ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ACARA PESTA


__ADS_3

Acara penyambutan kelahiran twins G dirayakan besar-besaran, keluarga sibuk mencoba baju yang cocok, sambil bermain dengan empat bayi.


Diana memilih diam di kamarnya, tidak sanggup melihat kehebohan di luar sambil mengawasi anak-anaknya.


Di rumah Altha tidak kalah heboh, Shin dan Tika sedang membuat kue bersama dibantu oleh, Ria, Juna dan Dean.


Kue khusus untuk tiga baby mengemaskan, Aliya memberikan izin anak-anak menggunakan dapur, sedangkan dirinya sibuk mengurus acara.


Senyuman Ria terlihat, memukul kepala Dean menggunakan telur sampai mengalir membasahi kepalanya.


Teriak Dena terdengar, melempar Ria menggunakan tepung. Juan juga tekena imbasnya.


Perang tepung terjadi, ketiga anak berlarian saling lempar telur. Aliya yang melihatnya langsung berteriak, memarahi tiga anak yang membuat kacau rumah.


Selesai bermain tepung lanjut mandi di kolam, warna kolam yang bening berubah menjadi merah karena pewarna kue.


Ketiga anak mandi di dalam kolam berdarah, tidak terlihat takut, tapi semakin bersemangat.


Atika dan Shin yang membuat kue masih fokus, Tika menyukai cara kerja Shin yang teliti. Kue cantik selesai dengan sangat luar biasa.


"Wow, bagus sekali." Aliya memuji keterangan Shin dalam dekor.


Kue dibawa ke tempat Diana, siapapun yang melihatnya pasti terpesona. Diana sampai keluar kamar memotret kue untuk ketiga anaknya.


Keterampilan pembuatan kue dikagumi, Aliya datang membawa sisa kue, menyuapi Diana jika rasanya tidak ada duanya.


"Gila, ini kue terenak. Shin kamu harus menjadi koki." Senyuman Diana terlihat, memberikan dua jempolnya.


"Tika juga banyak membantu, tanpa Tika tidak mungkin kuenya sempurna." Shin tersenyum bahagia memiliki Tika di sisinya.


Kepala Tika geleng-geleng, dirinya tidak memiliki bakat sama sekali. Bahkan Tika juga tidak tahu keahlian di mana?


"Nah, seperti ini baru persahabatan, memberikan contoh yang baik, bukan bertengkar." Al mengusap kepala dua gadis cantiknya.


"Bertengkar membela sahabat juga bagus Mi, namanya kesetiaan. Jangan baiknya saja, buruknya juga." Tika mencium pipi Maminya.


Aliya ingin mengomel, tapi langsung luluh. Putrinya paling pintar membantah, juga pintar merayu.


Acara pertama doa bersama, memotong rambut bayi yang didoakan oleh banyak orang. Gemal menggendong Putrinya, Dimas menggendong Gheon sedangkan Calvin menggendong Ian.


Diana meneteskan air matanya, merasa terharu melihat keluarga kecilnya. Seluruh keluarga menangis dan tertawa bahagia untuk menyambut ketiga anaknya.


"Jadi anak yang Sholeh dan Sholehah." Di mengusap air matanya.


"Bagaimana rasanya menjadi ibu? sekarang kamu menangis bahagia, tapi nanti setelah dia tiga tahun ke atas baru tahu rasanya ingin memasukan anak ke dalam perut lagi." Aliya tertawa lucu, menyemangati adiknya.

__ADS_1


Kebahagiaan keluarga tidak terbendung lagi, terutama keluarga Leondra yang berpuluh tahun tidak mendengar suara bayi.


***


Acara tiga hari tiga malam akhirnya selesai, rumah mulai sepi kembali seperti awal hanya bedanya sudah hadir malaikat kecil yang menambah kebahagiaan.


"Apa yang kamu lakukan Shin?"


"Ini malam terakhir Shin menginap, boleh memasak untuk makan malam?"


Aliya menganggukkan kepalanya, meminta Shin memasak banyak untuk makan malam besar-besaran sekaligus merayakan ulang tahun Tika dan Shin yang tertunda.


Diana datang ke rumah Al membawa Putrinya yang tidak ingin tidur, Anggun menggendong Ian sedangkan Mam Jes yang menggendong Gheon.


"Sekarang enak, dapat jatah satu-satu tidak ada yang rebutan." Al mengusap wajah twins.


"Ada acara apa Al?"


"Makan malam, nanti kita makan di dekat kolam." Al langsung melangkah ke kolam, Diana langsung tertawa melihat kolam renang.


Tubuh Aliya lemas, kolam berenang berubah menjadi merah, kotor dan penuh mainan." Al rasanya langsung darah tinggi melihat tingkah anak-anaknya.


"Bagus kolam merah." Mam Jes memainkan air.


"Kenapa kita harus repot-repot? beli saja." Tika memotong cabe sangat cepat.


"Beda rasanya, aku tidak menyukai makanan yang tidak enak." Shin menyerahkan bawang.


Air mata Tika menetes, menangis melihat bawang yang membuat menangis Bombay.


Shin hanya tertawa melihat tingkah Tika, tidak punya semangat sama sekali untuk memasak. Shin hanya senyum tidak menganggu dirinya.


"Lagi sibuk kalian berdua?" Diana langsung duduk menatap dua wanita masak.


"Tika tidak suka masak, lebih baik aku memainkan senjata." Tika berbisik pelan, tidak ingin Shin mendengarnya.


Diana menjentikkan jarinya di jidat Tika, terlalu jujur jika dirinya lebih menyukai hal menantang daripada bau bawang.


"Jangan pernah kamu mengungkap, apa kemampuan. Ingat pesan kak Di." Diana berbisik pelan.


Tika langsung duduk di samping Diana, menatap Shin yang masih sibuk sendiri. Serapat apapun Tika menyembunyikan dari Shin dia tetap tahu.


Tika pernah ketahuan saat meretas keamanan sekolahan, Shin berpura-pura tidak tahu dan menyembunyikan jika Tika pelakunya.


"Bagus, berarti dia menunggu kamu mengatakan kejujuran." Di memotong bawang, tapi langsung menyingkirkan matanya perih.

__ADS_1


Kepala Tika mengangguk, dirinya tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya sampai dirinya berusia tujuh belas tahun.


Diana akan memantau Tika, selama Aliya dan Arjuna tidak menyadari maka Tika akan aman.


"Bantuin Tika." Shin memonyongkan bibirnya.


"Shin, kamu tahu jika tidak menguasai komputer?" Di menatap punggung Diana.


Kepala Shin hanya mengangguk, dirinya tahu sejak pertama bertemu Tika. Shin tidak memahami soal teknologi sehingga hanya bisa diam.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Aku melihat kamu membocorkan sebuah kasus kekerasan guru terhadap murid. IP yang digunakan tidak terdaftar." Shin tidak tahu selebihnya.


Senyuman Tika terlihat, meminta Shin merahasiakan dari Maminya. Biarkan menjadi rahasia bertiga.


"Kamu ingin kak Di ajari?"


"Tidak, Shin sudah pusing sekolah, jangan ditambah pusing lagi. Setidaknya aku bisa bela diri."


Makanan satu-persatu sudah siap, Shin meminta bantuan menyusunnya di meja panjang yang sudah dipersiapkan untuk acara makan malam.


Langkah Shin terhenti, melihat sebuah kamar yang ada di rumah Tika, tapi tidak pernah terbuka.


"Kamar siapa itu Tika?"


"Kamar kak Juna, sekarang dia tinggal di luar negeri." Tika langsung memeluk Papinya yang meminta semua orang berkumpul.


Acara makan malam dihadiri seluruh keluarga, Altha menghubungi putranya untuk melihatnya bersama keluarga.


"Shin, makanannya sudah siap, ingin dicek tidak?" maid menepuk pundak Shin.


Arjuna muncul di layar besar menundukkan kepalanya. Memberikan selamat kepada Diana Gemal, selamat juga untuk Dika dan Salsa.


Juan meminta maaf, karena dirinya tidak bisa berkumpul bersama. Mungkin dilain waktu dirinya bisa bergabung.


Kebahagiaan keluarga lebih besar saat melihat Juna yang berjanji akan secepatnya kembali.


[Tika merindukan kak Juna, malam ini makan malam untuk ulang tahun Tika, tapi tanpa kak Juna.] Air mata Tika menetes.


[Maafkan kakak, nanti kita bertemu lagi.]


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2