersisa. Kembaran dari istri pertama muncul, tapi terlihat sangat memprihatinkan.
Anak kecil memberikan senjata kepada satu anak kecil lagi yang sudah mengeras, karena terlalu shock melihat banyaknya korban jiwa.
Tembakan kembali terdengar, gadis kecil yang membunuh semua orang tergeletak. Dia jatuh pingsan setelah mendapatkan tembakan.
Ayah Citra langsung melarikan diri, sebelum dirinya juga mati dibunuh oleh wanita psikopat.
Awal masalah perselingkuhan dimulai dari istrinya, dia tidak menyukai ibu Altha dan juga Al. Mereka dua wanita yang tidak bisa bergaul.
"Jadi bukan aku yang membunuh semua orang, tetapi Alina."
"Ya, dia yang membunuh. Rasa cinta istri saya membuatnya ingin mengendalikan kedua sahabatnya dan menyingkirkan kedua istri mereka."
"Apa benar, Ibu Al yang membunuh ibunya Altha?"
Kepala ayah Citra menggeleng, keduanya bahkan tidak saling mengenali. Semuanya penuh kebohongan, ibu Altha sudah lama sakit-sakitan dan selalu menkonsumsi obat.
Saat-saat terakhir, ibu Citra mengganti obatnya dan membuatnya mati perlahan. Saat tahu kasus pembantaian, keduanya dilibatkan menjadi kasus balas dendam.
"Jahat, kalian jahat." Aliya tersenyum sungguh tidak percaya.
"Istri saya juga mati ditangan gadis kecil itu, dia seorang psikopat gila dan bisa membunuh kapanpun dia mau."
__ADS_1
Aliya langsung terkejut, kakaknya masih hidup. Gadis yang dijaga tantenya ternyata kakaknya. Saat berusia sepuluh tahun Kakaknya keluar dan menghirup dunia bebas.
"Kak Alina masih hidup?"
"Ya, dia masih hidup. Setelah membunuh istriku, dia pergi dari negara ini."
"Bagaimana bisa? dia masih kecil." Al mengusap wajahnya.
"Kamu tidak tahu alasan tidak diizinkan keluar rumah, karena kakak kamu anak yang sangat jenius, dia memiliki kepintaran di atas rata-rata. Dengan kemampuan yang luar biasa, apapun bisa dia lakukan."
Al langsung berdiri, orang yang mengancam dan membuat kekacauan ternyata Alina. Tidak heran dia bisa menyadap ponsel Aliya, kepintaran Alina di atas Aliya.
Setelah berbicara banyak hal, Aliya langsung pergi dia harus menghentikan Alina yang ingin balas dendam.
Belum sempat Aliya pergi jauh, seseorang menembaknya. Al langsung berlari kencang, sekarang Alina bukan hanya ingin membunuh Citra, tapi seluruh orang termasuk dirinya.
Sekuat tenaga Aliya berlari, menahan luka tembak di tangannya. Dalam kegelapan aksi kejar-kejaran terjadi.
Tubuh Aliya langsung ditarik, seseorang menutup mulut Al agar diam bersamanya.
"Kamu terluka Aliya?"
Mobil Anggun langsung menghilang dari lokasi bersama Aliya, bersyukurnya Anggun mengikuti perasaannya untuk datang menemui Aliya setelah Al mengirimkan lokasi.
"Dimas dan Altha lenyap dalam beberapa hari ini, kita terlambat mengetahui soal Alina. Sibuk mencari tahu soal pelaku, tapi ternyata dia orang yang kita anggap mati." Anggun sungguh merasa hampir jantungan karena tidak percaya jika Alina pelaku pembantaian.
"Al tidak tahu kak harus senang atau sedih, senang karena Aliya bukan pembunuh, sedih karena pelakunya kakak Al." Kepala Aliya tertunduk memegang lengannya yang berdarah.
Aliya masih memikirkan keadaan Altha dan anak-anak, Alt menghilang dan sekarang tidak tahu bagaimana keadaannya.
"Al, Alina tidak bergerak sendiri, dia memiliki pasukan orang-orang jahat. Altha sudah mengetahui soal komplotan kejahatan ini." Anggun menceritakan saat Altha menghubungi Dimas jika dia sedang ketakutan.
Tugas Altha menangkap penjahat, tapi apa yang bisa dia lakukan. Jika pimpinan penjahat wanita yang dia cintai.
Altha merasakan patah hati untuk kedua kalinya, pasti sulit sekali bagi Altha untuk bertahan saat ini.
"Aku juga mencintai dia, dan berharap dia juga baik-baik saja." Al memejamkan matanya.
***
__ADS_1
Suara teriakan Citra terdengar, meminta Al memelankan kecepatan mobil jika tidak mereka bisa mengalami kecelakaan.
Semakin Citra ketakutan, Al semakin mempercepat lajunya. Mora sudah menangis histeris dalam pelukan Roby.
"Siapa kamu?" Roby menatap tajam sambil berpegangan, dan memeluk putrinya.
"Aku Alina, aku yang membunuh puluhan orang belasan tahun yang lalu, sekarang aku kembali untuk balas dendam. Kamu putri wanita sialan itu, dia juga sudah mati, sekarang susul ibu kamu." Al tertawa sangat besar melihat Citra menangis.
Puas hatinya jika melihat ada orang yang sama sialnya seperti dirinya, agar tidak ada anak yang menyedihkan seperti dirinya. Al merekomendasikan Mora untuk ikut Citra pergi ke akhirat.
"Perempuan jahat."
"Kita sama Citra, kita sama-sama jahat. Kamu menipu Altha, dan aku membunuh keluarga. Sungguh miris nasib adikku yang menginginkan dunia yang indah, padahal dia tahu tidak ada ruang untuknya bahagia." Al mempercepat laju mobilnya, mengarahkan kepada mobil yang berukuran besar.
Tanpa banyak berpikir, Alina langsung membanting setir. Dia langsung lompat keluar dan melihat Citra dan Roby juga putri mereka tertabrak.
Mobil terpental bekali-kali, api mulai menyala. Alina membuka matanya, melihat darah menetes dan menatap ke mobil yang sudah hancur.
"Aliya." Penglihatan Alina langsung gelap dan tidak sadarkan diri.
Seseorang langsung membawa Alina menjauh, dan melangkah pergi meninggalkan lokasi.
Anggun berteriak kuat melihat Aliya masuk ke dalam mobil yang hampir terbakar, Citra sudah terlempar jauh begitupun dengan Roby.
Al menyentuh tangan Mora, langsung mengeluarkannya dari mobil.
"Aliya awas." Anggun menutup matanya saat mobil meledek dan api menjadi besar.
Jalanan langsung ramai, kecelakaan yang mengerikan terjadi. Sebuah mobil besar menghancurkan satu mobil kecil yang meledak di tempat.
Lutut Anggun langsung lemas, tangannya gemetaran menghubungi pemadam kebakaran. Meminta Kenan dan Dika juga datang untuk menolongnya.
Altha dan Dimas masih belum bisa dikabari, dan mereka juga tidak tahu jika Mora mengalami kecelakaan karena Alina.
Tatapan Anggun tajam melihat seorang pria membawa Alina pergi, mengingat jelas wajah mereka.
"Aku akan menghukum kalian dengan berat, dan akan mendapatkan hukuman mati."
***
__ADS_1
Kalian pusing ya sama konfliknya ðŸ¤