
Kabar kepulangan Arjuna sudah terdengar oleh Altha, Aliya juga mengakui jika Juna kembali tanpa memberitahu siapapun.
Kepulangan Juna karena bebasnya Citra, Juna mengambil alih untuk menjadi wali Mamanya, dan menjamin jika Mamanya tidak akan melakukan kejahatan lagi.
"Di mana Arjuna sekarang?"
"Apartemen, Aliya merasa Juna sudah melakukan hal yang benar." Al membela Putranya agar Altha tidak marah.
"Setidaknya dia harus memberitahu, jika masih menganggap orang tua. Aku belum bisa mempercayai Citra, bagaimana jika sakit hanya sebuah alasan?" Alt langsung melangkah pergi, Aliya cepat mengejar suaminya yang memang tidak bisa membiarkan Citra berkeliaran.
Perbuatan Citra belum bisa Altha maafkan, karena sudah menyakiti anak-anaknya. Meksipun tindakan Juna benar, seharusnya meminta izin terlebih dahulu.
Mobil Altha melaju pergi, Aliya masih menundukkan kepalanya merasa cemas jika Juna dan Altha akan bertengkar.
Secara diam-diam, Al mengirimkan pesan jika Alt sedang marah. Kemungkinan besar, menuju kediaman Juna.
Aliya tidak punya kuasa menghentikan, karena Juna memang salah mengambil keputusan tanpa persetujuan darinya, juga Papinya.
"Ayang, Citra juga punya hak atas Juna dan Tika, jangan batasi hubungan mereka." Al menggenggam lengan suaminya.
"Kapan aku membatasi Al? sejak awal aku tidak pernah melarang Juna ataupun Tika mengingat Mamanya, tapi apa yang dulu terjadi, harus aku waspadai." Alt bicara dengan nada dingin, Aliya tidak berani bicara lagi.
Tangan Aliya juga dingin, merasa khawatir. Dirinya ingin membela Putranya, tapi tidak mungkin melawan suaminya.
Sesampainya di apartemen, Alt membunyikan bel berkali-kali. Aliya sudah menahan tangan suaminya untuk sabar, dan tidak terbawa emosi.
Pintu terbuka, Citra berdiri di balik pintu. Terkejut melihat Altha dan Aliya yang datang secara tiba-tiba.
Alt langsung masuk memanggil Arjuna, tidak ada jawaban sama sekali. Citra hanya berdiri diam, melihat Alt yang emosi.
"Ayang, tenang dulu. Di sini ada manusia tempat bertanya? mungkin Juna tidak ada di rumah, kenapa harus teriak-teriak?" Al menahan suaminya yang menatap Citra sinis.
"Juna pergi keluar mencari makan." Senyuman Citra terlihat, menatap Altha yang masih terlihat muda, berbeda dengan dirinya yang sudah sakit-sakitan, bahkan tubuhnya tidak terawat lagi.
Jika Aliya kecantikan berkali-kali lipat, semakin tua kecantikannya bertambah, karena Aliya dan Altha bahagia.
__ADS_1
"Silahkan duduk Alt, kamu juga Aliya. Kalian ingin minum apa?"
"Tidak Kak Citra, kamu juga duduk. Kita tunggu Juna pulang." Al tersenyum manis, membantu Citra berjalan untuk duduk bersama mereka.
Suasana hening, Citra mengerti alasan Altha datang dengan perasaan kecewa, dirinya juga sudah mencoba menolak keputusan Juna untuk menanggung hidupnya, tapi penolakan membuat Juna sedih, dan semakin tersakiti.
"Maafkan aku Altha, maaf Aliya." Air mata Citra menetes, Al langsung memberikan tisu.
Tangan Aliya mengusap punggung, tidak ada yang perlu meminta maaf. Apa yang terjadi di masa lalu, sudah lewat.
"Aku hanya ingin semuanya baik, demi anak-anak. Kebahagiaan mereka segalanya bagi Al, begitupun kalian berdua yang harus saling memaafkan demi kebahagiaan Juna dan Tika." Al juga berat melupakan, tapi dirinya harus bisa.
Apapun yang terjadi, Citra tetap Ibu kandung Juna dan Tika, hubungan dengan Altha boleh berakhir, tapi hubungan anak tidak bisa diakhiri.
Jalan satu-satunya agar semuanya kembali ke awal, harus saling memaafkan dan mengikhlaskan yang terjadi.
"Kita manusia penuh kekhilafan, tapi tidak ada salahnya saling memperbaiki diri. Kita sudah dewasa, sudah tua, tidak ada gunanya mengikuti ego. Al meminta maaf, jika menjadi orang ketiga. Jujur Aliya tidak menyesal." Al tersenyum, diikuti tawa Citra berbeda dengan Altha yang menatap sinis. Candaan Aliya tidak lucu sedikitpun.
"Terima kasih Aliya, kamu memang wanita baik. " Citra menyentuh tangan Al lembut.
Al langsung memukul Juna, memarahinya yang pulang tanpa memberitahu. Ponsel Arjuna tidak ada gunanya lagi, tidak dimanfaatkan sama sekali.
Hanya untuk memberikan kabar saja sulit, bahkan tidak mempunyai waktu untuk sekedar menghubungi orang tua.
"Maafkan Juna Mami, maafkan Juna Pi." Kepala Juna menunduk, mengikuti Aliya duduk di kursi.
"Kamu tidak menganggap Papi lagi?"
"Astaghfirullah Al azim Papi, tidak mungkin Juna berpikir sejauh itu." Juna menatap tangannya yang ditahan oleh Aliya.
Altha tidak bisa dibantah, dia bisa marah jika sedang bicara terus dipotong. Juna akhirnya diam, berlindung dibalik Maminya.
Air mata Citra menetes, melihat kedekatan Juna dan Aliya yang saling menggenggam tangan. Citra bahkan tidak tahu rasanya bersentuhan tangan.
"Apa tujuan kamu membawa Citra? dia sakit kamu ingin menjaga dia, tidak ingat apa yang terjadi di masa lalu?"
__ADS_1
"Pastinya ingat Ayang, Juna tidak mungkin lupa, karena itu dia ingin berbakti kepada Ibunya. Jangan samakan Juna dulu dan sekarang, dia sudah dewasa dan punya tanggung jawab." Al menatap tajam, menantang suaminya.
"Aku bicara dengan Arjuna, bukan kamu Aliya."
"Kenapa? siapa yang berani bicara kasar kepadanya berurusan dengan Al?"
Altha memijit pelipisnya, bahkan wajah Juna saja tidak bisa dilihat. Mulut Aliya jika mengomel tidak memiliki rem.
"Mami, izinkan Juna bicara dengan Papi." Juna langsung berdiri, meminta Papinya ikut dirinya.
Al mengerutkan keningnya, meminta Juna tidak meladeni Papinya. Alt mungkin akan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati Juna.
Di ruangan pribadinya Juna mempersilahkan Papinya duduk, Juna meminta maaf atas sikapnya yang lancang, dan mengambil keputusan tanpa bertanya.
Juna mengakui dirinya salah, dan meminta Papinya memberikan kesempatan dirinya untuk menjadi seorang Putra yang bisa memaafkan Ibu kandungannya.
"Juna, Papi mengkhawatirkan kamu."
"Iya Pi, Juna mengerti. Bisa kita bayangkan di posisi Mama, Juna tidak harus izin Papi apapun yang bersangkutan dengan Mama Citra, alasan Juna demi Mami Al."
Rasa sayang Juna sangat besar kepada Aliya, tapi Mamanya Citra juga punya hak untuk mendapatkan kasih sayang, jika bukan Juna yang bertanggung jawab, maka hidup Mamanya semakin hancur.
"Pi, hubungan Papi dan Mama sudah menjadi orang lain, apapun yang Juna lakukan untuk Mama, Papi tidak harus tahu demi menjaga perasaan Mami. Juna hanya perlu izin Mami, persetujuan Mami akan menjadi pilihan Juna." Arjuna bicara sangat tegas, tanpa keraguan sedikitpun.
"Kamu memaafkan Mama Citra, demi Mami."
"Iya, demi Mami yang selalu mengajari Juna untuk memaafkan, dan demi kebaikan Juna juga, dan yang lebih baik lagi. Juna harus menjaga Mama, agar kita semua bisa melupakan masa lalu." Air mata Juna keluar, langsung ditepis oleh tangannya agar Papinya yakin Juna tidak lemah.
Alt terdiam, tidak mengerti ajaran apa yang Aliya berikan untuk Putranya sehingga bisa memiliki perasaan yang tulus.
"Bagaimana dengan Tika?" Alt menatap Putranya yang masih menggelengkan kepalanya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1