
Setelah dirawat beberapa hari Shin mendapatkan izin pulang, kepulangannya disambut oleh Isel yang tersenyum lebar.
"Siapa dia? kenapa giginya ompong?"
"Ini Isel tahu! Aunty Shin gila ya?"
Kening Shin berkerut, menatap sinis Isel yang menghina dirinya gila. Perdebatan Shin dan Isel terdengar membuat Diana pusing.
"Shin tidak mau tinggal di sini! Ay Jun, ayo pulang ke rumah kita." Shin berteriak melihat Juna yang pulang ke rumah Altha.
Di depan pintu Shin melihat Ria memeluk Juna, teriakan terdengar mencaci maki Ria yang tidak punya salah apapun.
Suara Ria terdengar lebih kuat lagi, mencaci balik Shin membuatnya memegang kepala karena bayangan pertengkaran dengan Tika muncul.
"Ria, cukup." Juna memeluk Shin, mengambil obat meminta untuk minum agar tidak sakit kepala.
"Shin tidak punya tempat tinggal,"
"Tinggal bersama Mommy saja, di sana kamu bebas melakukan apapun?"
Kepala Shin mengangguk, mengikuti Anggun untuk tinggal di rumahnya. Melihat kondisi Shin keputusan Juna memang paling tepat agar Shin aman dan tidak merasa sendiri.
Di rumah Anggun Shin menghirup udara segar, satu-satunya rumah yang paling tenang tanpa banyak suara.
Keluarga Dimas memang tidak banyak bicara, Anggun juga hanya saat marah saja yang berisik. Dean yang sudah remaja juga jarang di rumah karena sibuk dengan sekolahnya.
"Hai ganteng,"
"Nama aku Dean bukan ganteng." Nada cuek terdengar, Dean menutup pintu kamarnya mengabaikan Shin yang sudah dia ketahui dalam keadaan tidak baik.
Pelan-pelan Shin masuk ke kamar Dean, melihat ruangan yang banyak tumpukan buku. Shin duduk di pinggir ranjang memperhatikan Dean yang asik membaca buku.
"Kamu siapa?"
Kening Dean berkerut, tidak menjawab pertanyaan Shin. Hanya diam tetap fokus dengan buku yang ada di tangannya.
"Ini siapa?"
"Dean, Kak Juan dan Ria." Dean menutup bukunya melihat bingkai foto.
"Kalian kembar?"
__ADS_1
Kepala Dean menggeleng, Ria dan Juan memang kembar, sedangkan Dean hanya lahir di hari yang sama dengan si kembar.
"Kenapa Kak Shin melupakan kita semua?"
"Shin juga tidak ingin melupakan, tapi kepala Shin tidak bisa mengingat." Tangan Shin mengetuk kepalanya yang terasa sakit.
Senyuman Dean terlihat, meminta Shin mengingat hal yang baik dan membuat bahagia, jika hal yang menyakitkan lebih baik dilupakan.
Beberapa buku Dean keluarkan menyerahkan kepada Shin untuk membacanya, membaca buku bisa menjadi pelarian di saat ada masalah.
"Kamu dan Juan sangat dekat?"
"Ya, hubungan aku dan Kak Juan seperti Kak Shin dan Tika, kita sahabat. Lahir sama, tubuh dan dewasa bersama." Dean melanjutkan membaca bukunya, mengabaikan Shin yang membolak-balik buku.
Shin membuang buku, dia tidak bisa membaca membuat Dean langsung batuk. Menatap Shin kaget, bukan hanya melupakan semua orang, namun ilmu juga dia lupakan.
"Ceritakan persahabatan aku dan Tika?"
"Jika Dean bercerita apa mungkin bisa mengembalikan ingatan, jika tidak membuang-buang waktu saja,"
"Tadi ada bayangan aku dan Tika berkelahi,"
Senyuman Dean terlihat, ucapan Juna benar jika ingatan Shin cepat atau lambat akan kembali. Dia hanya mengalami trauma karena sebuah kejadian.
"Bagaimana kondisi Kak Shin?"
"Aku hilang ingatan,"
Dean meminta Juan masuk, menceritakan kisah persahabatan Tika dan Shin dari zaman mereka kecil.
Juan mungkin lebih banyak tahu karena dia mengenal baik siapa Kakak perempuannya. Dengan senang hati Dean menceritakan awal pertama persahabatan Shin dan Tika.
Keduanya selalu terlibat perkelahian, sudah menjadi hak biasa jika keduanya bertengkar, satu detik kemudian akur kembali.
Saat Juan masih kecil, kenakalan Shin dan Tika tidak ada lawan, keduanya menjadi langganan di kantor polisi.
Mendengar cerita Juan membuat Shin dan Dean mengantuk hingga terlelap tidur. Senyuman Dean terlihat membiarkan keduanya tidur.
Suasana hening, Juan membaca buku yang ada di kamar Dean. Cita-cita sahabatnya ingin menjadi seorang jaksa, menjadi putra tunggal membuat Dean binggung ingin melanjutkan profesi Daddynya atau Mommynya. Bahkan Dean pernah berpikir ingin mengikuti jejak Kakaknya menjadi dokter.
"Bedanya persahabatan kita, aku dan Dean belajar dengan giat demi sebuah mimpi, sedangkan Kak Tika dan Shin bersahabat membuat kekacauan." Kepala Juan geleng-geleng mengingat dua sahabat yang sama-sama gila.
__ADS_1
"Sudah berapa lama aku tidur?" Dean melihat Juan yang masih melihat banyaknya buku.
"Kenapa di baca?"
"Memangnya tidak boleh? aku tidak mengerti kamu, sampai saat ini belum menentukan pilihan." Juan menunjukkan tumpukan buku yang semakin meninggi.
"Aku harus bagaimana? kamu pikir enak menjadi harapan satu-satunya,"
Tawa Juan terdengar, mendengar ucapan Dean yang binggung dengan pilihannya. Belum lagi soal Ria yang cita-citanya melenceng.
"Bagaimana menurut kamu soal kondisi Kak Shin? aku juga tahu kamu menyelinap ke perpustakaan milik keluarga Leondra, di sana penuh buku soal medis." Juan duduk di samping sahabat yang garuk-garuk kepala.
"Aku rasa Kak Shin hanya trauma, dia tidak mengalami luka parah seperti catatan medis. Kak Juna sengaja ingin mempercepat pernikahan,"
"Kenapa Kak Juna melakukanya? pasti ada hal yang ditutupi." Juan berharap rahasia apapun yang disembunyikan kakaknya tidak membuat masalah semakin besar.
Pukulan Dean kuat, pikirkan Juna terlalu mirip dengan Daddynya langsung menyimpulkan ke hal-hal yang tidak baik. Mommy Dean selalu mengatakan pikiran Daddynya penuh kriminal.
"Jika tidak ada hal penting ingin segera menikah?"
"Bodoh! Kak Juna tidak pernah jatuh cinta dan pastinya tidak pernah ditolak. Dia ingin cepat menikah karena tidak ingin melewati proses menyatakan cinta. Makanya Kak Juan jangan hanya fokus pendidikan, kenali juga percintaan. Dean lima tahun lagi ingin punya pacar." Senyuman Dean terlihat, dia ingin mencari pacar yang seksi, bermata biru, dan dari negara jauh tidak hanya berkeliling di dalam keluarga.
"Itu hanya khayalan kamu Dean. Ria tidak mungkin mengizinkan,"
"Ya Allah, kenapa Ria harus mengatur hidup aku. Pokoknya tahun depan aku lanjut sekolah luar negeri, terserah Ria yang telat karena otaknya lemot."
Shin terbangun mendengar perdebatan dua remaja, keduanya memiliki hubungan persahabatan yang cukup menyenangkan bisa berbagi cerita, juga belajar bersama.
"Siapa yang paling kalian takuti di dalam keluarga ini?" Shin langsung duduk melihat Juan dan Dean yang saling pandang.
"Ria,"
"Isel," Dean menatap Juan yang langsung tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Kak Shin tahu Isel? dia selalu menguasai keluarga Leondra dan Darmawan, si kecil rumah sebelah." Juan tertawa mengusap punggung Dean.
"Oh, gadis kecil ompong yang membawa pedang, dia memang sangat menyebalkan. Dasar penyihir kecil." Shin mengumpat kasar membuat Dean dan Juan terdiam.
Meskipun Isel sangat nakal, tapi Dean sangat menyayanginya sehingga takut jika terluka.
__ADS_1
***.
follow Ig Vhiaazaira