ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENGGANGGU


__ADS_3

Mata Altha terbuka, melihat ke arah Aliya yang masih tidur memeluknya. Alt meletakan kepala Al perlahan langsung melangkah turun memakai bajunya.


Pintu kamar terbuka, Altha berpikir Atika akan duduk di depan pintu sambil menangis, tapi ternyata dugaannya salah Tika tidak terlihat.


"Selamat pagi tuan." Elen menundukkan kepalanya membawa tas sekolah Tika.


"Di mana Tika? dia sudah bangun."


Helen tersenyum sambil mengangguk kepalanya, Tika bangun langsung mencari Maminya dan ingin menangis.


Saat tiba di depan pintu kamar ternyata dikunci, wajahnya terlihat sedih dan duduk di depan pintu. Secara tiba-tiba senyumannya terlihat, dan langsung berlari ke kamar kakaknya.


Tika terlihat sangat ceria, bernyanyi riang gembira bahkan sangat semangat untuk pergi ke sekolah.


Altha masuk kembali ke kamar, mencium bibir Aliya yang terbangun melihat suaminya yang sudah bangun lebih dulu.


"Tika sudah bangun?"


"Dia sudah siap-siap berangkat sekolah."


Aliya langsung bangun dan ingin bangkit dari tempat tidur, teriakan Al terdengar meringis merasakan bagian bawahnya terasa sakit.


Tubuhnya juga merasakan sakit, Al menyentuh tubuhnya yang remuk. Urat-urat di tubuhnya sudah berpindah tempat sehingga rasanya sakit semua.


Alt berlutut, meminta Aliya beristirahat. Altha akan mengantar anak-anak sekolah.


Ponsel Altha berdering, ada panggilan dari bawahannya yang mengirim laporan darurat. Kening Altha berkerut meminta Dimas menggantikannya.


"Pergilah Ayang, Al akan mengurus anak-anak. Hati-hati di jalan, ingat ada anak dan istri yang menunggu di rumah." Al memeluk pinggang suaminya.


"Maaf, Dimas sialan. Dia tidak bisa dihubungi, salah satu bawahan aku mendapatkan luka tusukan saat melakukan pengejaran membantu tim lain." Alt meminta izin untuk ke rumah sakit melihat anggotanya yang terluka.


Aliya tersenyum mencium bibir suaminya, menyemangatinya untuk segera pergi dan secepatnya kembali.


Altha langsung masuk kamar mandi, bersiap untuk pergi. Al memeluk Altha saat ingin pergi dan menciumnya.


Setelah Altha pergi, Al langsung masuk kamar mandi melihat tubuhnya di balik kaca langsung tersenyum merasakan sentuhan lembut suaminya.


"Mami, Juna pamit pergi sekolah."


"Tunggu Mami Juna, hanya sebentar." Al langsung bergegas mandi agar bisa menemani anaknya pergi sekolah.


Al tersenyum melihat ranjang tidur yang ada noda merahnya, langsung ditarik dan dilempar ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Dari lantai atas Aliya sudah melihat Atika yang sudah menari sambil menggendong tasnya, perlahan Al turun mendekati kedua anaknya.


"Cie mami bangun telat, lagi membuat Dede Tika ya? ya Allah Tika maunya adik cewek ya." Senyuman jahil Tika terlihat, menadahkan tangannya sangat tinggi berharap doanya dikabulkan.


Aliya langsung mengaminkan doa Tika, tapi jika lambat memiliki adik Tika tidak boleh kecewa, nikmatin hari ini lebih bahagia dari hari kemarin.


Al berjalan mengandeng kedua anaknya yang juga tersenyum, Elen membuka pintu untuk dua bocah dan juga Aliya.


Supir langsung menjalankan mobil, di dalam mobil Aliya tertawa mendengar ocehan Tika yang membuat Juna geleng-geleng kepala.


"Juna."


Kepala Juna melihat ke arah Maminya, langsung paham dan langsung mengatakan jika di sekolah dirinya dalam keadaan baik dan sangat baik.


"Kamu tidak boleh menyembunyikan apapun dari Mami, karena apapun yang kamu sembunyikan pasti Mami tahu." Al mencium kening putranya yang melangkah masuk ke dalam sekolahnya.


Senyuman Aliya menatap Tika yang tersenyum, mencium tangan Al berkali-kali dan memeluknya dengan erat.


"Mami, Tika tidak boleh tidur sama Mami lagi ya?"


"Boleh sayang, mana mungkin Mami bisa menolak putri kesayangan Mami." Al mencium hidung Tika yang tertawa langsung melangkah keluar mobil.


Tangan Al melambai menatap Atika yang menghilang dari pandangannya, dada Aliya berdegup kencang merasakan kebahagiaan yang sangat besar.


Melihat senyuman Aliya membuat Elen mengingat pertemuan pertama mereka, tatapan tajam mata Aliya yang menakutkan sudah berubah menjadi penuh kasih sayang.


"Elen juga bahagia melihat kak Aliya yang sekarang, terus bahagia ya kak." Elen menghapus air matanya.


Al menganggukkan kepalanya, meminta supir segera kembali. Al ingin beristirahat karena tubuhnya sangat lelah.


Helen menawarkan diri untuk memijit Aliya yang terlihat sekali baru selesai senam malam pertama kalinya.


Di kamar Helen memijit Aliya yang sudah terlelap, langsung membersikan kamar juga seprai yang Al buang di kamar mandi.


"Kak, dulu kak Aliya pernah berkata tidak ada namanya bahagia yang nyata jika tidak kita yang mencarinya, hari ini Helen melihat kak Al menemukan bahagia yang nyata." Selimut ditarik menutupi tubuh Aliya yang sudah tidur dengan tenang.


***


Tendangan Altha melayang melihat Dimas yang membuatnya harus datang ke rumah sakit. Dia pikir luka parah tenyata tertusuk ballpoint karena jatuh.


"Sekali lagi kamu memberikan kabar tidak jelas akan tahu akibatnya." Altha memukul Yandi yang menghubunginya.


"Maaf, jika saya tahu Dimas yang masuk rumah sakit aku juga tidak ingin datang."

__ADS_1


Dimas tertawa meminta Altha sebaiknya pulang, melanjutkan menyelesaikan pekerjaan menebarkan benih ikan.


Yandi tersenyum, Altha yang sudah kaya dan sangat sibuk masih punya waktu untuk menebar benih.


"Benih ikan apa kak Altha yang ditabur?" Yandi mengikuti langkah Altha.


"Tanyakan pada Dimas, dia yang lebih tahu." Al langsung melangkah pulang, kesal melihat bawahannya yang konyol.


Yandi tersenyum langsung menatap Dimas yang sudah bersiap untuk pulang, meminta Yandi mulai berpacaran agar tahu benih apa yang ditabur oleh laki-laki.


Otak Yandi hanya berisi senjata, masih polos dan belum dinodai.


Di jalan Altha tidak sengaja melihat Citra yang sedang bermasalah di jalanan mengabaikannya begitu saja mengingat Aliya yang pernah ditilang polisi dalam keadaan berantakan.


"Aku merindukan kamu Aliya." Alt tersenyum sepanjang perjalanan.


Sampai di rumah langsung berlari masuk ke kamar melihat Al yang masih tidur, Alt tidak tega membangunkan istrinya yang masih tidur.


"Cepat sekali pulangnya? kangen ya." Al tersenyum masih memejamkan matanya.


Altha langsung memeluk Al dari belakang, dirinya takut tidak bisa jauh dari istrinya yang membuatnya kecanduan.


"Sayang, aku tahu kamu lelah, masih capek. Sebenarnya aku bisa menunggu, tapi bukannya kita ingin mempercepat membuat Altha junior." Alt tertawa kecil mengeratkan pelukannya.


Aliya tertawa, meminta Alt melepaskannya. Tidak ingin melakukan di siang hari.


"Ayang, jangan katakan Altha junior, nanti Atika marah. Dia sangat menginginkan adik perempuan." Al meminta suaminya tidur di depannya.


"Baiklah, maafkan aku nyonya Al." Altha mencium bibir istrinya. Memasukkan tangannya ke dalam baju Al.


Pintu kamar terbuka, Helen teriak kaget melihat Altha sudah ada di kamar langsung meminta maaf karena lancang masuk.


"Keluar Helen, kenapa masih berdiri di situ?" Altha menepuk jidat, tidak ada Atika masih tetap saja ada pengganggu.


Aliya hanya tertawa langsung mengambil minuman yang Elen siapkan untuk dirinya.


"Tuan Altha otaknya kotor, masih siang masih saja pikirannya bercinta." Al tersenyum mencium hidung suaminya yang terlihat kesal.


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


VOTE hadiahnya ya ditunggu


__ADS_2