
Suara langkah kaki Tika terdengar, menatap Maminya yang menenangkan Mam Jes. Diana juga melihat Tika yang terlihat panik.
"Sudah Ma, Genta pasti baik-baik saja." Gemal mengusap tangan Mamanya yang menangis terus.
"Ini yang Mama takutkan dengan pekerjaan kalian,"
Diana menghela napasnya, kondisi Shin saja belum sembuh, ditambah lagi Genta yang pulang dalam keadaan mandi darah.
"Kak Di, bagaimana kondisi Genta?" Tika menatap ke arah ruangan.
Kedua bahu Diana terangkat, dirinya juga tidak tahu kondisi Genta. Dokter Calvin yang menangani, dan pastinya membutuhkan waktu lama melihat Genta yang berlumur darah.
"Bagaimana dengan korban yang meninggal?" Dimas menatap Alt yang memijit pelipis.
Gemal langsung berdiri, korban yang meninggal dalam pengawasan karena akan segera diperiksa identitasnya. Gemal langsung yang akan menyelidiki identitasnya dan tujuan bisa bersama Genta di bangunan tua.
Suara langkah kaki Juna berlari terdengar, menatap sekeliling mencari keberadaan Shin. Tika yang melihat Kakaknya langsung mengerutkan kening.
"Ada apa Kak Juna?"
"Di mana Shin? dia mencabut infus dan melangkah pergi, penutup matanya juga dilepaskan. Kenapa membahas masalah baru di depan pasien?!" Juna bicara dengan nada tinggi, Tika melangkah mendekati Kakaknya.
"Shin bisa melihat Kak?"
"Mana aku tahu! minimal dibuka satu minggu, jika terjadi hal buruk aku tidak tanggung jawab." Juna meminta semuanya menyebar mencari Shin dan melaporkan kepada keamanan.
Tika dan Juna berjalan berdua, tangan Tika menahan Kakaknya memperingati jika ada yang ingin membunuh Mamanya. Kapan waktu menyerang, Atika tidak tahu. Hal utama yang dilakukan harus berhati-hati.
"Kamu tahu dari mana?"
"Kak Juna percaya sama Tika, penyerangan Citra cara mereka menggagalkan operasi Shin. Pelaku pasti mengenal baik keluarga kita." Tika mengikuti langkah Juna.
Arjuna meminta Tika tidak terlalu memikirkannya, jika tujuan memang ingin menjatuhkan keluarga berarti memang mencari masalah besar.
Keluarga mereka bukan kalangan bawah, tetapi keluarga yang kuat dan tidak mudah disentuh. Jika memang berani, pastinya sudah punya nyawa yang berlapis.
"Mereka hanya mengincar satu orang, bukan Mama tetapi Shin. Secara resmi Shin orang lain dalam keluarga kita karena itu mereka berani."
__ADS_1
Atika menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Kakaknya. Citra hanya dipergunakan untuk memanaskan saja.
Di parkiran Ria dan Isel mengejar Shin, melihat dari kejauhan Shin bertarung dengan seorang wanita yang mendorong Isel. Gerakan Shin tidak sekuat biasanya, tetapi masih tetap mampu melumpuhkan.
Ria mengabari Juna lokasi Shin, dan memintanya segera datang. Takut jika mata Shin semakin memburuk.
"Kak, perempuan itu jahat?" Isel takut melihat pukulan Shin yang bekali-kali meleset.
Senyuman Ria terlihat, dia tahu jika Shin seorang petarung yang hebat sejak Ria kecil. Kakaknya Tika dan Shin memang bersahabat, tetapi dalam pertarungan keduanya musuh bebuyutan.
Gerakan Shin sangat cepat dan sulit ditebak, melihat Shin bertarung membuat Ria terpesona dan mengaguminya.
"Kak Shin awas." Isel melempar batu ke arah lawan Shin.
Shin melayang tendangan, menangkap tangan lawannya. Membenturkan ke mobil, satu tangan Shin mencekik kuat.
"Kamu sebaiknya tetap berbaring di atas ranjang, dan tidak mengusik hidupku." Shin tersenyum sinis.
"Kamu mengenali aku?"
"Tentu, Arshinta. Kamu berganti nama menjadi Rindi, dan ada seseorang yang mengendalikan kamu. Siapa dia? tidak mungkin Irish." Shin melepaskan cekikikan, satu kakinya menendang perut sambil menahan wanita yang membuat hidup Shin menderita.
"Kamu buta jauh lebih baik Shin, dan aku akui kamu sangat kuat. Dan ada beberapa orang yang berada di sisi kamu." Tawa Rindi terdengar membuat Shin kesal.
Darah mengalir dari mata Shin, tubuhnya langsung didorong. Rindi berlari kencang saat melihat Atika datang bersama Juna.
Tujuan Rindi hanya ingin melihat kondisi Shin, tetapi tidak menyangka meskipun buta Shin bisa mengenalinya.
Juna mendekati Shin, melihat mata Shin terpejam. Darah masih mengalir di pipinya, Juna langsung berteriak kesal ingin memarahi Shin sudah tidak ada gunanya.
"Kamu ingin buta seumur hidup?" Juna bicara dengan nada pelan.
"Tidak, aku ingin melihat. Aku ingin melihatnya secara langsung, aku ingin melihat mereka semua yang membuat aku terpisah dari keluargaku." Shin menyentuh baju Juna meneteskan air matanya.
Air mata Shin berubah merah, Tika mengusap langsung memeluk erat. Shin tidak sendirian lagi, dia memiliki Kakak, memiliki sahabat, Papa dan Mama yang akan melindunginya.
Jika dulu dirinya menutup mata, dan telinga agar tetap memiliki orang tua, sekarang semuanya berubah. Seharusnya Shin sadar sejak kecil, siapa dirinya.
__ADS_1
"Sekarang apa yang kamu lakukan? memaksa mata yang penglihatannya masih rabun. Lihat ... darah semua." Juna menarik tangan Shin yang masih tersenyum menyentuh air matanya.
Aliya dan Diana hanya bisa menganga melihat Shin yang berkelahi dalam keadaan matanya yang belum pulih sepenuhnya.
"Aku pikir dulu aku psikopat gila, tapi melihat Shin jauh lebih gila." Di memegang matanya.
Wajah Juna merah, kesal melihat Shin yang melepaskan penutup matanya, berkelahi sampai matanya berdarah.
"Ay Jun, kepala Shin tidak dipukul, berarti mata Shin aman."
"Aman kepala kamu! aku Dokter di sini yang bisa memutuskan aman tidaknya. Jika kamu keras kepala, lebih baik keluar dari rumah sakit ini." Juna menarik napas, kesabarannya habis melihat tingkah laku Shin.
"Kak Genta, Papa ... Di mana kak Genta?" Shin berlari melihat Calvin yang mencarinya sekeliling tempat.
"Astaghfirullah Al azim, Juna lakukan sesuatu. Mata Shin mengeluarkan darah." Dokter Calvin meminta Shin menutup matanya, tidak boleh membuka lagi.
Kedua tangan Juna terangkat ke atas, dirinya seorang Dokter bukan pengasuh ataupun bodyguard Shin. Dirinya punya batas kesabaran.
Juna sudah berusaha melakukan yang terbaik, sangat berhati-hati untuk mengobati Shin. Juna tidak ingin tahu apa masalah Shin, sampai meninggalkan ruangannya.
"Silahkan bawa dia pindah rumah sakit lain atau ganti Dokter. Juna tidak bertanggung jawab lagi." Arjuna menggelengkan kepalanya, meminta Dokter Calvin memahami dirinya.
"Juna, lakukan sampai satu minggu ke depan."
"Tidak bisa, aku tidak menyukainya pasien keras kepala." Juna berlalu pergi, Shin memanggil Juna membuat langkahnya berhenti.
Shin akui dirinya salah, tapi dirinya tidak bisa diam saja saat Isel di dorong sampai menangis. Kelahiran Isel perjuangan panjang, dan Juna tidak tahu sejarahnya.
"Sakiti aku karena masalah denganku, jangan sakiti anak-anak yang bagaikan berlian di hati Shin. Sekalipun aku mati, atau buta selamanya. Aku tidak menyesal." Shin tersenyum, meyakinkan dirinya menerima keputusan Juna untuk ganti Dokter.
"Oke, kita ganti Dokter." Senyuman Dokter Calvin terlihat mengusap kepala Shin.
"Izinkan Shin bertemu kak Genta ya Pa, sebentar saja. Shin merindukannya." Kedua tangan Shin terlipat memohon kepada Papanya.
Tika mendekati Shin, menyentuh keningnya. Ucapan rindu tidak pantas Shin ucapkan kepada lawan jenis yang tidak ada hubungan darah.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira