ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENGAKUAN


__ADS_3

Pintu apartemen terbuka, Juna mempersilahkan Shin masuk untuk beristirahat. Seharian mereka di rumah sakit, bahkan belum sempat mandi.


"Shin, masakan aku tidak enak jadinya pesan di luar. Kamu ingin makan apa?"


"Ada bahan masak tidak? Shin saja yang masak." Langkah Shin langsung ke dapur mengecek bahan untuk makan malam mereka.


Senyuman Juna terlihat, membiarkan Shin di dapur dan dia langsung bergegas mandi. Jantung Shin juga berdegup kencang karena hanya berduaan dengan Juna di apartemen.


Dengan cepat Shin mengolah bahan makanan menjadi masakan sederhana dengan bahan seadanya. Bau makanan tercium hampir seluruh ruangan rumah, Juna yang ada di kamar juga bergegas ke dapur karena perutnya sudah mengamuk.


"Wangi sekali,"


"Bau apa? Shin belum mandi." Shin mencium bau tubuhnya.


"Bau masakan, kamu mandi dulu sudah aku siapkan air hangat. Sisanya aku yang selesaikan. Hanya perlu ditata saja, kita makan bersama." Juna menatap wajah istrinya yang sangat dirindukannya.


"Ya sudah, Shin mandi dulu." Senyuman Shin terlihat, mengecilkan api kompor.


"Jangan lama, Ay tunggu di sini." Juna merapikan meja makan untuk menyiapkan masakan yang sudah setengah matang.


Sesuai keinginan Juna, Shin mandi dengan cepat karena dia juga sudah sangat lapar. Melihat makanan sudah tersaji, membuat senyuman lebar Shin terlihat.


"Duduk, kira makan malam. Selamat makan Shin,"


"Selamat makan Ay,"


Saat makanan masuk ke mulut Juna, rasanya sangat pas di lidah membuat Juna tidak ingin berhenti makan karena masakan Shin luar biasa enaknya.


"Setiap hari makan seperti ini aku bisa gemuk, rasanya enak sekali." Juan mengambil lauk meletakkan di piring Shin, memintanya banyak makan karena beberapa minggu Shin kekurangan makanan juga cairan.


Semua makanan yang ada di atas meja habis, Juna awet makan di rumah jika setiap hari makanan enak. Apalagi melihat wanita cantik di hadapannya.


Melihat kecantikan Shin, membuat selera makan semakin bertambah. Juna ingin sekali mengatakan jika dia sangat mencintai Shin.


"Letakkan saja piringnya, nanti aku yang mencuci." Juna mengambil bekas makan membawanya ke tempat pencucian piring.


Tidak enak melihat Juna mencuci sendirian, Shin ikut membantu merapikan bekas makan berdua.

__ADS_1


"Malam ini Shin tidur di kamar Mama Citra saja,"


"Kamu tidur bersama aku, kenapa harus tidur terpisah?"


Kepala Shin menunduk, meminta Juna memahami dirinya. Perasaan Shin tidak enak membuat Juna terpaksa menikahinya hanya karena mengkhawatirkan dirinya terlibat masalah dengan Reza.


Secepatnya Shin ingin semuanya berakhir, kembali ke posisi awal. Shin dan Juna bisa kembali menjadi Kakak dan Adik seperti sedia kala.


"Maafkan Shin Ay,"


"Sepertinya aku dicampakkan?" Juna tertawa kecil mengusap kepala Shin lembut.


"Kenapa Ay bicara seperti? Shin tidak ingin hubungan kita terikat tanpa ada rasa." Shin menatap Juna yang melangkah pergi meninggalkan menuju kamar.


Tidak ingin ada salah paham lagi, Shin mengejar Juna ke kamar melihat suaminya duduk sambil membaca buku medis.


"Ay, Shin tidak masalah menjadi janda,"


"Aku yang tidak ingin menjadi duda Shin, berapa lama aku harus menunggu kamu agar menerima aku?" Juna menutup bukunya, meminta Shin duduk di sampingnya.


Helaan napas Shin terdengar, naik ke atas ranjang duduk sambil bersandar menjelaskan kepada Juna kondisi pernikahan mereka.


"Aku tidak terpaksa, juga kasihan. Setulus hati aku menginginkannya atas dasar diri sendiri bukan demi apapun." Juna menyakinkan Shin jika dirinya ingin bersama.


Air mata Shin menetes, dirinya tidak bisa bersama. Shin tidak ingin terikat dalam pernikahan. Dia sudah bahagia dengan dunianya, tidak memiliki rencana menikah muda.


"Kenapa menangis? jika kamu menangis dan terluka bagaimana aku bisa bertahan? tujuan aku ingin bahagia, membuat kamu tidak bahagia mungkin aku harus berjuang dengan cara lain." Tangan Juna mengusap air mata, meminta Shin berhenti menangis.


"Kita akhiri saja sampai di sini Ay,"


"Apa kamu mencintai pria lain?"


"Ya, ada lelaki lain di hati Shin. Maafkan Shin ya Ay, Shin tidak ingin saling menyakiti." Air mata menetes kembali, hati Shin teriris hancur.


Kepala Juna mengangguk, meminta Shin segera tidur. Juna yang akan pindah kamar, besok mereka bisa mengatakan kepada keluarga keputusan yang diambil berdua.


"Boleh aku bertanya di mana kamu bertemu lelaki itu?"

__ADS_1


Shin menceritakan lelaki yang di cintai, ucapan Shin mengejutkan Juna yang masih mengingat jelas pertemuan di bandara, juga buku medis yang terjatuh.


Wanita paling cantik yang pernah Juna temukan, sejak pertemuan Tama sudah mengangumi kecantikan Shin.


"Jadi lelaki muda di bandara itu yang kamu cintai?"


"Iya, aku sangat mencintainya, tapi kita berada di posisi yang tidak seharusnya bersama." Shin meminta Juna tidak menanggapi serius.


"Kamu mengenali pria itu setelah dewasa?"


Kepala Shin mengangguk, Shin mengenal pemuda yang dicintai setelah dewasa. Namun Shin memendam perasaannya sendiri dan tidak akan membiarkan ada yang tahu.


Senyuman Juna terlihat, hati Juna yang awalnya terluka langsung bahagia kembali karena lelaki itu dirinya. Shin terlalu takut ketahuan sehingga masih egois meminta berpisah, seharusnya dia mempertahankan pernikahan.


"Aku juga mengagumi seorang wanita sejak pandangan pertama. Dia wanita tercantik yang pernah aku temukan, dan aku mengambil bukunya untuk menyelamatkan Gion, Ian dan Isel. Beberapa tahun setelahnya kami bertemu kembali, dan aku masih terpesona atas kecantikannya." Tawa kecil Juan terdengar, rasa kagum yang lama terpendam mungkin sudah menjadi cinta pandangan pertama.


Senyuman Shin terlihat, ikut bahagia atas perasaan Juna yang menyadari rasa cintanya. Shin dan Juna bisa menjadi Adik Kakak seperti sedia kala.


"Shin, terimakasih sudah menjatuhkan buku itu. Aku ingin mengatakannya langsung, tapi terlalu malu karena kamu sangat cantik." Juna memberikan sesuatu yang sudah lama dia sembunyikan.


Wajah Shin kaget, dia tidak menyangka jika Juna mengenalinya sejak awal. Bahkan pertemuan di kediaman utama Leondra, Juna langsung tahu jika Shin wanita pemilik buku.


"Ay, sepertinya Shin tadi salah bicara?"


"Aku mencintai kamu, jauh lebih besar dari kamu mencintai pemuda itu." Senyuman Juna terlihat menyentuh hidung mancung Shin.


"Shin tidak mencintai dia, tadi hanya mengarang cerita,"


"Maka belajarlah mencintai suami kamu, aku menikah atas dasar cinta. Dibalik musibah, Ay mengambil keuntungan diri sendiri agar tidak menerima penolakan. Jika bisa meminta, tolong jangan meminta berpisah hanya demi pemuda itu. Lupakan dia, dan belajarlah mencintai aku." Bibir Juna mendekati Shin yang langsung menahan dadanya.


Wajah Shin memerah, dirinya sangat malu mendengar ucapan Juna yang terlihat sangat tulus. Shin bahkan kehabisan cara untuk meresponnya.


"Aku mencintai kamu Arshinta Gentari Leondra, tulus dari hati aku." Juna memasangkan kembali cincin pernikahan mereka.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


semoga kalian tidur nyenyak, dan tidak meminta tambahan bab


__ADS_2