
Rencana kejutan ulang tahun Juna sudah Tika dan Shin persiapkan, Tika melarang Hana untuk pulang karena saat jam dua belas tepat menjadi hari spesial untuk Juna.
"Aku izin Kak Helen dulu, mereka sebentar lagi pulang karena anaknya tidur." Hana menatap Shin dan Tika binggung.
"Kak Ana tidur di kamar Shin saja, atau kita bisa tidur bertiga di kamar Tika. Ini jarang terjadi seluruh keluarga kumpul." Tangan Shin memohon agar Ana setuju.
"Kenapa Kak Ana ikut? dia bukan keluarga kita." Isel tidak menyukai keberadaan Hana.
"Calon keluarga kita, nanti kamu yang paling bersemangat. Awas saja." Ria mengejek Isel yang mendekati Shin meminta digendong.
"Mata Iyan sudah mengantuk,"
"Kamu sudah besar Iyan, tahan sebentar saja jangan seperti anak kecil." Gion meminta Adiknya bersemangat.
Satu-persatu orang meninggalkan ruangan, hanya masih tersisa Juna, Gemal dan Genta. Tidak ingin merusak suasana, Genta tidak membahas sama sekali rencananya untuk melamar Tika.
"Jun, kenapa kamu belum siap menikah?" Gemal melepaskan ponselnya.
"Jika siap sudah, hanya saja masih memikirkan Mama." Juna juga binggung dengan perasaannya sendiri.
"Yakin tidak ada wanita lain?" Genta tidak ingin Juna seperti dirinya yang tidak memahami perasaan sendiri.
Tawa Gemal terdengar, bertahun-tahun belum ada sejarahnya Juna membicarakan wanita. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya, jika menunda menikahi Ana karena Mamanya mungkin hal yang bisa dimaklumi.
Ponsel Gemal berbunyi, langsung pamit pulang. Hanya tersisa Genta dan Juna yang saling diam. Genta menatap handphonenya yang hampir tengah malam.
"Jun, ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Kita bisa bicara di luar,"
"Tidak ada orang di rumah ini selain kita." Juna melihat sekitarnya yang sepi.
Tanpa mengatakan apapun Genta keluar melewati pintu depan, Juna mengikutinya karena Genta seorang polisi yang pasti memiliki banyak rahasia.
Baru sampai di depan pintu, Juna teriakan kaget mendengar ledakan juga lampu yang hidup semua.
Ucapan happy birthday terdengar, Juna memegang dadanya karena pertama kalinya menerima kejutan yang sangat mengejutkan. Senyuman Juna terlihat menatap kue yang sangat indah.
Juna menatap Tika dan Ana yang mendorong kue, meminta Juna menyebutkan doanya. Kepala Juna geleng-geleng langsung meniup membuat suara teriakan kecewa terdengar.
"Kak Juna make a wish dulu? minta harapan kak." Tika memukul lengan Juna.
__ADS_1
"Semoga kita semua sehat amin,"
"Doa untuk diri sendiri." Ria menghidupkan satu lilin.
Helaan napas Juna terdengar, mengikuti keinginan kedua adik perempuannya. Suara tepuk tangan terdengar, Altha memeluk Putra pertamanya yang sudah menjadi pria dewasa.
Aliya juga memeluk erat sampai meneteskan air matanya, merasa terharu dengan Putranya yang sudah semakin dewasa.
"Mami jangan menangis, Juna tidak suka melihatnya." Tangan Juna menghapus air mata Maminya.
"Nak, usia dua puluh empat tahun menandakan kamu pria yang sudah matang. Juna sukses di segala hal, tapi Mami ingin Juna menyadari perasaan diri sendiri dan melangkah ke arah di mana hati Juna menginginkan. Jangan ikuti apa yang menurut orang baik, tapi Juna tidak bahagia." Al memeluk erat Putranya.
"Mi, apapun yang terbaik bagi Mami, itulah pilihan Juna." Senyuman Juna terlihat, mencium tangan Maminya.
"Jun, kamu sudah lama tidak mencium pipi Mami." Al menunjuk ke arah pipinya membuat Juna mengerutkan keningnya.
"Ais Mami." Juna mencium kedua pipi Maminya, begitupun dengan kening.
Juna memeluk Tika, mencium kening dan pipi adiknya, Ria langsung memeluk Kakak kesayangannya. Juna melakukan hal yang sama.
"Happy birthday Kakak." Ria mencium kedua pipi kakaknya.
Juan menarik tangan dua wanita, meminta keduanya berhenti. Bisa sampai pagi menunggu giliran.
"Kak Juna selamat ulang tahun, sehat selalu." Juan memeluk Kakaknya.
"Terima kasih Juan." Juna menyatukan keningnya dan adik lelakinya.
Juna juga memeluk Papinya, Altha mencium kedua pipi Juna. Meminta Putra menjaga kesehatan, meluangkan waktu untuk bersantai bukan hanya gila kerja.
"Temui Mama kamu," Al menatap Citra yang tidak berhenti meneteskan air matanya.
Langkah Juna melihat ke arah Shin yang memegang kursi roda, Juna berlutut mencium Mamanya. Juna tidak ingin melihat ada air mata lagi di hari lahirnya.
"Selamat ulangtahun Juna,"
"Selamat ulang tahun juga Mama,"
Isel yang berencana memberikan kejutan sudah jatuh pingsan dalam gendongan Gemal karena tertidur. Juna mengucapkan terima kasih kepada semua orang.
__ADS_1
"Ana, Kenapa kamu belum pulang?"
"Aku pulang bersama supir, karena besok ada acara di panti." Senyuman Ana terlihat mengucapkan selamat ulang tahun.
"Aku antar kamu pulang, ini sudah larut malam. Tika ikut Kak Juna,"
Hana tersenyum mengucapkan terima kasih, tatapan Juna melihat ke arah kue hanya mencobanya sedikit dan berlalu pergi untuk mengantar Hana pulang.
Shin hanya menunjukkan senyuman, masih bersyukur Juna mencicipi kue. Melihat Juna berjalan beriringan dengan keluarga besar Juna membuat Shin lega.
"Mama Citra, ayo kita kembali ke kamar." Shin membantu Citra untuk beristirahat.
Di dalam kamar Citra menggenggam tangan Shin, meminta maaf karena tidak bisa memberikan dukungan untuk hubungannya.
"Shin, kamu jangan menyakiti diri sendiri,"
"Ma, cinta tidak selalu harus saling memiliki. Shin bahagia dengan perasaan ini, dan tidak ingin ada yang tahu karena jika ada yang tahu hanya akan menyakiti banyak pihak." Shin tersenyum jika dirinya sudah biasa mencintai sebelah pihak.
Dia ahli dalam menyembunyikan perasaannya, dan tidak akan pernah mengakuinya.
Jika Shin mengakui perasaannya, maka hubungan Genta dan Tika mungkin akan berakhir. Harus ada yang mengalah di antara mereka. Tidak ingin menjadi pengacau, Shin bahagia dengan perasaan yang disembunyikan.
"Mama berharap kamu menemukan pria yang jauh lebih baik dari Arjuna,"
"Shin tidak mengharapkannya, terserah takdir ingin membawanya ke mana. Shin hanya mengikuti arus." Selimut ditarik, Shin meminta Mama Citra tidur.
Dikarenakan rumah sepi, Shin tidur di samping Citra yang sudah memejamkan matanya setelah meminum obat.
Shin menemukan sebuah kertas, beberapa kekayaan yang Citra tinggalkan khusus untuk kedua anaknya. Juna bisa mendapatkan bagiannya dengan sebuah syarat, tapi Shin tidak memahami tulisannya.
"Apa ini? kenapa Mama Citra menulis ini? perasaan Shin semakin tidak enak,"
"Nak, Cinta memang tidak harus memiliki, tapi cinta membutuhkan perjuangan. Kamu perjuangan jika memang mencintai Juna, jangan menyesal seperti Mama yang kehilangan lelaki baik." Mata Citra tidak terbuka, hanya menggenggam tangan Shin.
"Mama Citra baik-baik saja?" Shin mengusap tangan
Tidak ada jawaban lagi, Shin yakin Citra sudah tidur. Melangkah pergi keluar kamar untuk membereskan sisa kue yang lelah dia buat khusus untuk Juna.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira