
Suara tangisan Tika semakin menjadi-jadi, tidak ingin melepaskan pelukan kakaknya. Hati Tika sakit sekali melihat Mamanya yang bahkan tidak mampu berdiri lagi.
Air mata Juna tidak tertahankan, tangannya mengusap kepala adiknya. Merangkul Tika untuk berjalan ke makam Mora, mereka berdua selalu menunggu Citra meminta bertemu, atau hanya sekedar memberikan kabar jika dirinya baik-baik saja. Berjanji akan bebas dari penjara dalam keadaan baik, dan ingin sekali memeluk keduanya.
Kenyataannya yang paling menyakitkan, Mama Citra keluar penjara dengan keadaan sakit parah, dan tidak berdaya. Sakit semakin sakit melihat keadaan Mamanya yang harus berjuang sembuh.
"Tika maafkan Mama, jangan nangis Nak." Citra mengusap air mata Putri yang sangat dirindukannya.
Kedua tangan Citra menggenggam tangan Juna dan Tika, mencium tangan kedua anaknya. Dengan penuh penyesalan, dan rasa bersalah di campur kerinduan. Citra menyesali segala perbuatannya yang sudah menyakiti ketiga anaknya. Citra juga berterima kasih karena Tika tumbuh menjadi wanita kuat, dan Juna menjadi pria dewasa. Kedua anaknya berhasil menjadi orang yang hebat.
"Sekali lagi maafkan Mama." Usapan lembut di wajah Juna dan Tika membuat tangisan.
Juna memeluk Mamanya, meminta maaf karena dia tidak bisa melepaskan rasa kecewanya. Juna sangat merindukan Mamanya, menyayangi Mamanya.
"Maafkan Juna juga Ma, setulus hati Juna sudah memaafkan dan bahagia melihat Mama bisa berada dalam pelukan Juna." Pelukan Juna erat, melepaskan semua rasa sakitnya. Akhirnya air mata dan memaafkan obat dari rasa sakitnya.
Tatapan mata Citra melihat Tika, mencium kening Putrinya yang masih menangis. Tika masih kecil saat memiliki adik, dia harus dewasa berbagi kasih sayang dengan adiknya. Citra melupakan jika Tika masih haus kasih sayang.
"Kamu tumbuh menjadi wanita cantik Tika, kurangi nakalnya sayang. Mama mendapatkan banyak cerita dari Shin tentang kamu. Dia teman yang menyesatkan." Citra tertawa bersama Tika yang menganggukkan kepalanya jika Shin memang memberikan jalan sesat.
"Dia satu-satunya yang mau berteman dengan Tika, tidak ada pilihan lain. Jika ada Tika juga tidak mau berteman dengan dia." Tangisan Tika terdengar, mengusap air mata yang tidak berhenti.
Kepala Citra mengangguk, memeluk Tika erat. Meminta berhenti menangis, Citra lebih suka melihat Tika yang tertawa. Biarkan kesedihan mereka tinggalkan di tempat peristirahatan terakhir Mora.
"Tika kangen Mama, Tika juga sayang Mama." Tangisan Tika kembali terdengar, menatap ke arah Aliya yang hanya diam sambil meneteskan air matanya.
Tangisan Citra terdengar histeris, memeluk Tika erat. Dirinya masih tidak percaya mendengar langsung ucapan Tika yang sangat ingin dia dengar.
Melihat Tika yang akhirnya memaafkan membuat tersenyum bahagia, memeluk Mama dan adiknya yang masih saling memeluk.
"Tika juga sayang Mami,"
__ADS_1
"Mama tahu itu." Citra mengusap wajah Tika, dan sangat tahu betapa besarnya sayang Aliya kepada Tika.
Bahkan Ria pernah mengutarakan kecemburuannya, kasih sayang Maminya kepada kakaknya perempuan sangat besar. Apapun kesalahan Tika tidak pernah di marah, sedangkan Ria selalu bertengkar dengan Maminya.
Meksipun Al tidak membedakan kedua Putrinya, kecemburuan Ria sangat terlihat. Seiring berjalannya waktu, Ria mengerti jika Kakaknya lebih membutuhkan Maminya.
Ria mendapatkan cinta sejak lahir, disayangi oleh banyak orang. Dijaga dengan ketat, bahkan selalu disanjung. Ria juga sangat menyayangi Tika yang selalu menjadi teman, lawan, juga orang tua baginya.
"Nak, sayangi Mami kamu selalu, cintai dia karena Aliya yang sudah menyerahkan masa mudanya untuk membesarkan kalian." Citra tersenyum melihat Juna dan Tika yang menganggukkan kepalanya.
Suara langkah kaki Aliya terdengar, memeluk Citra dari belakang. Mengucapkan terima kasih kepada Citra yang sudah bertahan, Al meminta maaf karena terlalu lama baginya untuk mempertemukan kedua anaknya dengan ibu kandungnya.
Tugas Aliya bukan hanya membesarkan, tapi membuat kedua anaknya berdamai dengan diri sendiri sampai memaafkan semua kesalahan di masa lalu.
"Mami jangan nangis, Tika tidak suka melihatnya." Kedua tangan Tika mengusap wajah Maminya.
"Gadis kecil kamu yang menjadi alasan Aliya kuat Kak Citra, dia nyawa dan segalanya bagi Al. Mami juga berat berdamai dengan diri sendiri, tapi melihat saudara kembar Mami saat itulah Mami mencoba memaafkan segala kesalahan di masa lalu. Kalian bertiga harus melakukannya." Al menatap makam Mora.
"Mora, kami datang melepaskan semua rasa sakit. Tenang di surga ya Nak." Al tersenyum menatap Citra yang juga tersenyum.
"Terima kasih Roby, jaga Putri kita sampai bertemu nanti." Citra menatap makam suaminya dan Putri kecilnya.
Setiap melihat pemakaman Adiknya Tika selalu merasa terluka, pertama kalinya dia merasa bahagia karena Mora juga bahagia.
"Ayo kita pulang, Mama harus banyak istirahat." Juna menepuk pundaknya ingin menggendong Mamanya.
"Benar Kak, lepaskan semuanya dan perbanyak tertawa dan bahagia." Al tersenyum manis berdiri membantu Citra.
Juna menggendong Mamanya meninggalkan pemakaman, begitupun dengan Aliya yang bergandengan tangan bersama Maminya.
Senyuman Genta dan Altha juga terlihat, merasa lega melihat semuanya melepaskan rasa sakit dan memulai kembali dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Genta membukakan pintu mobil, membantu Juna memasukkan Citra ke dalamnya. Tangan Citra menahan pergelangan Genta, tersenyum melihat pria yang baru diketahuinya ternyata Kakak kandung Shin.
"Jaga Shin dengan baik, dia anak yang ceria. Di dalam dirinya memiliki trauma besar, tapi bisa menutupi dengan tawanya." Citra menepuk tangan Genta, mengangumi wajah Genta yang sekilas mirip Shin.
"Jangan disentuh, ini pacarnya Tika."
"Pacar? kamu dan ...." Citra tersentak kaget.
"Iya Ma, kita berencana untuk segera menikah." Tika menatap Papinya yang geleng-geleng kepala padahal belum mendapatkan persetujuan untuk segera menikah.
"Lalu bagaimana Shin dan Juna? Mama pikir mereka yang pacaran?"
"Mama bercanda saja, Shin sudah mempunyai suami khayalannya, sedangkan Kak Juna mencintai Kak Ana." Tika keluar mobil karena ingin bersama Genta.
Citra mengerutkan keningnya, menatap Shin yang masih duduk di atas mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Atika tidak peka sama sekali dengan perasaan sahabatnya, Citra sangat yakin Shin mencintai Juna.
Shin turun dari atas mobil, masuk ke dalamnya untuk segera kembali. Tugasnya sudah selesai dan menemukan satu jawaban lagi, pertanyaan yang ada di kepala Shin satu-persatu terjawab salah satunya arti keluarga.
Hal yang menyakiti bukan hanya goresan luka di hati, tapi kegagalan untuk berdamai dengan diri sendiri. Lebih tepatnya belum memaafkan diri sendiri.
"Kenapa Shin langsung pergi?"
"Kita susul saja." Genta meminta Tika masuk."
Mobil meninggalkan pemakaman beriringan, secara tiba-tiba hujan turun deras. Jalanan sampai sulit terlihat, kecepatan mobil juga dikurangi hanya Shin yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Dia ingin sekali bertemu dengan Melly dan Irish, panggilan masuk dari Genta memperingati adiknya untuk mengurangi kecepatan.
"Melly dan kamu Irish, apa kalian juga memiliki penyesalan." Shin tersenyum sinis.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira